The post Menemukan Keseimbangan Hidup Melalui Olahraga Lari: Pelajaran dari Podcaster, Bilal Faranov appeared first on .
]]>Kesehatan tidak hanya soal menjaga tubuh agar tetap bugar, tetapi juga menjaga pikiran agar tetap jernih dan siap menghadapi berbagai tantangan. Bilal menjelaskan bahwa ketika kesehatan terganggu, energi dan fokus yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan hidup menjadi terbatas. Inilah mengapa kesehatan harus selalu diutamakan. Tanpa tubuh dan pikiran yang sehat, semua rencana dan impian lainnya akan terasa lebih sulit untuk dicapai.
BACA JUGA Mengenal Quarter-Life Crisis dan Harapan dalam Persahabatan di Usia 20-an
Dalam hal menjaga kesehatan, olahraga adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meredakan stres dan menyehatkan tubuh. Beberapa orang memilih aktivitas seperti gym, yoga, atau bersepeda. Namun, lari sering kali menjadi pilihan populer bagi banyak orang. Lari tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga membuka ruang bagi pikiran untuk merenung dan berpikir lebih bebas.
Penulis terkenal Haruki Murakami, penulis favorit Bilal, pernah menulis tentang bagaimana lari memiliki hubungan erat dengan proses menulis. Saat berlari, ide-ide kreatif sering kali muncul secara spontan, dan pikiran menjadi lebih jernih. Ini menunjukkan bahwa olahraga, khususnya lari, dapat menjadi sarana untuk menemukan inspirasi, sekaligus menjaga kesehatan mental. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa lari dapat membantu melepaskan stres dan memberikan rasa segar pada pikiran, membuat seseorang lebih terbuka terhadap ide-ide baru.
Bilal juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ekspektasi dari diri sendiri dan orang lain. Dalam banyak kasus, ekspektasi yang terlalu tinggi dapat menjadi sumber stres yang besar. Namun, dengan menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, tekanan tersebut dapat lebih mudah dikelola. Saat tubuh sehat, kemampuan untuk berpikir jernih dan menghadapi tantangan dengan tenang menjadi lebih kuat. Kesehatan fisik dan mental membantu seseorang untuk tetap berada di jalur yang benar dan tidak mudah terbawa oleh tekanan dari luar.
Beberapa orang mendapatkan inspirasi mereka di tempat yang tidak terduga, seperti saat naik kereta atau bahkan di kamar mandi. Namun, lari bisa menjadi momen di mana pikiran terasa lebih segar, dan ide-ide kreatif mengalir dengan mudah. Banyak konten kreator dan motivator yang sering kali berbagi pengalaman mereka menemukan momen-momen inspiratif saat berlari. David Goggins, misalnya, sering kali membagikan motivasi melalui video-video saat berlari, di mana kutipan-kutipan inspiratif muncul dari refleksinya selama aktivitas tersebut.
Selain itu, di platform seperti TikTok, banyak konten kreator yang membagikan pengalaman mereka saat mengikuti ajang race seperti maraton. Melalui video-video tersebut, terlihat bagaimana lari tidak hanya menjadi tantangan fisik, tetapi juga momen untuk introspeksi diri. Mereka sering membagikan pemikiran dan wejangan yang didapatkan selama proses lari, menunjukkan bahwa lari bisa menjadi alat untuk refleksi diri dan menemukan motivasi baru dalam hidup.
Dalam Generasi Ekspektasi, Bilal mengingatkan bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh, tetapi juga tentang menjaga pikiran tetap kuat di tengah berbagai ekspektasi yang datang dari sekitar. Bagi generasi muda yang sering kali merasa tertekan oleh ekspektasi, baik dari diri sendiri maupun orang lain, penting untuk menyadari bahwa menjaga kesehatan adalah kunci untuk menghadapi tekanan tersebut. Kesehatan membantu kita tetap tenang, fokus, dan mampu melihat segala sesuatu dengan lebih jernih.
Generasi Ekspektasi tidak hanya mengajak pembaca untuk memahami pentingnya kesehatan, tetapi juga untuk menjadikannya prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Melalui olahraga seperti lari atau aktivitas fisik lainnya, kita bisa melepaskan stres dan mendapatkan inspirasi baru. Buku ini mengajak pembaca untuk merenung, mengevaluasi ekspektasi yang ada, dan pada akhirnya menemukan cara untuk menjalani hidup dengan lebih sehat, bahagia, dan penuh makna.

Dalam Generasi Ekspektasi, Bilal Faranov mengajak pembaca muda untuk menghadapi ketakutan dan ekspektasi yang sering membebani hidup. Terinspirasi oleh Haruki Murakami, Faranov menunjukkan bahwa lari tidak hanya aktivitas fisik, tetapi juga cara untuk menemukan keseimbangan mental dan ide baru. Buku ini menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai fondasi dalam mengejar impian di masa 20-an.
Bilal coba mendorong pembaca untuk berani mengambil risiko dan belajar dari kegagalan, mengingat masa ini adalah waktu krusial untuk membentuk identitas diri. Dengan gaya yang ringan dan relatable, buku Generasi Ekspektasi mengajak kita merenungkan hidup dan fokus pada apa yang benar-benar berarti, menunjukkan bahwa setiap langkah kecil dapat membawa kita lebih dekat kepada kedamaian dan keseimbangan hidup.
