Selama 45 hari pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Misi Khusus (MMK), para akademisi muda ini merumuskan teknologi tepat guna melalui beragam inovasi KKN UIN Walisongo yang disesuaikan dengan potensi alam masing-masing wilayah. Mulai dari perakitan alat pertanian, pengolahan limbah organik, hingga diversifikasi pangan lokal.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung dari 21 Juli hingga 3 September 2026 ini melibatkan total 90 agen perubahan lintas fakultas. Mahasiswa memetakan potensi enam desa binaan untuk mengeksekusi tema “Optimalisasi Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan”.
Ketua Program Studi Biologi UIN Walisongo, Dr. Dian Ayuning Tyas, M.Biotech, menegaskan pentingnya aksi nyata para mahasiswa di lapangan.
“Program KKN ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan pembuktian bahwa keilmuan biologi dapat memberikan solusi aplikatif bagi ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan di tingkat desa,” ujar Dian, Senin (31/8/2026).
Sinergi Rocket Stove dan Budidaya Maggot
Mahasiswa merancang program yang merespons langsung kebutuhan warga setiap posko. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dian Triastari Armanda, M.Si., mendampingi langsung jalannya program di Posko 5 Desa Gondowangi. Kelompok ini menginisiasi sistem pengelolaan sampah melalui penciptaan kader lingkungan, pembuatan rocket stove, serta budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Tim KKN menggelar sosialisasi pengolahan limbah tersebut di Balai Desa Gondowangi pada Jumat (14/8/2026) dengan dihadiri jajaran perangkat desa dan mayoritas ibu-ibu PKK.
Kepala Desa Gondowangi, Bambang Setiyadi, SE, menaruh harapan besar agar inisiatif mahasiswa ini membawa perubahan konkret bagi tata kelola lingkungan desanya.
“Dengan adanya kegiatan sosialisasi tersebut, masyarakat Gondowangi memiliki pandangan yang berbeda terhadap sampah, sehingga masalah sampah dapat teratasi di Desa Gondowangi,” ujar Bambang.
Dian Triastari Armanda turut memberikan apresiasi tinggi atas terobosan rancangan wastafel khusus budidaya maggot dan tungku pembakar garapan mahasiswanya. Kombinasi inovasi ini menawarkan solusi komprehensif penanganan sampah sekaligus membuka potensi ekonomi mandiri warga.
“Sinergi antara agen biokonversi Hermetia illucens dari budidaya Maggot dan teknologi pemusnahan termal minim emisi dari rocket stove ini menciptakan siklus ekonomi sirkular yang tepat. Desain wastafel budidayanya mengoptimalkan degradasi organik, sementara tungkunya memotong rantai residu anorganik tanpa mencederai prinsip konservasi udara,” papar Dian.
Teknologi ekologis juga merambah Posko 3 Desa Gantang di bawah bimbingan DPL Galih Kholifatun Nisa’, M.Sc. Mahasiswa Posko 3 merakit rocket stove, menyelenggarakan seminar biopori, membuat pupuk organik cair (POC) dan ecoprint, hingga menginisiasi berdirinya bank sampah.
Alat Pupuk Ergonomis Selamatkan Tangan Petani
Terobosan teknologi berlanjut di Posko 4 Desa Kapuhan. Kelompok bimbingan Galih Kholifatun Nisa’ ini merancang purwarupa alat penabur pupuk ergonomis untuk mempermudah pekerjaan petani dan mengolah panen tomat menjadi saus bernilai jual.
Setelah menggelar sosialisasi di balai desa, para mahasiswa dan petani langsung menguji coba inovasi alat pertanian tersebut. Mereka menaburkan pupuk menggunakan purwarupa ini di lahan cabai yang baru berusia 20 hari.
Antusiasme seketika mewarnai suasana ladang saat butiran pupuk NPK meluncur merata ke tanah, tanpa mengharuskan jemari telanjang menyentuhnya secara langsung.
“Alatnya sudah bagus Mbak, Mas. Pemupukan jadi lebih mudah dan aman untuk tangan kami,” ucap salah seorang petani dengan senyum merekah.
Eco Enzyme dan Diversifikasi Pangan Desa
Intervensi mahasiswa terus meluas ke sektor produk hayati dan gizi keluarga. Di Desa Jati, mahasiswa Posko 2 di bawah arahan DPL Niken Kusumarini, M.Si., melatih warga membuat eco enzyme dan membangun taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Niken juga membimbing Posko 7 Desa Soronalan yang bergerak membekali siswa sekolah dasar memilah sampah, serta melakukan penyuluhan pemanfaatan daun kelor dan kemukus.
Sementara itu, tim Posko 6 di Dusun Sobowono, Desa Podosoko, aktif mengadakan workshop diversifikasi pangan. Mahasiswa melatih warga mendobrak ketergantungan pada beras dengan mengolah singkong segar menjadi sajian bubur bertekstur lembut.
