Namaku Senja Adi Prawira. Di kampung, orang-orang lebih suka memanggilku Adi. Simpel, pendek, gampang diteriakkan kalau aku lagi main bola di lapangan. Tapi di komunitas fotografi, beberapa teman mulai manggil aku “Senja”. Katanya, nama itu keren, puitis, dan sangat instagrammable. Padahal sih, menurutku cuma terdengar seperti orang yang suka melankolis sore-sore sambil minum es teh di warung pojok.
Tapi, ada satu nama lain yang jauh lebih mengguncang dibanding panggilan apapun padaku. Nama itu bikin jantungku sering mendadak berdegup lebih kencang: Mentari Puspita. Biasanya kupanggil dia Ita. Dari namanya aja udah manis, kayak embun pagi ketemu cahaya matahari. Dan yang lebih bikin adem, wajahnya… duh, bikin aku sering gagal fokus. Kulitnya putih, bersih, dengan sorot mata bening di balik kacamata bulat tipis yang bikin dia kelihatan agak mirip etnis Tionghoa. Dia muslimah, dan entah kenapa, aura itu justru bikin pesonanya semakin aneh–kayak kombinasi antara perpustakaan dan senja di pantai, serius tapi juga hangat.
Kami ketemu pertama kali bukan di mushola sekolah, bukan juga di perpustakaan yang katanya tempat paling gampang cari “momen romantis ala film”. Kami ketemu di sebuah tempat yang jauh lebih absurd tapi unik: komunitas fotografi. Sama-sama masih SMA, sama-sama datang bawa kamera pinjeman. Bedanya, kamera Ita kelihatan kece–masih kinclong, tombol-tombolnya rapih, lensa mulus kayak baru keluar dari kotak. Sedangkan kameraku? Ah, jangan ditanya. Kamera turunan dari pamanku yang lensanya suka error. Kalau aku atur fokus, hasilnya malah bikin orang yang difoto kelihatan misterius di film horor kelas C.
Aku masih ingat jelas waktu itu, Ita ngintip hasil jepretanku di layar kecil kamera. Dia agak nyengir, lalu komentar dengan polos,
“Bang, fotonya miring.”
Aku langsung refleks jawab, sok gaya, sok punya aliran sendiri,
“Bukan miring, Ta… itu seni. Konsepnya abstrak. Fotografi bukan cuma soal lurus atau nggak lurus, tapi soal rasa.”
Ita ketawa. Dan ketawanya itu… astaghfirullah. Jujur, itu lebih berbahaya daripada kilatan flash kamera. Suaranya renyah, nggak dibuat-buat. Bibirnya melengkung alami, matanya menyipit di balik kaca mata, dan ada cahaya yang entah kenapa seperti jatuh tepat di wajahnya. Saat itu aku tahu: aku harus hati-hati. Karena setiap ketawanya terasa seperti cahaya sore yang menembus celah dedaunan–hangat, indah, tapi kalau terlalu lama menatap… bisa-bisa hatiku gosong tanpa sadar.
Kami sempat pacaran. Tapi jangan bayangin pacaran ala drama Korea, yang peluk-pelukan di halte bus atau duduk bareng di kursi taman sambil ngunyah odeng. Pacaran kami lebih sederhana, ala remaja kampung: jalan-jalan ke alun-alun, muter-muter naik sepeda, nongkrong di warung bakso yang kuahnya selalu kebanyakan micin, terus pulangnya masih sempet mampir beli es teh di gerobak dekat perempatan.
Itu pun sudah bikin hati kami berdebar-debar, seolah dunia mendadak jadi bioskop khusus berdua. Rasanya bahagia nggak perlu mahal. Cukup ada aku, ada Ita, dan satu mangkok bakso berdua–meski sering aku yang kebagian lebih banyak pentol karena dia sibuk nyedot mie.
Tapi semua berubah ketika kelas 11, kami sama-sama ikut Rohis.
Awalnya kami pikir nggak akan ada bedanya. Toh, ikut Rohis kan cuma soal ikut kajian, ngurus kegiatan islami, foto-foto dokumentasi acara (bagian favoritku tentunya). Tapi ternyata, Rohis itu kayak pintu yang tiba-tiba bikin kami ngeliat diri sendiri dari cermin lain: cermin iman.
Dan sejak itu, setiap pertemuan dengan Ita berubah jadi semacam permainan petak umpet dengan malaikat pencatat amal. Kami masih saling lihat, tapi pura-pura sibuk buka buku atau atur kamera. Kami masih saling kangen, tapi cuma bisa ngirim broadcast kajian di WhatsApp–itu pun dikemas seolah-olah netral, padahal maksudnya: “Aku kangen, Ta. Tapi biar aku bungkus dengan ayat.”
Aku pernah ngetik pesan panjang di layar HP tengah malam, jari gemetar, hati deg-degan:
“Ta, aku rindu. Aku pengen ngobrol kayak dulu lagi. Rasanya sepi banget kalau nggak denger suaramu.”
Aku baca ulang pesan itu berkali-kali, seperti sedang menimbang antara neraka dan surga. Dan akhirnya, dengan satu hembusan napas panjang, aku hapus. Lenyap. Yang tertinggal hanya kosong di layar, sama kosongnya dengan dadaku.
Sebagai gantinya, aku tulis lagi dengan tangan yang lebih tenang, tapi hati yang lebih sesak:
“Assalamu’alaikum. Ta, ada kajian Ustadzah di mushola nanti sore. Jangan lupa hadir, ya.”
Dan balasannya datang singkat, sederhana, tanpa hiasan, hanya emotikon tangan berdoa.
Aku menatap lama layar ponsel, berharap ada kalimat tambahan seperti “Aku juga kangen, Di,” atau “Jangan hilang, ya.” Tapi tidak ada, yang ada hanya doa. Dan doa, meski indah, bagiku kadang terasa terlalu jauh untuk menenangkan rasa rindu yang menyesakkan dada.
Hari-hari setelah itu jadi ujian tersendiri. Duduk di barisan ikhwan, aku bisa merasakan Ita di seberang pembatas, di barisan akhwat. Hanya beberapa meter jaraknya, tapi seolah ada tembok kaca tebal yang memisahkan kami. Tembok itu samar terbayang, aku bisa melihat siluet dalam benak, mendengar suara tawanya samar ketika ngobrol dengan teman-temannya. Tapi aku tidak bisa menembusnya.
Sungguh… sulit rasanya menahan rindu sambil tetap menjaga jarak. Rasanya seperti punya makanan favorit, tapi cuma boleh lihat gambarnya di katalog. Atau seperti punya kamera mahal, tapi tanpa memori card–kau bisa jepret sebanyak apapun, tapi hasilnya nggak akan tersimpan.
Kadang aku menunduk lebih lama dari biasanya dalam sujud, hanya untuk menitipkan doa yang nggak pernah bisa kusampaikan langsung.
“Ya Allah, kalau rasa ini salah, tolong ampuni aku. Tapi kalau ini adalah cinta yang Kau titipkan, tolong jaga dia. Jaga kami.”
