
Saat mengikuti Rapat Kerja (Raker) semester 1, tepatnya pada hari ketiga, saya melihat banyak proyek SAR untuk semester 2, terutama terkait komik, Bible storytelling, dan resources turunan. Oh ya, kami juga harus menyelesaikan beberapa proyek, seperti Study Guide The Chosen (terjemahan, transkrip, pertanyaan diskusi, link ayat), traktat Mengapa Allah Menjadi Manusia, dan integrasi bahan di situs-situs resources dan academy agar memudahkan pengguna mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Bersyukur, saya sudah terlibat dengan beberapa tugas di tim SAR. Dalam semester 2 ini, kami juga bersiap untuk menyambut rangkaian acara ulang tahun ke-32 SABDA dan persiapan Natal.
Nah, memang ada banyak tugas yang harus dikerjakan, tetapi saya bersyukur lho. Adanya teknologi AI sebagai mitra kerja sangat menolong dalam proses pengerjaan tugas-tugas SAR. Dalam semester 1, AI menolong mempercepat persiapan, baik dari sisi pengolahan data maupun penyusunan draft konten. Namun, perlu diingat kita harus mengecek lagi hasil AI, terutama dari sisi teologis, dan aspek sentuhan manusia tetap diperlukan dan ini menjadi tanggung jawab kita.
Adanya konsep AI-4-GOD! sebagai center of excellence (pusat keunggulan), yang memanfaatkan sebagian besar konten dari SAR, berpotensi mendukung berbagai pelayanan jika dikelola dengan baik dan rapi. Kami melihat ada peluang besar, baik pada Guru PAK maupun Guru Sekolah Minggu, untuk bisa mendapatkan materi pembelajaran, modul, dan panduan praktis penggunaannya, yang relevan dengan pelayanan digital/AI pada masa kini. Jika kita mampu menyediakan AI friendly guides atau mengembangkan GPT khusus untuk Guru Sekolah Minggu, ini bisa menjadi jembatan pelayanan bagi keluarga, sekolah, dan gereja.
Secara pribadi, saya melihat banyak kesempatan untuk bisa melayani dengan lebih baik, dan ini tidak mustahil. Dengan pembagian tugas yang jelas, disiplin dalam mengecek kualitas, dan fokus pada kebutuhan gereja/orang percaya, saya yakin semester 2 dapat menjadi menghasilkan dampak yang semakin nyata. Amin! Mari kita terus berikan yang terbaik bagi hormat dan kemuliaan nama-Nya.
]]>
Puji Tuhan! Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan menarik untuk terlibat dalam pelayanan di IG Live Kenal YLSA. Bersama Sdr. Yoes, saya berbagi tentang salah satu program di SABDA yang sangat berkesan bagi kami, yaitu +ED Staf. +ED Staf di SABDA ini merupakan program yang diadopsi dari TED Talks agar semua staf bisa belajar, berbagi, dan bertumbuh melalui presentasi yang singkat dan padat berisi. Bagi kami, +ED Staf bukan sekadar kegiatan rutin internal, melainkan ruang belajar dan berpotensi memberi inspirasi untuk mengembangkan diri dan pelayanan.
Saya dan Yoes menjalani dua peran yang berbeda. Meski perannya berbeda, tetapi bisa saling melengkapi. Saya banyak terlibat dalam pengaturan jadwal presentasi +ED Staf yang disesuaikan dengan agenda Persekutuan Staf. Mengatur jadwal di tengah padatnya tugas harian, ternyata memberi saya pelajaran berharga tentang manajemen waktu dan koordinasi tim.
Sementara itu, Yoes yang selama ini lebih banyak terlibat di bagian teknis membagikan pengalamannya saat mencari usulan judul presentasi +ED. Biasanya, judul disesuaikan dengan fokus pelayanan yang sedang berjalan. Misalnya, saat kami mengangkat tema AI for God!, setiap presentator akan menyiapkan materi yang relevan dengan tema tersebut. Setelah judul disetujui, kami menyiapkan materi dan PPT untuk dipresentasikan pada hari Jumat sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
Tahun 2024 menjadi momen transisi yang sangat berkesan. Jika sebelumnya topik +ED lebih banyak mengikuti tema kalender YLSA, pada tahun tersebut semua staf diberi tantangan untuk mengeksplorasi perkembangan AI, lalu mempresentasikannya. Kehadiran AI ini membuat +ED Staf terasa makin relevan dengan kebutuhan pelayanan digital masa kini. Puji Tuhan!