Happy Dwi Alfarizi, perwakilan mahasiswa KKN yang memandu praktik tersebut, menjelaskan bahwa langkah memperkaya asupan gizi keluarga membutuhkan penyesuaian yang konsisten.
“Untuk memulainya sebenarnya cukup sederhana. Kita bisa mengenali dulu pangan lokal yang ada di sekitar, kemudian mulai mencoba makanan selain nasi secara bertahap. Pangan tersebut juga bisa dikombinasikan dengan lauk, sayur, dan buah. Selain itu, penting juga mengenalkan pangan lokal kepada anak-anak dan mengolahnya menjadi makanan yang menarik serta disukai keluarga,” ujar Happy Dwi Alfarizi.
Dian Ayuning Tyas sangat menaruh harapan agar warga dapat secara mandiri melanjutkan penerapan teknologi tepat guna yang telah diinisiasi para mahasiswa tersebut. Keberlanjutan inovasi KKN UIN Walisongo, seperti peracikan eco enzyme dan praktik diversifikasi pangan lokal, dinilai sebagai kunci utama bagi terwujudnya ketahanan pangan yang tangguh di tingkat pedesaan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlangsung selama 45 hari, terhitung mulai 21 Juli hingga 3 September 2026.

Mengangkat tema besar “Optimalisasi Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan”, para mahasiswa memetakan potensi alam desa menjadi deretan program kerja unggulan.
Ketua prodi biologi UIN Walisongo, Dr. Dian Ayuning Tyas, M.Biotech, menegaskan pentingnya aksi nyata di lapangan ini.
“Program KKN ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan pembuktian bahwa keilmuan biologi dapat memberikan solusi aplikatif bagi ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan di tingkat desa,” ujar Dian, Senin (31/8/2026).
Inovasi Lingkungan di Bawah Bimbingan Pakar
Setiap posko KKN merancang program spesifik yang merespons langsung kebutuhan warga lokal. Di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Niken Kusumarini, M.Si., mahasiswa Posko 2 Desa Jati memprioritaskan pelatihan pembuatan eco enzyme dan pembangunan taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Niken juga membimbing Posko 7 Desa Soronalan yang bergerak pada penyuluhan pemanfaatan daun kelor untuk pencegahan stunting serta optimalisasi potensi kemukus.
Sementara itu, DPL Galih Kholifatun Nisa’, M.Sc. mengawal ketat Posko 3 Desa Gantang yang menghadirkan solusi ekologis komprehensif. Mahasiswa di desa tersebut menyelenggarakan seminar biopori, pembuatan pupuk organik cair (POC), pembuatan ecoprint, hingga inisiasi bank sampah.
Terobosan teknologi juga digarap kelompok bimbingan Galih di Posko 4 Desa Kapuhan, di mana mereka merancang alat penabur pupuk dan mengolah panen tomat menjadi saus bernilai jual.
Pendekatan Pengelolaan Sampah dan Diversifikasi Pangan
Intervensi tata kelola lingkungan terus diperluas ke desa lainnya. DPL Dian Triastari Armanda, M.Si., mendampingi langsung jalannya program di Posko 5 Desa Gondowangi dan Posko 6 Podosoko. Kelompok Posko 5 berhasil menciptakan sistem pengelolaan sampah melalui budidaya maggot, penciptaan kader lingkungan, dan pembuatan rocket stove.
Pendekatan serupa diterapkan mahasiswa Posko 6 Podosoko. Mereka secara aktif membekali warga lewat sosialisasi dan workshop diversifikasi pangan, serta mendirikan bank sampah dan memproduksi kompos bertingkat.
Dian Ayuning Tyas menambahkan bahwa sinergi antara mahasiswa dan masyarakat memegang peran esensial.
“Kami berharap teknologi tepat guna seperti eco enzyme dan diversifikasi pangan yang diinisiasi mahasiswa dapat terus dilanjutkan secara mandiri oleh warga. Hal ini menjadi kunci utama agar ketahanan pangan desa benar-benar terwujud,” tegas Dian.
Program pengabdian di Kecamatan Sawangan ini melibatkan total 90 mahasiswa lintas fakultas, dengan kontribusi dominan dari prodi biologi UIN Walisongo yang menerjunkan 64 agen perubahannya. Keterlibatan perwakilan fakultas lain turut memastikan pendekatan multidisipliner yang utuh di tengah masyarakat.
Kuliah Kerja Lapangan merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran kontekstual yang bertujuan menghubungkan teori yang diperoleh mahasiswa di ruang kuliah dengan kondisi nyata di lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memperkuat pemahaman mengenai biologi, ekologi, konservasi, pengelolaan lingkungan, serta penerapan pendekatan ilmiah dalam menganalisis persoalan lingkungan secara langsung.

Pada KKL tahun 2026 ini, Prodi Biologi menetapkan tiga lokasi utama sebagai tujuan pembelajaran, yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Kebun Raya Purwodadi Pasuruan, dan Taman Nasional Tengger Gunung Bromo Semeru. Ketiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki relevansi akademik yang kuat terhadap capaian pembelajaran mahasiswa Biologi, khususnya pada bidang pengelolaan lingkungan, biodiversitas, konservasi tumbuhan, dan ekologi lapangan.