Dan entah kenapa, setiap kali bangun dari sujud, aku merasa hatiku semakin berat. Karena cinta itu justru makin tumbuh, makin dalam, makin sulit dilepas.
ooOoo
Aku memutuskan langsung kerja setelah lulus SMA. Bukan karena aku malas kuliah–jangan salah, aku juga pengen banget pakai almamater kampus, nongkrong di kantin mahasiswa sambil buka laptop sok sibuk. Tapi realitas keluargaku jauh dari kata sederhana. Ayah dan ibuku sudah cerai. Dan sejak hari itu, aku otomatis jadi tulang punggung keluarga. Adik-adikku butuh biaya sekolah, makan, bahkan ongkos. Jadi kuliah buatku terasa seperti kemewahan yang hanya bisa kuintip dari jauh.
Aku banting tulang dengan kamera butut yang masih sering error fokus. Mulai dari motret nikahan di gedung sederhana, sampai jadi fotografer produk UMKM yang jualan keripik pedas. Kadang bayaran lumayan, kadang malah cuma dapat nasi kotak dan ucapan terima kasih. Tapi itu tetap kujalani, karena setiap kali lihat wajah adik-adikku yang bisa terus sekolah, aku merasa ada semacam energi yang nggak bisa diukur dengan angka.
Sementara itu, Ita melanjutkan kuliah. Orang tuanya mampu, dan aku nggak pernah iri. Justru aku bangga sekaligus minder. Bangga karena dia bisa menapaki jalan yang lebih baik. Minder karena kalau aku tetap di sampingnya, aku takut aku cuma jadi beban. Aku bahkan sempat membayangkan, bagaimana kalau kami menikah? Apa aku tega kalau dia masih harus minta uang jajan ke orang tuanya, sementara aku jadi suaminya? Malu. Malu banget.
Tapi Ita selalu bilang hal yang bikin aku campur aduk perasaan.
“Di, aku nggak masalah kalau kamu kerja dulu. Aku nggak malu.”
Kata-katanya sederhana, tapi nadanya tulus. Seolah dia benar-benar siap menerima apa adanya diriku. Namun, justru di situlah masalahnya. Karena yang malu itu aku. Aku nggak sanggup membayangkan dia–dengan wajahnya yang bersih, kacamata tipis yang selalu bertengger disangga hidungnya yang mancung, dan semangat kuliahnya yang meledak-ledak—harus ditanggung hidupnya oleh orang tuanya sendiri, padahal statusnya sudah jadi istriku.
Aku mencoba menepis rasa itu, tapi lama-lama makin menyesakkan. Sampai akhirnya aku nekat ngajak dia bicara serius. Supaya tak khalwat, aku minta Ita membawa teman dekatnya. Kami duduk di sebuah kafe kecil, hasil ngumpulin fee motret nikahan. Aku menatapnya lama, sementara dia sibuk mengaduk es cappuccino. Temannya, hanya diam.
Dengan suara bergetar, aku akhirnya membuka kalimat yang sudah lama kutahan,
“Ita… kalau aku melamar kamu sekarang, kamu siap?”
Dia terdiam. Wajahnya membeku, matanya menatap ke bawah. Sunyi. Detik-detik itu terasa panjang, seperti menunggu hasil ujian nasional. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, keras, berantakan, seperti drum yang dipukul asal-asalan.
Lama sekali dia nggak menjawab. Aku bahkan sempat berpikir dia sengaja nggak mau jawab biar aku makin gelisah. Sampai akhirnya, dengan suara pelan tapi jelas, ia berkata:
“Aku siap, Di. Aku siap menikah sama kamu.”
Jantungku sempat melompat. Rasanya seperti langit mendadak cerah setelah hujan deras. Tapi belum sempat aku tersenyum, kalimat berikutnya meluncur, menusuk seperti belati yang dilapisi madu.
“Tapi… aku masih kuliah. Dan aku takut… nanti aku jadi tanggungan orang tuaku, bukan istrimu yang seutuhnya.”
Aku terdiam. Kata-kata itu menghantam keras. Rasanya seperti kamera jatuh dari tripod: nyesss… crakkk… retak, hancur berantakan.
Aku menatap Ita. Dia mencoba tersenyum, tapi aku tahu senyum itu dipaksa. Matanya yang bening di balik kacamata sedikit berair. Aku ingin menggenggam tangannya, bilang bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga, bahwa aku sanggup menanggung semuanya. Tapi entah kenapa, suaraku tertahan di kerongkongan.
Saat itu aku sadar, cinta kami bukan hanya tentang aku dan dia. Ada keluarga, ada restu, ada keadaan yang nggak bisa kami abaikan. Dan di situlah letak luka paling dalam–karena kami sama-sama cinta, tapi justru itulah alasan kami harus berpisah sejenak.
ooOoo
Akhirnya kami sepakat diam. Tidak ada chat, tidak ada kabar. Dunia seakan sengaja menaruh garis tipis antara kami. Garis yang tidak bisa aku lewati, meski hatiku sudah berkali-kali ingin melompati.
Aku sibuk bekerja. Pagi sampai sore sering kuhabiskan dengan kamera di tangan, memotret apapun yang bisa memberiku uang. Kadang motret nikahan di aula desa dengan dekorasi seadanya, kadang motret produk online shop yang bahkan aku harus pinjam alas kain sendiri. Malamnya, aku pulang dengan tubuh lelah, tapi mataku tetap mencari notifikasi di layar ponsel. Selalu kosong.
Ita sibuk kuliah. Aku tahu itu dari postingan teman-temannya. Foto-foto di perpustakaan, tugas kelompok, acara kampus, semua lewat begitu saja di layar Instagramku. Dan setiap kali wajahnya muncul–dengan kacamata tipisnya, dengan senyum putih bersih yang masih sama seperti dulu–aku hanya bisa menahan napas. Jempolku gatal ingin mengetik komentar atau sekadar like, tapi akhirnya kubiarkan berlalu. Karena aku tahu, kami sudah sepakat menjaga jarak.
Tapi dalam diam itu, ada satu hal yang tidak pernah berhenti kulakukan: berdoa. Setiap selesai sholat, di sela-sela sujud terakhirku, aku selalu menyelipkan kalimat yang sama:
“Ya Allah… kalau Ita memang jodohku, dekatkanlah. Tapi kalau bukan, maka kuatkan aku untuk melepaskannya.”
Doa itu terus berulang. Malam demi malam, seperti lagu di playlist yang tidak pernah habis diputarkan. Dan jujur, setiap kali mengucapkannya, aku merasa dadaku ditusuk. Karena di satu sisi aku ingin sekali memilikinya, tapi di sisi lain aku sadar… aku tidak punya kuasa apapun kecuali berharap.
Sampai suatu hari, pesan itu datang.
“Di, aku dilamar orang.”
Tiga kata sederhana. Tapi bagiku, seperti meteor jatuh menghantam bumi. Aku membaca pesan itu sekali. Lalu dua kali. Lalu entah sudah berapa kali. Jari-jariku kaku, menempel di layar HP. Aku ingin membalas. Aku ingin mengetik banyak hal. “Jangan terima.” “Tunggu aku.” “Aku masih sayang.” Kalimat-kalimat itu berdesakan di kepalaku, tapi tidak ada satupun yang berani lolos.