Dari sekian banyak topik yang disampaikan, salah satu materi yang paling membekas dalam hati saya adalah tentang Burnout. Topik ini menjadi teguran sekaligus pengingat manis bagi saya untuk selalu menjaga keseimbangan hidup dan tetap mengandalkan Tuhan. Selain itu, topik-topik seperti AI Ethics, Detoksifikasi Digital, hingga Bintang Timur juga sangat memperkaya wawasan saya mengenai teknologi, etika, dan makna rohani.
Secara keseluruhan, +ED Staf telah menjadi wadah yang luar biasa untuk terus belajar dan memperlengkapi diri agar makin siap melayani. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari proses ini dan berharap program ini bisa terus membawa dampak positif bagi banyak orang.
Saya mengajak Sahabat SABDA untuk menyimak obrolan lengkap kami melalui video Kenal YLSA: +ED Staf di Instagram @sabda_ylsa atau kanal YouTube SABDA Alkitab. Selamat menyaksikan. Kiranya mendapat banyak berkat.
]]>
Sepanjang mengikuti PA ini, saya merasa perjalanan spiritual saya seperti menyusun kepingan-kepingan puzzle yang selama ini terserak. Melalui seri Tetelestai, saya menyadari bahwa keselamatan bukanlah konsep tambahan yang baru muncul di Perjanjian Baru, melainkan sebuah kisah yang sama saat Allah yang memanggil, manusia yang berdosa, dan Anak Domba yang menuntaskan segalanya.
Perjalanan ini dimulai dengan sebuah fakta di Taman Eden, saat dosa memutus relasi manusia dengan Allah. Dalam peristiwa ini, saya melihat betapa rapuhnya “pakaian daun” yang dijahit sendiri untuk menutupi rasa malu. Namun, tepat pada momen tergelap itu, Allah menunjukkan kasih-Nya dengan memberikan janji pertama tentang seorang Pembebas dan mengganti pakaian manusia itu dengan kulit binatang. Simbol sederhana ini menjadi dasar pemahaman saya bahwa solusi atas dosa tidak pernah datang dari usaha saya, melainkan berasal dari inisiatif Allah sendiri.
Saya semakin menyadari bahwa manusia memang tidak mampu ketika mempelajari tentang makna hukum Taurat. Hukum itu bukan tangga menuju surga, melainkan cermin yang memperlihatkan betapa jauhnya saya dari kekudusan Allah. Namun, di tengah keputusasaan, Allah menyediakan jalan melalui sistem kurban dan jabatan imam besar, sebuah bayangan yang mengarah pada satu titik, yaitu pribadi Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang sejati.
Semua simbol itu, mulai dari ular tembaga hingga domba Paskah, seolah-olah berteriak: “Lihat ke sini! Lihat kepada Anak Domba Allah yang mengambil dosa dunia.” Ia berbeda dengan Adam dan bangsa Israel yang gagal. Ia menjalani hidup-Nya dalam ketaatan sempurna, menjadi kurban tanpa cacat, tetapi justru menanggung hukuman yang seharusnya saya tanggung. Dalam Dia, saya didamaikan dengan Allah secara tuntas melalui anugerah yang tidak pernah bisa saya beli.
Puncak pengembaraan iman ini meledak dalam satu kata yang diucapkan Yesus di atas kayu salib: “Tetelestai”. Sudah Selesai. Kata itu bukan hanya desahan, melainkan deklarasi bahwa utang dosa telah lunas. Pada momen itu, tugas yang dimulai sejak Kejadian telah selesai.
Setelah mengikuti PA dengan bahan Tetelestai ini, cara pandang saya mulai berubah. Perjalanan iman saya kini tidak lagi usaha melelahkan untuk “melengkapi” apa yang kurang, tetapi respons syukur atas karya-Nya yang sudah sempurna. Saya belajar berhenti mengandalkan “pakaian daun” modern, baik pelayanan yang sibuk maupun religiusitas yang semu, dan mulai hidup dalam kepastian kasih-Nya. Bagi saya hari ini, Tetelestai adalah jangkar yang paling kokoh bahwa dalam Dia, pencarian saya berakhir dan hidup baru saya telah dimulai.