Kunjungan ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai implementasi kebijakan pengelolaan lingkungan perkotaan, sistem pengelolaan sampah terpadu, program 3R, pengendalian pencemaran, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan. Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai hubungan antara ilmu biologi, ekologi perkotaan, dan kebijakan publik di bidang lingkungan hidup.
Selanjutnya, kegiatan di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan difokuskan pada kajian biodiversitas tumbuhan, konservasi flora, taksonomi tumbuhan, serta pengenalan dokumentasi ilmiah tumbuhan. Mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengamati keanekaragaman flora dataran rendah kering tropis serta memahami peran kebun raya sebagai pusat konservasi, penelitian, pendidikan, dan pelestarian plasma nutfah.
Sementara itu, kegiatan lapangan di kawasan Taman Nasional Tengger Gunung Bromo Semeru diarahkan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai struktur ekosistem, interaksi antara komponen biotik dan abiotik, daya dukung lingkungan, serta dampak aktivitas wisata terhadap keberlanjutan kawasan konservasi. Pengalaman ini diharapkan mampu menumbuhkan kepekaan ekologis mahasiswa terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Ketua Program Studi Biologi, Dr. Dian Ayuning Tyas, M.Biotech., menyampaikan bahwa KKL menjadi sarana penting untuk memperkuat kompetensi akademik mahasiswa melalui observasi langsung, analisis ilmiah, dan pembelajaran kontekstual di luar kelas. Kegiatan ini tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga membangun kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu lingkungan dan konservasi.
Melalui kegiatan KKL 2026, Program Studi Biologi FST UIN Walisongo Semarang berkomitmen untuk menghadirkan proses pembelajaran yang relevan, aplikatif, dan selaras dengan perkembangan ilmu biologi serta tantangan lingkungan masa kini. Hasil observasi dan kajian lapangan mahasiswa diharapkan dapat dikembangkan menjadi laporan ilmiah, artikel, maupun gagasan akademik yang bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dan masyarakat.
]]>
Acara diawali dengans ambutan oleh Dr. Listyono, M.Pd. (Ketua Jurusan Biologi) yang berharap semakin banyak dosen publikasi di jurnal Scopus serta terjalin kerja sama lebih erat dengan UPSI Malaysia. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Dekan FST, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., dimana beliau menekankan pentingnya produktivitas akademik dan mengajak seluruh dosen untuk keluar dari zona nyaman demi meningkatkan kinerja publikasi.
Narasumber pada workshop kali ini adalah Prof. Madya Dr. Wan Mohd Nuzul Hakimi Wan Salleh dari Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. Beliau memaparkan strategi publikasi, mulai dari penulisan judul, abstrak, metode, proses submit, hingga cara memilih jurnal dan menjawab komentar reviewer. Ia menekankan pentingnya novelty, penulisan yang rapi, kolaborasi riset, serta kepatuhan pada author guidelines.

Sesi diskusi berlangsung interaktif, membahas kesalahan umum penyebab artikel ditolak, kekuatan data penelitian, hingga kebijakan terkait penggunaan AI dalam penulisan artikel. Workshop ini menjadi langkah strategis FST dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah, khususnya dari Jurusan Biologi, untuk dapat bersaing di tingkat internasional.
]]>Kegiatan yang merupakan bentuk kerjasama dengan IPB University ini diikuti oleh berbagai kalangan, dari mulai akademisi hingga para peminat di bidang budidaya tanaman hias hadir mengisi ruang pertemuan online pada kegaitan ini.
Acara dibuka oleh materi dari Pakar Argonomi dan Hortikultura Nasional, ialah Dr. Krisantini, M.Si Dosen pada Fakultas Pertanian IPB University yang berkesmpatan membagikan ilmunya pada acara ini. Dosen yang menggeluti bidang pembudidayaan tanaman hias ini menjelaskan tips Florikultura di rumah saat masa pandemi ini, selain itu pemateri kedua, Dr.Lianah, M.Pd, Pakar Biologi Tropis UIN Walisongo, juga berkesempatan menyampaikan risalah risetya mengenai Tanaman Hias di Dataran Tinggi Dieng.
Dua Dosen muda Prodi Biologi juga turut ambil bagian pada acara yang dihadiri oleh 200 peserta ini, Asri Febriana, M.Si membawakan materi seputar tanaman hias Zingiberaceae yang dapat dielaborasi di rumah ketika masa pandemi, sedangakan Niken Kusumarini, M.Si mejelaskan materi mengenai tanaman liar berpotensi sayur di masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga jam penuh ini dimoderatori oleh Tara Puri Ducha Rahmani, M.Sc, selama kegiatan berlangsung para peserta nampak antusias mengikuti berlangsungnya acara. Tidak dipungkiri bahwa selama masa pandemi, “Demam” berkebun memang menjalar pada masyarakat Indonesia, sehingga kegiatan semacam ini turut mendapatkan animo yang sangat baik oleh masyarakat luas.
