2020 identik dengan kondisi pandemi Covid-19. Setelah beli hape mahal di akhir 2019, ditambah tur Malang-Jogja yang juga menguras isi dompet, saya harus berbetah diri dengan realme XT. Jadilah tak ada ganti hape di 2020.
Terlihat memang pembelian terbesar ada di 2022 dengan laptop untuk Dira, MacBook untuk Mami, satu Kindle, dua jam pintar, dan dua hape buat saya pakai sendiri. 2023 hanya ada beli tab buat Hatta, tapi iPhone 11 si Mbak cukup memukul kantong.
2024 bagaimana? Semoga kuat. Itu saja harapan sejauh ini…
]]>The best time to plant a tree was 20 years ago. The second best time is now.
– Chinese ProverbJadi, sejak awal 2023 saya memutuskan untuk masuk ke bursa efek dan mencoba merasakan sendiri bagaimana atmosfer pasar modal kita.
Jujurly, saya rasa terlambat sekali untuk belajar, apalagi ternyata dunia persahaman ini sangat kompleks dengan berbagai drama dan bumbu lainnya. Di usia yang udah segini, saya sempat ragu, apa saya bisa mengikuti dinamikanya. Tapi namanya sudah kadung nyebur, biarlah berenang sebisanya.
Saya dan Dunia Investasi
Sebagai warga kelas menengah ke bawah, sejak kecil saya sudah terbiasa hidup pas-pasan. Tak pernah berlimpah harta, tapi juga tak kekurangan. Abah yang PNS golongan rendah, setidaknya bisa menyekolahkan saya dan adik hingga sarjana, plus ngasih uang saku ala kadarnya saat kami sekolah dulu. Saya tak suka jajan di kantin sekolah, dan lebih memilih menabung untuk beli majalah; hal yang kelak membentuk mindset saya soal uang.
Seiring usia, saya tumbuh jadi orang yang gimana ya, tak suka jajan, tak suka juga menghabiskan uang untuk fashion, misalnya, tapi ketika naluri impulsif, belanja kadang bisa tak terkontrol, terutama terkait gadget.
Saya tahu betul kelemahan diri yang satu ini. Hape saya, apalagi sejak era Android, kerap silih berganti setiap tahun; bahkan sempat ada yang umurnya hanya setengah tahun sekali. 2019 saya ganti hape sampai tiga kali! 2022 kemaren belum direkap secara proper, tapi saya juga beli dua hape plus satu tablet di akhir tahun.
Pola hidup ini yang membuat saya terjebak di penyakit kelas menengah: middle income trap. Seringkali utang, baik jangka pendek maupun jangka panjang jadi solusi mudah. Kartu kredit juga yang harusnya jadi last resort malah dimanfaatkan “sebaik-baiknya”. Saya sadar, tapi juga menikmati; masokis. Sampai kemudian saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman ini. Saya memutuskan untuk belajar berinvestasi.
Kalau ada hal positif dari perilaku finansial saya, yang saya bangga sekali terkait hal itu, adalah hobi “nabung paksa” yang saya lakukan bahkan sejak 2009. Jadi sejak lama saya kerap menyisihkan uang untuk asuransi. Bukan sembarang asuransi, tapi yang ini akan me-refund dana yang sudah kita setorkan 100% (bahkan lebih) di akhir masa polis. Saya ikut dua, bahkan sampai tiga lapis polis sekaligus, dan ketika polis satu berakhir, esoknya saya daftar lagi untuk buka polis baru.
Sayangnya, ketika polis pertama cair, dalam hitungan hari, uangnya ludes. Ini membuat saya bertanya-tanya. Apa ya solusi supaya ini uang nggak ditaroh di rekening gitu aja, karena rawan sekali kena tarik, gesek, dan scan QRIS. Saya makin khawatir mengingat akhir 2022, polis kedua akan cair.
Nah saat itu, istri membeli Macbook Air dari hasil tabungannya. Jadi dia ikut asuransi yang sebagian setorannya dibelikan Unit Link, dan tabungan di sana lah yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Ini membuat saya tertarik mencari tahu, apa itu Unit Link? Oh ternyata produk turunan reksadana. Apa itu reksadana? Oh ternyata produk turunan saham dan kawan-kawannya. Apa mending langsung saja ambil langkah berani, masuk ke saham?