Siapa tahu, setelah membaca buku ini, mungkin lari bisa menjadi salah satu cara yang digunakan untuk menemukan kedamaian, baik fisik maupun mental, di tengah tekanan hidup yang sering kali datang tanpa disadari. Yuk, koleksi, simak, dan praktikkan isi buku ini!
The post Menemukan Keseimbangan Hidup Melalui Olahraga Lari: Pelajaran dari Podcaster, Bilal Faranov appeared first on .
]]>The post Mengenal Quarter-Life Crisis dan Harapan dalam Persahabatan di Usia 20-an appeared first on .
]]>Banyak dari kita yang merasa terjebak dalam ekspektasi yang kita buat sendiri atau yang diberikan oleh orang lain. Mari kita bahas bagaimana ekspektasi ini dapat memengaruhi pertemanan dan apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi tantangan ini.
Dalam podcast di channel Behind the Book, Bilal Faranov coba berbagi beberapa bagian dari isi buku Generasi Ekspektasi yang dia tulis, kita spill isinya ya..
Salah satu hal yang sering membuat kita stres adalah ketika kita terlalu bergantung pada ekspektasi teman-teman kita. Misalnya, ketika kita membantu teman yang sedang mengalami masa sulit, kita berharap mereka juga akan siap membantu kita saat kita mengalami hal yang sama. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kita bisa merasa kecewa, bahkan stres atau depresi.
Bilal mencontohkan saat pernah berada dalam situasi di mana dia membantu teman dalam kesulitan. Pada awalnya, dia menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk bantuan. Namun, seiring berjalannya waktu, dia menyadari bahwa jika teman kita juga sedang dalam masa sulit dan tidak dapat membantu kita, itu bukanlah pengkhianatan, melainkan sebuah kenyataan bahwa tidak semua orang dapat selalu berada di sisi kita.
Misalnya, jika saldo rekening kita tersisa Rp100.000 dan kita meminjamkan Rp50.000 kepada teman kita, itu adalah keputusan yang didasari cinta dan kepercayaan. Namun, jika kita mengalami kesulitan dan berharap teman kita membalas kebaikan tersebut tetapi ternyata mereka tidak bisa membantu, kita bisa merasa kecewa. Hal ini sering kali menciptakan jarak dalam hubungan kita.
Setelah lulus kuliah, kita sering kali berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua teman yang kita anggap dekat akan tetap bersama kita. Dalam perjalanan hidup, kita mungkin mengalami fase di mana orang yang dulunya sangat dekat tiba-tiba terasa asing. Kesibukan dan gengsi sering kali menjadi penyebab utama jaraknya hubungan tersebut. Kita mungkin merasa malu untuk menghubungi teman yang sudah lama tidak kita ajak bicara, padahal mereka mungkin juga merasakan hal yang sama.
Menurut Bilal, ia percaya bahwa penting untuk tetap berkomunikasi dengan teman-teman kita, meskipun tidak setiap hari. Ada kalanya kita harus menerima bahwa kehilangan teman tidak selalu berarti kehilangan hubungan. Bahkan, ada kalanya kehilangan teman yang negatif justru bisa menjadi kemenangan. Ketika kita berkembang dan mencapai hal-hal baru dalam hidup kita, tidak semua orang dapat merayakan keberhasilan kita. Terkadang, kita menemukan bahwa ada orang yang tidak senang melihat kita maju.
BACA JUGA : Menemukan Keseimbangan Hidup Melalui Olahraga Lari: Pelajaran dari Podcaster, Bilal Faranov – Bukune
Dalam perjalanan hidup, saya juga belajar bahwa kehilangan teman bukanlah akhir dari segalanya. Kadang-kadang, kita perlu merelakan hubungan yang tidak lagi sejalan dengan perjalanan hidup kita. Seiring bertambahnya usia, kita semakin menyadari bahwa ada orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup kita. Setiap pertemanan memiliki masa dan tempatnya masing-masing.
Kita juga tidak boleh melupakan pentingnya komunikasi dengan orang tua. Meskipun kita merasa dekat dengan mereka, sering kali kita tidak dapat terbuka sepenuhnya. Komunikasi yang baik adalah kunci untuk memperkuat hubungan, tetapi terkadang, kita merasa terjebak dalam ekspektasi yang tidak terucapkan.
Di era ini, kita dikenal sebagai generasi ekspektasi, di mana kita sering merasa tertekan untuk memenuhi harapan orang lain. Kita ingin membahagiakan orang di sekitar kita, bahkan jika itu berarti mengorbankan impian dan keinginan kita sendiri. Ketika kita tidak dapat mencapai ekspektasi tersebut, kita bisa merasa gagal. Hal ini terjadi karena orang-orang di sekitar kita tidak selalu memahami perjuangan yang kita alami.
Contoh yang umum adalah ketika seseorang merasa harus mengambil jalur karir tertentu hanya karena ekspektasi orang tua atau teman. Ketika kita akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti jalan kita sendiri, mungkin kita merasa ada penilaian dari orang lain. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, dan kita tidak perlu terjebak dalam ekspektasi orang lain.
Menghadapi quarter-life crisis di usia 20-an adalah hal yang wajar. Kita semua mengalami fase di mana kita merasa bingung dan tidak yakin tentang masa depan. Namun, penting untuk tetap positif dan menerima bahwa tidak semua hubungan akan bertahan selamanya. Kita harus belajar untuk menghargai setiap pengalaman, baik atau buruk, dan membiarkan diri kita berkembang.
