Artikel Benarkah Al Albani Gak Punya Guru, Cuma Modal Otodidak Belajarnya? pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Yusuf bin Mukhtar A’s Sidawi
Jawaban:
Abu Umar Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al Lakhmi yg di kenal dengan Ibnul Baju (400 H), beliau ulama pakar hadits dan fiqih di zamannya namun gurunya sedikit. Demikian juga Syeikh Abdul Hayyi Al Laknawi, ulama India, beliau gurunya sedikit tak sampai hitungan jari.
Semua itu tidak menghalangi kita untuk mengambil ilmu darinya dan mengakui keulamaannya.
Artikel Benarkah Al Albani Gak Punya Guru, Cuma Modal Otodidak Belajarnya? pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Artikel Benarkah Al Albani Suka Mencela Ulama, dan Mengkafirkan Imam Bukhari? pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi
Demi Alloh, tuduhan bahwa al-Albani mencela ulama Salaf sungguh sangat keterlaluan. Marilah kita meingingat baik-baik hadits Nabi Muhammad:
مَنْ قَالَ فِيْ مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيْهِ, حُبِسَ فِيْ رَدْغَةِ الْخَبَالِ حَتَّى يَأْتِيَ بِالْمَخْرَجِ مِمَّا قَالَ
“Barangsiapa yang menuduh seorang Mukmin secara dusta, maka dia akan ditahan di tanah lumpur Neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (HR. Abu Dawud II/117, al-Hakim dalam al-Mustdrak II/27, Ahmad II/70 dan lain-lain. Lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shohihah no. 437)
Syeikh Albani Menjawab Tuduhan
Syaikh al-Albani berkata menjawab tuduhan ini: “Maha suci Engkau Ya Alloh, sungguh ini adalah tuduhan yang keji. Sebenarnya, tidaklah dosaku dalam pandangan orang ini serta pandangan para ahli taklid dan hasad sejenisnya kecuali karena saya berdakwah kepada manusia untuk berpegang teguh kepada manhaj Salafush Sholih, bukan madzhab-madzhab tertentu. Itulah sebenarnya yang menyebabkan orang ini begitu sengit memusuhiku.” (Tamamul Minnah hlm. 119)
Beliau juga berkata: “Sungguh tuduhan ini merupakan tuduhan yang paling keji dari sekian tuduhannya padaku, karena kalau masalah lainnya yang berkaitan dengan ilmuku, mungkin bisa jadi saya yang salah dan dia yang benar -sekalipun aku telah menjelaskan kedustaanya- Namun kalau tuduhan yang satu ini berkaitan dengan ‘aqidahku, agamaku, pemahamanku tentang manhaj Salafush Sholih. Alhamdulillah, saya populer di kalangan manusia luas bahwa saya adalah seorang Salafi yang mengajak manusia untuk mengikuti Salafush Sholih, baik secara lisan maupun tulisan.” (Qiyamu Ramadhan hlm. 14)
Albani Memuji Ulama Hadits
Beliau t seringkali memuji para ulama ahli hadits dalam kaset maupun kitabnya. Seringkali beliau membawakan ucapan al-‘Allaamah al-Laknawi: “Madzhab ahli hadits adalah madzhab yang paling kuat di antara sekian madzhab. Bagaimana tidak, mereka adalah para ahli waris Nabi ( dan pengibar syari’atnya yang sejati.
Semoga Alloh ( menjadikan kita termasuk golongan mereka dan mewafatkan kita dalam kecintaan kepada mereka dan perjalanan meniti jalan mereka.” (Sifat Sholat Nabi hal. 43, Talkhis Sifat Sholat Nabi hal. 5, Silsilah ash-Shohihah no. 270, adz-Dzabbul Ahmad hal. 82).
Setelah menukil pujian al-‘Allaamah Shiddiq Hasan Khan t terhadap Ahli Hadits, Syaikh al-Albani t berkomentar: “Saya memohon kepada Alloh agar menjadikan saya termasuk deretan Ahli Hadits, manusia yang paling dekat dengan Rosululloh (. Semoga kitab ini (Shifat Sholat Nabi) termasuk salah satu di antara sekian buktinya. Semoga Alloh ( merahmati Imam Ahmad, Imam Sunnah tatkala bersenandung:
دِيْنُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ أَخْبَارُ
نِعْمَ الْمَطِيَّةُ لِلْفَتَى آثَارُ
لاَ تَرْغَبَنَّ عَنِ الْحَدِيْثِ وَأَهْلِهِ
فَالرَّأْيُ لَيْلٌ وَالْحَدِيْثُ نَهَارُ
وَلَرُبَّمَا جَهِلَ الْفَتَى أَثَرَ الْهُدَى
وَالشَّمْسُ بَازِغَةٌ لَهَا أَنْوَارُ
Agama Muhammad adalah hadits
Sebaik-baik kendaraan seorang pemuda adalah hadits
Janganlah kamu membenci hadits dan ahli hadits
Karena rasio itu malam sedang hadits itu siang
Seorang pemuda kemungkinan saja akan salah jalan
Namun sinar matahari tetap akan selalu terang. (Sifat Shalat Nabi hlm. 176)
*Pujian Syeikh Albani Kepada Imam Bukhari Muslim? *
Bagaimana mungkin Syaikh al-Albani t mencela Imam Bukhori atau Imam Muslim, padahal beliau sendiri selalu memuji keduanya.
