Hari pertama, Selasa, 4 Agustus 2026 dimulai dengan pembuatan NPWP Pribadi melalui sistem Coretax milik Direktorat Jenderal Pajak serta pendaftaran PT Perorangan melalui platform Administrasi Hukum Umum (AHU Online). Dalam materi dijelaskan bahwa NPWP Pribadi menjadi identitas perpajakan bagi pelaku usaha perseorangan dan merupakan salah satu syarat penting untuk mengurus legalitas usaha, membuka rekening bisnis, hingga menjadi dasar administrasi saat mengajukan NPWP badan usaha. Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara digital melalui Coretax.
Meski terlihat sederhana, proses ini menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian peserta. “Kelas ini cukup menantang karena memerlukan keterampilan digital dan data-data yang belum dimiliki sebagian UMKM. Namun, dengan pendampingan Tim Ahli Batik Fractal, seluruh peserta dapat memproses tahapan ini dengan lebih percaya diri,” ujar Manajer Lapangan Rais Meiyana.
Tantangan muncul bahkan sejak tahap awal. Membuka akun Coretax membutuhkan proses verifikasi melalui nomor telepon, aktivasi akun wajib pajak, hingga pengelolaan surat elektronik. Beberapa peserta lupa kata sandi surel, sementara peserta lain belum terbiasa dengan alur administrasi digital. Kendala teknis seperti laptop yang bermasalah maupun peserta yang belum mengingat akun yang telah dibuat sebelumnya juga sempat memperlambat proses. Bagi peserta yang tidak membawa perangkat, Rumah Batik Fractal menyediakan laptop agar seluruh peserta tetap dapat mengikuti praktik secara langsung.
Pada sesi berikutnya, peserta mempelajari tata cara pendirian PT Perorangan melalui AHU Online. Materi menjelaskan bahwa PT Perorangan merupakan badan hukum yang dapat didirikan oleh satu orang pemilik, sehingga menjadi pilihan legalitas yang lebih sederhana bagi pelaku UMKM.
Memasuki hari kedua, peserta melanjutkan proses administrasi dengan pembuatan NPWP Perusahaan dan pengenalan Nomor Induk Berusaha (NIB). Berbeda dengan hari pertama, proses berjalan lebih lancar karena peserta telah diminta menyiapkan dokumen sebelumnya, termasuk alamat usaha, titik lokasi usaha, foto tampak depan tempat usaha, surel aktif, serta dokumen perusahaan. Dalam materi dijelaskan bahwa NPWP Perusahaan menjadi identitas perpajakan badan usaha yang mendukung pengurusan NIB, pembukaan rekening perusahaan, akses pembiayaan, hingga memperkuat profesionalisme usaha.
Pelatihan hari pertama diawali dengan pengenalan tren fesyen dan produk tahun 2026, termasuk perkembangan siluet, warna, material, produksi, dan motif. Peserta diajak melihat bagaimana tren global dapat menjadi referensi tanpa harus menghilangkan karakter lokal dari produk yang mereka kembangkan.
Materi juga membahas dua kecenderungan siluet utama, yaitu oversized fluidity, dengan potongan longgar, berlapis, dan memberikan keleluasaan gerak, serta structured minimalism, yang menampilkan potongan lebih tegas dengan potongan jahitan yang presisi. Sementara itu, materi warna memperkenalkan tiga kecenderungan warna 2026: earth tones modern, techno pastels, dan retro revival.
Berangkat dari pengamatan tersebut, peserta mulai menerjemahkan tren ke dalam rancangan koleksi. Mereka membuat sketsa, menentukan palet warna, memilih contoh pakaian atau produk sebagai referensi, serta menyusun daftar produk dan ukuran yang akan dibuat. Keluaran tahap ini berupa lembar kerja yang memuat sketsa dan palet warna, daftar produk beserta ukuran, serta contoh pakaian yang hendak dikembangkan.
Seluruh rangkaian pelatihan pada akhirnya diarahkan pada target yang lebih konkret, yaitu menghasilkan koleksi yang siap diproduksi, bukan berhenti pada desain atau sketsa.
Dalam pelatihan tahun ini, 10 UMKM dibagi ke dalam 2 tier dengan detail dan pembagian sebagai berikut.
Tier A: UMKM Batik Degung, Batik Kakak, Fordan by Usu Sebastian, Namina Digital, Pondok Batik Sukabumi, serta Batik Sawargi.
UMKM Tier A ini ditargetkan menghasilkan dua koleksi.
Untuk kategori fesyen, masing-masing koleksi terdiri atas lima artikel, dengan setiap artikel diproduksi sebanyak enam unit. Dengan demikian, Tier A menghasilkan: 2 koleksi dengan 5 artikel per koleksi, 6 unit per artikel, sehingga total terdapat 60 artikel fesyen.
Tier B: UMKM Angglang Daun, Sanaya by Shafa, Batik Karamat, dan Kreasi Nan.