Aku hanya menatap layar. Sunyi. Nafasku berat. Rasanya seperti ada yang meremas jantungku perlahan, makin lama makin kuat.
Pada akhirnya, aku memilih… tidak menjawab sama sekali.
Bukannya aku tega. Bukannya aku tidak cinta. Justru karena aku terlalu cinta. Tapi aku tahu, restu orang tua Ita condong ke pria itu. Aku tahu posisiku. Aku tahu aku masih sibuk memikirkan biaya sekolah adik-adikku. Bagaimana aku bisa bersaing dengan lelaki yang lebih mapan, lebih siap, dan lebih direstui keluarganya?
Aku pikir, kalau aku diam, kalau aku tidak merespons, maka Ita akan lebih mudah melangkah. Tanpa harus ada tarik-menarik rasa. Tanpa harus ada luka yang lebih dalam.
Tapi aku salah.
Karena ternyata, diamku bukan hanya menyakiti dia. Diamku juga membunuh diriku perlahan.
Setiap malam setelah itu, aku menatap layar HP yang kosong. Menunggu pesan yang tidak lagi datang. Menunggu tanda-tanda yang tidak pernah muncul. Dan semakin lama, aku merasa seperti orang yang kehilangan arah.
Aku ingin bicara. Aku ingin bilang: “Aku masih ada di sini, Ta.” Tapi setiap kali aku mengangkat ponsel, doa itu kembali terngiang:
“Ya Allah, kalau bukan dia jodohku, kuatkan aku.”
Dan aku tahu, ini saatnya doa itu bekerja. Meski rasanya seperti memaksa diriku sendiri untuk berjalan di atas pecahan kaca.
ooOoo
Beberapa bulan kemudian, setelah semua keheningan yang memanjang, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar HP-ku. Nama itu, Mentari Puspita, muncul lagi setelah sekian lama.
Pesannya sederhana, polos, tapi bagiku seperti palu yang menghantam pelipis:
“Apa kabar, Di?”
Aku terdiam lama. Menatap tulisan itu, seakan huruf-hurufnya punya mata yang menembus dadaku. Jemariku gatal ingin membalas. Kata-kata berloncatan di kepala: “Aku baik. Aku kangen. Aku masih sayang.” Tapi entah kenapa, ada semacam tembok tebal yang menahanku.
Aku ulang baca pesan itu berkali-kali. Seperti orang haus yang menatap segelas air jernih, tapi tahu kalau air itu beracun.
Dan akhirnya… aku tidak membalas.
Hari-hari setelah itu terasa seperti penjara. Aku membawa pesan itu kemana-mana di kepalaku. Saat motret nikahan orang, aku teringat. Saat adik-adikku bercanda di rumah, aku masih teringat. Bahkan ketika sujud panjang di malam hari, huruf-huruf itu masih menempel di langit-langit pikiranku: “Apa kabar, Di?”
Lalu tibalah hari yang paling berat dalam hidupku. Aku harus mengirim pesan terakhir kepada Ita. Bukan chat, bukan voice note, bukan panggilan video seperti dulu. Tapi sebuah undangan pernikahan.
Bukan undangan kami. Bukan pernikahan yang selama ini kubayangkan: aku menggandeng Ita dengan senyum malu-malu, dikelilingi doa restu keluarga. Tidak. Ini undangan pernikahanku dengan perempuan lain, seorang wanita baik yang dijodohkan ibuku.
Aku ingat saat mengetik namanya di daftar penerima undangan digital itu. Tanganku gemetar, keringat dingin mengucur di pelipis. Rasanya seperti menandatangani surat hukuman mati untuk hatiku sendiri.
Begitu kukirim, layar HP-ku terasa lebih berat dan ruang hatiku terasa sesak.
Saat itu, aku benar-benar merasa jadi lelaki paling jahat di dunia. Seolah aku menusuk orang yang paling aku cintai dengan pisau, lalu memintanya untuk tersenyum. Tapi apa daya? Di dalam keyakinanku, aku tahu, restu orang tua bukan sekadar formalitas. Itu kunci. Dan aku tidak sanggup melawan ibu yang membesarkanku dengan penuh air mata.
Aku menatap kosong ke langit-langit kamar. Malam terasa panjang sekali. Pikiranku terus melayang ke Ita: bagaimana wajahnya saat membaca undangan itu? Apakah ia menangis? Apakah ia marah? Atau mungkin ia hanya diam, seperti aku yang dulu memilih diam ketika ia berkata, “Aku dilamar orang.”
Aku tak tahu. Yang kutahu hanya satu: malam itu, aku menangis dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak lagi berdoa agar Ita didekatkan kepadaku. Aku berdoa agar ia didekatkan kepada kebahagiaan, meski bukan bersamaku.
Beberapa jam berlalu tanpa balasan. Aku kira Ita memilih diam. Dan sejujurnya, itu lebih mudah kuterima.
Tapi malam menjelang pukul sebelas, notifikasi muncul. Nama itu lagi—Mentari Puspita.
Jantungku seperti disiram listrik. Aku buka cepat, dan di sana ada satu pesan pendek:
“Semoga Allah mudahkan jalanmu, Di. Jangan lupa… aku pernah jadi bagian doa-doamu.”
Aku terpaku. Rasanya seperti ada yang menghantam ulu hati.
Lalu, setelah pesan itu, Ita tidak lagi mengirim apa pun.
Tapi beberapa hari kemudian, aku iseng membuka Instagram. Dan di situlah aku melihat sesuatu yang membuatku makin terdiam: sebuah postingan foto langit senja. Warnanya jingga keemasan, persis seperti namaku. Caption-nya sederhana:
“Ada yang datang, ada yang pergi. Tapi doa… tetap tersimpan.”
Tanpa tagar, tanpa emotikon. Tapi aku tahu, itu bukan sekadar kata-kata. Itu serpihan hatinya yang ia biarkan jatuh ke dunia maya.
Aku menatap layar lama sekali. Antara ingin menekan tombol like, atau meninggalkan komentar, atau bahkan mengirim DM. Tapi pada akhirnya… aku hanya menatap. Sama seperti dulu ketika aku hanya bisa menatap Ita dari kejauhan, tanpa benar-benar bisa menggenggam.
Dan malam itu, aku akhirnya sadar: kadang cinta bukan tentang memiliki, tapi tentang merelakan.
ooOoo
Aku tidak tahu apakah Ita datang ke pernikahanku atau tidak. Undangan itu kukirim, tapi aku sendiri tidak berani mencari wajahnya di antara tamu. Aku terlalu pengecut untuk menanggung kemungkinan melihat matanya berkaca-kaca saat aku mengucapkan ijab kabul.
Tapi yang jelas, beberapa minggu setelah aku resmi menikah, aku melihat postingannya di Instagram. Sebuah foto hitam-putih: siluet seorang perempuan berdiri di dermaga, satu tangannya terulur ke depan seakan melambai, sementara laut di belakangnya tampak gelap, nyaris menyatu dengan langit. Caption-nya hanya empat kata:
“Bukan aku tak cinta”.
Tanganku langsung kaku. Jempolku gemetar, seolah HP di genggaman tiba-tiba jadi bara panas. Dalam sepersekian detik, dadaku seperti digencet batu besar. Napas yang tadinya normal berubah jadi tersengal, dan dunia di sekitarku terasa hening, seolah hanya ada layar itu dan empat kata yang menamparku tanpa ampun.