Beliau t mensifati Imam al-Bukhori sebagai Imam Dunia (Ash Shahihah 4/ي)
Amirul Muhadditsin (pemimpin ahli hadits), (Ash Shahihah 3/ h)
Imam al-Muhadditsin. (Ash Shahihah 6/980)
Beliau juga berkata dalam kaset Man Huwa Kafir…: “Sesungguhnya Imam al-Bukhori tidak membutuhkan pujian orang, karena Alloh telah menjadikan kitab shohihnya pada tingkatan setelah al-Qur’an yang mulia dan diterima oleh seluruh kaum Muslimin di setiap penjuru dunia yang notabene berbeda-beda.” Demikian pula Syaikh al-Albani t menggolongkan Imam Muslim termasuk deretan para Imam pakar hadits. (Ash Shahihah 2/735)
Pembelaan Albani Terhadap Ulama
Adapun pembelaan Syaikh al-Albani t terhadap para ulama salaf, maka hal itu merupakan perkara yang masyhur dan panjang uraiannya, baik dalam kitab maupun kasetnya. Cukuplah sebagai contoh, beliau mengedit kitab at-Takmil Bimaa fii Ta’niibi al-Kautsari Minal Abathil karya Syaikh ‘Abdur Rahman bin Yahya al-Mu’allimi. Kitab ini berisi bantahan terhadap al-Kautsari, guru dan idolanya para pengkritik Syaikh al-Albani seperti as-Saqqaf, Abu Ghuddah, Mahmud Said Mamduh dan sejenisnya.
Dalam kata pengantarnya, Syaikh al-Albani t me-ngatakan: “Kitab at-Takmil… karya al-‘Allaamah al-Muhaqqiq Abdur Rahman bin Yahya al-Mu’allimi yang berisi penjelasan dengan argumen dan bukti yang valid dalam membongkar kedok dan penghinaan Ustadz al-Kautsari terhadap para imam dan perawi hadits, seperti tuduhannya bahwa para ulama adalah kelompok Mujassimah dan Musyabbihah, serangannya terhadap para ulama dengan hawa nafsu dan fanatik buta, sehingga merembet hingga mencela sebagian sahabat, yaitu tatkala dia menyatakan bahwa Abu Hanifah membenci hadits-hadits mereka! Dan qiyas/analoginya lebih utama daripada perkataan Sahabat. Belum lagi cercaan-cercaannya terhadap keutamaan dan ilmu para Imam besar seperti omongannya bahwa nasab Imam Malik bukan Arab tetapi bekas budak! Imam Syafi’i tidak fasih berbahasa Arab dan tidak pintar fikih! Imam Ahmad tidak faqih! Abdulloh, putra Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Utsman ad-Darimi, Ibnu Abi Hatim dan para imam lainnya adalah Mujassimah! Imam Daraquthni buta, sesat dalam ‘aqidah dan pengekor hawa nafsu! Imam al-Hakim seorang Syi’ah dan hafalannya rusak parah! Demikianlah, sehingga hampir tak satu ulama’pun selamat dari kejahatan lidahnya, bahkan seperti al-Humaidi, Sholih bin Muhammad al-Hafizh, Abu Zur’ah ar-Razi, Ibnu Adi, Ibnu Abu Dawud, adz-Dzahabi dan lain sebagainya…”
Syaikh al-Albani t juga membela para ulama seperti Abu Hanifah, Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibnu Hazm, Ibnul Jauzi dan semisalnya yang terjatuh dalam beberapa kesalahan dan penyimpangan. Semua itu terekam dalam sebuah kaset berjudul Man Huwa Kafir wa Man Huwa al-Mubtadi’. Syaikh al-Albani t juga membela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Samahatusy Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz dan lain sebagainya.
Dinukil dari buku kami Syeikh Al Albani Dihujat hlm. 98-104 cetakan Media Tarbiah.
Artikel Benarkah Al Albani Suka Mencela Ulama, dan Mengkafirkan Imam Bukhari? pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Artikel Sanjungan Ulama Dunia Untuk Syeikh al Albani, Ahli Hadits Abad Ini pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi
Dunia menjadi saksi atas kedustaan tuduhan sebagian kalangan merendahkan ilmu Syeikh Al Albani dalam bidang hadits, dimana seluruh para ulama bersepakat memuji al-Albani dan mengakui keunggulannya dalam ilmu hadits. Seandainya saya mau nukilkan seluruh ucapan mereka, maka sangat banyak sekali, tetapi cukuplah sebagian saja:
Dan masih banyak lagi kata-kata berlian yang muncul dari para ulama Ahlus Sunnah sebagai pujian terhadap al-Albani yang sengaja tidak kami nukilkan karena khawatir terlalu panjang, di antaranya Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, ketua komisi fatwa Saudi Arabia sekarang, Syaikh Dr. Abdulloh bin Abdur Rahman al-Jibrin, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadii (Ahli Hadits Yaman), Syaikh Humud at-Tuwaijiri, Syaikh al-Allaamah Hammad al-Anshari (ahli hadits Madinah) dan lain sebagainya banyak dan banyak sekali. (Lihat Masaail Ilmiyyah fii Dawah wa Siyasah Syariyyah hal. 35-37 oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi dan al-Imam al-Albani Durusun wa Mawaqif wa Ibar hlm. 217-230 DR. Abdul Aziz as-Sadhan).
Sungguh kami merasa sangat heran sekali dan bertanya-tanya dalam hati sendiri: Mungkinkah ucapan-ucapan indah para ulama tersebut tidak diketahui oleh si pencela?! Ataukah dia mengetahuinya tetapi alergi untuk meliriknya karena hawa nafsu dan kedengkian yang mengurat di hatinya?!! Ah, ndak tahulah, mana yang benar, tetapi yang pasti keduanya adalah sama-sama pahit rasanya.