UMKM Tier B ditargetkan menghasilkan satu koleksi yang terdiri atas lima artikel, dengan masing-masing artikel diproduksi sebanyak empat unit.
Dengan demikian, Tier B menghasilkan 1 koleksi yang terdiri dari 5 artikel, dengan jumlah 4 unit per artikel, sehingga total terdapat 20 artikel fesyen.
Oleh karena hampir seluruh UMKM tahun ini beralih ke produksi fesyen, maka target lebih banyak diterjemahkan menjadi pengembangan koleksi busana. Hanya UMKM Kreasi Nan yang tetap mengembangkan kategori produk sesuai karakter dan arah usahanya.
Pendekatan tahun 2026 memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Pemanfaatan motif-motif yang telah dikembangkan pada tahun-tahun sebelumnya justru memberikan kesempatan kepada UMKM untuk menghidupkan kembali aset desain yang sudah dimiliki melalui konteks baru. Perubahan warna, latar, pilihan motif, skala, serta cara motif diterapkan pada siluet pakaian dapat menghasilkan karakter visual yang berbeda.
Hal ini terlihat dari keputusan tiga UMKM yang mengganti motif dari pilihan yang sebelumnya telah ditetapkan Tim Ahli, serta beberapa UMKM lain yang melakukan perubahan warna atau latar motif. Proses tersebut menunjukkan adanya ruang dialog antara arahan Tim Ahli dan kebutuhan kreatif masing-masing UMKM.
Selain itu, menurut desainer motif, Sabrina Raissa, beberapa UMKM membuat desain busana yang memadukan kain batik dengan kain polos atau bahan lain seperti tenun. “Asal mereka percaya diri produk mereka akan terjual, kami mempercayakan perubahan desain ini sesuai kebutuhan mereka. Karena target tahun ini adalah penjualan,” katanya.
Setelah motif dan arah warna ditentukan, peserta bekerja menggunakan jBatik. Materi pelatihan memberikan panduan teknis, mulai dari mengunduh project yang telah disediakan, memilih project dan layout yang sesuai, hingga melakukan pengolahan warna. Peserta kemudian melakukan pewarnaan pada libs cap sesuai dengan palet warna yang telah dirumuskan pada Kelas Fesyen. Proses ini memungkinkan warna motif diuji dan disesuaikan secara digital sebelum menjadi acuan produksi.
Peserta juga diperkenalkan pada jBatik Color Alchemy sebagai alat bantu dalam menentukan dan mengecek pilihan warna. Tahap berikutnya adalah membuat layout cap dalam skala 1:1. Ukuran ini penting karena hasil visual yang dibuat bukan sekadar representasi motif, tetapi menjadi acuan yang dapat digunakan untuk proses produksi. Setelah selesai, desain disimpan dalam format PDF.
Keluaran Kelas Motif hari kedua adalah file PDF yang menampilkan gambar cap dalam ukuran 1:1 dengan warna yang telah ditetapkan, yang kemudian dapat dicetak pada kertas A3.
Pada hari ketiga, peserta kembali mengikuti Kelas Fesyen dan Produk. Fokus utama tahap ini adalah asistensi hasil Kelas Motif untuk memastikan kesesuaian antara motif yang dipilih dengan siluet pakaian atau produk. Tim Ahli juga melihat bagaimana posisi motif ketika ditempatkan pada bentuk pakaian, termasuk kesesuaiannya dengan ukuran, proporsi, dan karakter siluet.
Jika diperlukan, peserta melakukan penyesuaian terhadap palet warna. Peserta juga mulai menyusun lini masa produksi, sehingga desain yang telah disepakati dapat diterjemahkan menjadi proses kerja di workshop masing-masing.
Hari keempat kembali diisi dengan Kelas Motif. Setelah mendapatkan masukan dari Kelas Fesyen pada hari sebelumnya, peserta melakukan revisi warna apabila diperlukan.Materi hari keempat mencakup revisi warna berdasarkan hasil asistensi, kemudian membuat gambar kerja cap dengan jBatik. Output akhirnya adalah layout motif yang sudah final dalam ukuran A3, yang menjadi bagian dari dokumen acuan untuk proses produksi.
Sambil menanti layout ini dicetak, Manajer Lapangan Rais Meiyana menjelaskan proses produksi dan pengisian lembar output produk, terutama detail pencatatan keuangan. Pencatatan ini penting karena laporan keuangan akan menjadi faktor yang menentukan penilaian.
Dengan rangkaian pelatihan ini, proses pendampingan Batik Fractal tidak berhenti pada peningkatan kemampuan kreatif. Peserta diarahkan untuk memahami bagaimana aset desain yang sudah dimiliki dapat dikembangkan kembali menjadi koleksi yang relevan dengan tren, sesuai dengan karakter UMKM, dan siap diproduksi. Pada akhirnya, pendekatan ini mempertemukan tiga unsur penting dalam pengembangan UMKM: kreativitas desain, kekayaan motif lokal, dan kesiapan produksi.