Aku langsung menutup layar HP, tapi gambar itu sudah terlanjur menempel di retina, di hati, di kepalaku. Bunyinya bergema di telinga–“Bukan aku tak cinta”.
Sederhana, tapi setiap hurufnya menancap dalam.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku bolak-balik di kasur, menatap langit-langit kamar, mendengar dengus napas istriku yang terlelap di sampingku. Dan di sela keheningan itu, wajah Ita hadir begitu jelas. Senyumnya saat pertama kali melihat hasil jepretanku yang miring. Tawanya yang renyah saat aku sok-sokan bilang itu seni. Tatapannya ketika aku pernah dengan bodoh bertanya, “Kalau aku melamar kamu sekarang, kamu siap?”
Aku menutup mata erat-erat, tapi bayangan itu tetap saja muncul.
Ada rasa bersalah yang menekan, menghantui, seperti seseorang yang tidak pernah diundang. Aku merasa seperti lelaki paling pengecut: menikah dengan perempuan lain, sementara masih menyisakan ruang kosong di hati yang belum benar-benar aku ikhlaskan.
Caption itu–“Bukan aku tak cinta”–membuatku sadar bahwa cinta kami memang tidak pernah mati. Hanya saja, ia dipaksa dikubur hidup-hidup oleh keadaan, oleh restu orang tua, oleh takdir yang aku sendiri menyerah untuk melawannya.
Dan di dada ini, ada satu luka yang kutahu tidak mudah sembuh, bahkan meski waktu berjalan puluhan tahun sekalipun.
ooOoo
Tahun-tahun berlalu. Aku kini sudah punya seorang anak. Seorang bocah mungil yang selalu berlari menyambutku pulang kerja, dengan tawa renyah yang bisa meluruhkan seluruh penat. Hidupku tidak mewah–rumah kontrakan sederhana, motor yang sesekali ngadat, dan dapur yang kadang hanya berisi tempe goreng serta sayur bening. Tapi cukup. Lebih dari cukup, karena ada cinta tulus yang menyelimuti setiap harinya.
Namun sore itu, saat hujan baru saja reda dan langit berwarna kelabu pucat, aku iseng membuka galeri lama di ponselku. Jari-jariku menyapu layar, menelusuri ribuan file foto yang sudah berdebu oleh waktu. Tiba-tiba, aku berhenti. Ada satu foto yang membuat nafasku tercekat.
Foto Ita.
Waktu itu dia tertawa lepas, kerudungnya melambai dan diterpa angin sore. Ada cahaya matahari yang memantul di matanya, membuat binarnya seperti pecahan kaca berkilau. Senyumnya seakan membelah ruang dan waktu, langsung menusuk hatiku hingga sekarang. Padahal, foto itu kuambil dengan kamera pinjaman yang lensanya sering error, fokusnya sering meleset. Tapi entah kenapa, gambar itu terlihat begitu sempurna.
Aku terpaku. Jantungku berdetak kencang, seperti seorang pencuri yang ketahuan. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalari dada, bercampur getir yang tak bisa kusebutkan dengan kata. Aku ingin menutup layar, tapi jariku tak mau bergerak.
Lalu tiba-tiba, sebuah suara lembut memecah lamunanku.
“Itu siapa, Bang?”
Aku hampir menjatuhkan ponsel dari tangan. Istriku berdiri di sampingku, membawa segelas teh hangat, senyumnya teduh, matanya penuh rasa percaya.
Aku tergagap, buru-buru menekan tombol power.
“Ah… itu cuma foto lama,” kataku cepat, “waktu masih ikut komunitas fotografi dulu.”
Dia mengerling, lalu tertawa kecil.
“Kamu ini… masih aja suka nostalgia. Udah, mending motret aku sama anakmu aja. Biar ada kenangan baru.”
Seketika, ada sesuatu yang menohokku. Kata-kata istriku sederhana, tapi seperti cermin yang dipasang di depan wajahku.
Aku menoleh, melihat dia berjalan pelan menuju ruang tengah. Di sana, anakku sedang asyik bermain lego dengan ekspresi serius khas bocah yang sedang membangun dunianya sendiri. Dan aku tersadar.
Hidup ini memang sering memaksa kita melepaskan sesuatu yang kita cintai, bukan karena cinta itu hilang, tapi karena ada tanggung jawab yang lebih besar yang menunggu. Aku harus merelakan satu hati agar bisa menjaga hati-hati yang kini bergantung padaku.
Malam itu, setelah semua terlelap, aku sujud lebih lama dari biasanya. Air mataku menetes di atas sajadah yang sudah agak kusam. Hatiku berbisik lirih:
“Ya Allah, terima kasih. Engkau ajarkan aku arti cinta yang sejati. Bahwa cinta bukan soal memiliki, tapi soal merelakan. Bahwa cinta bukan sekadar tentang siapa yang membuat hati bergetar, tapi siapa yang bisa kupertanggungjawabkan di hadapan-Mu.”
Dan di keheningan malam itu, aku tahu: mungkin di sudut hatiku masih ada ruang yang pernah ditempati Ita. Tapi kini, ruang itu bukan lagi luka. Ia berubah jadi doa. Doa yang tak akan pernah berhenti kukirimkan, meski tanpa perlu sampai kepadanya.[]
]]>Di sudut lapangan sekolah, Vany terlihat sibuk mengetik di ponselnya. Jarinya bergerak cepat, seperti sedang balapan dengan angin. Ekspresinya serius, seolah ada hal genting yang harus segera ia sampaikan.
“Wid,” tulis Vany di WhatsApp, “Raka itu pacaran sama Andini. Parah banget, Wid. Mereka anak Rohis, tapi malah nyontohin yang nggak bener!”
Tak lama kemudian, balasan datang.
“Serius, Van? Kok bisa? Rohis di sekolah kamu longgar banget, ya?”
Vany tersenyum puas. “Bener, Wid. Longgar banget. Nggak ada kontrol sama sekali!”
Dia menutup ponselnya sambil menghela napas panjang, merasa telah menjalankan misi dakwah rahasia. Dia mengirimkan pesan ke Wida, kakaknya Raka, yang berbeda sekolah dengannya.
oOo
Keesokan harinya, Raka terlihat duduk di bawah pohon mangga di halaman sekolah. Wajahnya kusut seperti kertas ujian yang dibanting-banting.
“Raka!” suara kakaknya, Wida, muncul dari arah gerbang sekolah. “Cepet ke sini!”
Raka terkejut. “Lho, Kak Wida? Ngapain ke sini?”
“Kamu ngapain pacaran sama Andini? Anak Rohis kok kelakuannya kayak gitu?” Wida berdiri dengan tangan di pinggang, tatapan seperti singa betina.
“Kak, siapa yang bilang pacaran? Kita cuma chatting, itu juga cuma bahas tugas sama lomba. Nggak ada ketemuan segala,” jelas Raka, panik.
“Kalo kamu bohong, aku nggak bakal bantu kamu, Rak! Udah, nanti kita obrolin di rumah,” bentak Wida.