فَإِنْ كُنْتَ لاَ تَدْرِيْ فَتِلْكَ مُصِيْبَةٌ
وَإِنْ كُنْتَ تَدْرِيْ فًالْمُصِيْبَةُ أَعْظَمُ
Bila engkau tidak tahu, maka itu musibah
Dan bila engkau tahu, maka musibahnya lebih besar.
Artikel Sanjungan Ulama Dunia Untuk Syeikh al Albani, Ahli Hadits Abad Ini pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Artikel Pujian Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Terhadap Syeikh Albani pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Syeikh Muqbil bin Hadi’ Al Wadi’i sangat menghormati Syeikh Albani dan mensifati Syeikh Albani sebagai pakar ahli hadits di zaman ini, bahkan menyebutnya dengan tegas sebagai Muhadits abad ini. Simak pujian-pujian berikut:
الشيخ ناصر الدين الألباني حفظه الله تعالى وهو يعتبر أعلم زمانه في علم الحديث قد أفنى من عمره زيادة على الخمسين السنة.
Syeikh Nashiruddin Al Albani -semoga Allah menjaganya- termasuk orang yang paling alim/mengetahui bidang ilmu hadits. Beliau telah menghabiskan umurnya lebih dari 50 tahun untuk meneliti hadits. (Ijabatu Saail hlm. 550)
Beliau juga berkata:
إن الشيخ محمد ناصر الدين الألباني -حفظه الله- لا يوجد له نظير في علم الحديث. قد نفع الله بعلمه وبكتبه.
Sesungguhnya Syeikh Muhammad Nashiruddin -semoga Allah menjaganya- tidak ada yang semisalnya dalam ilmu hadits. Allah telah memberikan manfaat dengan ilmunya dan kitab-kitabnya.
والذي أعتقدت وأدين الله به: أن الشيخ محمد ناصر الدين الألباني -حفظه الله- من المجددين الذين يصدق عليه قول الرسول : إن الله الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مئة سنة من يجدد لها أمر دينها. رواه أبو داود وصححه العراقي وغيره.
Yang saya yakini dan saya beragama kepada Allah dengannya bahwa Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -semoga Allah menjaganya- termasuk pembaharu dalam agama yang disebutkan oleh Nabi dalam sabdanya: Sesungguhnya Allah mengutus pada setiap seratus tahun seorang yang memperbaharui perkara agama. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan Al Iraqi dan lainnya.
الشيخ ليس له نظير في علم السنة.
Syeikh (Albani) tidak ada yang semisalnya dalam ilmu hadits. (Lihat Hayatul Albani 2/554-556, Asy Syaibani)
Cukuplah kalimat-kalimat di atas sebagai pengakuan Syeikh Muqbil tentang kepakaran Syeikh Albani dalam ilmu hadits, dan pujian-pujian itu lebih dari cukup dari gelar Muhaddits untuk Albani.
إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا
فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ
Apabila Hadhami berucap maka benarkanlah
Karena kebenaran pada dirinya.
Jika masih ada yang berkilah lagi -sebagai kebiasaannya dalam beretorika-: Tetap saja Syeikh Muqbil tidak menyebut Syeikh Albani itu sebagai Muhadits, maka kami katakan: Baiklah, berikut kami nukilkan ucapan Syeikh Muqbil yang mensifati Syeikh Albani sebagai:
محدث العصر
Muhaddits (ahli hadits) zaman ini. (Lihat Sifat Shalat Nabi hlm. 118 karya Syeikh Muqbil bin Hadi)
وَإِذَا لَمْ تَرَ الهِلاَلَ فَسَلِّمْ
لأُنَاسٍ رَأَوْهُ بِالأَبْصَارِ
Apabila engkau tidak melihat bulan sabit maka serahkanlah
kepada manusia yang melihatnya dengan mata kepala.
Semoga bermanfaat.
Artikel Pujian Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Terhadap Syeikh Albani pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Artikel Catatan Polemik Tentang Syeikh Al Albani Apakah Muhadits Atau Bahits? pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>Yusuf bin Mukhtar As Sidawi
Muqaddimah
Polemik tentang Syeikh Albani antara pro dan kontra terus bergulir, bahkan semakin ke sini semakin liar narasi-narasi buruk yang dialamatkan kepada Syeikh Albani. Awalnya hanya pembahasan Muhadits dan Bahits, namun para pendengki keluar dari sarangnya sehingga mengeluarkan isi hati mereka selama ini, sehingga keluarlah tuduhan bahwa Syeikh Albani mencela ulama, mengkafirkan Imam Bukhari, melemahkan hadits-hadits Shahih Bukhari Muslim, dan seterusnya.
Namun, begitulah cara Allah untuk mengharumkan nama baik Syeikh Albani, seperti kata penyair:
وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلَةٍ
طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ
Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia
Maka, Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menebarkannya.
(Diwan Abu Tamam: 45)
Kami amat yakin bahwa semua ini adalah jalan Allah untuk semakin menyebarkan kebenaran, mengangkat derajat ulama dan memadamkan kebathilan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Termasuk sunnatullah, apabila Dia ingin menampakkan agamaNya, maka dia membangkitkan para penentang agama, sehingga Dia akan memenangkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan, karena kebatilan itu pasti akan hancur binasa”. (Majmu’ Fatawa 28/57)
Serahkan Bidang Kepada Ahlinya
Telah disepakati bersama oleh setiap manusia berakal bahwa setiap bidang ilmu itu harus diserahkan kepada ahli di bidangnya; bidang hadits diserahkan kepada ahli hadits, bidang nahwu diserahkan kepada ahli nahwu, bidang fiqih diserahkan kepada ahli fiqih, bidang kedokteran diserahkan kepada para dokter. Demikian seterusnya.