The post Kelas Motif dan Desain Fesyen serta Produk: Pembelajaran untuk Komersialisasi appeared first on Batik Fractal.
]]>Seluruh materi dibawakan oleh Tim Administrasi Batik Fractal, yaitu Rais Meiyana, Ananda Saputra, dan Rifky Efryan Pangkey, juga Direktur Batik Fractal Nancy Margried. Tidak sekadar memberikan teori, kelas dirancang dalam bentuk praktik langsung sehingga setiap peserta menyelesaikan tahapan administrasi usahanya secara bertahap dengan pendampingan tim ahli.
Sistem dan Proses yang Penuh Tantangan
Hari pertama, Selasa, 4 Agustus 2026 dimulai dengan pembuatan NPWP Pribadi melalui sistem Coretax milik Direktorat Jenderal Pajak serta pendaftaran PT Perorangan melalui platform Administrasi Hukum Umum (AHU Online). Dalam materi dijelaskan bahwa NPWP Pribadi menjadi identitas perpajakan bagi pelaku usaha perseorangan dan merupakan salah satu syarat penting untuk mengurus legalitas usaha, membuka rekening bisnis, hingga menjadi dasar administrasi saat mengajukan NPWP badan usaha. Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara digital melalui Coretax.
Meski terlihat sederhana, proses ini menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian peserta. “Kelas ini cukup menantang karena memerlukan keterampilan digital dan data-data yang belum dimiliki sebagian UMKM. Namun, dengan pendampingan Tim Ahli Batik Fractal, seluruh peserta dapat memproses tahapan ini dengan lebih percaya diri,” ujar Manajer Lapangan Rais Meiyana.
Tantangan muncul bahkan sejak tahap awal. Membuka akun Coretax membutuhkan proses verifikasi melalui nomor telepon, aktivasi akun wajib pajak, hingga pengelolaan surat elektronik. Beberapa peserta lupa kata sandi surel, sementara peserta lain belum terbiasa dengan alur administrasi digital. Kendala teknis seperti laptop yang bermasalah maupun peserta yang belum mengingat akun yang telah dibuat sebelumnya juga sempat memperlambat proses. Bagi peserta yang tidak membawa perangkat, Rumah Batik Fractal menyediakan laptop agar seluruh peserta tetap dapat mengikuti praktik secara langsung.
Pada sesi berikutnya, peserta mempelajari tata cara pendirian PT Perorangan melalui AHU Online. Materi menjelaskan bahwa PT Perorangan merupakan badan hukum yang dapat didirikan oleh satu orang pemilik, sehingga menjadi pilihan legalitas yang lebih sederhana bagi pelaku UMKM.
Memasuki hari kedua, peserta melanjutkan proses administrasi dengan pembuatan NPWP Perusahaan dan pengenalan Nomor Induk Berusaha (NIB). Berbeda dengan hari pertama, proses berjalan lebih lancar karena peserta telah diminta menyiapkan dokumen sebelumnya, termasuk alamat usaha, titik lokasi usaha, foto tampak depan tempat usaha, surel aktif, serta dokumen perusahaan. Dalam materi dijelaskan bahwa NPWP Perusahaan menjadi identitas perpajakan badan usaha yang mendukung pengurusan NIB, pembukaan rekening perusahaan, akses pembiayaan, hingga memperkuat profesionalisme usaha.
Hitungan HPP sebagai Fondasi Usaha
Rangkaian kelas ditutup pada Kamis, 6 Agustus 2026, dengan materi Harga Pokok Produksi (HPP). Pada sesi ini peserta belajar menghitung biaya produksi secara sistematis menggunakan lembar kerja HPP berdasarkan studi kasus yang telah disiapkan. Materi HPP mengajak peserta mengidentifikasi seluruh komponen biaya dalam satu koleksi produk batik, mulai dari kebutuhan kain, biaya pembuatan canting, jahit, aksesori, sampel, hingga biaya foto katalog. Seluruh biaya tersebut kemudian dihitung menjadi harga pokok produksi setiap SKU sehingga pelaku usaha dapat menentukan harga jual yang lebih akurat dan berkelanjutan.
Bagi banyak peserta, sesi HPP menjadi latihan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setiap komponen biaya harus dimasukkan satu per satu secara manual ke dalam formulir perhitungan. Meski cukup menantang, seluruh UMKM berhasil menyelesaikan latihan dengan pendampingan intensif dari Tim Ahli Batik Fractal.
Melalui rangkaian kelas administrasi dan bisnis ini, Batik Fractal tidak hanya membantu UMKM memenuhi aspek legalitas usaha, tetapi juga membangun kemampuan dasar dalam mengelola bisnis secara profesional. Penguasaan administrasi perpajakan, legalitas usaha, hingga kemampuan menghitung biaya produksi diharapkan menjadi bekal penting bagi para pelaku UMKM batik dan ecoprint untuk mengembangkan usaha yang lebih tertib, berdaya saing, dan siap memasuki pasar yang lebih luas.