Jika kita merasa masih terus berusaha “menjahit pakaian daun” sendiri, yuk nonton Tetelestai episode 10: Tetelestai. Saat kata “Sudah Selesai” diucapkan di tengah visualisasi pengorbanan-Nya, mari kita biarkan setiap detiknya mengingatkan kita bahwa tidak ada lagi beban yang perlu kita pikul. Sebab, Dia telah menuntaskan semuanya bagi kita.
]]>
Di bawah koordinasi Pak Yudo, kami tidak sekadar menyusun pokok-pokok doa, tetapi juga bergumul dengan realitas yang semakin dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu kehadiran Suku Digital. Mereka adalah orang-orang yang hidup, berinteraksi, dan mencari identitas di dunia maya, tetapi sering kali belum tersentuh oleh kasih Tuhan.
Sebagai bagian dari tim SAR, saya ikut terlibat dalam proses penyusunan bahan 10 hari doa untuk mengawali program 40 Hari Doa bagi Bangsa-Bangsa. Dalam proses ini, salah satu sumber bahan kami adalah e-buku Penginjilan kepada Suku Digital, yang ditulis oleh tim SABDA. Kami menyusun bahan yang tidak hanya berisi pokok doa, tetapi juga menolong para pendoa memahami dunia digital melalui materi, video, audio, dan berbagai referensi yang telah kami kurasi.
Saya bersyukur mendapat bagian untuk menggarap materi hari ke-7 dan ke-8. Ada juga rekan-rekan lain yang terlibat dalam penyusunan materinya, seperti Melisa, Mei, dan Santi. Salah satu hal yang paling mengena bagi saya dalam proses ini adalah bagaimana konsep pemuridan Head, Heart, dan Hands (3H) kini terasa semakin relevan jika dikaitkan dengan handphone. Pada era digital, ponsel bukan hanya alat komunikasi atau hiburan, tetapi juga sarana yang perlu ditebus dan dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan.
Secara pribadi, saya diingatkan terkait waktu 40 hari untuk berdoa ini. Angka ini memiliki makna yang kuat dalam Alkitab, yaitu masa persiapan, pergumulan, dan transformasi. Melalui masa doa yang bertepatan dengan bulan Ramadan ini, kami rindu membawa Indonesia dan bangsa-bangsa lain yang belum terjangkau dapat mengenal Allah yang sejati, Yesus Kristus, Juru Selamat dunia.
Melalui blog ini, saya ingin mengajak Anda untuk selalu ikut ambil bagian dalam doa. Dunia digital sedang membentuk banyak kehidupan, tetapi kita percaya bahwa Tuhan juga sanggup bekerja di dalamnya. Karena itu, doa kita tidak sia-sia. Setiap doa adalah bagian dari misi Allah bagi bangsa-bangsa.
Mari kita terus berdoa bagi bangsa-bangsa agar mereka dapat mengenal dan percaya pada Allah yang benar. Sahabat SABDA dapat mengakses pokok-pokok doa ini di situs Doa Kristen. Selamat berdoa dan melihat Tuhan berkarya!
]]>Selama ini, saya terbiasa memandang Natal sebagai perayaan rohani yang sarat tradisi, sedangkan AI saya anggap sebagai alat kerja yang netral dan banyak menolong secara teknis. Ketika kedua hal ini digabungkan, rasanya janggal. Namun, justru melalui dari ketegangan itulah, saya belajar bahwa teknologi tidak selalu menjauhkan manusia dari iman; jika dipakai dengan benar, teknologi bisa menjadi sarana untuk menolong kita menggali iman dengan lebih dalam.

Mulai dari sesi pembuka, saya diajak menggeser sudut pandang tentang Natal. Sebuah pertanyaan sederhana dilontarkan: jika Natal adalah hari kelahiran Tuhan Yesus, hadiah apa yang kita berikan kepada-Nya? Pertanyaan ini membuat saya berhenti sejenak. Selama ini, saya sering merayakan Natal sebagai penerima. Saya menerima hari libur, suasana hangat, dan sukacita. Saya jarang memikirkan Natal sebagai momen untuk memberi. Dari sini, saya mulai memahami bahwa seGALA Natal bukan tentang pesta besar, melainkan tentang mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan, termasuk talenta dan sarana yang ada pada kita hari ini.