(Tim Humas)
]]>Terima Kasih
Panitia
Kegiatan yang dihadiri oleh narasumber dari Amerika dan Inggris, serta diikuti oleh berbafgai peserta dari kancah megara ini ini dibuka oleh sambutan Dekan FST UIN Walisongo, Dr. Ismail, M.Ag.
Dalam sambutannya, Dekan berharap muncul ide-ide baru yang dapat dikreasikan baik oleh Dosen maupun para mahasiswa dari hasil kegiatan ini.
“Saya berharap dengan adanya webinar ini mampu menghasilkan ide-ide baru yang signifikan dalam pengembangan pembelajaran dan riset di bidang Biologi karena tidak bisa dipungkiri bahwa digital learning menjadi tantangan praktis di dunia pendidikan khususnya selama pandemi”. Harap Ismail
Wakil Rektor 1 UIN Walisongo Semarag, Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag membuka acara menyampaikan bahwa kondisi pandemic Covid-19 merupakan tantangan bersama yang harus dijawab dengan beragam solusi, salah satunya dengan transformasi digital
“Covid 19 menimbulkan berbagai permasalahan yang harus didiskusikan dan dicari solusinya, Hal ini menjadi tantangan untuk guru dan siswa untuk mengembangkan diri dan bertransformasi ke dunia digital’ Ungkap Wakil Rektor I
Narasumber Pertama, Raziel Lizarraga, B.S. merupakan Praktisi Pendidikan di VMCHS School, Amerika Seirkat. Alumni University of California Los Angles (UCLA) menyampaikan empat poin penting terkait penyikapan manajemen Pendidikan di Bidang Biologi selama pandmei Covid-19,
Empat poin yang disampaikan yaitu; (1) transisi pembelajaran classroom ke pembelajaran online; (2) in-person engagement vs online engagement; (3) adaptasi guru dan siswa dan model assessment.
“Di Amerika, kebanyakan sekolah-sekolah disana menggunakan beberapa platform untuk pembelajaran, seperti nearpod, filpgird, seesaw, google classroom, whiteboard.chat. Guru dan siswa harus bisa berdaptasi dengan platform-platform tersebut” Ungkap Raziel
Sementara itu, Narasumber kedua hadir dari tanah Britania Raya, Inggris. Lee James Watson, M.Sc. yang saat ini bekerja sebagai QA Laboratory Inspector menjelaskan mengenai optimalisasi skill dan kompetensi di Bidang Biologi yang perlu dikembangkan semasa pandemic Covid-19 ini.
Alumni Newcastle University ini juga mengungkapkan beberapa skill yang perlu untuk dihadirkan untuk menjawab tantangan zaman di bidang Biologi.
“Skill Biology dapat memberikan solusi alternative terhadap permasalahan yang muncul di berbagai bidang pekerjaan, termasuk sangat dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah yang hadir saat pandemic covid-19 ini” ungkap Pria Kelahiran Inggris ini
Kegiatan ini dimoderatori oleh Tara Puri Ducha Rahmani, M.Sc, Dosen Program Studi Biologi yang juga alumni Newcastle University.
]]>Webinar yang membahas mengenai strategi dan tantangan penelitian serta publikasi ilmiah di masa pandemi covid-19 ini dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Sains dan Teknologi, Dr. Saminanto, M.Sc
Membuka sambutan, Saminanto menyampaikan pesan selamat kepada para mahasiswa Biologi angkatan 2018, yang telah melahirkan dua puluh sembilan (29) artikel ilmiah yang siap untuk dipublikasikan
“Selamat kepada para mahasiswa Biologi, 29 karya ilmiah dikerjakan dari rumah adalah capaian yang luar biasa” ujar Saminanto
Webinar KKL Virtual yang dimoderatori oleh, Sekretaris Prodi, Dr. Ling. Rusmadi, M.Si ini diikuti oleh para mahasiswa Prodi Biologi lintas angkatan.
Menjadi pembicara Dr. Hafsan, S.Si, M.Pd dan Dr. Cut Muthaidin, M.Si, keduanya adalah pakar Mikrobiologi dan Genetika dari UIN Alaudin Makasar,
Keduanya membahas mengenai strategi dan teknik publikasi di masa pandemi covid-19. Pada materinya Hafsan menuturkan bahwa meski di masa pandemi, kreatifitas menulis jangan sampai berhenti, menurutnya eksplorasi pada lokalitas tempat tinggal sangat bisa dijadikan objek untuk melakukan penelitian
“Meski dalam situasi serba terbatas akibat Covid-19, Para Mahasiswa Biologi UIN Walisongo Semarang mampu meleluinya dengan kreatifitas, selamat!” ungkapnya
Cut Muthaidin menambahkan, bahwa hasil review dari artikel para mahasiswa Biologi sudah sangat baik, hanya saja perlu penyikapan khsusu dengan karakteristik jurnal ilmiah yang dituju
“Secara substansi tulisan dari para mahasiswa ini sudah sangat baik, hanya perlu untuk dsesuaikan dengan target jurnal yang dituju, hal ini perlu disikapi dengan baik, karena setiap jurnal punya standar penulisannya masing-masing” ungkap Reviewer Penelitian BOPTN Kemenag RI ini
Sesuai kegiatan webinar ini, ditargetkan pada bulan desember dua puluh sembilan artikel para mahasiswa ini telah dipublikasikan oleh beberapa jurnal ilmiah baik internaisonal maupun nasional.