The post Kelas Administrasi dan Bisnis Perkuat Fondasi Usaha UMKM Batik Sukabumi-Cianjur appeared first on Batik Fractal.
]]>Hadir dalam kesempatan tersebut, yaitu Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah, Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT SMI Ramona Harimurti, Team Leader TJSL PT SMI Aldy Nugraha Sigit, beserta jajaran PT SMI. Kehadiran mereka disambut oleh jajaran direksi Batik Fractal: Nancy Margried, Yun Hariadi, dan Muhamad Lukman, bersama sepuluh UMKM batik terpilih yang akan mengikuti pelatihan tahap pertama tahun ini.
Pertemuan Perdana Direksi PT SMI dengan Peserta
Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Galeri Batik Fractal-SMI, ruang yang menjadi etalase berbagai karya peserta hasil pendampingan selama tiga tahun terakhir. Galeri tersebut menjadi bukti bagaimana proses belajar, eksplorasi motif, dan pengembangan produk mampu menghasilkan karya-karya batik yang memiliki identitas kuat sekaligus memiliki potensi pasar.
Dalam sambutannya, Direktur Desain Batik Fractal, Muhamad Lukman, menyampaikan kebanggaannya pada sepuluh peserta terpilih. Ia menyampaikan bahwa perjalanan membangun ekosistem batik tidak berhenti pada pelatihan membatik semata. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan para perajin agar mampu terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar budaya yang mereka miliki.
Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan sepuluh UMKM yang telah melalui proses kurasi dari tiga puluh peserta. Masing-masing memperkenalkan usaha, latar belakang, serta harapan yang ingin dicapai melalui program pendampingan tahun ini. Selanjutnya, Direktur Batik Fractal, Nancy Margried, memaparkan perjalanan program selama tiga tahun terakhir sekaligus memperkenalkan arah baru pelatihan selanjutnya. Program ini dirancang sebagai pendampingan intensif selama dua belas bulan untuk memperkuat daya saing UMKM batik Sukabumi melalui perpaduan teknologi, penguatan bisnis, dan akses pasar. Untuk memperdalam pemahaman, Direktur Riset Batik Fractal Yun Hariadi juga memaparkan tentang latar belakang berdirinya Batik Fractal dan inisiasi seputar jBatik.
Menurut Nancy, tantangan UMKM batik saat ini tidak lagi hanya terletak pada kemampuan membuat kain batik. Para pelaku usaha juga perlu memiliki kemampuan mengelola bisnis, memahami kebutuhan pasar, memanfaatkan teknologi digital, hingga membangun kesiapan untuk mengakses pembiayaan formal. Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan penguatan proses produksi, pengelolaan keuangan, administrasi usaha, strategi pemasaran, hingga dua siklus penjualan yang memungkinkan peserta menguji produknya langsung di pasar.
Program ini juga mengaktifkan Galeri Batik Sukabumi sebagai ruang edukasi, promosi, dan penjualan, sekaligus membuka peluang mengikuti berbagai pameran sehingga produk peserta dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Harapannya, para UMKM tidak hanya menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga menjadi usaha yang mandiri, berkelanjutan, dan siap memperoleh akses pembiayaan.
Berpijak dari Harapan
Salah satu sesi yang paling menarik adalah ketika para peserta membagikan pengalaman mereka mengikuti pelatihan sebelumnya. Asep Hermawan dari UMKM Batik Sawargi, Cianjur, menceritakan perubahan besar yang ia rasakan setelah mengenal jBatik. Jika sebelumnya seluruh motif dibuat secara manual, kini proses desain dapat dilakukan secara digital sehingga lebih efisien dan membuka lebih banyak kemungkinan eksplorasi. Ia juga menyampaikan satu harapan agar pelatihan ke depan dapat didukung dengan penyediaan laptop bagi peserta. Selama ini, keterbatasan perangkat menjadi kendala bagi sebagian peserta untuk terus berlatih membuat motif di rumah setelah sesi pelatihan selesai.
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Ratna Aquariana dari UMKM Angglang Daun yang mengembangkan batik ecoprint. “Ecoprint adalah ilmu hati, bukan ilmu pasti,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya motif ecoprint dirancang langsung di atas kain sehingga hampir mustahil menghasilkan pola yang benar-benar sama pada produksi berikutnya. Dengan bantuan jBatik, rancangan motif kini dapat didokumentasikan secara digital sehingga karakter desain tetap dapat dipertahankan dan direproduksi pada proses produksi selanjutnya.
Setelah itu, direksi PT SMI juga berkesempatan menyaksikan demonstrasi penggunaan jBatik yang dibawakan oleh Mochamad Faisal dari UMKM Batik Kakak. Melalui demonstrasi tersebut diperlihatkan bagaimana teknologi digital dapat membantu proses eksplorasi motif tanpa menghilangkan nilai artistik maupun filosofi batik tradisi.
Selanjutnya, dalam sesi diskusi, Nancy Margried kembali menegaskan bahwa jBatik bukan sekadar aplikasi desain. Lebih dari itu, jBatik berfungsi sebagai media untuk merancang, menyimpan, dan mendokumentasikan motif batik sehingga menjadi bagian dari upaya pelestarian pengetahuan batik bagi generasi berikutnya.