Salah satu bagian yang paling mengena bagi saya adalah Bible Storytelling tentang Yohanes Pembaptis dari Lukas pasal 1. Kisah ini disajikan secara ringkas, visual, dan mudah diingat sehingga terasa hidup dan dekat. Yang menarik, proses penyusunan storytelling ini melibatkan AI. AI digunakan untuk membantu meringkas teks Alkitab yang panjang menjadi beberapa adegan kunci, menyusun alur cerita, dan memberi ide visualisasi sederhana. Proses ini membuka wawasan baru bagi saya bahwa AI tidak menggantikan firman Tuhan, tetapi membantu manusia mengolahnya agar lebih mudah dipahami dan diceritakan ulang.
Melalui kisah Yohanes Pembaptis, saya kembali diingatkan akan makna Adven sebagai masa penantian. Yohanes hadir bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai pembuka jalan bagi Kristus. Di tengah budaya Natal yang seringnya ramai dan konsumtif, pesan ini terasa relevan. Natal bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi undangan untuk mempersiapkan hati dan menantikan kedatangan Tuhan dengan sungguh-sungguh. Di titik ini, saya merasa teknologi justru menolong saya kembali inti Natal, sebuah pesan penting yang sangat mendasar.
Bagi saya, seGALA Natal adalah undangan untuk merayakan Natal secara utuh. Menggunakan segala yang ada, termasuk akal budi, kreativitas, komunitas, dan teknologi untuk satu tujuan yang sama: memuliakan Tuhan. Di tengah dunia yang terus berubah, pesan Natal tetap tidak berubah. Justru melalui sarana yang relevan dengan zaman ini, saya belajar kembali menyambut Natal dengan rendah hati, hati yang terbuka dan lebih terarah kepada Sang Juru Selamat. Mari simak arsip seminar #AITalks: AI dan seGALA Natal di situs SABDA AI.
]]>
Oh ya, SABDA berkomitmen melakukan blocktime AI-4-GOD! Center for Excellence untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi AI dapat membantu umat percaya memahami dan menghidupi firman Tuhan secara kreatif. SABDA terus mendorong dan menolong setiap orang agar mengalami firman Tuhan secara pribadi dalam kehidupan mereka (Scripture Engagement) pada era digital/AI ini.
Dalam proyek ini, saya bertanggung jawab untuk membuat blog dan pengumpulan testimoni. Dua hal yang terlihat sederhana, tetapi ternyata sangat dalam maknanya. Saat menulis blog, saya belajar bahwa tulisan bukan sekadar kata, tetapi bisa menjadi alat untuk menyalurkan berkat. Melalui setiap kalimat yang ditulis, saya ingin menyampaikan bahwa teknologi tidak selalu menakutkan atau jauh dari hal rohani. Justru lewat alat seperti Alkitab GPT, kita bisa dibantu ketika belajar firman Tuhan.
Saya bersyukur bisa menikmati testimoni para pengguna Alkitab GPT. Ketika mendengarkan cerita mereka, saya melihat betapa besar dampak proyek ini bagi pelayanan dan pertumbuhan rohani banyak orang. Salah satu testimoni yang sangat berkesan datang dari seorang pelayan Tuhan yang aktif di pelayanan mahasiswa dan Sekolah Minggu. Ia berkata, “Alkitab GPT sangat membantu saya memahami firman Tuhan, terutama saat memimpin kelompok KTBK/PA dalam pelayanan mahasiswa, maupun saat mempersiapkan materi ajar bagi anak-anak Sekolah Minggu. Bagi saya, Alkitab GPT benar-benar memperlengkapi pelayanan saya.”
Kesaksian ini membuat saya merenung bahwa pelayanan digital bukan sekadar tentang teknologi, tetapi menghadirkan Tuhan di ruang-ruang baru, tempat manusia mencari dan ingin mengenal Tuhan lebih dalam. Melalui pengalaman para pengguna, saya semakin yakin bahwa Tuhan sedang membuka jalan baru bagi umat-Nya untuk berinteraksi dengan firman Tuhan secara kreatif dan relevan dengan zaman ini.