Ingatlah, kehilangan teman bukanlah akhir dari segalanya. Ini adalah kesempatan untuk menemukan diri kita sendiri dan menjalin hubungan yang lebih sehat dan berarti di masa depan. Dalam perjalanan ini, tetaplah terbuka terhadap pengalaman baru dan jangan biarkan ekspektasi orang lain membatasi potensi kita.

Buku Generasi Ekspektasi karya Bilal Faranov menjelajahi perjalanan emosional dan mental yang dialami oleh generasi muda, terutama saat mereka menghadapi quarter-life crisis. Dengan jujur, penulis membagikan pengalamannya tentang ketakutan dan kebingungan yang sering kali muncul di usia 20-an, di mana ia menyadari bahwa mengambil risiko adalah investasi berharga untuk menemukan jati diri.
Bilal mengajak pembaca untuk berani menghadapi kegagalan dan kritik, serta mengejar mimpi tanpa terjebak dalam ekspektasi masyarakat. Pesan ini sangat relevan bagi banyak orang yang merasa tertekan untuk mengikuti jalur yang dianggap ‘benar’, sambil melupakan pentingnya mendengarkan suara hati mereka sendiri.
Dalam perjalanan penemuan diri ini, Bilal menekankan bahwa masa-masa 20-an adalah waktu yang tepat untuk membentuk identitas dan nilai-nilai pribadi. Ia mendorong pembaca untuk menghargai setiap pengalaman, baik kesalahan maupun keberhasilan, sebagai bagian dari proses belajar. Dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidupnya, buku ini menjadi panduan berharga bagi generasi Gen Z yang merasa tersesat dan ingin menemukan arah. Bilal mengingatkan kita bahwa perubahan yang berarti dimulai dari diri sendiri, dan melalui tulisan ini, ia berbagi pemikiran yang dapat membantu pembaca merangkul perjalanan mereka sendiri dengan lebih percaya diri.
Artikel ini disarikan dari podcast Behind the Books, yang bisa kamu tonton di link ini.
The post Mengenal Quarter-Life Crisis dan Harapan dalam Persahabatan di Usia 20-an appeared first on .
]]>The post Cerita Horor Pertama Simpleman, Rumah Angker di Rumah Temanku appeared first on .
]]>Sebelum menulis threads KKN Di Desa Penari di Twitter, ada cerita yang ia tuliskan tentang tanah yang diberi tumbal. Dari sana ia belajar memberanikan diri untuk menuliskan cerita horor untuk pertama kalinya berdasarkan kisah nyata.
Sampai saat ini Simpleman masih konsisten untuk menyembunyikan diri. Ya tidak ada yang tahu di balik akun Simpleman. Di podcast YouTube Behind The Book, sosok Simpleman hadir dalam suara asli. Jadi hanya Barkah Winata, host, dan kru podcast Behind The Book yang boleh melihat wajahnya Simpleman.
Simpleman memberikan judul tersebut, kisah horor pertama yang ia tulis di Twitter. Walaupun sekilas nampak sederhana, sebenarnya kisah keangkeran tergolong baru bagi yang belum mengenal budaya Jawa.
Sebelum menceritakan soal tanah tumbal, Simpleman mengutarakan tidak semua cerita horor ia terbitkan dalam buku. Tidak pula bisa hadir di layar lebar seperti film Sewu Dino dan KKN Di Desa Penari. Semua cerita horor ditulis di sela-sela waktu senggang tanpa berpikir akan seperti apakah respon netizen.
Judul cerita horor pertama yang Simpleman tulis di Twitter adalah “Rumah Angker di Rumah Temanku.” Kisahnya ditulis apa adanya, tanpa polesan dan mengalir saja. Orginal, khas gayanya di Twitter.
Cerita ini didasarkan pada pengalaman pribadi ketika mengunjungi rumah teman. Bermula ketika ia menyaksikan secara visual seorang nenek tertidur di atas bale dapur. Bale dapur adalah semacam dipan atau tempat istirahat yang terbuat dari kayu/bahan bambu.
Sembari menyisipkan cerita, Simpleman mencerita kondisi di dapur masyarakat Jawa dahulu, yang biasa disediakan semacam bale, tempat tidur dari kayu/bambu untuk beristirahat.
Tanpa mengurangi esensi versi kisah bertutur dari podcast berikut “Rumah Angker di Rumah Temanku, diubah dari versi audio dalam bentuk teks cerita.
Cerita ini dimulai dengan Simpleman diajak menginap di rumah temannya, di desa tetangga. Rumah itu terlihat biasa dari luar. Ada keanehan yang SImpleman rasakan, ketika menginap di sana. Simpleman melihat visual dari nenek-nenek yang sedang tidur di bale dapur. Ia menyangka nenek tersebut memang ada dan mendiami rumah tersebut.
Simpleman menggambarkan bagaimana ia melihat nenek-nenek tidur di bale dapur tak jauh dari kamar mandi. Awalnya ia mengira itu adalah nenek temanya. Simpleman kemudian menyadari bahwa itu adalah entitas spiritual. Selama menginap, Simpleman juga mendengar ketukan di belakang rumah, khususnya pada pintu yang tidak boleh dibuka, yang menghubungkan ke halaman belakang.
Suatu malam, ketika Simpleman mencoba untuk membuka pintu tersebut, tangan Simpleman tiba-tiba dicengkram oleh nenek tersebut. Simpleman merasa tangan Simpleman mencengkram dan ada suara yang menyeramkan. Meskipun ada keinginan membuka pintu, Simpleman tidak bisa, dan Simpleman pun kembali tidur.