Imam Syaukani dalam Adab Thalab (hal. 76) mengatakan: “Sesungguhnya keadilan seorang tidak sempurna sehingga dia mengambil semua bidang dari ahlinya.
Adapun jika dia mengambil ilmu dari orang yang bukan bidangnya maka dia akan terjatuh dalam ketimpangan dan kesalahan”.
Sungguh aneh bin ajaib, seorang yang bukan ahli di bidang hadits tapi berbicara tentang ulama pakar hadits. Sungguh, ini adalah awal dari bencana seandainya dia menyadarinya.
Menakjubkanku ucapan Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani tatkala mengatakan:
من تكلم في غير فنه أتى بالعجائب
“Barang siapa berbicara hal yang bukan bidangnya maka dia akan melontarkan kejanggalan-kejanggalan”(Fathul Bari 3/584, Kalimatul Haq karya Ahmad Syakir hlm. 131)
Al Albani, Muhadits Atau Bahits?
Sejujurnya, kalau kita membaca kitab-kitab mustholah hadits, kami belum mendapati istilah Bahits Hadits untuk sebuah gelar ulama. Yang ada adalah gelar Amirul Mukminin fil hadits, Al Musnid, Al Hafidz, Al Muhaddits, Al Hakim. Adapun gelar dengan Bahits, ini sebuah istilah yang belum kami temukan dalam kitab-kitab hadits sebagai sebuah gelar ulama yang bergelut dengan ilmu hadits. (Lihat Syarah Lughotul Muhaddits 288-290 karya Syeikh Thariq bin Awadhullah)
Lantas apa definisi Al Muhaddits? Muhadits adalah sebuah istilah gelar untuk seorang yang menggeluti ilmu hadits di zamannya secara riwayat dan dirayah, mengerti tentang ilmu sanad, ‘ilal, nama-nama perawi, dan lain sebagainya. Dia ahli di bidang tersebut sehingga dikenal luas kepakarannya di bidang itu.
Adapun ucapan sebagian ulama dulu bahwa kami tidak menganggap ahli hadits sampai dia menulis 20 ribu hadits, maka hal itu adalah pada zaman mereka. (Lihat Tadrib Rawi 1/37-38 karya As Suyuthi, Qawaid Tahdits hlm. 79 karya Al Qasimi).
Kalau kita menerapkan defenisi ini, maka jelas Syeikh Al Albani memenuhi kriteria Al Muhadits dengan beberapa indikator:
أُوْلَئِكَ آبَائِيْ فَجِئْنِيْ بِمِثْلِهِمْ
إِذَا جَمَعَتْنَا يَا جَرِيْرُ الْمَجَامِعُ
Merekalah orang tuaku, maka datangkanlah padaku semisal mereka
Apabila perkumpulan mengumpulkan kita wahai Jarir.
Menarik, ucapan Syaikh Dr. Bakr bin Abdillah Abu Zaid Rahimahullah tatkala membantah ucapan Muhammad Ali ash-Shabuni bahwa al-Albani tidak pandai hadits:
“Ini merupakan kejahilan yang sangat dalam dan pelecehan yang keterlaluan, karena kehebatan ilmu al-Albani dan perjuangannya membela Sunnah dan aqidah Salaf sangat populer di hati para ahli ilmu.
Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali musuh yang jahil. Saya tidak mau memperpanjang bahasan, saya serahkan hukumnya pada saudara pembaca”.
(At-Tahdzir min Mukhtasharat as-Shabuni fi Tafsir hal. 41)
Semua ini adalah indikator kuat bahwa Syeikh Albani layak disebut sebagai Muhadits zaman ini. Jika beliau bukan Muhadits di zamannya, maka tidak ada lagi yg berhak digelari Muhadits di zaman ini. Fikirkanlah.
Jika ada yang mengatakan: Kenapa harus ribut hanya masalah gelar Muhadits buat Syeikh Albani? Maka kami katakan kepadanya seperti ucapan sahabat Ibnu Abbas:
اسكت يا جاهل، لا يعرف الفضل لأهل الفضل إلا ذوو الفضل
Diamlah wahai jahil, tidaklah mengetahui keutamaan orang yang berilmu kecuali orang yang berilmu juga. (Tarikh Baghdad 14/15)
Hal ini mengingatkanku bahwa dahulu, ada orang yang mengingkari gelar Syeikhul Islam untuk Ibnu Taimiyyah, maka seorang ulama bernama Ibnu Nashiruddin menulis sebuah karya berjudul Ar Raddul Al Wafir sebagai pembelaan kepada Ibnu Taimiyyah dan membantah orang-orang yang mengingkari gelar Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Benarkah Syeikh Muqbil Menilai Syeikh Al Albani Hanya Bahits Bukan Muhadits?
Anehnya, sang ustadz mengatakan bahwa Al Albani hanya Bahits hadits dan tidak Muhaddits membawakan ucapan Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i yang menyebut Syeikh Albani sebagai Bahits. Baginya, seakan-akan itu menguatkan klaimnya dan dia telah menemukan senjata pamungkas untuk pembenaran penilaiannya, ditambah dengan retorika dan kita-kata yang membius jamaahnya yang awam tentang ilmu hadits.
