Hal yang sama terjadi di Kabupaten Tuban dimana Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban mencatat lonjakan pengelolaan sampah dari 70 ton sampah per tahun pada tahun 2022 menjadi 110 ton sampah per tahun di 2024. Sampah organik menyumbang 50-60% total sampah yang menjadi catatan serius pihak terkait. Hal ini tanpa sebab karena sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang berperan dalam efek rumah kaca serta berbahaya bagi iklim serta. hewan penyebar penyakit seperti lalat dan tikus, serta mencemari sumber air.
Berangkat dari pemikiran tersebut, puluhan siswa dan siswi SDN Beji 02 Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban dengan bimbingan Kampoeng Tani Tuban belajar mempraktikkan pembuatan pupuk kompos dengan memanfaatkan sampah organik pada Kamis (30/10/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari program Persada atau Program Edukasi Lingkungan Sekitar Area Proyek GRR Tuban yang diselenggarakan oleh PRPP di sejumlah sekolah yang berdomisili di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.
Kepala SDN Beji 02, Suciati, dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan Persada di sekolah yang dipimpinnya ini mendukung upaya sekolah dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih.
“Tahun lalu, sekolah kami mendapatkan penilaian Adiwiyata di tingkat Kabupaten, (rencananya) tahun depan (mengikuti Adiwiyata) di tingkat Provinsi. Jadi kebetulan program yang diselenggarakan oleh PRPP ini sangat mendukung upaya kami dalam persiapan penilaian Adiwiyata.” Buka Suciyati dalam sambutannya pada awal kegiatan.
Suciyati juga mengucapkan apresiasi atas program Persada yang tahun 2025 ini diselenggarakan oleh PRPP di sekolah yang dipimpinnya.
“Semoga implementasi kegiatan ini memberikan manfaat serta membawa kebaikan bagi kedua belah pihak.” Lanjutnya.
Program Persada ini merupakan bagian dari komitmen PRPP untuk turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan khususnya di Kabupaten Tuban. Komitmen ini ditegaskan oleh Plt. Presiden Direktur PRPP, Sigit Pradjaka Sugestihanto yang ditemui pada kesempatan terpisah.
“Seperti yang kita ketahui bahwa Pertamina selama beberapa tahun ini berkontribusi aktif dalam upaya pengurangan dampak perubahan iklim global, sejalan dengan komitmen tersebut kami dari PRPP sebagai bagian dari keluarga besar Pertamina Group juga terus berupaya turut serta secara aktif dalam hal yang sama khususnya di sekitar area proyek kami di Kabupaten Tuban.” buka Sigit.
Disinggung mengenai pentingnya program Persada yang diselenggarakan oleh Perusahaan yang dipimpinnya, Sigit mengapungkan optimismenya atas masa depan pelestarian lingkungan khususnya di Kabupaten Tuban.
“Program Persada ini diharapkan dapat menjadi pendidikan lingkungan yang berkesan untuk para siswa yang terlibat untuk nantinya dapat terlibat aktif dalam upaya pelestarian lingkungan di masa mendatang, khususnya dalam mengatasi permasalahan sampah. Kita ketahui bahwa sampah khususnya sampah organik dapat dikelola dan diolah kembali menjadi material yang bermanfaat bagi kehidupan kita seperti dibuat pupuk atau hal lainnya.” Tutup Sigit.
Program Persada 2025 ini merupakan program tahun ketiga dimana sebelumnya pada tahun 2023 dan 2024 PRPP dan Proyek GRR Tuban juga telah menyelenggarakan program serupa. Selain di SDN Beji 02, program ini juga diselenggarakan di MI Miftahul Huda Desa Rawasan serta SDN Mentoso Kecamatan Jenu. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Astrid Pinkan Manager Human Capital Operations & Medical PRPP yang turut memberikan materi mengenai pentingnya pelestarian lingkungan.
Selain kegiatan edukasi pengelolaan sampah organik, PRPP juga menyerahkan bantuan 110 bibit tanaman buah dan tanaman hias serta perangkat komposting diketiga sekolah tersebut. Total terdapat 285 peserta dimana pelaksanaan kegiatan ini juga merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), yaitu TPB nomor 13 Penanganan Perubahan Iklim dan nomor 15 Ekosistem Daratan.
