The post Ratu Elizabeth II dan Indonesia – Ratu Inggris Pesta Kebun di Menteng By appeared first on Baltyra.
]]>Ratu Inggris Pesta Kebun di Menteng
Indonesia kedatangan tamu negara dari sebuah kerajaan. Bisa dihitung dengan jari. Apalagi pada masa Presiden Soekarno, mungkin hanya Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand dan Raja Norodom Sihanouk dari Kamboja yang memang menjalin hubungan baik dengan sang presiden. Bahkan terdengar kabar bahwa Soekarno sangat kepincut (senang) dengan kecantikan Ratu Sirikit (permaisuri Raja Rhailand) dan Putri Monique (permaisuri Raja Kamboja). Sikap anti kolonialisme Soekarno kadang terdengar panas di telinga para bangsawan barat, sehingga hubungan mereka dengan Indonesia tidak begitu mesra.
Setelah Soekarno turun, Soeharto sang pengganti banyak kedatangan tamu kerajaan. Kaisar Haile Selassie I dari Ethiopia yang juga ‘tuhan’ pujaan penyanyi reggae Bob Marley, merupakan raja pertama yang datang di masa pemerintahan Soeharto.
Beralihnya gaya dan retorika kepemimpinan di Indonesia, membuat Ratu Elizabeth II berhasrat ingin mengunjungi sebuah negeri besar yang menyimpan sejarah negerinya beratus-ratus tahun. Bisa dibilang sangat jarang petinggi Ingggris ke Indonesia. Raja atau ratu Inggris yang pertama kali datang ke Indonesia, ya Ratu Elizabeth II di tahun 1974. Bahkan perdana menterinya belum pernah ada yang ke Indonesia, kalau tidak Margaret Thatcher datang ke Jakarta pada 1984.

Mungkin Anda yang senang ke salon untuk meng-upgade kecantikan dari Tuhan yang kurang sempurna, akan sering melihat wajah Margaret Thatcher ‘Si Wanita Besi’ bersama penata rambut terkenal Peter Saerang yang foto mereka berdua (Peter berdiri dan Thatcher duduk bersebelahan) dipajang di tiap pintu masuk salon milik sang penata rambut itu. ‘Si Wanita Besi’ yang selalu berambut rapih itu memang mempercayai Peter selama di Indonesia.
Kedatangan ratu Inggris ke Indonesia sangat unik. Jarang ada tamu negara yang datang menggunakan kapal laut, kecuali Ratu Elizabeth II yang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada siang hari tanggal 18 Maret 1974. Selama 5 hari sang ratu paling berpengaruh di dunia itu melanglang Indonesia. Dalam rombongannya, ratu membawa pamannya, Lord Mountbatten, penguasa terakhir Inggris di India dan perwira tinggi yang banyak berjasa pada masa-masa perang kemerdekaan dulu. Maklum saja, naik kapal laut pasti rombongan yang dibawa bisa ratusan orang! Sang paman datang lagi dengan kondisi yang sudah sepuh (tua) tidak seperti waktu muda yang ganteng. Mountbatten adalah orang yang dihormati Pangeran Charles sekaligus gurunya.

Untuk menghormati Mounbatten, paman Ratu Elizabeth II, Soeharto memerintahkan Nugroho Notosusanto yang saat itu kepala pusat sejarah ABRI mengantarkan ‘The Old Soldier’ itu ke rumah bekas Presiden Soekarno, yang saat itu sedang diubah menjadi museum ABRI. Mungkin pihak Mountbatten yang menginginkan pergi ke tempat seperti itu, yang setidaknya menyimpan kenangan pribadinya dan juga bangsanya pada masa lalu berurusan dengan bangsa Indonesia.
Kedatangan Ratu Elizabeth II ke Indonesia, bukan hanya pertama kali, tetapi dia menjadi kepala negara yang datang ke sebuah rumah tempat Indonesia dirancang dan diproklamasikan. Sampai detik ini belum pernah ada presiden Indonesia yang datang ke tempat naskah proklamasi Indonesia dirumuskan yang kini bernama Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No. 1.