]]>
Sekretaris Prodi Biologi, UIN Walisongo Semarang
Hampir tak terbantahkan, sains dan teknologi sebagai salah satu kebudayaan manusia telah berkembang secara fantastis. Ia telah berkembang dan berjalan hingga ke titik terjauh dalam mata rantai sejarah ilmu pengetahuan, karena manusia telah mampu menghadirkan kedigdayaan sains dan teknologi hampir di semua aspek kehidupan manusia. Itulah sebabnya, sains dan teknologi berkembang menjadi salah satu penanda bagi hidup dan berkembangnya peradaban manusia.
Apa yang dibayangkan oleh Auguste Comte tentang perkembangan suatu masyarakat menuju masyarakat positivis seperti menemukan pembuktian sahihnya: bahwa sejarah pemikiran manusia telah menuju fase baru dimana orang tidak lagi mendasarkan kebenaran pada mitos-mitos, melainkan pada penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Kebenaran yang bersumber dari mitos-mitos telah disingkirkan oleh kebenaran ilmiah. Tidak ada lagi fenomena-fenomena yang tidak bisa dijawab secara ilmiah.
Sejarah mencatat, melalui penelitian dan pengembangan, sains dan teknologi telah memberikan kemajuan yang signifikan, baik pada ranah teoritis maupun pada rana praksis. Semua fenomena alam dan sosial dapat dijelaskan secara presisi, yang kemudian melahirkan berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu dasar (basic science) maupun ilmu-ilmu terapan (applyed science), baik ilmu-ilmu monodisiplin maupun multidisiplin. Prestasi itu, seolah mengantarkan kita pada suatu kondisi zaman dimana “tidak ada fenomena yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, dan tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh sains dan teknologi”.
Atas prestasi itu pula, peradaban manusia telah memasuki era dimana tidak ada lagi masalah di dunia ini yang belum pernah didekati dan dijelaskan oleh sains. Sains berkembang sedemikian artikulatif, dan masuk ke semua aspek kehidupan manusia, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Perkembangan teknologi dan ilmu-ilmu terapan lain juga berkembang sedemikian atraktif. Bahkan, tidak ada kehidupan manusia yang tidak bersentuhan dengan teknologi. Teknologi telah melayani manusia sedemikian rupa, sehingga keterbatasan-keterbatasan manusia hampir tak lagi tampak. Teknologi telah tampil sedemikian intens di tengah-tengah kehidupan manusia melalui karya-karya teknologi, baik teknologi sederhana dan tepat guna (low technology), teknologi madya (intermediate technology), maupun teknologi tinggi (high technology). Perkembangan bidang ilmu genetika, nanoteknologi, robotika, dan teknologi informasi adalah beberapa contoh bagaimana atraktifnya dunia teknologi.
Pada akhirnya, tentang perkembangan sains dan teknologi ini, kita mendapatkan perspektif yang cukup baru soal “sejarah masa depan” dari seorang futuris, Prof. Yuval Noah Harari. Andri Syah telah menuliskan pandangan Harari itu dengan sangat apik dalam kolom di Qureta (12 September 2016). Harari berbicara tentang sejarah, tetapi bukan ke sejarah masa lalu, melainkan sejarah masa depan. Sejarah sering bercerita tentang masa lalu hingga hari ini, tetapi tidak banyak yang bercerita tentang apa yang akan terjadi sesudah itu. Harari juga mewanti-wanti bahwa ia tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang pasti terjadi pada masa yang akan datang. Ia hanya mengingatkan komunitas global, bahwa manusia sedang menghadapi perubahan radikal sebagai akibat dari kemajuan sains dan teknologi. Manusia mengalami transisi besar-besaran: dari wujud organik (human), dan akan berevolusi menjadi wujud non-organik (post-human). Kita mungkin membayangkan apa yang dipikirkan Harari ini layaknya cerita fiksi ilmiah di film-film Hollywood kenamaan Amerika, tentang manusia-manusia mesin.