Pagi harinya, Simpleman tidak menceritkan kejadian semalam. Walaupun ada seorang teman yang merasa aneh dan mencoba memancing dengan satu pertanyaan. Namun Simpleman tidak terpancing untuk bercerita. Usai Kembali ke desanya, satu per satu teman-temannya bercerita pernah melihat anak kecil, kakek-kakek. Ternyata Simpleman tentang pengalaman itu.

Kemudian, Simpleman mengungkapkan bahwa rumah tersebut memiliki tanah tumbal yang diyakini digunakan untuk melindungi rumah dari maling atau bahaya lainnya. Selain itu, Simpleman menjelaskan bahwa dia adalah satu-satunya teman yang belum pernah mengunjungi rumah tersebut sebelumnya, dan teman-teman Simpleman telah mengalami berbagai kejadian gaib di sana, seperti melihat anak kecil, kuntilanak, dan kakek-kakek yang berdoa.
Cerita ini kemudian berlanjut dengan pengungkapan bahwa cerita-cerita Simpleman yang lain, seperti KKN Di Desa Penari, Sewu Dino, dan Janur Ireng, sebenarnya memiliki hubungan dengan cerita rumah angker ini melalui beberapa tragedi yang terhubung secara tipis. Semua cerita ini menjadi bagian dari “semesta” yang Simpleman ciptakan, yang mungkin akan membantu menghubungkan semua elemen cerita-cerita Simpleman menjadi satu kesatuan yang menarik bagi pembaca atau netizen.
Cerita horor di atas mungkin menciptakan nuansa misteri dan ketegangan, dengan penggabungan elemen-elemen horor tradisional Jawa seperti sosok nenek dan tanah tumbal yang dipasang kepala kerbau dan ubo rampe seperti bunga dan rempah-rempah.
Simak obrolan lebih lengkap di saluran YouTube Behind The Book bersama Simpleman.
The post Cerita Horor Pertama Simpleman, Rumah Angker di Rumah Temanku appeared first on .
]]>The post Lebih Baik Lokasi Desa Penari Disebut Fiktif, Ini Pengakuan Jujur dari Simpleman appeared first on .
]]>Secara umum karakter desa dan hutan di Indonesia memang banyak mirip. Yang mencoba tebak sana-sini hingga turun ke desa yang mereka duga itu lokasinya, siap-siap akan kecewa.
Jika menebak dari sisi percakapan bahasa daerah dalam ceritanya, memang mengacu pada wilayah di Jawa Timur. Namun, untuk lokasi tepatnya hingga kini masih menjadi misteri.
Cerita horor di Desa Penari, berkisah enam mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata (KKN). Sekadar catatan, KKN adalah bentuk pengabdian mahasiswa dari berbagai keilmuan kepada masyarakat. Durasinya ada yang sampai tiga bulan masa penempatan.
Dalam cerita ini, tokoh utamanya ada enam, yaitu Widya, Nur, Ayu, Bima, Anton, serta Wahyu. Alur kisah ini kian seram karena memakan dua korban jiwa.
BACA JUGA Di Balik–Trending Topic–KKN di Desa Penari, Ini Interview Langsung Bukune Bersama Simpleman
Mengapa kisah ini nampak seperti “membekas” sekali dan menjadi perbincangan khalayak? Menurut Mbah Mijan, paranormal, karena unsur true story. Ia menyakini apa yang dikisahkan simpleman adalah nyata, seperti yang dilansir dari tribunnews.com. Soal lokasi pun paranormal ini mencoba menerawang.
Kisah ini sudah dua kali viral, pertama di Twitter dan kedua, viral umum di berbagai platform media sosial dan media online nasional. Awalnya dari kisah-kisah horor simpleman dibagikan iseng pada followernya yang semula berjumlah 10.000 di bulan Maret 2019. Sampai saat ini follower akun simpleman meningkat nyaris 300K.
Terkait perdebatan soal letak lokasi, dari awal Bukune tidak ingin menguliknya. Karena ini bagian dari kesepakatan simpleman sebagai penulis dengan sang narasumber. Sebagai ada upaya melindungi narasumber dan penduduk desa. Selain itu alasan pribadi dari simpleman merasa tidak nyaman, simpleman memang sengaja menyembunyikan letak lokasi.
Yang pasti sejak awal hingga konfirmasi melalui wawancara langsung Bukune bersama simpleman dua hari lalu, lokasi desa belum ada yang tepat menduga lokasinya.
Dalam wawancara dengan Bukune, terkait merespon perdebatan lokasi Desa Penari di media sosial, simpleman lebih memilih desa disebut sebagai lokasi yang fiktif. Nampaknya ini lebih nyaman bagi simpleman.
Nantikan saja kehadiran cerita lengkap horor KKN Di Desa Penari yang sebentar lagi akan diterbitkan Bukune. Makin kan penasaran?
Image: Sebastian Unrau on Unsplash
The post Lebih Baik Lokasi Desa Penari Disebut Fiktif, Ini Pengakuan Jujur dari Simpleman appeared first on .
]]>The post Di Balik–Trending Topic–KKN di Desa Penari, Ini Interview Langsung Bukune Bersama Simpleman appeared first on .
]]>Nah, Bukune mendapat kesempatan langka menerbitkan cerita misteri ini yang diambil dari kisah nyata para mahasiswa tingkat akhir di sebuah desa X.
Satu hal yang pasti belum bisa diketahui adalah siapa di balik akun simpleman dan di mana lokasi KKN kelima mahasiswa itu biarlah menjadi tanda tanya. Namun, jauh di balik kisah horor ini, ada hikmah dan pelajaran penting yang bakal bisa kamu petik dan simpulkan.