Pada malam hari di sela kunjungannya, Ratu Elizabeth II dijamu dengan pesta kebun di belakang rumah kediaman duta besarnya di Menteng. Jarang sekali seorang ratu Inggris mengadakan acara semacam ini di luar negeri, kecuali di Indonesia.
Sampai sekarang Ratu Elizabeth II tidak pernah berniat datang kembali ke Indonesia seperti 37 tahun silam. Berbeda dengan negara-negara jajahannya, bisa puluhan kali. Berapa puluh kali ratu Inggris ke Australia? Kanada? Selandia Baru? India? Jamaika? Barbados? Singapura? Puluhan kali! Ini yang membedakan dengan Indonesia, meski pernah dijajah, Indonesia adalah sebuah negeri yang susah diatur. (*)
The post Ratu Elizabeth II dan Indonesia – Ratu Inggris Pesta Kebun di Menteng By appeared first on Baltyra.
]]>The post Semar Mantu – Dwi Klik Santosa appeared first on Baltyra.
]]>Prabu Kresna tidak bisa menolak keinginan kakaknya. Akan tetapi Prabu Kresna juga sulit menolak lamaran Petruk. Meskipun dipandang dari segi derajatnya, Petruk adalah golongan rakyat biasa, sedang Lesmana Mandrakumara lebih sejajar dengan kedudukannya karena dia putra Prabu Duryudana. Kebijakan Prabu Kresna mendapatkan ujiannya. Dalam urusan seperti itu, tidak boleh dibedakan harkat, martabat dan derajat. Persoalan jodoh dan nasib adalah semata kehendak takdir. Meskipun sebagai wali Siti Sundari, ia berhak menentukan syarat bibit bobot bebet. Akan tetapi Prabu Kresna tidak gegabah dan sangat hati-hati menjatuhkan keputusan.

Demi dilihat Prabu Kresna gundah, Prabu Baladewa duta pinangan Prabu Duryudana untuk Lesmana Mandrakumara memaksakan kehendak agar lebih mendengar sarannya. Tentu Kresna akan lebih memandang Baladewa daripada Petruk. Tidak akan memperkenankan Siti Sundari yang ningrat itu diboyong Petruk yang hanya rakyat jelata. Prabu Kresna harus berpihak kepadanya. Hitam di atas putih memberatkan itu. Apalagi Lesmana Mandrakumara adalah putra seorang raja besar dengan kedudukan terhormat. Sepantasnya apabila Siti Sundari dipersandingkan dengan Lesmana Mandrakumara.
Akan tetapi, Petruk yang pintar berdiplomasi juga menawarkan logika matang kepada Prabu Kresna. Ia menegaskan sebuah timbangan kepada Prabu Kresna.
“Dalam urusan jodoh, apalah arti derajat dan pangkat? Jika naluri telah terpisah dari nurani, perjodohan hanya akan membawa kehancuran. Bukankah begitu, Paduka?”
Dikatakan Petruk, meskipun Bambang Senet, adiknya itu hanyalah seorang pemuda kampung dan hanyalah kalangan rakyat biasa pula, akan tetapi dalam hitungan bobot kemanusiaan, ia banyak bisa dan mumpuni. Tingkah lakunya sopan dan tidak suka berbuat kesusahan bagi orang lain. Senet hanyalah seorang pemuda gunung. Tetapi ia pemuda yang sarat dengan segala ilmu kebatinan dan kesaktian. Ia seorang pemuda yang ringan tangan, suka menolong yang kesusahan, serta rendah hati, tidak suka pamer, meskipun ia punya kelebihan.