Andri Syah juga menyajikan pandangan serupa dari Direktur Teknologi Google, Ray Kurzweil yang berbicara tentang teori singularitas: suatu masa dimana kemajuan sains dan teknologi telah membawa peradaban manusia ke arah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebagai seorang pakar teknologi, ia bercerita dengan gamblang tentang peta jalan evolusi manusia dilihat dari sisi kemajuan teknologi. Dalam tulisannya, The Singularity is Near, Kurzweil berpendapat bahwa manusia sekarang menghadapi epos ke lima. Epos dimana manusia dan mesin akan menjadi satu. Menurutnya, hal ini akan terjadi sebagai akibat dari kemajuan di tiga bidang: Genetika, Nanoteknologi, dan Robotika. Ketiganya adalah bidang yang menjadikan segala hal yang sebelumnya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Ketiga bidang tesebut akan mentransfomasi umat manusia dari makhluk organik menjadi non-organik (post-human). Melalui ketiga teknologi tesebut, spesies manusia baru akan lahir, dan merupakan kelanjutan dari evolusi manusia sebelumnya.
Namun, tulis Andry Syah, kedua futuris ini sepakat akan satu hal: transisi dari wujud organik (human) ke wujud non-organik (posthuman) bukan tanpa risiko. Akan ada banyak bahaya yang mengintai. Baik itu yang berasal dari teknologi ataupun manusia. Dari sisi teknologi, ia dapat menghadirkan keterasingan baru dari peran-peran produktif dan sosial. Ambil contoh misalnya kecerdasan buatan (artificial intelligence), para ahli memprediksi bahwa kecerdasan buatan dalam waktu dekat akan menimbulkan keterasingan manusia baru bagi manusia modern. Menurut Harari, manusia hanya memiliki dua jenis modal: tenaga dan pikiran (kognitif). Setelah Revolusi Industri, mesin mampu menggantikan tenaga manual manusia. Oleh karenanya, ketika pekerjaan manual mulai berkurang manusia dengan mudah hijrah pada pekerjaan yang sifatnya kognitif. Di sinilah fase keterasingan manusia dimulai. Pada fase berikutnya, manusia semakin terasing karena mesin telah mulai mampu mengimbangi kemampuan kognitif manusia. Ini mengancam satu-satunya modal terakhir manusia, yakni pikiran (kognisi). “Apa yang akan dilakukan ketika mesin telah menggantikan pelayan toko, dokter, sopir bahkan pengacara? Apa yang akan dilakukan dengan jutaan tenaga manusia yang tidak berguna?” Tanya Harari.
Bahaya lain yang timbul dari transisi ini adalah bahaya yang datang dari manusia itu sendiri. Diperkirakan kelompok radikal baru akan muncul. Kelompok radikal ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama, jika pun ada kaitannya dengan agama, ia merupakan irisan-irisan akibat perjumpaan cara pandang. Ya, bisa jadi akan ada kelompok yang menolak karena mereka adalah “korban” dari pengambilalihan peran produktif dan sosial manusia oleh mesin seperti halnya kaum Luddite yang menolak penggunaan mesin di Inggris pada abad 19. Atau, bisa juga akan muncul kelompok yang menolak karena teknologi telah keluar dari kefitrahan hidup yang digariskan agama, sehingga muncullah gerakan revivalisme baru. Mereka menganggap bahwa perkembangan sains dan teknologi telah mengarahkan manusia menjadi jauh dari identitas dan cita-cita agama. Lebih-lebih, mereka beranggapan bahwa sains dan teknologi modern dibuat oleh tangan-tangan orang kafir, sehingga sudah selayaknya kita menjaukan diri dari hal-al yang berbau kafir, termasuk hasil karyanya, karena khawatir akan menodai kemurnian tauhidnya.
The Artilect War, sebuah buku yang tulis oleh Hugo de Garis (2005), telah mendeskripsikan dengan jelas tentang potensi konflik yang muncul akibat keterasingan manusia oleh teknologi ini. Tidak menutup kemungkinan mereka yang termarjinalkan dan terasing itu akan menyalurkan rasa frustasinya dengan jalan kekerasan. Akibatnya, konflik sosial yang dipicu oleh keterasingan manusia dan munculnya kelompok radikal baru ini benar-benar menjadi ancaman bagi peradaban manusia itu sendiri. Sesuatu yang menjadi absurd: di satu sisi kemajuan sains dan teknologi adalah prestasi membanggakan manusia, tetapi di saat yang sama ia bisa saja menjadi pemicu timbulnya problem sosial baru berupa munculnya keterasingan manusia dan kelompok radikal baru.
Terlepas dari absurditas yang melingkupi perkembangan sains dan teknologi, tetapi ada satu hal yang sulit terbantahkan, dimana pada akhirnya kemajuan sains dan teknologi menjadi mata rantai kehidupan yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia itu sendiri. Kita hampir-hampir tidak bisa hidup tanpa bantuan teknologi, mulai dari pekerjaan yang besar dan berat hingga pekerjaan yang paling ringan sekalipun. Eksistensi teknologi bahkan mengangkangi eksistensi manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, eksistensi teknologi terkadang menyebabkan seseorang justru tidak tahu apa-apa lagi, dan juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena semuanya telah dilakukan oleh teknologi dengan sistem otomatis. Ya, sistem serba otomatis itu telah menyebabkan manusia lupa akan kemampuannya sendiri.