Lalu apa yang membedakan thread di Twitter dengan buku-nya? Simpleman mengatakan detail yang tidak bisa dijelaskan dalam Twitter bisa ditemukan di buku ini. Pertanyaan apa dan mengapa yang mengundang rasa penasaran banyak netizen akan dibeberkan oleh simpleman.
Ada yang penasaran bagaimana suara simpleman membeberkan kisah di balik KKN di Desa Penari ini? Berikut wawancara Syafial dan Barkah dalam Mau Pulang Tanggung bersama Simpleman, penulis cerita KKN di Desa Penari. Yuk pantengin sembari menunggu bukunya terbit.
The post Di Balik–Trending Topic–KKN di Desa Penari, Ini Interview Langsung Bukune Bersama Simpleman appeared first on .
]]>The post Catatan Hitam; Warna Lain dari Risa Saraswati appeared first on .
]]>Catatan Hitam merupakan kumpulan puisi yang ditulis Risa dari rentang tahun 2008 sampai 2016 tentang mimpi, harapan, dan angan. Lantas, mengapa hitam?
“Kupilih hitam untuk menamai coretan ini. Mungkin bagimu ini adalah sebuah kegelapan, pekat, pengap, dan tanpa akhir. Tapi coba kau buka sisi hitam yang lain, kau akan menemukan banyak warna di dalamnya. entah merah, hijau, kuning, biru, bahkan jingga. Semuanya bersatu membentuk sebuah hitam,” begitu yang dituliskan Risa dalam prolog Catatan Hitam.
Setiap momen yang Risa ungkapkan melalui puisi-puisinya ini menggambarkan apa yang ia rasakan saat itu. Momen yang mungkin—bagi sebagian orang—biasa saja, namun begitu istimewa bagi mojang Bandung ini. Sederhana, tapi begitu istimewa. Seperti salah satu puisinya di bawah ini yang berjudul, Devenport.
BACA JUGA
Perjalanan Karya Risa Saraswati; dari Danur hingga Jansen
“Berdua kita habiskan waktu.
Bersamamu mimpi terbentang indah.
Menghabiskan hari tak menentu.
Semua rasa hilangkan resah.
Gadis kecil bermain biola.
Lagunya mengalir sendu.
Kau genggam jemariku dingin.
Seolah lagu ini milik kita berdua.
Di Devenport kita berjanji.
Selamanya sehidup semati.
Tak terucap meski tak pasti.
Pijakan ini kan kita titi.”
Catatan Hitam memiliki tempat tersendiri bagi Risa. Tempat dimana ia bisa menemukan warna lain saat membacanya kembali. Tempat yang mampu menghadirkan kembali kenangan dengan masa lalu dan menjadikannya istimewa.
Nah, Kunetizen, ini saatnya bagi kamu untuk menyaksikan sisi lain dari seorang Risa Saraswati melalui Catatan Hitam. Tidak hanya itu, melalui buku ini Risa juga mengajak Kunetizen untuk menemukan warna lain seperti yang ia lihat saat membacanya. Penasaran? Pastinya, untuk sesaat, kamu bisa menikmati karya Risa tanpa harus bersinggungan dengan ‘sahabat-sahabat’-nya. Cacatan Hitam sudah bisa kamu dapatkan di toko buku kesayanganmu. Selamat membaca!
The post Catatan Hitam; Warna Lain dari Risa Saraswati appeared first on .
]]>The post Karung Nyawa; Kisah Horor Lokal yang Siap Menerormu! appeared first on .
]]>Halo, Haditha. Kune mau ajak kamu ngobrol-ngobrol sedikit tentang buku Karung Nyawa nih. Ceritakan dong, bagaimana awalnya kamu menulis buku ini?
Awalnya adalah sebelum menulis Karung Nyawa ini aku sudah berniat membangun semesta mistisku sendiri. Mengingat sebuah urban legen waktu kecil, yaitu Toklu. Pemulung berdarah yang memburu kepala manusia. Aku langsung klik dan meniatkan akan menulis novel berjudul Karung Nyawa. Cocok banget dengan sosok si Toklu itu sendiri. Aku sendiri pernah mengalami teror rumor Toklu ini. Di permulaan menuliskannya, aku telpon teman dekat sewaktu SD untuk mengkonfirmasi gosip-gosip tentang Toklu yang kutahu. Temanku itu, akhirnya kujadikan tokoh utama. Kemudian aku butuh tema yang kiranya cocok kukaitkan dengan Toklu ini. Tepat saja, pesugihan adalah teman yang cocok untuk dimasukkan ke misteri pembunuh berkarung ini. Lalu ditambahkan dengan bumbu ala-ala detektif. Aku terinspirasi Imung. Jadilah, kisah horor ala detektif amatiran bercampur klenik mistis, plus humor-humor jenaka.
Dari sekian banyak genre, kenapa, sih, kamu tertarik untuk menulis genre horor?