Maka sebagai seorang pemuda yang telah cukup umur dan cukup ilmu, beralasan bagi Bambang Senet menginginkan seorang putri untuk jodohnya. Sekalipun putri itu adalah anak seorang raja. Perkawinan adalah ukuran pertautan cinta kedua belah pihak. Laki-laki dan perempuan dengan saling ketertarikan dan berinteraksi satu sama lain membentuk ikatan batin. Bukan pada tingkat derajat dan pangkat, dasar penetapan tali-tali pertautan itu. Akan tetapi perasaan cinta yang kemudian melahirkan cipta, rasa dan karsa. Bila ketiga hal tersebut telah dimiliki oleh pria dan wanita yang cukup umur, maka layaklah mereka memasuki alam rumah tangga. Tak ada alasan Prabu Kresna menolak lamaran Bambang Senet hanya karena ia pemuda dari kalangan rakyat biasa.
Prabu Kresna merenungkan perkataan Petruk. Raja Dwarawati ini sejenak terhenyak. Tetapi bagaimanapun kebenaran yang disampaikan Petruk, terganjal pula hatinya untuk membuat putusan karena perasaan segan kepada kakaknya. Dibuatlah sayembara sebagai jalan tengah. Hanya pemuda yang tangguh berhak meminang putrinya. Barang siapa bisa memenuhinya, dialah yang boleh dan pantas memperistri Siti Sundari.

Sayembara berisikan syarat-syarat yang mutlak harus dipenuhi. Calon pengantin pria harus menyediakan; Kayu Klepu Dewandaru-Janandaru untuk kembar mayang, Kereta Jatisura sebagai kendaraan pengantin pria, Kebondanu 40 ekor pancal panggung untuk tontonan kirab, Wanara Seta sebagai penari pengatur langkah, Gamelan Lokananta untuk memeriahkan pengantin, diiringi dua patah kembar dan tujuh bidadari sebagai putri domas, Parijata Kencana untuk tarub tetumbuhan, serta dihadiri undangan seribu negara.
Bagi Prabu Baladewa syarat-syarat tersebut dirasakan sebagai penolakan halus terhadap lamarannya. Tetapi Prabu Baladewa sadar setelah merenungkannya bahwa persyaratan yang demikian itu hanyalah cara sang adik untuk menyaring calon yang pantas berjodoh dengan putrinya. Baladewa menyadari, kalau Lesmana akhirnya dianggap orang yang terlalu lemah sebagai suami Siti Sundari. Sedang bagi Petruk, segala persyaratan yang diajukan Prabu Kresna tersebut ditanggapinya dengan antusias dan penuh percaya diri.
Setelah sampai di Padukuhan Karang Kadempel, Petruk menceritakan semua kejadian yang dialaminya di Dwarawati berkaitan dengan tugas sebagai wakil bagi kepentingan Senet, adiknya. Demi mendengarkan penuturan Petruk, mantap hati Semar mengangguk-anggukkan kepala. Ayah para Panakawan yang waskita ini seakan memahami jalan pikiran Prabu Kresna.
Demi mendengar Semar akan mempunyai hajat menikahkan anak angkatnya. Semua Pandawa dan para ksatria datang ke Karang Kadempel dengan niat membantu kerepotan pamomongnya itu. Semar senang menerima kedatangan para ksatria asuhannya tersebut. Lalu ia membagi tugas. Arjuna ditugaskan mencari Kayu Klepu Dewandaru-Janandaru dan meminjam Gamelan Lokananta di Kahyangan Rinjamaya. Karena kayu itu hanya tumbuh disana. Dan gamelan itu milik Kahyangan Suralaya yang dijaga Dewa Indra.
Sedang Gatotkaca ditugaskan meminjam 40 Kebondanu milik Dewa Brahma. Antasena diberi tugas mencari Resi Anoman. Karena Wanara Seta untuk hiburan pengatur langkah itu, tiada lain hanyalah Anoman adanya. Bima juga kebagian tugas meminjam Kereta Jatisura milik Prabu Bisawarna di Kerajaan Singgela sekaligus memberi undangan menyebarkan undangan ke seribu negara. Ketiga Panakawan diberi tugas mengupaya tarub dan persiapan di Karang Kadempel. Puntadewa dan para satria lainnya dimintanya sebagai adeg-adeg (penerima tamu dan sebagainya). Sedang Parijata Kencana dan bidadari sebagai domas adalah urusan Semar dan Kanastren, istrinya.