Normalitas Baru
Jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, perkembangan sains dan teknologi yang sedemikian atraktif tersebut sesungguhnya adalah normalitas baru. Ya, meskipun pada awalnya banyak yang terkejut, kebudayaan baru akibat evolusi sains dan teknologi itu pada akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang normal, dan harus berjalan, karena segala sesuatu memanglah demikian, kemudian diterima sebagai hal yang biasa, menjadi normal. Titik normal baru (the new normal) yang diterima oleh masyarakat tersebut kemudian dipahami sebagai kondisi yang wajar. The new normal merupakan terminologi yang dipakai pada tahun 2009 oleh Philadelphia City Paper saat mengutip Paul Glover dalam menjelaskan kondisi yang semula dinilai tidak umum menjadi sesuatu yang kemudian dianggap biasa, wajar, dan akhirnya diterima secara luas (Ridwan Sanjaya, 2018).
Kita mungkin masih mengingat dengan jelas, bagaimana awal kehadiran ojek online dan taksi online yang merebak di tahun 2015 an. Pada saat itu, dunia bisnis per-ojekan menghadapi gejolak, muncul kontroversi, banyak pihak yang menolak hadirnya ojek online dengan dalih bisa menggusur tukang ojek konvensional, muncul aksi demontrasi yang berujung pada pelarangan ojek online dan taksi online, atau paling tidak jangkauan layanannya dibatasi. Tetapi lambat laun, dunia perojekan menghadapi normalitas baru, lama kelamaan mereka diterima sebagai sesuatu yang wajar, karena segala sesuatu memanglah demikian, menjadi hal yang biasa, menjadi normal.
Kita mungkin juga menjadi bagian dari orang yang menikmati bisnis online. Orang berjualan tanpa memiliki toko, tanpa memiliki karyawan, tetapi bisa bertransaksi dengan omset ratusan juta per bulan. Supermarket pun kini sudah mulai berubah, mereka beralih ke toko dengan aplikasi yang mumpuni. Pengunjung tidak perlu datang ke toko, tetapi ia bebas memilih barang melalui smartphone, mengecek harga, dan hanya dalam satu kali tekan, terjadilah transaksi, barang dibayar melalui transfer online, dan kemudian barang pilihannya akan segera dikirim ke rumah.
Dalam dunia bisnis online sendiri juga mengalami normalitas baru. Awalnya semua pembayaran harus ditransfer terlebih dulu, baru kemudian barang dikirim ke alamat pemesan. Tetapi saat ini, barang bisa dikirim terlebih dulu dan kemudian dibayar saat barang sudah sampai di rumah atau alamat yang dituju (bayar di tempat). Ya, dunia sedang dan akan terus menghadapi normalitas-normalitas baru, yang pada awalnya terasa tidak wajar, aneh, sulit dipercaya. Tetapi kemudian, lambat laun menjadi normal, wajar, dan biasa, karena segala sesuatu memanglah demikian.
Apa yang kita saksikan dari sedikit kisah ojek online dan supermarket online adalah kenyataan bahwa kehadiran teknologi bisa menjadi normalitas baru dalam gerak kehidupan manusia. Akan muncul kejutan-kejutan baru dalam setiap gerak kehidupan, tetapi kejutan-kejutan baru tersebut lambat laun akan menjadi normal dan biasa. Kejutan-kejutan baru yang kita hadapi merupakan titik normal yang baru. Kejutan ini sering membawa gangguan dan masa sulit bagi banyak pihak, namun kekuatan untuk pulih dengan cepat dan bangkit kembali mengejar ketertinggalan akan menjadi kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut.
Tantangan bagi Universitas
Sebagai institusi budaya, maka universitas juga menghadapi normalitas baru seiring dengan adanya supremasi teknologi ini. Universitas, dengan demikian tidak lagi cukup hanya berjalan pada jalan normalitas lama itu. Universitas harus mampu merespon perkembangan dunia baru sebagai bagian dari titik “normalitas baru” tersebut. Universitas adalah dunia yang terbuka, sehingga penyangkalan dan menutup diri terhadap normalitas baru ini adalah bagian dari gejala revivalisme baru.
Pada konteks ini, umumnya terdapat ada dua pilihan yang bisa diambil oleh warga universitas, yakni: Pertama, kita cukup mengambil langkah-langkah penyesuaian agar kita bisa hidup berdampingan dengan normalitas baru itu. Kedua, kita justru menciptakan inovasi-inovasi baru yang tidak dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan normalitas baru itu, melainkan kita membuat inovasi-inovasi baru yang justru bisa menjadi normalitas-normalitas baru lain. Bukankah kita tahu bahwa the new normal adalah pada awalnya dianggap aneh, tetapi kemudian pada akhirnya dianggap wajar dan normal. Semua pilihan sebenarnya sama-sama memiliki konsekuensi, dan bentuk konsekuensinya juga sama, yakni harus mampu berinovasi.