Betul bahwa Syeikh Albani adalah Bahits hadits, yakni peneliti hadits karena memang kesibukan beliau adalah meneliti hadits-hadits Nabi. Namun, apakah itu sebuah gelar yang diberikan kepada Albani seperti halnya Al Hafidz, Al Musnid, Al Muhaddits? Seperti tadi kami sampaikan bahwa Bahits bukanlah sebuah gelar yang masyhur dalam dunia hadits untuk seorang yang menggeluti hadits. Tidak seperti klaim ustadz bahwa Syeikh Albani hanyalah bahits yang merupakan sebuah tingkatan di bawah Muhadits.
Kemudian, Apakah sifat Bahits yang diberikan Syeikh Muqbil berarti menafikan gelar Muhaddits untuk Syeikh Al Albani?
Lantas bagaimana dengan ucapan-ucapan Syeikh Muqbil di banyak kesempatan bahwa Albani adalah pakar dan imam ahli hadits di zamannya?
Coba kita perhatikan baik-baik ucapan Syeikh Muqbil berikut ini:
الشيخ ناصر الدين الألباني حفظه الله تعالى وهو يعتبر أعلم زمانه في علم الحديث قد أفنى من عمره زيادة على الخمسين السنة.
Syeikh Nashiruddin Al Albani -semoga Allah menjaganya- termasuk orang yang paling alim/mengetahui bidang ilmu hadits. Beliau telah menghabiskan umurnya lebih dari 50 tahun untuk meneliti hadits. (Ijabatu Saail hlm. 550)
Beliau juga berkata:
إن الشيخ محمد ناصر الدين الألباني -حفظه الله- لا يوجد له نظير في علم الحديث. قد نفع الله بعلمه وبكتبه.
Sesungguhnya Syeikh Muhammad Nashiruddin -semoga Allah menjaganya- tidak ada yang semisalnya dalam ilmu hadits. Allah telah memberikan manfaat dengan ilmunya dan kitab-kitabnya.
والذي أعتقدت وأدين الله به: أن الشيخ محمد ناصر الدين الألباني -حفظه الله- من المجددين الذين يصدق عليه قول الرسول : إن الله الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مئة سنة من يجدد لها أمر دينها. رواه أبو داود وصححه العراقي وغيره.
Yang saya yakini dan saya beragama kepada Allah dengannya bahwa Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -semoga Allah menjaganya- termasuk pembaharu dalam agama yang disebutkan oleh Nabi dalam sabdanya: Sesungguhnya Allah mengutus pada setiap seratus tahun seorang yang memperbaharui perkara agama. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan Al Iraqi dan lainnya.
الشيخ ليس له نظير في علم السنة.
Syeikh (Albani) tidak ada yang semisalnya dalam ilmu hadits. (Lihat Hayatul Albani 2/554-556, Asy Syaibani)
Cukuplah kalimat-kalimat di atas sebagai pengakuan Syeikh Muqbil tentang kepakaran Syeikh Albani dalam ilmu hadits, dan pujian-pujian itu lebih dari cukup dari gelar Muhaddits untuk Albani.
إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا
فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ
Apabila Hadhami berucap maka benarkanlah
Karena kebenaran pada dirinya.
Jika masih ada yang berkilah lagi -sebagai kebiasaannya dalam beretorika-: Tetap saja Syeikh Muqbil tidak menyebut Syeikh Albani itu sebagai Muhadits, maka kami katakan: Baiklah, berikut kami nukilkan ucapan Syeikh Muqbil yang mensifati Syeikh Albani sebagai:
محدث العصر
Muhaddits (ahli hadits) zaman ini. (Lihat Sifat Shalat Nabi hlm. 118 karya Syeikh Muqbil bin Hadi)
وَإِذَا لَمْ تَرَ الهِلاَلَ فَسَلِّمْ
لأُنَاسٍ رَأَوْهُ بِالأَبْصَارِ
Apabila engkau tidak melihat bulan sabit maka serahkanlah
kepada manusia yang melihatnya dengan mata kepala.
Masihkah anda berkilah lagi? Ataukah ini adalah hawa nafsu dan kesomobongan yang membelenggu dirimu? Semoga Allah merahmati Imam Waki bin al-Jarrah tatkala berucap:
أَهْلُ الْعِلْمِ يَكْتُبُوْنَ مَالَهُمْ وَمَاعَلَيْهِمْ, وَأَهْلُ الْبِدَعِ وَالأَهْوَاءِ لاَ يَكْتُبُوْنَ إِلاَّ مَا لَهُمْ
“Ahli ilmu menulis semua sisi positif dan negatif yang ada pada mereka. Adapun ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu, mereka tidak menulis kecuali sisi positif yang ada pada mereka saja. (Sunan Daruquthni 1/26)
Nasehat & Renungan
Sebagai nasehat untuk diri kami pribadi dan saudara-saudara kami semua dalam masalah ini, izinkan kami menyampaikan beberapa nasehat dan faedah pengingat untuk kita semua:
Salah satu adab mulia yang kini mulai pudar dari kita adalah tahu kapasitas diri. Mari kita tahu kapasitas diri kita, jangan merasa tahu segala bidang dan jangan bicara apa yang bukan bidang kita. Fudhail bin Iyadh berkata: “Puncak adab menurut kami adalah tatkala seorang tahu kadar dirinya”. (Hilyatul Auliya’, 10/169)
Seorang pernah mengatakan kepada Ibnul Mubarak “Berikanlah padaku wasiat”. Diapun menjawab:
” اعرف قدر نفسك “.