Singkat cerita, semua persyaratan tersebut dapat terpenuhi. Dengan kerja keras para ksatria yang menjalankan tugas, Semar mendapat keberhasilan memenuhi syarat Prabu Kresna. Bahkan dalam menjalankan tugasnya, para ksatria yang diutus telah juga melakukan kebaikan bagi sesama. Seperti apa yang telah dilakukan Bima, tidak perlu ia menghubungi raja-raja dari satu negara ke negara lainnya, tapi berkat jasanya seribu negara itu akhirnya datang dengan sukarela kepadanya. Pada saat ia berkunjung ke Kerajaan Singgela menemui Prabu Bisawarna untuk meminjam kereta Jatisura, dikatakan sang raja, bahwa saat itu Singgela dan banyak negara sedang menerima penghinaan ditaklukkan oleh seorang Raja yang sakti tapi lalim dari negeri Magada bernama Prabu Jarasanda. Seribu negara takluk di bawah telapak kakinya dan kemudian diperbudaknya. Bisawarna menyanggupi meminjamkan Kereta Jatisura kepada Bima dengan syarat dapat mengeluarkan penderitaan dari penindasan Raja Magada ini.
Demi memperjuangkan keadilan, kesanggupan adalah kewajiban bagi Bima. Disatru Prabu Jarasanda dari Negeri Magada oleh Bima. Bima menggempur Magada dengan segenap tenaga. Ditaklukkan Prabu Jarasanda oleh Bima akhirnya. Bima meminta seribu negara yang dijajah Jarasanda agar dibebaskan. Jarasanda yang takluk, meloloskan permintaan Bima. Dibebaskan seribu negara tanpa syarat.
Sebagai rasa terima kasihnya kepada Bima, Raja seribu negara bersedia menghadiri undangan pernikahan Bambang Senet dan Siti Sundari di Karang Kadempel. Begitupun Prabu Bisawarna bersuka cita meminjamkan Kereta Jatisura kepada Bima, bahkan ia menyediakan diri sebagai saisnya.
Setelah semua syarat terpenuhi, Prabu Kresna mempertemukan putrinya dengan Bambang Senet. Alangkah terkejut semua yang hadir. Pernikahan agung terjadi di Karang Kadempel, sebuah desa yang dihuni abdi sahaya Semar. Terkuak pada akhirnya jati diri Bambang Senet putra angkat Semar. Abimanyu, putra Arjuna yang ingin dimuliakan hidupnya oleh Semar pengasuhnya. Semakin mashyur pernikahan itu bagi kedua wangsa, Pandawa dan Prabu Kresna. Mengingatkan dulu pernikahan agung pada Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Inilah maksud diketemukannya kembali sorga yang hilang itu. Yang ditemukan dan ditangkap pemuda sederhana yang luhur dan baik budi generasi keturunan Pandawa.
Siti Sundari pengantin wanita ibarat bidadari Sri ngejawantah (turun ke bumi). Segala keluwesan dan keelokannya menyapu segala keangkuhan putri ningrat yang tersandang padanya. Abimanyu, anak Arjuna yang lembut budi, serasi dalam gamit manja mempelai putri. Kedua pengantin hidup bahagia di atas singgana pelaminan Karang Kadempel.