Sebelumnya saya juga sudah tertarik ketika mengikuti IPO GoTo pertengahan 2022 yang gegap gempita itu. Cuma waktu itu saya kira perlu modal besar buat masuk ke bursa. Saya pun belajar dulu dasar-dasar persahaman dari beberapa kanal YouTube. Setelah polis kedua cair, saya setorkan uangnya ke RDN, dan petualangan investasi dimulai di akhir Januari 2023.
Berinvestasi di 2023
Saham pertama yang saya beli adalah Bank Danamon ($BDMN). Alasannya? Karena bank itulah yang saya pakai sejak lama, bahkan sejak SMA. Polis asuransi saya juga dari bank itu, dan semakin ke sini, fitur Bank Digital-nya menurut saya semakin baik dan lengkap.
Apakah menguntungkan? Tidak juga. Ketika saya jual tiga bulan kemudian, posisinya merah. Dan hingga kini, saya tak memegang sahamnya lagi. Lah minus dong? Iya dan tidak sih. Karena saya masih dapat dividen.
Dari satu kasus $BDMN ini saya menyadari satu hal. Saya punya naluri jual beli yang buruk. Itu semakin terkonfirmasi dari berbagai transaksi jual beli yang saya lakukan sepanjang 2023.
Secara umum, 2023 memang bukan tahun yang baik buat investasi saham. Istilah kerennya, lagi fase bearish lah. Hanya ada beberapa saham yang bisa naik kencang, sisanya yaa di situ-situ aja harganya. Pemasukan saya dari trading bisa dibilang minim sekali. Bahkan, tak jarang minus. Parah.
Kenapa bisa minus parah? Karena BU. Kejadiannya di Agustus hingga September 2023, ada tiga kali saya tarik dana paksa dari RDN untuk berbagai keperluan. Bahkan sempat ekstrem kali, sampai saldonya sempat kosong. Ini hal yang tidak ideal tentu, karena seharusnya dana investasi itu jangan diutak-atik, walau realitanya tak seindah itu. Saham pun direlakan dijual semua, dan akhirnya saya masuk lagi di Oktober 2023.
Total hingga akhir 2023, return saya dari transaksi jual beli, mungkin hanya sekitar 3 persen. Iya masih profit, tapi tipis sekali, kan? Apakah ini indikasi saya gagal di pasar saham? Tidak juga sih, tapi mungkin gaya berinvestasi tiap orang saya yang berbeda-beda.
Mazhab Investasi
Ternyata setelah dipelajari, ada aliran yang berbeda-beda di pasar modal. Ada yang teknikal, fundamental, bandarmologi, sampai astrologi. Saya ngikut yang mana? Setahun ini saya menjajal berbagai teknik, dan buat saya, ada satu yang lumayan berhasil: dividend investing.
Salah seorang YouTuber penganut aliran ini pernah bilang, yang intinya, turun naik harga itu cuma ilusi, tapi dividen itu nyata. Dividen itu beneran ditransfer ke rekening kita, bisa kita tarik segera. Uangnya beneran ada, dan bisa kita gunakan buat nambah saham lagi.
Ini sih lumayan realistis buat saya. Sebagian investor bilang sih ah dividen itu cuma bonus; cuan yang utama tetap dari capital gain. Tapi ya udah sih, di saya realitasnya: jual beli dapat 3 persen, dari dividen dapat 17 persen!!! Totalan, sesuai target, dapatlah 20 persen di tahun pertama, dan sepertinya saya sudah menemukan gaya investasi yang paling pas ke depannya.
Strategi di 2024
Apakah saya merasa berhasil? Tentu saja. Puas sekali dengan pencapaian di 2023, walau kadang saya merasa dividen investingnya kurang maksimal karena kurangnya modal. Misalnya di Akhir November saya dapat dividen dari satu lot $TOTO senilai hanya segini mengingat tak sempat lagi nambah muatan…

Fokus saya tahun ini tentu menambah modal. Saya menjadi semakin termotivasi berinvestasi, dan sepertinya berdampak positif juga ke naluri berhemat saya. Semoga tak lagi mudah tergiur dengan gadget baru, juga bisa semakin baik mengatur pengeluaran hanya untuk hal-hal yang benar-benar perlu.
Dan ternyata, berinvestasi di pasar modal itu serupa lari jarak jauh, maraton. Kuncinya ada di konsistensi dan perseverance. Semoga ke depannya saya bisa terus mencatat perjalanan saya di blog ini, biar terdokumentasi saja.