Entah mengapa. Sebenarnya aku tidak meniatkan dari awal mau nulis horor. Awalnya kan saya menulis cerita-cerita fantasi. Namun lalu seperti tidak menemukan jalannya. Aku banting stir. Ini memerlukan proses lho. Tidak serta merta aku banting stir dari fantasi ke horor. Dalam masa-masa pencarian jati diri itu, aku mulai baca cerita-cerita sastra Indonesia. Contohnya karya Ayu Utami, Eka Kurniawan, dan Okky Madasari. Cerita yang mereka tuliskan, cukup berdampak dengan gaya berceritaku saat ini. Sebenarnya aku jarang baca buku horor. Tapi entah kenapa, kok ya gayaku ini cocok buat nulis yang horor. Jati diriku, sepertinya memang di sini. Aku lebih mudah mewujudkan cerita dalam benak. Tiga tahun, aku sudah nulis 6-7 judul yang berbau horor.
Katanya, kamu mengangkat kisah horor lokal dari daerah Jawa ya? Apa sih alasan kamu mengangkat kisah horor lokal?
Karena sangat related dengan kehidupan sehari-hari. Aku lama tinggal di Jawa Timur. Mistis di sana cukup kuat. Dan ternyata setelah kuulik saat menuliskan Karung Nyawa, banyak sekali hal-hal menarik yang bisa dieksplor untuk dijadikan cerita. Aku dari awal ketika membangun semesta mistis ini, memang meniatkan diri untuk banyak mengeksplor kelokalan negeri kita. Yang mungkin, jarang diangkat oleh penulis lain.
Kasih sedikit bocoran dong, Karung Nyawa ini bercerita tentang apa?
Garis besarnya adalah Karung Nyawa bercerita tentang sekumpulan pemuda yang merasa terusik dengan rumor Toklu, yang dipicu oleh ditemukannya jasad perempuan tanpa kepala di bawah jembatan. Hal itu lalu memicu kejadian-kejadian mistis di desa. Sekumpulan pemuda itu menyelidiki, dari ranah yang masuk akal sampai ke ranah mistis di luar nalar. Dan yang mereka hadapi itu ternyata bukan main-main. Nyawa taruhannya.
Pada saat kamu menulis buku ini, adakah kejadian aneh yang kamu alami?
Sama sekali gak ada. Untunglah.
Seperti kita ketahui, tidak mudah untuk membuat cerita horor terasa nyata saat dibaca. Lalu, bagaimana cara kamu membangun ‘feel’ agar cerita yang kamu tulis ini terasa nyata saat dibaca?
Banyak referensi. Aku sih lebih banyak ambil referensi dari film-film horor. Selain itu banyak juga dari omongan-omongan orang yang ngaku melihat penampakan atau diganggu makhluk gaib. Dan aku berusaha sebisa mungkin untuk menghadirkan pengalaman horor nyata dari sana. Buatku, yang bikin kita takut itu bukan si makhluknya. Tapi bayangan kengerian kita sendiri akibat diceritakan pengalaman mistis orang lain. Kita dengan mudah takut masuk kamar mandi malam-malam, padahal biasanya kita dengan santai masuk dan berlama-lama di sana, setelah mendengar pengalaman mistis orang lain. Kalau dari buku, hampir tidak ada. Aku belum banyak dan bahkan belum mulai untuk baca buku horor.
Kembali ke Karung Nyawa, kenapa sih memilih judul tersebut?
Karena terdengar catchy. Pas. Penggambaran paling pas untuk teman misteri kita, si Toklu. Pemulung kan suka bawa karung. Kematian kan berhubungan dengan nyawa. Jadilah, Karung Nyawa.
Menurutmu, apa yang membedakan buku ini dengan buku lain dengan genre serupa?
Mungkin unsur lokalitasnya ya. Aku benar-benar membangun nuansa pedesaan seperti yang kuingat saat masih tinggal di sana. Menulis cerita ini sama saja dengan nostalgia buatku. Aku kangen dengan tempat itu. Lalu, meskipun horor, cerita ini akan membuat pembaca tertawa. Banyak selipan humor di dalam buku ini.
Siapa sih, penulis horor favorit kamu dan apa alasannya?
Aduh, siapa ya. Kalau mau bilang sih, maunya Stephen King. Eh tapi aku belum baca satu pun karyanya. Jujur, belum ada penulis horor yang jadi favoritku. Kalau dari yang membuatku berkesan, aku bisa sebut Edgar Allan Poe dengan Black Cat-nya dan Ugoran Prasad dengan Hantu Nancy-nya.
Terakhir, setelah Karung Nyawa ini resmi diterbitkan, apa rencana kamu untuk proyek buku selanjutnya?
Menulis lebih banyak cerita mistis, keji, sekaligus menghibur. Membangun semesta mistisku jadi semakin luas dan beragam. Tidak hanya mentok di horor mainstream.
Ok, deh, Haditha. Semoga sukses ya dengan Karung Nyawa-nya. Dan, buat kamu Kunetizen, dapatkan buku Karung Nyawa di toko buku terdekat ya.
The post Karung Nyawa; Kisah Horor Lokal yang Siap Menerormu! appeared first on .
]]>The post Meet Up With Cartoonize appeared first on .
]]>The post Meet Up With Cartoonize appeared first on .
]]>The post Evermore; Kisah Cinta Mengharu-biru dari Cecilia Wang appeared first on .
]]>Hmmm.. Kune jadi penasaran dengan cerita dibalik pembuatan Evermore. Bagaimana dengan kamu? Daripada penasaran, yuk, kita ikuti wawancara Kune dengan Cecil berikut ini.