Dalam kisah versi lain, yakni lakon Bambang Senet diceritakan, Bilung sedang dilanda gandrung kasmaran. Ingin ia dikawinkan dengan Siti Sundari, putri Prabu Kresna. Ia ungkapkan hasratnya ini dengan rengekan dan ratap tangis kepada Togog. Bilung dan Togog, dalam pewayangan suka disebutkan sebagai abdi pengasuhnya para ksatria berwatak songar. Setiap saat mereka selalu mengingatkan kepada siapa pun tuan pengasuhnya, agar tidak berbuat jahat, dan senantiasa kembali ke jalan kebenaran. Tapi, selalu saja niatnya itu kandas.
Ketika mendengar niat Bilung, sohibnya minta dikawinkan dengan putri Kresna, tertawalah Togog. Dikatakan Togog niat Bilung tersebut sebagai “Cebol nggayuh lintang’ (seorang kerdil menggapai bulan). Meski begitu, Bilung pun tetap bergeming dengan niatnya.
Disebabkan iba dan prihatin karena penderitaan Bilung. Kian hari badan Bilung makin kurus. Kehilangan nafsu makan ataupun kesenangan lainnya, suka melamun dan mengigau ketika tidur. Akhirnya Togog bersedia membantu hasrat sohib sejawatnya itu.
Togog berkata kepada Bilung, bahwa tak mungkin Siti Sundari mau menerima kasmarannya bila Bilung dalam wujud seperti itu.
Setelah mengheningkan cipta sesaat, Togog membuat diri sejawatnya tersebut berubah ujud. Berubahlah paras jelek Bilung Sarawita menjadi ksatria tampan dalam sekejab. Lantas kemudian Bilung diberikan nama Teja Kusuma.
Sedang Togog sendiri merubah pula rupanya menjadi seorang Resi dengan nama Begawan Nindya Gupita.
Dengan sembunyi-sembunyi dan berbekal mantra aji Panglimunan, Teja Kusuma dan Nindya Gupita, berhasil menemui putri Kresna itu di taman Keputrian Dwarawati.
Mendapati sikap Siti Sundari yang menolak kehadiran mereka, bahkan histeris ketika didekati, maka diculiknya putri itu dan dibawa kabur. Kerajaan Dwarawati gempar. Karena bingung, Kresna membuat sayembara, barang siapa bisa mengembalikan sang putri dan menangkap malingnya, akan dinikahkan dengan Siti Sundari.
Banyak satria berebut duluan memenuhi sayembara tersebut. Sudah sejak lama para satria dan pemuda tertarik dengan putri agung Dwarawati ini. Namun karena kharisma Kresna, mereka tak berani mengungkapkan hasrat itu. Ketika ada kesempatan seperti itu, mereka bergegas memanfaatkan sebaik-baiknya peluang tersebut. Berduyun-duyun para pemuda, duda dari berbagai kalangan dan latar belakang mereka-daya mencari hilangnya sang putri dan memburu malingnya.

Pencarian disertai hasrat yang meledak-ledak. Diketemukan pula akhirnya persembunyian penculik Siti Sundari. Tapi sekalipun mengetahui penculiknya, para ksatria tak berdaya menghadapi kesaktian Teja Kusuma dan Nindya Gupita. Kedua orang ini teramat tangguh dan sukar dikalahkan.
Dengan penyamaran sebagai rakyat biasa bernama Bambang Senet, Abimanyu yang diiringi Panakawan, telah sampai pula di hadapan Nindya Gupita dan Teja Kusuma. Karena kedatangan Bambang Senet ingin meminta kembali Siti Sundari, menyebabkan Teja Kusuma marah, dan memberi pilihan kepada Bambang Senet. Boleh membawa putri itu bila ia sanggup mengalahkannya. Bagi Bambang Senet yang telah berniat mempersiapkan segala sesuatu untuk mengembalikan putri itu ke Dwarawati, tantangan itu disahutinya dengan serangan. Tak percuma tekad Senet ini, dengan sebat ia mampu menandingi Teja Kusuma. Bahkan andai saja tak segera datang Nindya Gupita, dihabisi segera Teja Kusuma.