]]>Tahun 2023 saya jadi lebih sering nonton film Indonesia. Di tengah kemunduran kualitas dan hype film-film Hollywood seperti MCU, DC dan Disney, film Indonesia justru mengalami kebangkitan. Meski box office lokal masih didominasi horor, tak sedikit film berkualitas rilis tahun ini, yang sayangnya tak semua sempat saya saksikan langsung.
Ini perkara selera mungkin, tapi di daerah saya jika peminat minim, tak ada alasan untuk bioskop lokal berlama-lama memajang film yang tak laku. Dalam hitungan hari bisa langsung tutup layar. Saya menyesal tak sempat nonton Budi Pekerti, misalnya, padahal pengen banget.
01 – Balada Si Roy (2022) – XXI
Diangkat dari salah satu novel favorit saya. Aksi laga-nya tak disangka keren, terutama tiap scene Bio One. Selebihnya, yaa kelebayan ala sinetron Indonesia masih terasa lah. Film pertama saya di XXI setelah sekian tahun.
02 – Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang (2023) – KCM
Nonton dadakan pas nganter kamera yang diservis di Banjarmasin. Jadi satu-satunya penonton pula di teater kala itu. Akting dan kecantekan Sheila Dara ini selalu captivating buat saya.
03 – Wall Street (1987)
Nonton ulang film lama soal dunia per-pialang-an, dalam rangka mau meyaksikan sekuel-nya.
04 – Wall Street: Money Never Sleeps (2010) – Disney+
Dan setelah nonton lagi, jadi salfok ke perkembangan teknologi yang begitu jomplang antara kedua film.
05 – The First Slam Dunk (2022) – Cinepolis
Keren banget astaga! Alih-alih membahas dari sudut pandang Sakuragi seperti di Manga, film ini malah mengambil back story Ryota Miyagi. Tak menyesal sempat nonton mengingat di sini, filmnya cuma sempat tayang 3 hari.
06 – The Big Short (2015) – Prime
Mengisahkan asal-usul krisis keuangan 2008 dan siapa-siapa yang ternyata diuntungkan di belakang bencana ini. Istilah-istilah perekonomian yang njelimet berusaha dijelaskan dengan bahasa yang lebih manusiawi lewat cameo para seleb ternama.
07 – Suzume (2022) – Cinepolis
Baru tayang Maret, film Makoto Shinkai pertama yang saya tonton di layar lebar. Semua scene-nya wallpaper-able lah.
08 – Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves (2023) – Cinepolis
Lucu dan seru, melebihi ekspektasi malah, mengingat adaptasi game tak jarang gagal total.
09 – The Super Mario Bros. Movie (2023) – Cinepolis
Nah, adaptasi satu inilah yang terbaik! Syukurlah film-nya bukan garapan Disney; bisa jadi malah sibuk dipenuhi woke agenda nantinya.
10 – The Social Network (2010)
Telat banget nonton ini. Kisah sejarah awal Facebook dan perjuangan Mark Zuckerberg.
11 – Buya Hamka Vol. 1 (2023) – Cinepolis
Ditonton usai lebaran. Totalitas Vino Bastian tak perlu diragukan lah.
12 – Attack on Titan The Final Chapters: Special 1 (2023) – Prime
Oya, selama bulan puasa, saya maraton nonton seluruh season seri anime Attack on Titan. Bisa dibilang ini salah satu seri anime terbaik yang pernah saya saksikan.
13 – Guardians of the Galaxy Vol. 3 (2023) – Cinepolis
Penutup yang epic untuk trilogi garapan James Gunn ini. Seri Guardians ini tetap jadi seri favorit saya dari semua film-film MCU. Oya, spoiler dikit, ada Yondu!
14 – Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023) – Cinepolis
Nonton bersama Hatta, seri Miles Morales ini menurut saya bahkan lebih keren dari yang pertama. Ditambah itu cliffhanger-nya bikin penasaran sialan!
15 – Transformers: Rise of the Beasts (2023) – Cinepolis
Kemunculan perdana ras Maximals di seri layar lebar era Michael Bay. Tak terlalu menarik sih, walau buat Hatta yaa seru aja liat robot-robot main perang-perangan.
16 – Jo Sahabat Sejati (2022) – Cinepolis
Jadi disuruh mendampingi anana nonton film “pendidikan karakter” gitu. Idenya lumayan, sayang eksekusinya beneran terasa seadanya, terutama itu akting para pemainnya yang bahkan kalah sama akting kuda-nya…
17 – Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One (2023) – Cinepolis
Sarat aksi dan adegan berbahaya. Keren as usual!