Di sisi lain, Andini sedang mengalami nasib serupa. Kak Meta, kakak kelas sekaligus pembina Rohis, memanggilnya ke ruang Rohis begitu mendapat kabar dari Wida, kakaknya Raka.
“Andini, kamu itu anak Rohis. Chatting sama Raka sampai DM-DM-an Instagram, itu nggak mencerminkan adab Islami. Harusnya jaga jarak sama lawan jenis, ngerti?” ujar Kak Meta dengan nada tegas.
“Tapi, Kak, aku cuma… cuma…” Andini tergagap, tidak bisa membantah lebih jauh.
oOo
Di tengah kericuhan itu, kabar soal Vany yang melaporkan kejadian ini mulai tersebar. Tapi, ada yang menarik perhatian Kak Meta, sebuah notif pesan masuk ke nomornya. Pengirimnya Riri, akhwat aktivis Rohis.
“Assalaamu’alaikum, Kak Meta. Mau infoin sedikit aja. Vany itu nyalahin orang, tapi dia sendiri DM-DM-an sama orang asing di Instagram, lho,” tulis tulisnya.
Kak Meta mengernyitkan dahi, lalu menjawab pesan tersebut. Dalam hati dia bertanya, “Vany? Apa maksudnya?”
Sebagai pembina, Kak Meta punya hak untuk mencari tahu. Ia memanggil Vany ke ruang Rohis setelah jam pelajaran selesai.
“Vany, aku dengar kamu yang ngasih tahu soal Raka dan Andini ke Kak Wida, ya?” tanya Kak Meta dengan nada santai tapi penuh arti.
“Iya, Kak,” jawab Vany penuh percaya diri. “Kan itu bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.”
Kak Meta tersenyum tipis. “Oh, bagus, ya. Tapi aku juga dengar kamu sering DM-an sama orang di Instagram, bener nggak?”
Wajah Vany langsung berubah pucat. “Eh, Kak… itu… cuma teman biasa. Dia tinggal di luar negeri. Lagian, kan nggak pacaran.”
“Tapi tetap aja, kamu interaksi berlebihan sama lawan jenis. Itu nggak beda jauh sama yang kamu tuduhkan ke Raka dan Andini. Malah lebih parah, karena kamu menutupi kelakuan kamu dengan nyalahin orang lain.”
Vany menunduk. Kali ini dia tidak bisa menyangkal.
oOo
“Dengar, Vany,” kata Kak Meta lembut, “kita ini sebagai anggota Rohis bukan cuma harus menjaga diri dari hal-hal buruk, tapi juga nggak boleh merasa lebih suci dari orang lain. Menyalahkan mereka, tapi kita sendiri nggak lebih baik, itu cuma bikin dakwah kita jadi nggak ada nilainya.”
Vany mengangguk pelan. Air matanya mulai mengalir. “Aku salah, Kak. Aku cuma… aku cuma nggak mau orang tahu aku juga salah.”
“Semua orang pernah salah, Vany. Tapi yang penting, kita mau belajar dan berubah. Mulai sekarang, yuk, kita saling mengingatkan dengan cara yang baik.”
oOo
Beberapa hari setelah kejadian, Vany merasa bersalah. Tapi dia tahu, meminta maaf langsung kepada Raka dan Andini rasanya berat. Jadi, dia memutuskan mencari bantuan dari orang-orang yang lebih dekat dengan keduanya.
Vany mengetik pesan panjang ke Wida, kakaknya Raka, di WhatsApp:
Vany: Assalamualaikum, Wida. Aku mau minta tolong nih. Aku sadar aku salah banget waktu ngomongin Raka tanpa klarifikasi dulu. Bisa nggak kamu sampaikan permintaan maaf aku ke dia? Aku bener-bener nyesel. Aku tahu aku nggak berhak nge-judge dia. Aku harap Raka bisa maafin aku.
Pesan itu terkirim. Beberapa menit kemudian, Wida membalas:
Wida: Waalaikumussalam, Vany. Iya, nanti aku sampaikan ke Raka. Tapi kamu juga harus belajar, ya, biar nggak gegabah lagi. Kalau ada apa-apa, klarifikasi dulu. Jangan sampai kejadian kayak gini terulang. Akau juga tahu banyak dari Kak Meta tentang kamu.
Vany: Makasih, Wid. Aku janji bakal lebih hati-hati ke depannya.
Beberapa hari kemudian, Raka bercerita kepada Wida kalau dia sudah menerima permintaan maaf Vany. Wida forward pesan WhatsApp dari Raka.
“Bilang ke Vany, aku maafin dia. Tapi kasih tahu juga, jangan gampang nge-judge orang. Itu aja pesan dari aku,” kata Raka.
Vany mulai mencari cara untuk menyampaikan permintaan maafnya ke Andini. Ahirnya dia mendatangi Kak Meta di sela rapat Rohis. Wajahnya tampak ragu, tapi ia memberanikan diri.
“Kak Meta, aku mau minta tolong,” ujar Vany sambil menunduk.
“Tolong apa, Van?” tanya Kak Meta sambil menaikkan alis.
“Aku mau Kakak sampaikan permintaan maaf aku ke Andini. Aku sadar aku udah salah banget nyebar info tentang dia sama Raka. Aku cuma… aku nggak berani ngomong langsung. Bisa tolong sampaikan, Kak?”
Kak Meta memandangi Vany sejenak, lalu mengangguk. “Oke, aku sampaikan. Tapi kamu juga harus belajar, ya. Jangan sampai hal kayak gini kejadian lagi.”
Keesokan harinya, Kak Meta menyampaikan pesan itu kepada Andini.
“Andini, Vany titip pesan. Dia minta maaf banget soal kemarin,” kata Kak Meta.
Andini tersenyum kecil. “Aku udah maafin dia, Kak. Tapi bilang ke dia, kalau mau kritik orang lain, jangan lupa introspeksi diri juga. Nggak ada yang sempurna.”
Pesan itu disampaikan Kak Meta ke Vany, yang akhirnya merasa lega meski sedikit malu.
Meskipun permintaan maafnya tidak disampaikan langsung, Vany belajar satu hal penting bahwa lebih baik diam daripada menyebar sesuatu yang belum jelas. Bagi Raka dan Andini, pengalaman itu menjadi pengingat untuk lebih menjaga batas-batas pergaulan dan introspeksi diri.
“Batasan pergaulan dengan lawan jenis nggak boleh dilanggar. Meski sekadar chat di WhatsApp atau DM di Instagram, tetap terlarang. Sebab, itu pintu gerbang menuju perzinaan,” pesan yang masih terngiang bagi Raka saat kakaknya ngasih tahu isi pesan WhatsApp dari Kak Meta untuk dirinya yang dikirimkan ke sang kakak, juga bagi Andini saat dinasihatin Kak Meta tempo hari.[*]
Sumber Tulisan REDREVOLVER
]]>Siska memandangi layar ponselnya dengan senyum lebar. Ia baru saja mengunggah foto dirinya bersama Dimas, pacar barunya, dengan caption super cheesy: “Kalau ada kamu, dunia terasa lengkap. #CoupleGoals”. Foto itu mendapat puluhan like dalam hitungan menit. Bahkan beberapa teman alumni pondoknya ikut memberikan love.