“Sadarilah Kapasitas Dirimu”. (Al Jarh wa Ta’dil 1/280)
Kasihanilah dirimu wahai hamba Allah, jangan kasihan sama Syeikh Albani.
يا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِيْ لِيَكْلِمَهُ
أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ
Hai orang yang akan menanduk gunung
tinggi untuk menghancurkannya
Kasihanilah kepala anda,
jangan kasihan pada gunung itu.
Para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah. Cukuplah sebagai keutamaan mereka bahwa penduduk langit dan bumi hingga binatang semut dan ikan mendoakan kebaikan untuk mereka. Nabi bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para MalaikatNya dan penduduk langit dan bumi, bahkan semut di sarangnya dan ikan di lautan mereka semua mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan untuk manusia”. (HR. Hakim dalam Al Mustadrak 1/93, Ath Thabarani dalam Al Ausath: 3960 dan dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’: 4214)
Para ulama menjelaskan kenapa para binatang turut mendo’akan para penuntut ilmu dan ulama, sebabnya adalah:
Syeikhuna Sulaiman Ar Ruhaili berkata: “Salah satu wasiat guruku yang sangat menakjubkanku adalah pesannya padaku: “Wahai Sulaiman, jangan jadikan dirimu lebih rendah dari hewan”.
Aku berkata: Kok bisa begitu?Beliau menjawab: Janganlah kamu mencela para ulama rabbani yang dikenal dengan sunnah dan tauhid, tetapi hendaknya engkau menyebutkan keutamaan mereka dan mendoakan kebaikan mereka. Sesungguhnya Nabi bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para MalaikatNya dan penduduk langit dan bumi, bahkan semut di sarangnya dan ikan di lautan mereka semua mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan untuk manusia”. (Lihat Syarh Al Washiyyah Ash Sughro hlm. 150)
Kita tidak boleh nyinyir dan merendahkan siapapun, bahkan hewan saja gak boleh, apalagi muslim, apalagi ulama. Mari renungkan bersama sabda Nabi ﷺ :
لا تسبوا الديك فإنه يوقظ للصلاة
“Janganlah kalian menghina ayam jago, karena dia membangunkan kalian untuk sholat”. (Hasan. HR. Abu Dawud: 5101 dan Ahmad 21679 dan dishahihkan al Albani)
Subhanallah, kalau menghina ayam saja gak boleh, apalagi menghina manusia? apalagi jika dia adalah ulama dan umaro yang punya pengaruh di tengah masyarakat?!
Syeikhuna Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad berkata: “Jika Nabi melarang dari mencela ayam jago karena dia membangunkan manusia untuk shalat, lantas bagaimana halnya dengan mencela ulama yang membangunkan hati manusia dan menyadarkan hamba yang lalai? Tentu saja jasa para ulama lebih agung daripada jasa ayam, sehingga mereka pun lebih utama untuk dihormati dan dimuliakan kedudukan mereka”. (Syarh Kifayatul Mutaabbid wa Tuhfatul Mutazahhid hlm. 63)
Membela kehormatan saudara kita adalah amalan mulia, apalagi membela para ulama sunnah, apalagi sejatinya orang yang merendahkan ulama pada dasarnya bukan hanya menyerang pribadinya saja tetapi dakwah yang diembannya.
Rasulullah bersabda:
مَن ردَّ عَن عِرضِ أخيهِ ردَّ اللَّهُ عن وجهِهِ النَّارَ يومَ القيامةِ
Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka kelak pada hari kiamat. (HR. At Tirmidzi: 1931 dan dishahihkan Albani)
Syeikh Albani berkata: “Kewajiban kita adalah membela orang-orang beriman dan menjernihkan kehormatan mereka dari segala kebohongan dan kebatilan yang dilontarkan kepada mereka, baik karena faktor kejahilan, kezhaliman, atau mungkin kedua-duanya secara bersamaan”. (Difa’ Anil Hadits Nabawi was Sirah hlm. 101)
Perlu diketahui bahwa saat kita membela kehormatan Syeikh Albani ini sama sekali bukan berarti kita ghuluw kepada Al Albani. Tatkala para ulama menggelari Syeikh Albani dengan Muhadits bukan berarti mereka berlebihan kepada Albani seperti klaim dan tuduhan sang Ustadz. Sama sekali hal itu tidak benar.