Saat ini, kita pun sadar, bahwa perguruan tinggi sedang menghadapi perubahan global yang sangat mendasar atau “the deep shift” terkait dengan model-model pembelajaran baru. Saat ini, banyak muncul kuliah-kuliah alternatif melalui program Massive Open Online Courses (MOOC) yang dibuka oleh universitas-universitas ternama dunia dengan biaya murah, bahkan banyak yang menawarkan kursus-kursus secara gratis (atau setidaknya berbiaya murah). Program perkuliahan dan kursus alternatif model MOOC juga melibatkan universitas ternama seperti Harvard University dan Massaschusetts Intitute of Technology (MIT). Kita bisa melihat bagaimana Coursera, Udacity, edx Course, dan juga IndonesiaX yang telah membuka program MOOC ini. Melalui MOOC, para mahasiswa dapat mengakses materi perkuliahan dari profesor terbaik dari berbagai belahan dunia.
Kuliah-kuliah alternatif itu mengeluarkan sertifikat yang diakui oleh perusahaan-perusahaan raksasa dunia, karena perusahaan besar saat sudah mulai tidak bertanya ijazah, melainkan portofolio dan kompetensi. Lihatlah bagaimana perusahaan ternama dunia seperti Google, IBM, Amazon, Ernst & Young, dan lain sebagainya, telah mengakui lulusan dari program MOOC. Itulah sebabnya, kuliah atau kursus secara online semakin digemari.
Program MOOC ini adalah normalitas baru dalam dunia pendidikan. Pada awalnya adalah sesuatu yang sepertinya tidak mungkin, tidak umum, tetapi pada akhirnya menjadi sesuatu yang kemudian dianggap biasa, wajar, dan normal. Semua akan mengalami penyesuaian-penyesuaian, yang pada akhirnya akan dianggap biasa dan normal, dan begitu seterusnya, akan ada normalitas-normalitas baru lain yang akan hadir.
Memilih jalan kedua, yakni menciptakan inovasi-inovasi baru yang justru berharap akan menjadi normalitas baru lain membutuhkan inovasi yang tidak biasa. universitas tidak hanya cukup mengandalkan literasi lama (membaca, menulis, dan matematika), melainkan membutuhkan literasi baru agar warga kampus menjadi kompetitif menghadapi normalitas-normalitas baru yang akan datang. Literasi baru dibangun atas kemampuan membaca dan menganalisis informasi.
Pada konteks ini, universitas (harusnya) bukan lagi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis saja, karena saat ini kemampuan teknis telah tergantikan oleh teknologi melalui sistem otomatisasi. Bahkan, teknologi tidak hanya telah menggantikan peran-peran teknis manusia, tetapi juga melalui kecerdasan buatan (artificial intelligence) teknologi mampu menggantikan peran-peran analitik manusia. Persis, manusia hanya sebagai operator, semua analisis dilakukan oleh mesin. Oleh karenanya, sudah saatnya universitas tidak lagi dikungkung dengan kecerdasan-kecerdasan teknis yang bersifat hardskill semata, melainkan juga perlu mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang bersifat softskill. Artinya, kemampuan teknis tetap penting, tetapi tidak semata-mata soal teknis.
Universitas harus mampu mendorong para warganya untuk memiliki kecerdasan-kecerdasan analitik yang bersifat softskill (mengkombinasikan teknologi informasi, kemampuan analisa, dan kemampuan beradaptasi), karena kemampuan inilah yang dapat menyesuaikan diri dengan normalitas baru di tengah revolusi industri 4.0. Dengan demikian, maka kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan oleh universitas, sehingga tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi. Dengan begitu, kemampuan dan kompetensi yang dimiliki oleh warga universitas tidak mudah kedaluwarsa oleh perubahan yang cepat berganti.
Melalui kesadaran akan adanya normalitas baru ini, maka warga universitas sebagai bagian dari masyarakat global, harus meyakini bahwa saat ini bekerja dengan baik saja tidak cukup. Normalitas baru menuntut warga universitas (termasuk mahasiswa) untuk bekerja memiliki kemampuan analitik yang baik, pandai melihat peluang-peluang baru, dan mampu beradaptasi dengan normalitas-normalitas baru yang terus hadir. Pada konteks ini, maka setiap warga universitas mesti membekali diri dengan kemampuan analitis kritis. Melalui kemampuan tersebutlah, warga universitas akan mampu menghadapi normalitas-normalitas baru yang dihadapi. Kita tidak perlu melakukan penyangkalan-penyangkalan atas normalitas-normalitas baru ini, karena penyangkalan justru bisa menjebakkan diri pada gerakan revivalisme baru dan disrupsi. Mari kita bersiap menghadapi normalitas baru, atau kita menciptakan normalitas-normalitas baru yang lain. ‘Ala kulli hal, kita perlu memelihara tradisi lama yang baik, dan terus memproduksi tradisi baru yang lebih baik.
]]>