18 – Oppenheimer (2023) – Cinepolis
Nolan, Robert Downey Jr, Cillian Murphy, dan drama yang intens. Dapat sisa kursi paling depan pula, jadi sangat berasa IMAX tipis-tipisnya.
19 – Petualangan Sherina 2 (2023) – Cinepolis
Lanjutan kisah Sherina dan Sadam setelah dua dekade berselang. Lagu-lagunya nostalgik dan bikin saya merinding di beberapa bagian.
20 – Pamali: Dusun Pocong (2023) – XXI
Diajakin anana nonton bareng. Sungguh horor, terlebih lagi lokal, bukan cangkir teh saya…
21 – Attack on Titan The Final Chapters: Special 2 (2023) – Prime
Episode penutup yang ditunggu fans seantero dunia. Lagu terakhirnya sungguh epik, apalagi dibawakan oleh Mikasa, plus diiringi gambaran perkembangan Paradis bertahun ke depan.
22 – Srimulat: Hil Yang Mustahal – Babak Pertama (2022) – Prime
Film Bio One kedua yang saya tonton tahun ini. Ini aktor totalitasnya luar biasa ternyata.
23 – Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) – KCM
Film yang gue banget lah! Terpesona sekali dengan segala hal yang ada sepanjang film ini.
24 – Wonka (2023) – Cinepolis
Nonton sesuai request Hatta. Lagu-lagunya lumayan menghibur lah.
25 – The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes (2023) – XXI
Another prequel. Tak se-engaging seri aselinya sih.
26 – The Boy and the Heron (2023) – Cinepolis
Pengalaman Ghibli pertama saya di layar lebar. Kalo kata Nadira, sepertinya harus nonton lebih dari sekali buat memahami makna simbolis yang bertebaran di sepanjang anime ini.
27 – The Da Vinci Code: Extended Edition (2006) – Prime
Nonton ulang film lama ini, ditambah beberapa scene yang tak ada di edisi aselinya.
Dan berikut lima film favorit saya di 2023:
5. The First Slam Dunk
4. The Super Mario Bros. Movie
3. Guardians of the Galaxy Vol. 3
2. Oppenheimer
1. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film
Untungnya saya masih menyempatkan merekap Letterboxd. Kadang terlewat juga, sehingga harus mengingat-ingat lagi semampunya. Di 2022 saya menyaksikan 17 film, jumlah yang sama dengan 2021. Sudah mulai lebih sering nonton di bioskop, mengingat pandemi semakin mereda dan kesibukan tak menyempatkan saya sering nonton via streaming.
01. Sing 2 (2021) – Cinepolis
Film bioskop Hatta pertama sejak pandemi melanda, dengan lagu-lagu legendaris yang dibawakan artis-artis papan atas. Tak terkecuali, tentu Tori Kelly yang melanjutkan perannya sebagai Meena.
02. Flipped (2010) – Netflix
Iseng muter ulang film ini bersama para penghuni Labkom. Film yang masih saja menyenangkan untuk disaksikan.
03. The Mitchells vs. The Machines (2021) – Netflix
Film animasi keren yang sarat sarkasme di sana-sini.
04. Stand by Me Doraemon 2 (2020) – Vidio
Ga bisa dah kalau udah ada nenek Nobita ni…
05. Turning Red (2022) – Disney+ Hotstar
Suka banget dengan film ini. Walau yaa woke agenda-nya makin kerasa deh.
06. Star Wars: The Legacy Revealed (2007) – Disney+ Hotstar
Dokumenter Star Wars, masa-masa sebelum Disney menyerang, tentunya.
07. Sonic the Hedgehog 2 (2022) – Cinepolis
Film favorit Hatta, bikin dia jadi makin gemar menggambar karakter-karakter Sonic.
08. Fantastic Beasts: The Secrets of Dumbledore (2022) – Cinepolis
Nonton sendirian. Dan lagi-lagi woke agenda yang terlalu blak-blakan jadi agak mengganggu.
09. Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022) – Cinepolis
“I love you in every universe” – Dr. Gombal
10. Thor: Love and Thunder (2022) – Cinepolis
Seru, lucu, tapi ya udah sih. Di luar Christian Bale yang aktingnya keren parah, sisanya biasa aja.