]]>General Manager Pabrik Tuban, Priyatno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembangunan TPST D’Joyo Lestari merupakan wujud komitmen Perusahaan dalam upaya partisipatif menciptakan kondisi lingkungan yang lebih sehat. “Solusi Bangun Indonesia berbagi visi yang sama dengan pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan bagi kita semua. Karena itu, Solusi Bangun Indonesia sangat menghargai kolaborasi dan sinergi yang terjalin dalam pembangunan TPST ini. Semoga, inisiatif ini dapat menginspirasi replikasi di daerah lain, agar lebih banyak kolaborasi dapat terbangun, lebih banyak pemangku kepentingan yang terlibat untuk peduli terhadap pengelolaan lingkungan secara mandiri dan produktif,”ujar Priyatno.
Kepedulian Solusi Bangun Indonesia terhadap pengelolaan sampah desa yang masih mengandalkan sistem kumpul-angkut-buang dan menimbulkan potensi dampak pencemaran lingkungan, mendorong Perusahaan untuk mewujudkan proyek kolaboratif ini bersama dengan BUMDes dan Universitas Brawijaya. TPST D’Joyo Lestari dibangun di atas lahan seluas 3.200 meter persegi dan ukuran bangunan 12×18 meter persegi. Dengan kapasitas operasional 3 – 5 ton sampah per hari, TPST ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu menyelesaikan permasalahan sampah desa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban, Anthon Tri Laksono mengatakan bahwa sebagai TPST pertama yang hadir di Kabupaten Tuban, ia berharap TPST D’Joyo Lestari menjadi pusat pembelajaran desa untuk memecahkan permasalahan lingkungan dan menciptakan nilai ekonomi produktif.
“Masalah sampah bukan hanya soal tumpukan limbah, tapi soal cara kita memperlakukan bumi. TPST Sawir D’Joyo Lestari adalah wujud nyata inovasi dari kerja sama dan kepedulian.
Kolaborasi antara Solusi Bangun Indonesia, Universitas Brawijaya dan BUMDes ini memberi harapan baru bahwa pengelolaan lingkungan bisa dilakukan dengan cara yang cerdas, bermanfaat, dan memberdayakan,” kata Anthon Tri Laksono.
Sementara itu, Ketua Pengelola TPST D’Joyo Lestari, Syariful Anam menyambut antusias program ini sebagai tempat pembelajaran untuk pemeliharaan lingkungan dan memunculkan nilai ekonomi baru bagi masyarakat. “Saya berharap Desa Sawir menjadi desa yang ramah lingkungan dan keberadaan TPST ini dapat memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi warga di desa sekitar pabrik,” tutur Syariful Anam.
]]>Sebanyak 35 mahasiswa hadir dalam kegiatan ini, didampingi langsung oleh Kepala Program Studi Teknik Kimia UAD. Kunjungan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa mengenai proses industri kimia, khususnya di sektor migas.
CSR and COMREL Area Manager TPPI, Tinoto Hadi Sucipto, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu bentuk dukungan nyata perusahaan terhadap dunia pendidikan.
“Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menimba ilmu di luar bangku kuliah. Kami berharap kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk mengasah kemampuan, meningkatkan soft skill, dan memperluas wawasan mereka sebelum terjun ke dunia kerja,” jelasnya.
Tinoto juga menambahkan, “harapannya, ada ilmu yang benar-benar bisa dibawa pulang dan dijadikan bekal di dunia profesional maupun akademik.”
Sementara itu, Agus Aktawan, S.T., M.Eng., selaku Ketua Program Studi Teknik Kimia UAD sekaligus dosen pembimbing, menyampaikan apresiasinya.
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan TPPI. Kami berharap ke depan dapat terjalin komunikasi dan kerja sama lebih lanjut antara UAD dan TPPI,” ungkapnya.
Mahasiswa tampak antusias selama kegiatan berlangsung, ditunjukkan dengan beragam pertanyaan yang diajukan saat sesi diskusi. Selain membahas aspek dasar teknik kimia, mahasiswa juga tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang operasional kilang dan proses bisnis di TPPI.
Sebagai salah satu objek vital nasional, TPPI memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional. Saat ini, TPPI berkontribusi sekitar 19% terhadap konsumsi BBM nasional, khususnya untuk wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Keberadaan TPPI menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi nasional dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
]]>