Berganti musuh dengan Begawan sakti ini, Senet kewalahan. Akan tetapi Semar tak membiarkan kekalahan anaknya. Dengan kentut sakti, Semar berhasil meringkus kedua penculik ini. Akhirnya Teja Kusuma dan Nindya Gupita kembali ke wujud semula menjadi Bilung dan Togog.
Bilung pun gagal memperistri Siti Sundari. Begitu pula dengan kisah-kisah seterusnya. Bila menginginkan putri-putri cantik untuk diperistri, selalu gagal ia mendapatkannya. Begitupun selalu saja Togog dibuat repot dan malu karena perbuatan sohib, teman seiringnya ini. Kemanapun Togog dan Bilung menjalankan tugas, mengiring para ksatria berwatak sora (mudah marah dan jahat), senantiasa mereka mengalami kegagalan.
The post Semar Mantu – Dwi Klik Santosa appeared first on Baltyra.
]]>The post Nganu Itu Enak Loh, Mbak appeared first on Baltyra.
]]>Mbak pernah “nganu” juga? Belum punya pacar? Loh, “nganu” itu kan tidak harus punya pacar? Ha..ha.h.ah.a. Salah ya, Mbak? Salah tapi bener kan? Banyak orang belum punya pacar, tapi sering “nganu”. Kawan-kawan saya banyak. Kawan-kawan Mbak, juga mungkin banyak loh.
Kenapa belum punya pacar, Mbak? Mbak kan cantik. Kayak bidadari loh. Artis-artis sinetron saya kira kalah loh, sama Mbak. Masih cari barang bagus ya, Mbak? Bener, Mbak. Cari pacar harus pilih-pilih. Jangan sampai salah. Tapi juga jangan terlalu milih-milih. Bisa jadi perawan tua loh, nanti.
Becanda, tapi serius juga, loh, Mbak. Tapi, “nganu” itu memang enak kok, Mbak. Nanti kalau sudah menjalani, langsung nyesel deh. Kenapa gak dari dulu-dulu. Ha.h.ah.ah.a.ha. Eh, Mbak, senyumnya aneh. Santai aja Mbak.

Pertama kali, aku ya, dengan Bambang itu, Mbak. Seperti pernah cerita kemarin itu, loh. Aku sering mengingatnya. Ternyata romantis banget waktu itu. Lebih romantis dibanding sinetron-sinetron, Mbak. Hujan. Gedung tua. Gelap. Petir menyambar-nyambar. Eh, kita sambar-sambaran juga. Sakit, tapi besok minta lagi. He.he.h.e.he.he.
Selain Bambang, ya dengan si Sontoloyo dan kawan-kawannya itu, Mbak. Waktu saya di pangris. Gimana ya si Sontoloyo itu? Gak tahu, mati apa gak tuh orang. Kalau gak mati, paling cacat seumur hidup. Syukurin. Orang kayak gitu kan sudah banyak bikin susah.
Aku pikir-pikir, selama jadi simpenan Sontoloyo, aku lihat dia baik juga loh. Punya solidaritas dengan kawan-kawannya. Lewat tengah malam dihubungi kawannya yang kesusahan, dia bisa langsung bangkit dan pergi. Urusan biaya hidup, lancar banget, Mbak. Untuk senang-senang juga bisa. Dia royal. Ngasih duit gak itung-itung. Tapi, namanya hati, ya Mbak. Eh, aku masih punya hati gak, ya? He.h.eh.eh.e. Ya, Mbak… Hati ada dendam. Jadi saya sering coba cari kesempatan. Kesempatan ada, kadang ragu. Sampai syetan – kalau benar ada – menjadi teman untuk jalanin niat. Ya, itu Mbak.
Setelah jadi simpenan Sontoloyo, aku pergi ke luar kota. Pindah-pindah kota. Ketemu orang pakaian polisi, was-was juga. Jangan-jangan lagi dicari. Tapi, ya aman-aman saja kok sampai sekarang. Sudah dua tahunan lah.