Dalam sesi diskusi, Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, menyampaikan apresiasinya setelah bertemu langsung dengan para pembatik. Ia mengaku senang melihat semangat para peserta yang terus berinovasi dan berharap PT SMI dapat terus mendukung perjalanan mereka untuk naik kelas. Reynaldi juga memberikan masukan agar para pembatik mulai mengkurasi kembali motif-motif batik klasik, khususnya motif khas Sukabumi dan Jawa Barat, sehingga kekayaan visual tersebut dapat diperkenalkan kembali kepada masyarakat luas.
Gagasan tersebut disambut baik oleh Batik Fractal dan direncanakan akan diwujudkan melalui penyelenggaraan pameran batik klasik sebagai bagian dari aktivasi Rumah Batik, sekaligus menjadi ruang edukasi mengenai kekayaan motif tradisional Sukabumi.
The post Kunjungan Direksi PT SMI, Babak Baru Penguatan UMKM Batik Sukabumi-Cianjur appeared first on Batik Fractal.
]]>Kolaborasi Banyak Pihak
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menilai pameran ini mampu menyajikan keberagaman wastra Nusantara secara menarik dan menyeluruh. “Saya apresiasi sekali pameran kolaboratif yang diselenggarakan Museum Sonobudoyo ini. Kita berharap pameran yang akan berlangsung hampir dua bulan ke depan ini, bisa didatangi oleh masyarakat umum, khususnya juga generasi muda, untuk mengenal wastra kita,” katanya.
Pameran yang mempertemukan 40 partisipan, mulai dari museum, lembaga pendidikan, dan institusi kebudayaan dari berbagai wilayah Indonesia ini mengangkat gagasan bahwa pola-pola dalam kain tradisional Nusantara merupakan entitas yang hidup. Motif-motif tersebut terus tumbuh, berkembang, dan ditafsirkan ulang oleh setiap generasi sesuai zamannya. Dalam konteks inilah Batik Fractal hadir membawa perspektif baru tentang bagaimana teknologi dapat menjadi bagian dari perjalanan pelestarian budaya.
“Menjadi sebuah kebanggaan bagi kami untuk berkolaborasi dengan museum ini. Saya harap jBatik sendiri bisa menjadi alat pembelajaran yang menyenangkan untuk rekan-rekan yang berkunjung di museum tentang batik Nusantara,” ungkap Direktur Desain Batik Fractal, Muhamad Lukman yang juga hadir dalam pembukaan pameran.
Pengalaman Interaktif Berbasis Teknologi
Melalui stan interaktifnya, Batik Fractal memperkenalkan jBatik, sebuah perangkat lunak desain batik digital yang dikembangkan sejak tahun 2007. Berbasis konsep matematika fractal dan teknologi komputasi, jBatik memungkinkan pengguna menciptakan motif batik secara digital tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi sumber inspirasinya.
Selama hampir dua dekade, jBatik telah digunakan oleh perajin, pelaku UMKM, desainer, akademisi, hingga pelajar untuk mengembangkan beragam motif baru yang terinspirasi dari kekayaan budaya Nusantara. Teknologi ini membantu mempercepat proses eksplorasi desain, menghasilkan variasi motif yang lebih luas, sekaligus mendokumentasikan karya secara lebih sistematis. Melalui pendekatan desain parametrik, pengguna dapat menciptakan berbagai variasi motif hanya dengan mengubah parameter tertentu, membuka ruang kreativitas yang sebelumnya sulit dilakukan secara manual.
Di area Batik Fractal, selama pameran berlangsung, pengunjung tidak hanya dapat melihat demonstrasi proses perancangan motif menggunakan jBatik, tetapi juga berkesempatan mencoba langsung membuat desain batik mereka sendiri dengan pendampingan tim pameran. Pengalaman ini memberikan gambaran bahwa teknologi bukanlah sesuatu yang jauh dari dunia tradisi. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat yang membantu masyarakat memahami proses kreatif di balik sebuah motif batik sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap keterampilan para perajin. Mohammad Azi Ramadan, salah satu pengunjung yang mencoba jBatik mengungkapkan kesannya, “Ini pertama kalinya bagi saya. Generasi muda harus mencoba untuk membuat motif batik sendiri dan nanti langsung mencanting.”
Sinergi Budaya dan Teknologi
Kehadiran Batik Fractal di Nusa Wastra 2026 juga sejalan dengan semangat pameran yang menghadirkan ruang edukasi dan pengalaman interaktif berbasis teknologi. Di tengah tantangan globalisasi dan perubahan zaman, inovasi digital menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan wastra Nusantara sekaligus menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mencintai warisan budaya bangsa.
Melalui partisipasi dalam Nusa Wastra 2026, Batik Fractal ingin menunjukkan bahwa tradisi dan teknologi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat saling menguatkan. Jika tradisi menyediakan akar dan identitas, maka teknologi membuka peluang baru untuk berkembang, beradaptasi, dan menjangkau generasi berikutnya.