“Lihat, Dim, bahkan teman-teman pondok gue aja mendukung kita!” serunya sambil menunjukkan layar ke Dimas.
“Ya iyalah, siapa yang nggak iri ngeliat kita? Kayak Romeo-Juliet versi zaman now,” sahut Dimas sambil merapikan rambutnya di kaca motor.
Siska terkekeh. Ia merasa hidupnya sempurna, seolah lulus dari pondok itu adalah babak baru yang penuh kebebasan. Semua pelajaran tentang adab, akhlak, dan larangan-larangan yang pernah diajarkan ustaz dan ustazahnya terasa seperti angin lalu.
Namun, di tempat lain, notifikasi foto tersebut menyentuh hati seorang remaja bernama Maya.
Maya, yang juga alumni pondok, memandangi foto itu dengan ekspresi campur aduk. Tangannya gemetar. Rasanya antara sedih, kesal, dan kecewa. Ia mengenang masa-masa bersama Siska di pondok, di mana mereka sering berlomba menghafal ayat al-Quran dan saling mengingatkan untuk menjaga hijab.
“Ya Allah, ini Siska yang dulu?” gumam Maya.
Saat matanya melirik ke bawah foto, ia lebih terkejut lagi. Beberapa santri yang dia kenal malah memberikan like!
“Laa hawla wa laa quwwata illa billaah,” ucap Maya sambil mengusap wajahnya. “Mereka tahu nggak sih, kalau me-like itu sama aja kayak mendukung kemaksiatan?”
Ia pun langsung membuka chat grup alumni pondok.
Maya: “Astaghfirullah, kalian nggak lihat IG Siska? Itu foto pacarannya di-like?!”
Ani: “Hihi, iya, lucu banget fotonya. Kapan ya aku punya pacar kayak Dimas?”
Maya: “Astaghfirullah, Ani. Kamu sadar nggak apa yang kamu bilang? Itu bukan lucu, tapi maksiat. Kamu me-like berarti setuju!”
Rani: “Lah, santai aja kali, Kak. Aku cuma nge-like, nggak ikutan pacaran.”
Maya: “Masih ingat hadits tentang amar makruf nahi munkar? Kalau kamu like, itu sama aja kamu nggak menolak, malah mendukung!”
Ani: “Serius amat, Kak Maya.”
Maya: “Serius itu wajib kalau udah urusan dosa!”
*
Tidak puas hanya lewat chat, Maya akhirnya memutuskan menemui Siska langsung.
“Sis, saya nggak habis pikir sama kamu,” Maya membuka percakapan sambil menatap Siska dengan tajam.
“Eh, kamu apaan sih, May? Tiba-tiba nyerang. Aku salah apa lagi?” Siska membalas dengan santai.
Maya menahan napasnya sejenak. “Kamu sadar nggak, foto yang kamu upload itu nggak cuma bikin dosa buat diri kamu, tapi juga buat yang like? Kamu tahu nggak itu hukum pacaran?”
Siska mendengus. “May, ini zaman modern. Pacaran itu biasa aja. Lagi pula, aku nggak lupa shalat, kok. Jadi santai aja.”
Maya langsung merogoh ponselnya dan membuka aplikasi Quran digital. Ia membacakan ayat tentang larangan mendekati zina dengan suara mantap. “Kamu ingat, kan? Walaa taqrabuu az-zinaa… Kamu ngerti nggak artinya? Jangan dekati zina!”
Siska terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa ucapannya lemah di hadapan Maya.
*
Malam itu, Siska merenung lama. Ia memandangi foto-fotonya bersama Dimas di Instagram. Hati kecilnya mulai terusik. Benarkah ini yang harus ia lakukan?
Namun, keesokan harinya, saat ia mencoba menjauh dari Dimas, teman-temannya di sekolah justru menertawakannya.
“Serius, Sis? Balik ke mode anak pondok lagi? Hahaha, yang bener aja!” celetuk salah seorang temannya.
Siska merasa bingung. Ia ingin berubah, tapi lingkungannya tidak mendukung.
*
Di sudut lain dunia maya, Maya tetap gigih menyusuri jalan dakwahnya. Ia tak gentar menegur teman-teman yang dengan santainya me-like foto-foto Siska. “Hey, kalian tahu nggak, setiap jempol yang kalian kasih itu sama aja kayak bilang ‘gue setuju banget, nih!’ Padahal, ini dosa, Bestie!” katanya dengan gaya khasnya yang blak-blakan tapi penuh makna.
Ani dan Rani, yang awalnya cuma senyum-senyum nggak jelas, akhirnya mulai merenung. “Ya ampun, aku pikir nge-like itu cuma iseng. Nggak nyangka efeknya sampai segitunya,” gumam Ani sambil memandangi jempolnya yang selama ini kerja keras di media sosial.
Sementara itu, Siska berada di persimpangan jalan. Ia mulai sadar, hidup seperti ini nggak akan membawa bahagia, apalagi berkah. Tapi, di tengah niatnya untuk hijrah, teman-teman di sekolah masih aja sibuk menjadikannya bahan lelucon. “Kembali ke mode pondok? Gaya banget lo, Sis!” sindir salah satu temannya.
Namun, seberat apa pun langkahnya, perubahan sekecil apa pun adalah awal yang berarti. Siska mulai pelan-pelan mengurangi unggahan foto-fotonya. Ani dan Rani juga belajar memikirkan ulang setiap double tap di Instagram. Mereka kini paham, apa yang terlihat sepele di dunia nyata ternyata bisa punya dampak besar di akhirat.
Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu terngiang dalam benak Maya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim, dan HR Muslim, no. 49)
Maya mungkin hanya seorang alumni pondok yang biasa, tapi langkah kecilnya untuk menegur dengan lisan telah membuka pintu kesadaran bagi banyak orang.
Dan begitulah, di dunia yang penuh hiruk-pikuk ini, tak ada langkah kebaikan yang sia-sia. Sekecil apa pun usaha kita menegakkan kebenaran, insya Allah, semuanya akan dihitung sebagai amal shalih. Terus bergerak di jalan yang benar. Sebab, perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari niat yang tulus, meski langkahnya kecil.[*]
Sumber tulisan: REDREVOLVER
]]>Pagi masih gelap. Baru saja azan selesai berkumandang. Ada santri akhwat sudah membuka pintu kamarnya, tapi aku malas untuk masuk. Karena kebetulan kakak-kakak kucingku sudah bangun semua. Bermain di waktu subuh pasti menyenangkan.
Aku melompat, menerkam Ucil, kakak kucing berambut hitam legam dengan mata cokelat. Kami saling berkejaran, bermain mangsa dan target. Berlompat ria di antara jemuran, pagar dan pembatas.
Aku menaiki tangga, bersiap menerkam Ucil yang sedang lengah. Sayangnya, seringkali Ucil langsung kabur begitu aku mengejarnya. Karena aku masih kecil, kakiku belum sepanjang Ucil. Jadi secepat apapun aku mengejar, Ucil tetap lolos.
Sebaliknya, ketika Ucil memangsaku, pasti aku berakhir digigitnya. Uh… aku berharap cepat-cepat tumbuh besar supaya bisa berlari lebih cepat.