Ahlu Sunnah sikap mereka terhadap ulama pertengahan antara berlebihan dan meremehkan. Inilah yang diterapkan oleh para ahli Sunnah (Salafiyyun) terhadap Syaikh al-Albani, mereka menghormati dan mencintai beliau karena ilmu, aqidah, dakwah dan perjalanannya yang sesuai dengan kebenaran. Namun dalam waktu yang sama, mereka tidak mengkultuskan beliau dan taklid buta kepada beliau. Apabila memang jelas bagi mereka ketergelinciran suatu pendapat Syaikh al-Albani, maka mereka meninggalkannya dengan tetap menghormati beliau. Berikut beberapa bukti yang menguatkannya:
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ
“Apabila seorang hakim (ulama) mengambil keputusan dan berusaha (mencari yang benar) maka dia mendapat dua pahala, dan apabila salah dia mendapatkan satu pa-hala. (Fatawa Lajnah Diamah 12/224)
3.Ucapan Syaikh al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin: “Syaikh al-Albani adalah orang yang sangat dalam ilmunya, luas telaahnya dan kuat argumennya. Namun semua orang dapat diambil dan ditolak ucapannya selain perkataan Alloh dan Rosul-Nya. (Hayatul Albani 2/543)
Beliau juga berkata: “Al-Albani adalah alim, muhaddits, faqih. Saya berani menjadi saksi bahwa Syaikh al-Albani seorang yang beraqidah lurus dan selamat, tetapi bukan berarti kita mengatakan bahwa beliau tidak pernah salah, karena tak ada yang mashum kecuali Rosululloh. Beliau terkadang salah dalam beberapa pendapatnya”. (Majalah Al-Ashalah edisi 28 Tahun VI/Jumadil Akhir 1420 H)
Kita sepakat bahwa dalam menilai seorang kita harus adil yaitu menempatkan sesuatu pada porsinya dan kedudukannya. Tidak boleh kita berlebihan dalam meninggikan dan tidak boleh merendahkan dari kedudukannya. Oleh karenanya, seorang harus berhati-hati dalam menilai dan menghukumi manusia.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sebagaimana dimaklumi bersama bahwa menghukumi diantara manusia dalam agama dan ucapan mereka lebih berat daripada menghukumi mereka dalam jual beli dan harta mereka”. (Dar’u Ta’arudhil Aqli wa Naqli 7/464)
Jangan sampai kebencian kita dan kecintaan kita kepada seseorang menjadikan kita tidak berbuat adil dalam menilainya. Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maidah: 8)
Bila kepada musuh saja kita harus adil, lantas bagaimana kiranya kepada seorang muslim, apalagi kepada ulama?! (Lihat Al Istiqomah 1/38 karya Ibnu Taimiyyah, Badaiul Fawaid 2/165-166 karya Ibnul Qayyim)
Klaim sang ustadz yang mengingkari gelar Muhadits terhadap Syeikh Albani dan memposisikan beliau hanya sekedar Bahits dengan klaim adil dan mendudukan pada porsinya dan mengklaim bahwa gelar Muhadits untuk Syeikh Albani adalah sikap yang berlebihan. Subhanallah, timbangan keadilan apa yang dipakai olehnya? Apakah para ulama bahkan para musuhnya yang menjuluki beliau sebagai Muhadits semuanya berlebihan kepada Albani? Apakah para ulama tersebut salah dalam menilai Syeikh Al Bani, sedangkan anda yang inshaf dan adil dalam menilai beliau?
هبني قُلْتُ : هَذَا الصُّبْحُ لَيْلٌ
أَيَعْمَى الْعَالِمُوْنَ عَنِ الضِّيَاءِ
Anggaplah bahwa diriku mengatakan
Sesungguhnya Shubuh itu adalah malam
Apakah orang yang mengerti sudah buta dari sinar?!.
Apakah adil jika seorang dokter spesialis namun dinilai sebagai dokter magang? Apakah adil jika menggelari seorang profesor doktor sebagai guru magang?
Sebagaimana tidak adil jika meninggikan derajat seorang di atas kedudukannya, demikian juga tidak adil jika merendahkan seorang dari kedudukannya, Allah berfirman:
فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ
Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, (QS. Al-A’raf: 85)
Jika Allah saja mengecam orang-orang yang mengurangi timbangan dan takaran, lantas bagaimana dengan orang orang yang mengurangi timbangan keadilan dalam menilai seorang ulama?! Fikirkanlah.
Salah satu resiko hidup di zaman sekarang adalah kita sulit membendung omongan orang yang beraneka ragam karakternya. Adanya orang-orang seperti itu adalah ujian buat kita semua. Semua kita sama-sama menghadapinya. Tidak perlu baper menghadapi komen-komen di dunia maya.
Yang jelas siapapun yang menyampaikan statemen dia harus siap diuji kebenarannya. Sebagaimana ustadz berani mengkritik Syeikh Albani maka harus siap juga dikritik pandangan dan penilaiannya serta siap diuji keotentikan klaimnya. Harus siap bertanggung jawab secara ilmiah di dunia sebelum nanti bertanggung jawab di akherat. Karena semua kita akan berdiri di hadapan Allah mempertanggung jawabkan ucapan dan perbuatan kita di dunia ini.
Sekalipun demikian, kami menasehatkan kepada kami pribadi dan saudara-saudara kami semua : Mari kita membela kebenaran dengan cara yang benar, jangan dengan caci maki dan curang.
Syeikh Abdur Rahman bin Yahya Al-Mu’allimi رحمه الله berkata:
“Sebesar apapun kita mencintai kebenaran. Namun kita jangan membela kebenaran kecuali dengan cara yang benar”. (Majmu Muallafat wa Atsar Syeikh 4/6).
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sunnah itu dibela dengan kebenaran, kejujuran dan keadilan. Tidak dibela dengan kedustaan dan kedzaliman. Jika seorang membantah kebathilan dengan kebathilan pula, dan melawan kebid’ahan dengan kebid’ahan pula, maka ini termasuk yang dicela oleh salaf dan para imam”. (Dar’u Ta’arudzil Aqli wa Naqli 7/182)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: ”Membantah hanya dengan mencela dan umpatan maka semua orang juga bisa. Seorang yang hendak membantah orang musyrik dan ahli kitab saja harus menjelaskan hujjah yang menjelaskan kebenaran dan membongkar kebathilan mereka”. (Majmu Fatawa 4/186)
Masih banyak orang tidak bisa membedakan antara menghina dan mengkritik. Seringkali kritikan dianggap sebagai celaan. Sebaliknya, seringkali hinaan dianggap sebagai kritik ilmiah. Oleh karenanya, Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali menulis sebuah risalah khusus untuk membahas perbedaan ini berjudul “Al-Farqu Baina an-Nashihah wa at-Tayir.