Di Museum Sonobudoyo, pengunjung diajak menyaksikan secara langsung bagaimana warisan budaya dapat terus hidup melalui inovasi. Sebuah pertemuan antara masa lalu dan masa depan, di mana batik tidak hanya dikenang sebagai warisan leluhur, tetapi juga terus tumbuh sebagai bagian dari kreativitas dan perkembangan zaman.
The post Batik Fractal di Nusa Wastra 2026: Menjembatani Tradisi dan Teknologi untuk Masa Depan Wastra Nusantara appeared first on Batik Fractal.
]]>Secara garis besar, seperti pelatihan pada umumnya, pelatihan ini terbagi ke dalam tiga tahap: tahap 1 – formasi/ideation, tahap 2 – produksi/creation, serta tahap 3: bisnis/bankable. “Saat ini kita ada dalam tahap tiga. Dan karena pesertanya sama, tidak mungkin kita membuat program yang sama. Tetapi bagaimana produk yang mereka ciptakan harus dapat terjual,” ungkap CEO Batik Fractal, Nancy Margried.
Dalam pengembangan UMKM batik, salah satu kunci keberhasilan bukan hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga pada bagaimana strategi dibangun secara kontekstual. Koordinasi tim ahli ini menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa setiap langkah pengembangan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung dan saling menguatkan. Koordinasi ini menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif: bisnis, desain, produksi, hingga pemasaran. Dalam proses ini, tim tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menyelaraskan keputusan agar setiap UMKM bergerak dalam koridor strategi yang sama.
Mengedepankan Tren Lokal
Salah satu pendekatan utama yang diambil dalam program ini adalah keputusan strategis untuk menggunakan tren lokal sebagai dasar penjualan, bukan mengikuti tren global seperti pada tahun-tahun sebelumnya yang digunakan dalam konteks peragaan busana. Pendekatan ini menempatkan UMKM tidak hanya sebagai produsen, tetapi sebagai pelaku budaya yang memahami kebutuhan dan selera pasar di sekitarnya.
Tren lokal memiliki kedekatan emosional dengan konsumen. Ia lahir dari keseharian, kebiasaan, serta preferensi masyarakat setempat. Dalam konteks batik, ini berarti motif, warna, hingga produk turunan yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk diterima pasar karena relevan dan familiar.
Sebaliknya, tren global lebih cocok untuk panggung peragaan busana, menonjolkan eksperimentasi dan estetika, tapi tidak selalu selaras dengan kebutuhan pasar sehari-hari. Oleh karena itu, tim ahli sepakat untuk mengarahkan UMKM pada strategi yang lebih membumi, namun tetap kompetitif.
Dua Kelompok Utama
Selanjutnya, untuk memastikan pendekatan yang tepat sasaran, UMKM dibagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu Kelompok A dan B berdasarkan kesiapan dan kapasitasnya. Enam UMKM dalam kategori A memiliki kapasitas yang lebih siap untuk menjalankan strategi secara lebih kompleks, baik dari sisi produksi maupun pengembangan produk. Kelompok ini didorong untuk lebih eksploratif dalam menerjemahkan tren lokal ke dalam koleksi yang lebih beragam, dengan tetap menjaga konsistensi kualitas dan identitas brand.
Sementara itu, Tier B terdiri dari UMKM yang masih dalam tahap penguatan fondasi bisnis dan produksi: Pendekatan pada kelompok ini lebih difokuskan pada penyederhanaan proses, pemilihan produk yang tepat, serta penguatan konsistensi agar mampu mengikuti ritme produksi dan penjualan secara berkelanjutan.
Sesuai fokus utama pelatihan tahap ini, yaitu membuat UMKM naik kelas menjadi layak mendapat investasi, sebagian besar materi pelatihan akan berupa pelatihan manajemen bisnis dan keuangan.
The post Temu Tim Ahli, Rancang Lanjutan Pelatihan Rumah Batik Fractal appeared first on Batik Fractal.
]]>Kegiatan dibuka oleh Direktur Eksekutif Batik Fractal, Nancy Margried, yang mengajak seluruh tim kembali ke titik awal berdirinya Batik Fractal dan DiTenun. “Batik Fractal membangun teknologi sebagai infrastruktur budaya. DiTenun membuka akses, meningkatkan kapasitas, dan memperluas pasar perajin. Keduanya menghubungkan budaya, teknologi, dan peluang ekonomi,” ujar Nancy. Refleksi ini menjadi benang merah diskusi: bahwa teknologi, desain, media, hingga pendampingan perajin bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.
Refleksi 2025: Belajar, Bereksperimen, dan Bertumbuh
Sepanjang 2025, berbagai eksperimen dan pembelajaran menjadi bagian tak terpisahkan dari kerja Batik Fractal dan DiTenun. Dari sisi teknologi, Direktur Muhamad Lukman menegaskan bahwa eksperimen dan pengembangan jBatik Alchemy, serta pembelajaran AI yang telah dikerjakan sepanjang 2025 memang dirancang sebagai proses jangka panjang.