Halooooo lagi. Seneng banget deh bisa diwawancara Bukune lagi. Iya nih Evermore lagi proses cetak secara bertahap. Sekarang sih kayaknya udah selesai semua deh. Udah bisa di beli di toko buku seluruh Indonesia. “Evermore” ini adalah bayi aku yang ketiga dan honestly, not my favorite – tapi banyak yang suka, so I guess what I like as an author is not the same as my readers. Ini kisah yang sedih, kisah cinta diantara Max dan Josephine. Jalan hidup mereka tidak mengizinkan mereka bersama. Haha, sedih kan? So that’s why I don’t like it. Menurut aku terlalu sedih. Dibandingkan dengan “Invitation Only” aku lebih menyukai kisah Gia dan Tackie. Dibandingkan dengan “Inevitably in Love” aku lebih suka Tavella dan Marshall juga. Jo dan Max – satu kata: menyedihkan.
Pertama kali aku melihat kata “Evermore” aku menyukai kata itu. Sangat menyukainya karena kata itu berbeda dengan forever, always, ataupun everlasting. Ketiganya mempunyai makna yang menyerupai tapi berbeda dengan “Evermore”. Dari situ aku tahu, aku ingin menuliskan sebuah cerita yang mempunyai arti ‘selamanya’. Secara nggak sengaja, waktu itu “Beauty and The Beast” live-actionnya lagi main juga di bioskop, ternyata Beast juga nyanyi lagu yang berjudul “Evermore”. Surreal as it may, aku jadi tertarik membuat cerita yang lebih ‘gelap’. Aku kira akan mudah pada awalnya, tapi ternyata menuliskan cerita yang lebih gelap – sedih, mellow, dan serius, ternyata susah banget. Aku memerlukan waktu lebih banyak menulis ini daripada “Invitation Only” & “Inevitably in Love”. Awalnya juga cerita ini mau aku jadikan teen-fic ternyata itu lebih parah lagi. Aku sepertinya nggak cocok menulis teen-fic. Jadi aku rubah jadi novel dewasa dan aku menulis tanpa mengetahui apa endingnya. Jadi aku sendiri bingung waktu menulis. Kebanyakan ide yang aku dapat adalah di kamar. Tepatnya di ranjang. Aku selalu mikir “kalau aku bisa membuat diri aku sendiri nangis sebelum tidur, aku berhasil” jadi aku pikirin tuh scene-scene Max dan Jo yang buat aku nangis. Kalau aku nangis dan buat basah bantal aku – aku berhasil. I know I’m so weird.
BACA JUGA
Seperti yang aku bilang, menulis “Evermore” itu jauh lebih lama daripada menulis “Invitation Only” atau “Inevitably in Love” yang biasanya sekitar 1 bulan selesai. Dengan “Evermore” aku sebel sendiri waktu nulis – ke diri aku sih sebenarnya. Karena menurut aku, cara aku menuliskan novel ini berbeda aja. Aku juga berubah menjadi Jo. Karakter Jo itu menurut aku bukan aku banget deh. Aku lebih mirip ke Gia atau Tavella, but when I’m Jo, aku jadi sebel sendiri. Jadi karena proses denial di dalam diri aku, mungkin “Evermore” jadi lama banget selesainya. But all is good, menurut aku ending di buku do justice ke semua karakter di bukunya.
Inspirasi pertama karakter Max adalah papanya sendiri. Warren Oetama Tjahrir. Karena sekarang Max yang kita lihat di “Eat, Me” berubah menjadi seseorang yang dewasa. Di “Eat, Me” Max yang membuat Warren sadar kalau ia mencintai Jacqueline. Sekarang ya Max dewasa dan jatuh cinta. Untuk karakter Jo, sebenarnya aku terinspirasi banget dari sama diri aku sendiri. (HAHAHAHA, kurang narsis apa coba). Aku punya teman yang emang kita dekat aja. No feeling whatsoever. Kita teman dekat dan kalau aku dekat sama dia, aku bukan jadi cewek yang cantik dan dandan yang cantik. Tapi aku jadi teman yang kalau dia lihat ya jelek terus – tomboy, sering ngomong kata-kata kasar, dan ya intinya, aku jelek aja di depan dia. Bukan karena aku sengaja, tapi karena aku merasa comfortable aja kalau aku seperti itu di depan dia. Sampai aku ketemu temen aku yang lain, dia nanya, “Lo tahu nggak sih the way he looks at you, itu beda…” LOL, kan kalau orang diginiin aku juga jadi aware suddenly. Tiba-tiba kalau aku ketemu dia nih sekarang, jadi cantik, nggak mau lagi keliatan jelek, dan ngomongnya di jaga. Jo banget deh. Udah gitu aja. Nggak boleh tanya siapa.
Bedanya dikit banget. Di Wattpad nggak ada prolog dan epilog. Di novel ada. Sisanya sama persis. Hehehe. Banyak yang komplain sih kenapa aku nggak taruh prolog dan epilog-nya di Wattpad aja. There’s no reason to justify sih, tapi aku percaya ketika aku menulis sebuah buku, buku itu harus sempurna. Sempurna bukan hanya luarnya, tapi isinya. Jadi sebuah package yang sempurna aku hanya akan persembahkan di buku. Wattpad sarana aku menulis dan bertemu dengan pembaca aku. Tapi buku aku – adalah untuk pembaca aku yang setia banget. So this is for them. Masuk diakal nggak kata-kata aku? Hahaha. My best version itu adalah di buku yang aku tulis. Itu intinya.
I don’t like them. I hated their relationship. Ada nggak sih dua orang yang saling mencintai tapi menyakiti juga pada saat bersamaan? Ya itu mereka. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Aku membicarakan karakter mereka dengan mama aku. Karena mama knows me well. Aku bilang aku benci mereka. Aku benci Jo dan keras kepalanya. Aku benci Max karena ego-nya. Tapi kata Mama – mereka hanya dipertemukan di waktu yang salah. Itu katanya. Jadi dengerin mama aja deh. Selalu benar kan. Hehe.