Setelah itu, yang sulit untuk dihitung, Mbak. Habis banyak sih. Ganti-ganti. Bisa suka sama suka. Bisa juga minta bayaran. He.h.eh.e.h.e.e. Kan beramal juga, toh, Mbak? Biar orang senang, kita pun senang.
Hidup seperti ini, kalau mau aman, harus pinter-pinter Mbak. Aku sih sering gonta-ganti pacar. Sekali pacaran bisa lebih dari dua loh, Mbak. Yang pasti, pacarku ada preman, ada juga aparat. Selingannya, kadang mahasiswa seperti, Mbak, loh. Tapi laki-laki, bukan perempuan Mbak. He.h.eh.e.
Pacaran dengan mahasiswa cuma enak kalau jalan bareng. Kalau diajak ngobrol, banyak ceramahnya. Jadi gak asyik. Soal ngasih duit ke mahasiswa, sih gak soal. Kalau ada, berbagi rejeki kan baik, toh, Mbak? Nah, gitu Mbak, caraku untuk cari aman.
Soal penyakit. Ya, pastilah pernah, Mbak. Dulu-dulu-nya kan masih lugu. Masih polos. Gak ngerti apa-apa. Begituan terus. Sampai sakit. Sakit itu pasti gak enak, kan Mbak. Panas, dingin, perih. Ih. Untung saya ketemu Mbak Nin. Diajak periksa, diobati dan dirawat. Kalau sekarang, bisa berhati-hati. Cari pengamanan dulu. Periksa rutin sebulan sekali.

Mbak Nin baik, ya Mbak? Aku gak percaya loh ada orang seperti dia. Masak sehari-hari cuma keliling ketemu kita-kita. Gak ada yang dia dapat, kan Mbak? Malah dapat kerjaan. Susah terus. Masalah terus. Mbak, kawan kuliahnya, Mbak Nin? Oh, bukan toh?
Wah, Mbak, gimana? Ya, susah. Kan “nganu” itu kebutuhan, Mbak. Sama kayak kita makan nasi, masak berharap berhenti makan nasi. Nanti mati dong. Oh, saya kira mandeg total. Ya, pingin sih, Mbak. Siapa sih yang senang gonta-ganti? Walau aku ketawa terus, bukan berarti senang loh, Mbak. Manusia sepertiku juga masih punya hati. Punya perasaan. Tapi memang gak mau nangis. Percuma. Nangis gak menyelesaikan masalah. Masalah selalu ada. “Nganu” gak ganti-ganti. “Nganu” sama orang yang mau merhatiin kita. Mau jagain. Mau berbagi. Pasti itu harapanku.
Mbak sendiri gimana? Mau “nganu” kapan? Enak loh, Mbak. Tapi hati-hati, jangan sampai kena penyakit. Ha.h.ah.ah.a.a.h becanda, Mbak. Becanda…. Jangan mukul-mukul terus dong. Sakit loh, Mbak. Tapi kalau yang itu, sakit, tapi nikmat. Sering kumat, cari nikmat.
Aduh…
Mbaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk,
sudah toh mukulinnya…
tapi kok senyum-senyum terus…
hi..hi..hi..hi..
The post Nganu Itu Enak Loh, Mbak appeared first on Baltyra.
]]>The post Nama-Nama Jepang Dan Mengenal Huruf Jepang appeared first on Baltyra.
]]>Untuk anak laki-laki biasanya diakhiri dengan kata ICHI atau, KAZU yang artinya anak pertama. Contohnya: Junichi, Ryuichi, Kenichi, Masakazu, Toshikazu. Untuk nama yang berakhiran JI dan ZO artinya anak ke dua dan ke tiga. Contohnya misalnya Eiji , Kenzo, Senzo. Namun untuk anak ke tiga dan seterusnya itu sangat jarang, dikarenakan masyarakat Jepang jarang sekali pasangan yang mempunyai anak lebih dari 3.