Tim teknologi dan desain juga menyampaikan bahwa peluncuran jBatik Alchemy masih menunggu kesiapan hasil mesin AI, terutama pada aspek warna yang belum sepenuhnya sesuai dengan standar artistik Batik Fractal. Sejumlah proyek lain, seperti eksperimen cap batik berbasis 3D printing berlapis tembaga dan prototipe canting portabel layak diapresiasi sebagai langkah inovatif, meski sebagian di antaranya diputuskan untuk dijeda sementara demi fokus pada prioritas utama.
Di sisi platform, pengembangan jBatik Go untuk pemesanan dan pembayaran, serta pembaruan pada jBatik 4 dan rencana integrasi AI pada jBatik 5, menjadi fondasi penting untuk kerja ke depan.
Mode, Media, dan Cerita yang Lebih Terhubung
Dari perspektif desain dan fesyen, desainer Batik Fractal dan DiTenun, Sabrina Raissa membagikan angan-angannya tentang cara Batik Fractal menyampaikan karya ke publik. “Saya membayangkan kita membuat fashion show untuk peluncuran koleksi baru Batik Fractal,” ungkapnya, seraya menekankan pentingnya pengalaman visual yang utuh. Kolaborasi lintas-unit turut mengemuka, termasuk rencana kerja sama produk antara Batik Fractal dan DiTenun, dengan gagasan satu motif yang dapat diterjemahkan baik ke dalam kain batik maupun tenun.
Selain itu, evaluasi keikutsertaan peserta pelatihan Batik Fractal-LPS dalam Osaka Expo 2025 lalu juga memunculkan catatan penting dari Nancy. Ke depannya, kehadiran Batik Fractal di pameran internasional direncanakan akan lebih menonjolkan jBatik sebagai inti narasi.
Media Sosial: Bercerita, Bukan Sekadar Menjual
Dalam presentasi selanjutnya, pengembang bisnis DiTenun, Ayu Sekarmayang menyoroti karakter media sosial DiTenun, “Media sosial DiTenun berbeda karakter dengan akun jenama bisnis biasa. Pengikut DiTenun kebanyakan adalah mereka yang concern pada pendampingan sosial,” jelasnya. Pandangan ini diperkuat oleh refleksi internal bahwa konten berbasis proses, manusia, dan perjalanan justru memiliki performa lebih baik dibandingkan hard selling. Manajer media Batik Fractal, Lucia Priandarini, menambahkan bahwa kekuatan ini seharusnya tampil lebih konsisten. “Pemberdayaan perajin dan basis riset justru adalah kekuatan Batik Fractal dan DiTenun. Ini harus nampak pada konten media sosial keduanya,” ujarnya.
Menguatkan Media, Sosial Media, dan Tata Kelola Internal
Diskusi berlanjut pada presentasi Lucia Priandarini dan Anang Rahmansyah, mewakili Tim Media yang menyoroti pentingnya penyempurnaan kualitas konten audiovisual Batik Fractal ke depan. Salah satu catatan utama adalah perlunya pembaruan pilihan musik dalam output video agar lebih selaras dengan karakter cerita yang ingin disampaikan.
Selain itu, aktivasi Rumah Batik ke depan diharapkan dapat melibatkan UMKM secara lebih aktif, tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang berkontribusi langsung. Tim Media juga menegaskan urgensi penyelesaian dokumenter peserta dalam format series yang selama ini tertunda. Dokumenter ini direncanakan segera dirampungkan dan dipublikasikan, dengan dukungan sumber daya tambahan. Selain itu, memasuki kuartal pertama 2026, tim menargetkan pemanfaatan laptop hibah untuk lokakarya jBatik bagi publik sebagai pembuka rangkaian kegiatan di Rumah Batik.
Sementara itu, dari sisi media sosial, Anang memaparkan bahwa performa konten Batik Fractal sepanjang 2025 menunjukkan capaian reach dan views yang cukup tinggi, terutama pada format reels. Namun demikian, pertumbuhan jumlah pengikut masih cenderung stagnan. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa konten berbasis proses, manusia, dan perjalanan memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat dibandingkan konten hard selling.
Memasuki 2026, Instagram Batik Fractal akan difokuskan pada alur konten yang lebih terstruktur—mulai dari tahap discovery, engagement, hingga conversion. Pendekatan storytelling akan menjadi benang merah utama, dengan konsistensi tone dan visual sebagai fondasi yang terus dijaga. Secara taktis, diskon produk juga direncanakan pada momen-momen tertentu seperti Valentine dan Ramadan sebagai bagian dari strategi konversi.