11. Minions: The Rise of Gru (2022) – Cinepolis
Nonton bareng Mba Nadin dan Maria, sebagai upah latihan persiapan FLS2N mereka.
12. Miracle in Cell No. 7 (2022) – Cinepolis
Aduh gimana ini. Seumur-umur ga pernah saya nonton film bioskop sampe nangis.
Oya habis nonton ini di September, kesibukan luar biasa menyerang. Akhirnya baru bisa nonton lagi di Desember setelah bundling Telkomsel dapat bonus langganan gratis Amazon Prime.
13. 5 Centimeters per Second (2007) – Prime
Tak disangka, beberapa film Makoto Shinkai juga dipajang di sini. Langsung aja saya rewatch film ini, salah satu film paling realistically bitter yang pernah saya tonton.
14. Your Name. (2016) – Prime
Buat saya ini salah satu film anime terbaik, dengan lagu-lagu yang juga sangat earworm. Hingga kini saya kerap muter OST Kimi No Nawa ini sembari bekerja.
15. Uncharted (2022) – Prime
Lumayan menghibur lah, dengan Tom Holland yang tak se-witty pas jadi Spidey.
16. Pinocchio (2022) – Disney+ Hotstar
Kasihan sih liat review-nya yang dihina-dina. Menurut saya tak seburuk itu juga lah. Nasibnya aja rilis hampir barengan dengan versi Del Toro yang menang Oscar itu. BTW saya belum nonton yang itu deh.
17. Weathering with You (2019) – Prime
Film Makoto Shinkai ketiga yang saya tonton dalam sebulan, sekalian persiapan nonton Suzume tahun depannya lah.
Berikut lima film favorit di 2022:
5. Weathering With You
4. Your Name.
3. Miracle in Cell No. 7
2. 5 Centimeters per Second
1. Turning Red
Ya sudah, mari mulai saja dengan kopas daftarnya dari Letterboxd. Ternyata hanya 17 film yang sempat saya tonton sepanjang 2021. Dan memang seingat saya 2021 ini memang sangat berat dan melelahkan sampai susah kali cari waktu nonton.
01. Susi Susanti: Love All (2019) – Disney+ Hotstar
Film yang sangat bagus dengan kualitas akting Laura Basuki yang tak perlu diragukan. Porsi pembahasan diskriminasi ras juga cukup besar diangkat di sini.
02. Saur Sepuh: Satria Madangkara (1988) – Disney+ Hotstar
Mencoba nostalgia dengan film kolosal yang waktu saya kecil dulu bikin heboh bioskop dekat rumah.
03. Milly & Mamet (2018) – Disney+ Hotstar
Seperti biasa, film garapan Ernest selalu dipenuhi stand-up comedian…
04. Susah Sinyal (2017) – Disney+ Hotstar
Kembali garapan Ernest, template-nya juga mirip kaya film #03.
05. Tenet (2020)
Alamak pusing kali nonton film ini. Nolan memang tak pernah mengecewakan, tapi yang ini beneran sangat menguras pikiran.
06. Filosofi Kopi (2015) – Disney+ Hotstar
Sebagai penikmat kopi sachetan, jujur saya ga bisa relate dengan film ini.
07. Zack Snyder’s Justice League (2021)
Setelah menonton versi Snyder baru sadar, oh, rupanya begini toh idealisme beliau.
Keduanya ditampilkan dengan sangat keren dan badass di sini.
09. Kubo and the Two Strings (2016)
Film-film Studio Laika ini memang luar biasa. Credit scene-nya menampilkan betapa repotnya membuat film stop-motion seperti Kubo ini.
Nostalgia saja iseng nonton film jadul.
11. Gundala (2019)
Aksi laga dan CGI-nya bagus, sayang tidak diimbangi dengan naskah cerita yang lebih baik.
12. Raya and the Last Dragon (2021) – Disney+ Hotstar
Entahlah, cuma nggak terlalu impressed aja dengan film ini.
13. Eternals (2021) – Cinepolis
Pertama kalinya nonton di bioskop semenjak pandemi melanda. Ekspektasi tinggi tentu karena ada Angelina Jolie idolakuh. Tapi, yaaa… gitu deh. YTTA.
14. Black Widow (2021) – Disney+ Hotstar
Hampir sama kaya Eternals lah, berasa kaya MCU pasca Endgame ini makin kurang aja.
15. Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) – Disney+ Hotstar
Ini juga sama nih. Cuma di sini komedinya lumayan lah.
16. Spider-Man: No Way Home (2021) – Cinepolis
Film kedua dari cuma dua yang ditonton di bioskop tahun 2021. Fanservice yang sempurna lah buat para penggemar Spidey. Satu bioskop tepuk tangan pas Tobey dan Andrew muncul.
17. Don’t Look Up (2021)
Ditutup dengan film satir yang sangat… well… gue banget! Akhirnya terhibur dan ngakak campur nyumpah sepanjang film. Poor Leonardo DiCaprio.
Berikut lima film favorit di 2021:
5. Kubo and the Two Strings
4. Tenet
3. Spider-Man: No Way Home
2. Susi Susanti: Love All
1. Don’t Look Up
Mari sedikit pamer kesibukan. Setahun ini lumayan menyita energi lah. Agenda sekolah padat merayap dengan implementasi kurikulum baru, kegiatan OSIS yang tambah seru, Kemah Pramuka yang jalan kembali, Paskib yang makin sering ikut lomba, dan tentu, anak vokal saya yang ketambahan beberapa talenta baru. Ada juga Expo Pendidikan kota di bulan Mei, Perpisahan kelas 9, dan beberapa kali ke Pantai. Tak lupa pendampingan siswa untuk lomba menyanyi, storytelling, pidato, juga fotografi.
Misi pribadi tak kurang-kurang. Ada Google Master Trainer yang (akhirnya) bisa saya kelarin. FYI, 2021 dan 2022 saya juga ikut tapi tak kunjung tuntas. 2021 pas barengan kena Covid dan emak meninggal, 2022 karena terlalu (sok) sibuk menangani Nadin dan Madina ke Kompetisi Gitar Nasional. Tahun ini akhirnya dengan paksaan penuh kepsek dan tekad dalam hati juga sih untuk menyelesaikan, ujiannya berhasil saya lalui dengan lancar jaya.
Selain itu, dinas kota juga ngadain program pelatihan intensif buat guru-guru bahasa Inggris, di mana sepanjang empat bulan dari September lalu, saya belajar lagi biar ngajarnya makin gokil. Kegiatan ditutup dengan pelatihan enam hari penuh di hotel, dengan stok kopi dan cemilan berlimpah. 23 Desember lalu kegiatan resmi ditutup, dan saya masih harus menunggu tahun depan untuk ujian terakhir. Semoga hasilnya sesuai target saja.
24 dan 25 Desember saya habiskan sepenuhnya di rumah. Bukan cuma untuk istirahat, tapi juga gegara motor sedang masuk bengkel untuk perawatan lumayan besar. Rencana hari ini saya tengokin lagi deh.
Jadilah, ada kesempatan buat utak-atik blog ini lagi. Theme-nya saya balikin pakai GeneratePress lagi, karena pada akhirnya, ini yang paling nyaman buat saya sendiri. Beberapa postingan juga dirapihkan dan semua featured images saya hapus.
Sekarang saya berencana merekap daftar film yang saya tonton sejak 2021. Ya, lama sekali gak posting soal ini lagi. Padahal ini semacam rekapan wajib yang saya bikin saban tahun di blog ini. Jadi habis ini saya akan bikin tiga postingan untuk rekap tahun 2021, 2022 dan yang terkini, 2023. Untunglah daftar film-nya masih bisa saya contek di diary Letterboxd. Semoga bisa diselesaikan mumpung masih libur dan kepsek belum nelpon nyuruh ke sekolah buat ngelembur lagi…
Hampir setahun, bahkan bisa dibilang dua tahun ini, saya jarang banget mengurus blog ini. Login sesekali, update plugins, utak-atik tampilan dan media, tapi bahkan sepanjang 2023 tak ada postingan yang sempat ditulis.
Rasanya sok sibuk banget sih, sampai mengabaikan yang harusnya jadi kumpulan catatan personal saya selama ini. Tak sempat buat mengurus yang katanya bagian penting dari kehidupan maya saya. Benar saja sih, terasa sekali kemampuan menulis jadi tak terasah, tergantikan dengan skill scrolling media sosial yang candu itu.