Ucil adalah kakak kucing keempatku. Dia yang paling dekat denganku. Em… mungkin karena umur kami yang jaraknya paling dekat. Aku masih punya tiga kakak lainnya. Yang pertama Choki, berambut putih-hitam yang bersih. Kedua ada Pocky, berambut kuning dengan ekor panjang dan badan besar. Ketiga ada Tae—atau salah satu santri akhwat memanggilnya HyunTae—berambut putih-kuning.
Sementara aku… namaku Ciwi. Santri akhwat memanggilku begitu, menurut kakak-kakak kucingku, berarti namaku adalah Ciwi. Tubuhku kecil—aku masih dalam pertumbuhan!—hitam kecoklatan, khas warna kucing liar yang sering ditemui di jalanan. Tidak seperti kakak-kakak kucingku yang lain memang, aku paling berbeda di antara kami.
Meski begitu, aku senang berada di lingkungan ini. Kakak-kakak kucingku menyayangiku. Meski jarang, mereka mau bermain mangsa-target denganku. Santri akhwat juga memberiku makanan yang enak… walau kadang, aku jadi bahan mainan juga oleh mereka. Hu…
Pagi ini, meski masih gelap, tapi aku sangat bersemangat. Sayangnya, Ucil sudah capek bermain denganku. Untungnya, Tae mau bermain. Walaupun aku agak terlalu tidak suka bermain dengan Tae, karena sifatnya yang tenang, jadi terkadang… tidak terasa menantang.
Sebelumnya, aku mengajak Pocky untuk bermain, tapi Pocky… pertama, dia menyeramkan. Galak sekali, pokoknya! Habis itu, raungannya… menyeramkan! Ugh… aku tidak mau bermain dengan Pocky. Sebisa mungkin aku harus menghindar kalau kami hanya berdua, ah.
Lalu Choki… entahlah, tapi aku merasa… Choki bersikap terlalu diam, terlalu tenang, terlalu malas. Seperti mengawasi, hanya melihat begini-begitu, tapi tidak tertarik untuk ikut. Lagi pula, Choki terlihat sangat angkuh, sombong, borjuis, sulit didekati. Yah… mungkin karena dia yang paling tua. Untungnya, kalau kudekati, Choki tidak segalak Pocky. Hihi…
Aku melirik seorang santri akhwat yang sedang duduk di depan pintu kamar yang setengah terbuka. Sepertinya dia ingin bermain dengaku, karena sejak tadi memanggil-manggil terus. Tapi… ah, aku malas. Aku sedang ingin bermain dengan sesama kucing, bukan dengan manusia. Jadi aku tidak mendekati satri itu, dan menjauh dari jangkauan tangannya. Sangat jelas sekali, satri ini malas bergerak walaupun ingin bermain denganku. Haha… makanya jangan jadi pemalas!
Padahal, kalau saja dia tidak duduk di situ, aku mau saja masuk ke kamar. Hitung-hitung menggaruk-garuk, karena kukuku gatal, mau menggaruk-garuk.
Oh, iya, kalau tidak salah… seharusnya masih ada satu kucing lagi di lingkungan ini. Choki bilang namanya Racik. Katanya, Racik lebih tua dari Choki. Tae bilang, Choki sangat menghormati Racik, karena dia yang mengajari Choki kehidupan menjadi seorang kucing berkelas. Emh… sebenarnya, aku tidak mengerti sih, apa itu ‘kucing berkelas’ tapi itu pasti sesuatu yang keren. Aku jadi ingin bertemu dengan Racik.
Pocky bilang, Racik biasanya ada di dekat Bedeng. Bedeng itu asrama ikhwan. Sesekali Pocky memang pergi ke sana, tapi untuk bermain ke rumah Ustadzah Nur, dan seringkali Pocky bertemu Racik di sana.
Aku belum berani pergi jauh dari asrama akhwat, jadi aku hanya mendengar cerita-cerita dari kakak-kakak kucingku tentang Racik dan kebaikan hatinya. Ah, semoga aku cepat besar dan bisa segera pergi ke sana.
Oh iya, ada satu kucing yang tidak aku suka. Namanya Bili—atau Billi, entahlah. Sepertinya semua kucing di lingkunganku juga tidak suka padanya. Choki, Pocky, Tae dan Ucil biasanya kabur, atau langsung bertengkar dengan Bili.
Tapi ngomong-ngomong tentang Bili, sepertinya ada sesuatu di antara dia dan Choki. Tapi aku belum tau apa itu. Ucil belum selesai menceritakannya waktu itu, karena Choki keburu lewat dan marah pada Ucil. Jadi yah… sampai sekarang aku belum tau. Tapi, aku pasti akan mencari tau!
Satu persatu santri akhwat keluar dari asrama sambil membawa Quran. Untuk kebiasaan yang satu ini, aku sudah mempelajari dan mengerti. Biasanya, sehabis subuh dan setelah magrib, mereka akan membawa Quran lalu pergi ke kelas. Ucil bilang, mereka akan pergi tahfidz. Aku tidak tahu apa itu tahfidz, tapi menurut Tae, tahfidz dapat meninggikan derajat manusia di surga. Sepertinya enak. Yummy~~
Aku baru tinggal di asrama akhwat beberapa hari, tapi aku sangat suka berada di sini. Semoga manusia tidak membuangku lagi. Aku pasti sangat sedih kalau mereka membuangku. Aku akan berlatih menjadi kucing yang baik dengan rajin supaya mereka tidak membuangku. Karena, satri yang tinggal—yang anehnya tidak pernah pergi tahfidz—selalu bilang, kalau dia sayang kucing-kucing tapi sebal kalau kami buang kotoran sembarangan.
Hum, Ciwi tidak akan buang kotoran sembarangan!
Kamis, 28 Maret 2019
]]>Letak Keadilan Sang Maha Adil
Suatu malam, ketika hanya aku dan Mak e bercengkerama bersama di teras rumah, sedangkan Ayah balik ke tempat kerjanya—dugaku—dengan perasaan dilema sekaligus bersalah, aku mencurahkan kesedihan dan kemarahanku pada Mak e.
Aku egois. Itulah yang kupikirkan tentangku saat ini. Aku tak sesabar Mak e. Padahal masalah yang kumasalahkan ini sebenarnya remeh sekali. Tapi terkadang kita tidak boleh meremehkan hal-hal yang kecil. Namun, mempermasalahkan hal yang sepele bukanlah sikap yang baik pula.
Aku, saat ini merasa bahwa aku sedang diperlakukan tidak adil oleh Allah. Pernahkah kalian juga merasakan apa yang kurasa?
Tatkala kukatakan isi hatiku yang batil itu pada Mak e, reaksinya sungguh tenang, tak sesuai dengan ekspetasiku. Katanya,
“Berteriak tidak adil demi meminta keadilan yang sudah jelas keadilannya pada dzat yang Maha Adil, apakah pantas?”
Dalam hatiku heran. Jarang sekali, bahkan belum pernah kudengar sebelumnya, Mak e mengeluarkan kalimat yang amat berbelit-belit demi menasehatiku. Apakah Mak e tengah sangat marah atas perasaanku yang batil?