Selama terlibat dalam proyek ini, saya belajar banyak hal: bekerja dalam tim dengan semangat kolaboratif, berpikir kreatif, dan menjaga excellence dalam setiap detail pekerjaan. Pastinya, saya juga belajar melihat teknologi sebagai alat untuk pelayanan, bukan pengganti iman. Tuhan bisa memakai apa saja, bahkan baris-baris kode dalam sebuah program untuk menyentuh hati manusia.
Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari gerakan SABDA yang terus berinovasi memperkenalkan firman Tuhan melalui dunia digital. Kiranya Alkitab GPT terus berkembang dan menjadi sarana banyak orang untuk mencintai firman Tuhan dan hidup berdasarkan kebenaran-Nya. “Lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10:31)
Saya mengajak Sahabat SABDA untuk mulai memakai Alkitab GPT. Mari alami secara pribadi bagaimana firman Tuhan berbicara kepada Anda melalui sarana digital ini. Saya berharap pengalaman ini semakin menumbuhkan semangat Anda untuk belajar firman Tuhan. Jangan lupa, bagikan berkatnya kepada orang lain supaya banyak jiwa mengenal Tuhan dan dikuatkan melalui firman-Nya. Mari kita gunakan teknologi dengan bijak untuk kemuliaan Allah! Salam AI-4-GOD!
]]>Awalnya, saya mengira acara ini akan banyak membahas tentang bagaimana mempersiapkan Natal yang all out dengan berbagai tip dan trik untuk membuat perayaan lebih hidup dan penuh kreativitas. Namun, justru sejak sesi awal, para pembicara menegaskan bahwa Natal All Out bukan soal dekorasi, bukan soal vibes, tetapi tentang bagaimana kita menyambut Kristus dengan hati yang kembali terarah kepada-Nya. Saya tersenyum ketika mereka menceritakan bagaimana kantor SABDA selalu all out menghias ruangan setiap tahun, tetapi segera setelah itu, salah satu pembicara mengingatkan bahwa inti all out sejati justru terletak pada hati yang fokus kepada kelahiran Kristus.

Kata-kata itu membuat saya merenung. Sering kali, saya sibuk mempersiapkan Natal, tetapi malah kehilangan kesiapan hati. Saya juga diingatkan bahwa pusat Natal adalah Kristus, dan pentingnya mengalami transformasi untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Di sini, saya benar-benar merasa ditegur: persiapan luar tidak pernah bisa menggantikan persiapan batin.
Yang menarik, meski fokusnya pada hati, para pembicara juga membuka mata saya bahwa Tuhan memberi kita alat yang luar biasa pada zaman ini, yaitu teknologi AI, untuk menolong kita merayakan Natal dengan cara yang lebih kreatif dan bermakna. Bukan untuk menggantikan perenungan, tetapi membantu kita bercerita, mengajar, dan membagikan kabar Natal dengan lebih luas. Dari renungan hingga video, dari audio hingga visual, semuanya bisa dipakai untuk memuliakan Kristus.
Saat acara berakhir, saya merasa mendapat bekal baru. Natal tahun ini bukan hanya soal menyiapkan rumah, tetapi menyiapkan hati. Bukan hanya soal menciptakan konten, tetapi menciptakan ruang bagi Kristus dalam kehidupan saya. Bukan hanya merayakan untuk diri sendiri, tetapi menjadi berkat bagi keluarga dan komunitas, seperti yang disampaikan salah satu pembicara, Santi, untuk tidak hanya all out bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.
Jika Anda ingin merasakan kembali kekayaan materi, kehangatan diskusi, serta inspirasi terkait Natal All Out, silakan menyimak siaran ulang acara ini di situs SABDA Live. Selamat mempersiapkan kedatangan Sang Juru Selamat dunia. Imanuel.
]]>
Puji Tuhan! Sekarang, ada Alkitab GPT (AI Bible) dari SABDA. Saya merasakan pengalaman yang berbeda saat pertama kali memakainya. Beberapa hal yang tidak bisa saya gali sendiri dapat dibantu dengan alat ini. Asyik! Salah satu pengalaman yang saya ingat adalah ketika menggali kisah Ratu Ester. Dari percakapan dengan Alkitab GPT, saya tidak hanya mendapat ringkasan cerita, tetapi juga wawasan sejarah yang memperkaya pemahaman saya mengenai tokoh Ester, tentunya dengan latar sosial-budaya dalam kitab Ester tersebut.