Awalnya setting-nya SMA karena aku mau buat teen-fic. Sok ide sih Cecil itu! Hahaha. Tapi akhirnya aku rubah jadi setting sepuluh tahun kemudian. Max udah jadi dokter, Jo udah dewasa juga, kalau nggak ceritanya nggak akan maju-maju. Aku stuck soalnya menulis kisah mereka di SMA. Jadi mau nggak mau, aku maju ke sepuluh tahun kemudian. It worked, though. Sudah baca?
Sulit banget. Hahaha. Masa SMA aku nggak kayak mereka soalnya. Aku sekelas cuman 14 orang karena kelas internasional dan sekolah internasional juga. Teman-teman sekelas aku semua perempuan dan hanya ada dua laki-laki. Gimana aku tahu anak SMA jatuh cintanya seperti apa? Aku nggak tahu sama sekali. Dan waktu SMA aku sering banget sakit. Langganan rumah sakit kata orangtua aku. Jadi aku nggak tahu betul-betul anak SMA itu jatuh cinta bagaimana. Aku kebanyakan mengambil ide aku dari novel-novel yang aku baca jadinya.
Tiga kata ya… Everlasting, Always, & Forever – Evermore.
Habis ini aku akan fokus mengejar empat novel sebelum aku pergi pindah ke London akhir tahun ini. Ada Alle Tjahrir (Sentimental Things & Sentimental Reasons) yang akan terbit Maret ini. Lalu ada Coleen Tjahrir (Some Kind) yang kayaknya nggak jauh-jauh terbitnya samaan sama Alle. Of course, we could not forget papanya Max – Warren Oetama Tjahrir (Eat, Me). Fokus aku adalah keempat novel ini sebelum October 2018 harus sudah terbit. Kenapa sih cepat-cepat? Karena aku mungkin akan hiatus lama untuk mengejar gelar S2 dan JD aku. Hehehe.
Ok, deh, Cecil. Semoga lancar segalanya dan Kune tunggu karya-karya selanjutnya ya. Nah, bagi kamu yang penasaran dengan kisah cinta Max dan Jo, buruan dapatkan novel Evermore di toko buku terdekat ya.
Foto © GlennAPhoto, 2017.
The post Evermore; Kisah Cinta Mengharu-biru dari Cecilia Wang appeared first on .
]]>The post Clover; Perpaduan Tiga Cerita Novel dalam Komik appeared first on .
]]>Pastinya, tidak mudah untuk menyatukan berbagai karakter novel ke dalam sebuah komik. Tapi, melalui Clover semuanya jadi terlihat sempurna. Hal itu diungkapkan oleh Clara Amanda, penulis King Bullying vs Queen Rescue.
Menurut Clara, ia sangat menyukai penggambaran karakter Ashley dan Ricky dalam Clover. “Karakternya terasa semakin nyata dan hidup, jadi nggak perlu ngebayangin masing-masing karakternya,” kata Clara.
Serupa dengan yang diungkapkan Clara, menurut Ciinderella Sarif—penulis Bad Boy for Little Girl—karakter-karakter novelnya dalam Clover luar biasa keren dan rapi. “Aku suka, bahkan orang-orang terdekat aku pun suka. Malah lebih keren daripada imajinasiku sendiri,” katanya.
Selain karakter, tentunya hal lain yang menjadi daya tarik tersendiri dari Clover adalah mengubah cerita novel menjadi komik. Tentunya, akan ada perbedaan jika dibandingkan antara novel dan komik. Tapi, terlepas dari semua itu, baik Clara maupun Ciinderella sepakat bahwa mengubah cerita novel menjadi komik merupakan sesuatu yang bagus.
“Mengubah novel menjadi komik adalah sesuatu yang tak mudah, tapi ini adalah suatu hal yang unik banget, dan jarang banget dilakukan,” begitu ungkap Ciinderella.
Lantas, adakah perbedaan yang cukup berarti antara novel dengan komiknya?
Menurut Clara, perbedaan itu ada. Namun, tidak terlalu banyak. “Hanya terletak di beberapa adegan yang disingkat dan sedikit mengubah masa lalu Ashley,” katanya.
Sedangkan, Ciinderella mengaku perbedaannya itu terdapat di beberapa bagian dan di bagian ending-nya. “Pastinya, lebih bagus. Dhirga bukan seperti Dhirga yang ada di novelnya. I mean, di versi komik, Dhirga lebih dewasa, and I like it,” katanya.
Memang bukan perkara mudah mengubah cerita novel menjadi komik. Alih-alih merasa kesulitan, hal ini justru menjadi tantangan tersendiri.
Menurut Clara, tantangannya adalah saat ia harus memilih bagian mana yang penting dan menarik, mempersingkat ceritanya dan mengubah sedikit jalan cerita, dan menerangkan beberapa tokoh yang memang cukup banyak di cerita ini.
Menarik kan? Pastinya, semua perubahan itu sepadan dong dengan hasil yang tertuang dalam Clover? Nah, bagi kamu yang belum baca, jangan mau ketinggalan. Kapan lagi bisa menikmati tiga cerita novel Wattpad dengan berbagai karakter dalam satu komik!
The post Clover; Perpaduan Tiga Cerita Novel dalam Komik appeared first on .
]]>