Untuk nama-nama wanita, biasanya diakhiri dengan KO yang artinya anak. Contohnya misalnya: Aiko, Atsuko, Haruko, Keiko, Masako, Yumiko. ada juga nama-nama wanita yang diakhiri dengan MI yang artinya indah. Contohnya: Harumi, Naomi, Ayumi, Natsumi, Yumi.
Itulah sedikit contoh mengenai nama-nama Jepang. Perhatikan bahwa tidak ada nama-nama Jepang maupun kata-kata dalam bahasa Jepang yang memakai konsonan. Semua huruf, disertai dengan huruf hidup atau vocal. Misalnya saja menuliskan nama Imam, diakhiri konsonan m, maka dalam penulisan Jepang, akan menggunakan huruf katakana, karena Imam merupakan kata asing. Jadi Nama Imam akan tertulis IMAMU dengan huruf katakana. Contoh lagi misalnya nama Esti, akan tertulis ESUTI, jadi konsonan s pada nama Esti, akan diikuti huruf hidup atau vokal u.
Di bawah ini aku sertakan huruf huruf Hiragana dan Katakana untuk sekedar mengenalnya. Huruf dalam bahasa Jepang tidak sesederhana bahasa Indonesia. Jumlah huruf bahasa Jepang terdiri dari 46 huruf yang mewakili 46 bunyi, banyak kan?
あ い う え お
A I U E O
か き く け こ
Ka Ki Ku Ke Ko
さ し す せ そ
Sa Shi Su Se So
た ち つ て と
Ta Chi Tsu Te To
な に ぬ ね の
Na Ni Nu Ne No
は ひ ふ へ ほ
Ha Hi Fu He Ho
ま み む め も
Ma Mi Mu Me Mo
や ゆ よ
Ya Yu Yo
ら り る れ ろ
Ra Ri Ru Re Ro
わ ん を
Wa N Wo

が ぎ ぐ げ ご
Ga Gi Gu Ge Go
ざ じ ず ぜ ぞ
Za Ji Zu Ze Zo
だ ぢ づ で ど
Da Di Du De Do
ば び ぶ べ ぼ
Ba Bi Bu Be Bo
ぱ ぴ ぷ ぺ ぽ
Pa Pi Pu Pe Po
きゃ きゅ きょ
Kya Kyu Kyo
ぎゃ ぎゅ ぎょ
Gya Gyu Gyo
しゃ しゅ しょ
Sha Shu Sho
ちゃ ちゅ ちょ
Cha Chu Cho
じゃ じゅ じょ
Ja Ju Jo
にゃ にゅ にょ
Nya Nyu Nyo
ひゃ ひゅ ひょ
Hya Hyu Hyo
びゃ びゅ びょ
Bya Byu Byo
ぴゃ ぴゅ ぴょ
Pya Pyu Pyo
みゃ みゅ みょ
Mya Myu Myo
りゃ りゅ りょ
Rya Ryu Ryo

Di atas adalah huruf-huruf hiragana, yang dipergunakan untuk penulisa bahasa Jepang maupun nama-nama Jepang. Sedang untuk penulisan kata asing, atau selain bahasa Jepang, akan menggunakan huruf katakana. Inilah hurufnya:
Ciri-ciri huruf katakana lebih tegak bersudut dan kaku. Itu saja ke 46 huruf dasar katakana. Untuk cara penulisan huruf Jepang, orang Jepang sangat menghormati urutan penulisan dengan arah yang benar.Jadi perbedaan menyolok antara hiragana dan katakana adalah bentuk bentuknya. Hiragana cenderung banyak lengkungan sedang katakana bersudut.
Jika anda ingin tau bagaimana penulisan nama anda dengan penulisan Jepang, maka aku sertakan linknya di bawah ini, untuk membantu lebih mudah menuliskan dengan huruf katakana.
The post Nama-Nama Jepang Dan Mengenal Huruf Jepang appeared first on Baltyra.
]]>