Mungkin memang harus mengeraskan tekad kembali untuk memulai lagi hobi menulis. Apa yang berikutnya ditulis sudah mulai terpikirkan sih, tapi semoga bisa konsisten kembali seperti dulu…
Halah, semoga bukan harapan kosong tanpa realisasi seperti yang sudah-sudah…
]]>Kalau 2021 harus saya akui sebagai tahun terberat, 2022 tak disangka jadi tahun yang sarat keberhasilan, minimal buat saya pribadi. Sangat sibuk, terus-terang, tapi juga sangat menyenangkan. Pandemi yang perlahan menghilang, sekolah yang kembali penuh teriakan bocah-bocah rewel, dan berbagai kegiatan yang berangsur aktif kembali. Bisa dibilang, tahun 2022 saya sangat fokus ngurusin sekolah dan kegiatan siswa. Berikut beberapa yang bisa saya highlight:
Bulan April 2022, terjadi perubahan struktural. Kepala Sekolah berganti, dan ini adalah hal besar di sekolah kami. Pergantian kepsek menandai peralihan berbagai kebijakan dan putusan krusial dalam pengelolaan sekolah. Saya tak terlalu ambil pusing, dan memilih tetap fokus ke yang jadi tanggung-jawab saya sejak awal sih. Riak-riak kecil tak terelakkan, tapi saya yakin, sesuatu yang lebih besar menunggu di ujung terowongan.
Berakhirnya pandemi membuka kesempatan bagi berbagai pihak mengadakan lomba dan bagi para siswa untuk mengasah minat dan bakat mereka. Guru-guru mulai disibukkan mendampingi siswa di berbagai ajang kompetisi, tak terkecuali saya. Alhamdulillah, beberapa siswa yang saya dampingi bisa meraih kesuksesan, seperti Nadin dan Fita yang meraih Juara 2 FLS2N Cabang Gitar Duet tingkat Provinsi dan mewakili Kalsel di ajang nasional, Grup Padus dari Ekskul Vokal yang baru saya bentuk semester ini yang juara 3 Lomba Paduan Suara tingkat Kota, dan Phanie yang meraih juara 1 Lomba Fotografi di SMK Telkom Banjarbaru. Senang melihat anak-anak kembali bisa menuai pengalaman berkompetisi sejak dini, karena saya yakin itu bisa jadi pengalaman berharga buat mereka.
Tak mau kalah, saya juga disuruh ikut lomba-lombaan, dan dapat piala juga, plus dapat salaman sama Pak Walikota. Lumayan lah buat Pansos…
2022 juga jadi tahun sibuk buat saya ngurusin labkom. Pelaksanaan ANBK masih jadi hal rutin, dan mengingat kegiatan sekolah juga makin aktif, media sosial, website dan kanal Youtube juga jadi perhatian kepsek yang baru. Chromebook bantuan pemerintah juga semakin banyak dipinjam, termasuk pemakaiannya untuk kegiatan ekskul Desain Grafis yang juga saya gagas sejak awal 2022.
Sayangnya, kesibukan juga membuat saya tak sempat lagi ngurusin Linux. PC di rumah akhirnya harus di-install Windows karena si Mbak perlu buat ngerjakan tugas ngoding. PC di sekolah saya pasangi Zorin agar lebih praktis saja, dan makin jarang juga diakses; lebih sering masuk Windows.
Ini harus di-highlight karena sepertinya suatu anomali. Hanya saja tahun ini saya beneran banyak sekali beli (dan juga dikasih) pakaian deh. Tak pernah seumur-umur saya seboros ini deh rasanya dalam belanja pakaian, sehingga ada baiknya saya rekap di sini…
Satu lagi yang mengkhawatirkan di tahun ini adalah soal gadget. Setelah pernah sangat boros juga di 2019, saya bisa lumayan mengerem diri di 2020 dan 2021. Hanya beli realme C15 untuk abah, realme 8 Pro, TWS USAMS dan Webcam Logitech buat Mami. Untuk diri sendiri tidak beli apa-apa selama 2 tahun pandemi. Saya cukup puas dengan realme XT, Mi Band 4, dan earphone Xiaomi yang semua saya beli di 2019. Sayangnya, pertahanan jebol di 2022 dengan pembelian dua hape, dua earphone, dua jam pintar, dan ditutup dengan MacBook. Selengkapnya, sepertinya akan ada rekapan di postingan tersendiri deh.
Demikian yang sempat saya cuplik dari 2022. Banyak hal yang menguras emosi, tapi banyak juga yang bikin hepi. Tak ada wisata ke luar pulau sayangnya, cuma dapat nginep 3 hari di hotel berbintang pas pelatihan, dan piknik tipis-tipis ke pantai dan air terjun. Pemborosan juga jadi concern saya di tahun ini, sehingga resolusi 2023 saya adalah berhemat.