Saya juga banyak tertolong dengan cara Alkitab GPT menyoroti nilai-nilai kehidupan Ester. Setelah menggali latar belakang dan garis besar, saya ingin mengetahui kehidupan Ester. Ada beberapa poin yang diberikan oleh Alkitab GPT atas rasa penasaran saya tersebut:
1. Berani Mengambil Risiko (Ester 4:11).
2. Cerdik dan Bijaksana dalam Bertindak (Ester 5:4; 7:1–6).
3. Berani Berdiri Teguh Membela Bangsanya (Ester 7:3–6).
4. Memiliki Teladan Iman yang Teguh (Ester 4:16).
5. Menjadi Alat dalam Rencana Keselamatan Allah (Ester 9:1–2).
Salah satu kelebihan dari Alkitab GPT yang saya rasakan adalah fleksibilitasnya dalam mendampingi proses pendalaman Alkitab. Setelah saya menyelesaikan penggalian terhadap suatu bagian firman, Alkitab GPT tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga menyarankan bentuk-bentuk multiplikasi yang bisa saya kembangkan dari hasil tersebut. Mulai dari artikel, renungan, lirik lagu, hingga format kreatif lainnya dapat diolah dari satu sesi pendalaman. Fitur ini sangat memudahkan saya untuk menyimpan hasil studi dalam catatan pribadi atau membagikannya kepada orang lain. Dari berbagai pilihan tersebut, saya memilih untuk membuat renungan sebagai bentuk multiplikasinya. Ini sangat menolong ketika saya ingin membagikan renungan singkat kepada keluarga maupun dalam persekutuan kelompok kecil.
Saya tidak menyangka, pengalaman belajar firman Tuhan bisa menjadi sedalam dan sepribadi ini. Hanya dengan membuka gpt.sabda.org dan memilih Alkitab GPT, saya bisa berdialog langsung tentang isi Alkitab, menggali maknanya, bahkan merenungkannya di tengah kesibukan sehari-hari. Setiap jawaban yang saya terima bukan sekadar informasi, tetapi seperti sapaan lembut dari Tuhan yang meneguhkan dan menuntun hati saya untuk semakin mengasihi firman-Nya.
Bagi saya, pengalaman ini bukan sekadar menambah pengetahuan Alkitab, tetapi juga menjadi pengingat yang meneguhkan bahwa firman Tuhan tetap hidup dan relevan di setiap zaman. Di tengah berbagai tantangan hidup, firman-Nya terus berbicara dan memberi arah. Karena itu, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak pernah berhenti menggali kebenaran firman Tuhan. Saat ini, tersedia begitu banyak sarana yang dapat membantu kita belajar Alkitab dengan lebih mendalam dan menyenangkan. Gunakanlah setiap sarana yang tersedia, termasuk Alkitab GPT, sebagai alat untuk semakin mengenal Tuhan, menghidupi firman-Nya, dan membagikannya kepada orang-orang di sekitar kita.
Untuk menggunakan Alkitab GPT ini, Sahabat SABDA bisa langsung mengaksesnya di situs gpt.sabda.org dan ketikkan prompt untuk memulai PA. Selamat bertumbuh!
]]>Ketika pertama kali mencoba Alkitab GPT (AI Bible) dari SABDA, saya merasakan pengalaman yang berbeda. Beberapa hal yang tidak bisa saya gali sendiri, dapat dijelaskan dalam diskusi dengan alat AI ini. Salah satu pengalaman yang saya ingat adalah ketika saya menggali kisah Ratu Ester. Dari percakapan dengan Alkitab GPT, saya tidak hanya mendapat ringkasan cerita, tetapi juga wawasan sejarah yang memperkaya pemahaman saya mengenai tokoh Ester dan tentunya latar belakang sosial-budaya dalam kitab tersebut.