Aku menelan ludah, menunggu Mak e mengatakan kalimat selanjutnya. Namun, nyatanya, nihil. Ah, padahal aku tak mengerti apa maksud kata-katanya barusan.
Dari satu kalimat yang barusan dilontarkannya untukku, hanya dua kata yang bisa aku mengerti. Yakni, “Apakah pantas?”
Apanya yang tidak pantas? Berteriak pada Allah? Aku tidak berteriak. Nadaku sama sekali rendah.
“Kau masih berusia lima tahun. Tak akan paham apa maksud dari kalimatku tadi. Tunggu saja, sampai kau bisa menjawabnya sendiri?”
“Caranya?” Tanyaku dengan polosnya.
“Pengalaman hidup.”
Aku melongo. Pengalaman hidup?
“Pengalaman hidup adalah anugerah. Bagi Mak e, dan bagi orang-orang yang akalnya sehat, Minah. Mak e hanya sekolah sampai kelas tiga sekolah dasar. Apa kau pikir orang yang semacam itu adalah orang yang pintar? Mungkin bagi orang yang tak mengerti hakikat pintar, dia akan mengatakan,’Tentu saja tidak’. Namun, bagi orang yang paham akan hakikat pintar, maka dia akan mengatakan,’Ya, tentu saja’. Mengapa demikian, kau tahu?”
Aku menggelengkan kepala dengan kuat, tanda rasa ingin tahu yang kuat.
“Belajar adalah hakikat pintar, Minah. Belajar dari pengalaman hidup yang kau alami, yang manusia lain alami, adalah yang terbaik. Dan yang terpenting, bukan hanya mengerti, namun harus paham. Jadi, belajarlah selalu dari segala kejadian dalam hidupmu. Itu merupakan petunjuk Allah.”
Mak e mengakhiri nasehatnya dengan mengelus lembut kepalaku.
Aku merasa sedih akan diriku sendiri. Padahal Ayah sudah bekerja keras untuk menafkahi aku dan Mak e, dan aku bukan malah mendo’akan, tetapi malah menghalangi. Mohon ampunilah dosaku ini, wahai Allah.
Airmataku menetes kecil, menyesal dalam pelukan Mak e.
Perihal petuah Mak e yang dulunya belum bisa kupahami, ketika aku sudah berusia enam belas tahun kini, atas izin Allah, aku berhasil menafsirkannya. Akan aku beritahu segera padamu, Kawan. Walau aku yakin, bahwasannya kau sudah juga berhasil menafsirkannya jauh lebih cepat dariku.
Ini adalah hasil dari penafsiranku:
Marah karena merasa tidak diberi keadilan, berharap dengan marah dan memprotes Allah akan memberikan keadilan yang sesuai dengan kehendak kita, padahal Allah yang Maha Adil tak akan sekalipun berbuat tidak adil. Hanya saja, kita yang salah paham akan hakikat dari keadilan. Kita sering kali memaknai bahwa adil haruslah sama rata, padahal sebenarnya bukanlah demikian kebenarannya. Melainkan definisi dari adil itu sendiri adalah meletakkan sesuatu sesuai dengan porsinya, tempatnya. Kita yang buta akan keadilan Allah ini, apakah pantas mempertanyakan keadilan pada yang memberi keadilan?
Sungguh malunya bukan main saat kutafsirkan petuah itu, Kawan. Bukan main!
Kau butuh contoh perihal makna adil, Kawan? Akan kusiapkan.
Tatkala kau berumur enam belas tahun dan adikmu berumur lima tahun, apakah orangtuamu akan memberikan kalian uang saku yang sama rata? Tidak, bukan. Tentu saja kau lebih banyak, karena memang di situlah letak ukuran porsi yang benar.
Maka dari itu juga, Allah memiliki maksud tersendiri ketika Allah memberikan keluarga kami—Keluarga Syakur—kondisi yang kata manusia menyedihkan ini. Allah selalu memiliki seribu satu alasan baik dalam takdir-takdir yang diberikannya. Keluargaku, yang kata dunia miskin, hina, tak ada guna, sebenarnya memiliki kekuatan, kelapangan, dan kekayaan yang tak dimiliki oleh orang yang kata dunia kaya, mulia, pahlawan dunia.
Kekuatan akan menghadapi segala cobaan, krisis ekonomi, cacian, godaan dan segala macam kesulitan. Dan selama enam belas tahun, segala puji bagi Allah, aku sudah pernah mencicipi, bahkan menelan semuanya. Dan hasilnya, aku merasa aku lebih kuat. Kuat menghadapi masa depan yang akan lebih sulit. Tapi apalah arti segala kesulitan bagi kami, bagi kita yang sudah meyakini Allah sebagai sebaik-baiknya penolong hidup. Semua bisa dihadapi dengan keikhlasan. Rasa lapang yang nikmat. Dengan menyebut nama Allah, surga adalah sebaik-baik nikmat.
Allah mencintai orang-orang miskin yang sabar, membenci orang-orang kaya yang sombong. Dipikir siapa yang memberikannya harta yang ia banggakan itu, hah? Usaha sendiri? Cih, memalukan!
Tapi, Kawan. Jangan gagal paham. Inti dari semua ujian-Nya dan takdir-Nya bukanlah mengenai orang itu miskin atau kaya, melainkan sabar adalah intinya. Kita kalau jadi orang miskin tapi tak sabar, setiap hari mengumpat Allah, mana bisa dapat cinta-Nya. Juga, kalau kita jadi orang kaya tapi tak sabar, boros, sombong, laknatlah dia di hadapan Allah. Iblis saja yang dulunya adalah jin yang paling dimuliakan, bahkan kemuliaannya melebihi malaikat sekalipun, dikeluarkan dari surga akibat sifatnya yang sombong!
Keadilan Allah itu dinilai dari cara kita menyikapi hidup. Jika kita selalu berbuat baik, maka keadilan-Nya selalu akan membalas kebaikan kita. Begitu pun sebaliknya, jika kita selalu berbuat yang buruk-buruk saja, keadilan-Nya pun akan membalas keburukan kita. Tak kesah cepat atau lambat.
Maafkan aku yang memberikan sebuah contoh yang klasik. Padahal aku cukup percaya bahwa sebenarnya kau tak butuh contoh. Kau sudah mengerti tentang hal itu, bukan? Namun, Kawan, mengerti saja tidak cukup. Paham adalah yang utama. Jika kau mengerti, belum tentu kau akan paham. Akan tetapi jika kau sudah paham, sudah bisa dipastikan bahwa kau mengerti.
Untuk perenungan kita bersama, agar kita tak melulu menyalahkan Tuhan akan takdir yang disediakan untuk kita.
Untuk perenungan kita bersama, agar kita tak melulu mempertanyakan keberadaan keadilan Tuhan yang sebenarnya selalu ada untuk kita.
Maka, aku suguhkan kembali petuah Mak e yang berhasil menghantam kebatilan perasaanku:
“Berteriak tidak adil demi meminta keadilan yang sudah jelas keadilannya pada dzat yang Maha Adil, apakah pantas?” [bersambung…]
Penulis: Nur Aminah Natasyah. Sumber tulisan: Blog Pesantren Media
]]>