]]>2021 mungkin jadi tahun terberat yang pernah saya alami setelah 2010. Yang terbesar tentu harus merelakan ibu pergi. Selain itu, banyak pula kabar duka saya terima, seperti guru bahasa Inggris favorit saya sewaktu SMP, dua dosen di kampus S-1 dulu, kawan SMA, kawan seangkatan kuliah, hingga beberapa kerabat lainnya.
Selain itu, suasana tempat kerja dengan segala hiruk-pikuknya tak urung juga agak menyedot energi. Transisi dari pembelajaran online ke tatap muka juga melelahkan sekali, dengan kebijakan yang bisa berubah dalam hitungan hari. Kegiatan vaksinasi, monev dinas dan segala kelengkapan yang harus dikebut. Bonusnya, sedikit piknik tipis-tipis lah ke Makassar.
2022 ini sudah berjalan hampir tiga bulan, dan akhirnya setelah dua tahun, saya bisa ke pantai lagi. Tak banyak opsi untuk menghibur diri, memang. Palingan ya latihan piano tipis-tipis di labkom yang bisa buat hiburan, plus masih saja tak selesai menamatkan Final Fantasy XII.
Oya, rekap film tahun tadi juga belum dibikin, dan sepertinya tak banyak yang sempat diutak-atik juga dari dunia per-Linux-an. Satu lagi, tahun ini sepertinya akan ganti gadget, walau masih menunggu momen yang tepat…
Jadi bakal nulis lagi kah setelah ini? Semoga saja.
]]>Saya memaknai pertanyaan ini lebih general saja ya, soalnya kalau terlalu personal masalah hati seperti baperan sekali. Ini seperti bagaimana tipe orang yang bisa capture my attention sehingga saya mau meluangkan waktu lebih buat mereka.
Ada beberapa kriteria yang bisa membuat saya tertarik buat ngasih perhatian lebih. Tak harus dipenuhi semua sih, tapi kalau banyak yang kebetulan sama tentu akan lebih bisa meng-captivate perhatian saya.
Ini semacam kriteria tercepat yang membuat saya tertarik. Kalau udah lihat orang suaranya bagus atau bisa memainkan instrumen musik, wah saya gampang sekali terpesona. Lebih kagum lagi kalau instrumen yang bisa dimainin itu adalah piano, berhubung saya suka dan kepingin banget bisa main alat musik satu itu.
Selera sok tinggi saya kadang mematok level humor harus berat seperti mendiang George Carlin. Kenyataannya di keseharian, humor ringan justru lebih mudah bikin saya ketawa. Tak harus witty banget, asal nggak toxic, seksis, nyerang fisik dan isu SARA, becanda yang receh-receh itu justru bisa lebih mendekatkan.
Saya paling terganggu memang kalau harus menjelaskan ulang sesuatu yang saya kira sudah cukup jelas. Makanya kalau ada orang (biasanya sama murid juga gitu) yang ketika saya jelaskan suatu konsep udah bisa langsung paham dan nemu contoh dan aplikasinya, wah saya senang sekali. Balik ke poin A juga gitu, ketika cepat menyerap lagu baru untuk dimainkan atau dinyanyikan sudah cukup buat membahagiakan saya.
Rasanya, hidup saya ini dikelilingi orang-orang ekstrovert yang berebut minta diperhatikan, didengarkan, dimengerti, dan seterusnya. Tak masalah juga sih, saya suka-suka aja juga mendengar keluh kesah mereka. Mayoritas mereka yang curhat ke saya biasanya ya para ekstrovert ini, yang memang suka bicara soal apapun tentang diri mereka sendiri.
Hanya saja, dengan para introvert, saya justru bisa bicara sesuatu dengan sudut pandang jauh lebih mendalam. Deep talk tentang isi perasaan mereka yang kadang sulit sekali keluar justru lebih menguatkan dan seakan menyadarkan saya kalau jiwa-jiwa nan halus ini jauh lebih perlu diperhatikan ketimbang mereka yang hidupnya sudah penuh “spotlight“.
Selesai nulis, habis dibaca lagi kok ya masih mengawang sekali ya kriteria-nya. Ya sudah lah intinya ya begitu dah.
]]>