Lebih jauh, saya juga tertolong dengan cara Alkitab GPT menyoroti nilai-nilai kehidupan Ester. Setelah menggali latar belakang dan garis besar, saya ingin mengetahui kehidupan Ester. Ada beberapa poin yang diberikan oleh Alkitab GPT atas rasa penasaran saya tersebut:
Salah satu kelebihan dari Alkitab GPT yang saya rasakan adalah fleksibilitasnya dalam mendampingi proses pendalaman Alkitab. Setelah saya menyelesaikan penggalian terhadap suatu bagian firman, Alkitab GPT tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga menyarankan bentuk-bentuk multiplikasi yang bisa saya kembangkan dari hasil tersebut. Mulai dari artikel, renungan, lirik lagu, hingga format kreatif lainnya dapat diolah dari satu sesi pendalaman. Fitur ini sangat memudahkan saya untuk menyimpan hasil studi dalam catatan pribadi atau membagikannya kepada orang lain. Dari berbagai pilihan tersebut, saya memilih untuk membuat renungan sebagai bentuk multiplikasi. Ini sangat menolong ketika saya ingin membagikan renungan singkat kepada keluarga maupun dalam persekutuan kelompok kecil.
Saya tidak menyangka, pengalaman belajar Alkitab bisa menjadi sedalam dan sepribadi ini. Hanya dengan membuka situs GPT SABDA dan memilih Alkitab GPT, saya bisa berdialog langsung tentang isi Alkitab, menggali maknanya, bahkan merenungkannya di tengah kesibukan sehari-hari. Setiap jawaban yang saya terima bukan sekadar informasi, tetapi seperti sapaan lembut dari Tuhan yang meneguhkan dan menuntun hati saya untuk semakin mengasihi firman-Nya.
Bagi saya, pengalaman ini bukan sekadar menambah pengetahuan Alkitab, tetapi juga menjadi pengingat yang meneguhkan bahwa firman Tuhan tetap hidup dan relevan di setiap zaman. Di tengah berbagai tantangan hidup, firman-Nya terus berbicara dan memberi arah. Karena itu, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak pernah berhenti menggali kebenaran firman Tuhan karena saat ini telah tersedia begitu banyak sarana yang dapat membantu kita belajar Alkitab dengan lebih mendalam dan praktis. Gunakanlah setiap alat yang ada, termasuk Alkitab GPT, sebagai sarana untuk semakin mengenal Tuhan, menghidupi firman-Nya, dan membagikannya kepada orang-orang di sekitar kita.
Untuk menggunakan Alkitab GPT ini, Sahabat SABDA bisa langsung mengaksesnya di situs GPT SABDA dan bisa langsung ketikkan prompt untuk memulai PA. Selamat bertumbuh!
]]>Ibu Yulia menjadi narasumber dalam seminar ini. Melalui penjelasannya, saya disadarkan bahwa kita sering merasa Alkitab itu sulit dimengerti karena ada jarak budaya, bahasa, dan cara pandang dengan zaman saat ini. Tanpa bantuan komunitas, dan terutama Roh Kudus, firman Tuhan mudah berhenti sebatas pengetahuan, bukan menjadi kekuatan yang mengubahkan.

Ketika membahas tentang Scripture Engagement, saya semakin melihat bahwa firman Tuhan tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dihidupi. Di sinilah, Bible Storytelling menjadi metode sederhana dan kuat. Dengan menceritakan ulang kisah Alkitab, kita bukan hanya mengingat ceritanya, tetapi juga menemukan karakter Allah di balik setiap peristiwa.
Secara pribadi, saya tertarik untuk memulai gerakan ini dalam keluarga kecil saya. Kami akan membaca satu cerita, lalu bergantian mengulanginya. Saya berharap hal ini memberi dampak besar bagi hidup karena berawal dari hati yang disentuh dan iman yang diteguhkan oleh firman-Nya. Bahkan, muncul kesadaran bahwa firman itu relevan dengan pergumulan sehari-hari. Firman Tuhan bukan sekadar teks, melainkan cerita besar Allah yang terus berlangsung, dan saya menjadi bagian di dalamnya. Karena itu, saya mengajak Sahabat SABDA untuk tidak hanya berhenti membaca firman Tuhan, tetapi berani melangkah masuk dalam gerakan Bible Storytelling.
Mari kita belajar menceritakan ulang kisah-kisah Alkitab, yang bisa kita awali dari lingkup keluarga, kelompok kecil, hingga jemaat. Saya percaya Roh Kudus akan memakai setiap cerita sederhana untuk mengubahkan hati, meneguhkan iman, dan membawa pemulihan. Jika Anda ingin semakin diperlengkapi, silakan menyimak seminar Bible Storytelling di situs SABDA Live. Kiranya melalui gerakan ini, kita semua boleh menjadi saksi yang hidup dari cerita besar Allah yang terus berlangsung hingga hari ini.
]]>