Diantara ucapan beliau (hal. 9-12): “Adapun menjelaskan kesalahan seorang ulama sebelum-nya, apabila beradab yang baik dan sopan dalam mengkritik maka tidak apa-apa, tidak tercela”
Lanjutnya: “Apabila tujuan si pengkritik adalah menjelaskan ketergelinciran pendapat seorang ulama dan agar tidak diikuti manusia, maka tidak ragu lagi bahwa dia berpahala dan menegakkan pilar nasehat untuk Alloh, Rasul-Nya, para pemimpin dan kaum Muslimin secara umum.
Adapun apabila tujuan penulis tersebut adalah membongkar aib seorang ulama dan menampakkan cacatnya pada umat, maka hal itu adalah haram, baik mengkritiknya secara langsung atau tidak, baik di saat masih hidup atau sesudah wafatnya. Hal itu termasuk perbuatan dosa yang diancam oleh Alloh dalam al-Qur’an-Nya dan Nabi dalam haditsnya”.
Salah satu akhlak mulia yang dimiliki ulama Rabbaniyun adalah menerima nasehat dan kembali kepada kebenaran dari siapapun yang menyampaikan kepadanya, baik yang selevel, lebih atas atau bahkan lebih bawah levelnya. Dahulu dikatakan:
الرجوع إلى الحق فضيلة والتمادي في الباطل رذيلة
Kembali kepada kebenaran adalah keutamaan dan terus bertahan dalam kebathilan adalah kehinaan.
Hal itu karena kebenaran adalah barang berharga yang tak bisa dinilai dengan dunia.
الحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها أخذها
Hikmah itu adalah barang hilang seorang mukmin. Dimanapun dia mendapatinya dia akan mengambilnya.
Inilah yang dipraktekkan oleh para ulama salaf dahulu dan mereka nasehatkan kepada kita semua. Al Hafidz Ibnu Rajab berkata:”Para ulama salaf yang disepakati ilmu dan keutamaan mereka, mereka menerima kebenaran dari siapapun yang menyampaikan kepada mereka sekalipun anak kecil. Mereka juga menasehatkan para sahabat dan pengikut mereka untuk menerima kebenaran apabila nampak kebenaran pada selain pendapat mereka”. (Al Farqu Baina Nasihah wa Ta’yir hlm. 10)
Demikian juga Imam Al Ajurri, beliau berkata tatkala menyebutkan akhlak ulama: “Bila seorang alim telah berfatwa kemudian dia tahu bahwa fatwanya keliru maka dia tidak sombong untuk meralatnya.
Jika dia berpendapat suatu pendapat lalu dibantah oleh selainnya baik yang lebih tinggi, selevel atau lebih rendah darinya, dan ternyata memang dia salah, maka dia segera meralat ucapannya, memuji orang yang mengingatkannya dan mengucapkan terima kasih padanya”. (Akhlakul Ulama hlm. 27)
Berbeda dengan orang pada zaman sekarang, ketika dia salah lalu ada yang mengkritiknya maka dia sombong, marah, berkelit dan justru merendahkan orang yang mengkritiknya dan mencari-cari pembenaran atas kesalahannya lalu merasa dirinya yang terdzalimi. di dunia ini. Benar kata Ibnu Qudamah tatkala mengatakan:
“Adalah para salaf, mereka cinta terhadap orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Sedangkan kita sekarang, orang yang paling kita benci adalah orang yang mengingatkan keesalahan kita”. (Mukhtashor Minhaj Qoshidin hlm. 196)
Jadi, harusnya kita gembira tatkala ada yang mengingatkan kesalahan kita. Syaikh Shalih Al Fauzān berkata:”Orang yang menginginkan kebenaran akan senang dengan nasihat dan teguran saat dia terjatuh dalam kesalahan.” (Syarh Kitābul ‘Ubūdiyyah, hal. 252)
Syeikh Abdur Rahman As Sa’di berkata saat menjelaskan adab seorang guru: “Hendaknya bagi seorang guru untuk kembali kepada kebenaran. Janganlah suatu ucapan yang pernah diucapkan dan ternyata dia tahu bahwa itu salah menjadi penghalang baginya untuk kembali kepada kebenaran, karena ini menunjukkan tanda inshaf dan tawadhu kepada kebenaran.
Ini adalah akhlak mulia yang akan menambah kepercayaan murid-muridmu kepadamu, serta bertambah cinta dan menirumu. Maka wajib mengikuti kebenaran walaupun itu datang dari anak kecil atau senior.
Termasuk kenikmatan Allah kepada seorang guru bila dia mendapati ada diantara muridnya yang mengingatkan kesalahannya dan mengarahkan ke jalan yang benar agar dia tidak terus dalam kesalahannya, maka ini perlu disyukuri kepada Allah serta berterima kasih kepada yang mengingatkan, baik muridnya atau selainnya”. (Al Fatawa As Sa’diyyah hlm. 627-628)
Hati-hatilah dari menolak kebenaran yang datang. Alangkah bagusnya ucapan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tatkala berkata: “Orang yang sombong tidak menerima kebenaran, niscaya dia akan ditimpa mengikuti kebathilan”. (Majmu Fatawa 7/629).
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita akhlak mulia berupa tawadhu dan menerima kebenaran. Dan semoga Allah menjauhkan kita dari kesombongan dan menolak kebenaran.
Artikel Catatan Polemik Tentang Syeikh Al Albani Apakah Muhadits Atau Bahits? pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>