Sementara itu, Tim Admin yang diwakili Manajer Lapangan Rais Meiyana menyampaikan gambaran kinerja penjualan dan tata kelola internal. Sepanjang periode evaluasi, kontribusi penjualan terbesar berasal dari skema B2B Batik Fractal yang mencapai 62% dari total pendapatan CSR. Dari sisi pendanaan, Batik Fractal juga menjadi penerima dana CSR terbesar dengan porsi mencapai 92%.
Ke depan, akan dilakukan penyesuaian sistem pencatatan keuangan untuk memisahkan kebutuhan operasional umum dan kebutuhan khusus di Sukabumi. Tim juga mencatat bahwa aktivitas live update di media sosial masih perlu ditingkatkan agar kerja-kerja di lapangan dapat lebih terwakili secara real time.
Arah Strategis 2026: Lebih Fokus, Lebih Matang
Menutup rangkaian diskusi, Nancy Margried kembali menegaskan pentingnya menyamakan tujuan dan cara kerja ke depan. “Kerja keras di tahun 2025 memberikan dampak yang baik untuk mengawali 2026. Sekarang saatnya kita memperkuat fokus, memperjelas jalur komersial, dan mematangkan organisasi,” tuturnya.
Empat pilar strategi 2026 pun ditegaskan: teknologi sebagai mesin utama, penguatan program pendampingan, jalur pasar yang jelas, serta kematangan organisasi dan kepemimpinan. Disiplin pada perencanaan, pengurangan keputusan mendadak, dan penguatan middle management dipandang sebagai langkah penting agar seluruh visi tersebut dapat berjalan beriringan.
Town Hall Meeting ini menjadi lebih dari sekadar forum laporan. Ia menjadi ruang untuk saling mendengar, menyelaraskan niat, dan menguatkan kembali alasan mengapa Batik Fractal dan DiTenun ada. Dengan fondasi kerja 2025 dan fokus yang lebih tajam di 2026, langkah ke depan diharapkan semakin mantap—menjembatani budaya, teknologi, dan peluang ekonomi bagi para perajin.
The post Town Hall Meeting 2026: Menyelaraskan Langkah, Menguatkan Arah Batik Fractal dan DiTenun appeared first on Batik Fractal.
]]>Jajaran PT SMI dipimpin oleh Bapak Pradana Murti, Direktur Manajemen Risiko, bersama Bapak Abdul Hakim, Direktur Utama PT Trans Jabar Tol, Ibu Ramona Harimurti, Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT SMI, serta Bapak Aldy Sigit, Kepala Divisi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT SMI, dan tim terkait. Mereka disambut oleh tiga pendiri dan direktur Batik Fractal, Nancy Margried, Muhamad Lukman, dan Yun Hariadi.
Dari Galeri ke Ruang Produksi: Memahami Ekosistem Batik Sukabumi-Cianjur
Kunjungan diawali dengan tur keliling galeri, dipandu Direktur Desain Batik Fractal, Bapak Muhamad Lukman. Dalam sesi ini, diskusi mengalir seputar model produksi batik di Sukabumi yang sebagian besar prosesnya masih dilakukan di rumah masing-masing perajin. Menanggapi pertanyaan Pradana, Direktur Eksekutif Batik Fractal, Nancy Margried, menjawab bahwa dari total 30 UMKM peserta program, belum ada yang menembus pasar ekspor.
“Namun, pascapelatihan, beberapa peserta mulai menunjukkan performa menonjol hingga direkrut sebagai UMKM binaan institusi lain. Program pelatihan sendiri dirancang untuk menumbuhkan kapasitas peserta dari nol, bahkan dari mereka ada yang belum mengenal batik, hingga siap masuk tahap komersialisasi,” ungkap Nancy.
Galeri Batik Fractal-LPS sendiri selama ini diposisikan bukan sekadar ruang pamer, tetapi sebagai sarana pemasaran aktif. Melalui sistem konsinyasi, Nancy mengungkapkan bahwa galeri mencatat penjualan rata-rata Rp5–10 juta per bulan; angka yang dinilai cukup baik untuk wilayah yang bukan sentra batik utama. Selain itu kehadiran galeri juga membuka ruang dialog langsung antara perajin dan pasar.
Dalam pemaparan program, Muhamad Lukman menjelaskan bahwa pelatihan dimulai dari pengembangan motif berbasis ide peserta, yang kemudian dimodifikasi menggunakan perangkat lunak jBatik. Tahapan ini dilanjutkan dengan pelatihan pengembangan produk busana, interior, dan aksesori, hingga aspek pemasaran.
Kunjungan kemudian beralih ke ruang kelas dan jBatik corner yang menjadi bagian penting dari ekosistem ini. Meski teknologi digital digunakan sebagai alat desain dan pengembangan, proses produksi tetap dijalankan secara tradisional, menjaga nilai budaya batik itu sendiri.
Sukabumi Batik Hub 2026: Teknologi, Budaya, dan Pasar
Dalam sesi presentasi, Nancy Margried, memaparkan arah pengembangan Program Sukabumi Batik Hub 2026. Program ini dirancang sebagai inisiatif corporate social responsibility (CSR) berbasis dampak, berkelanjutan, dan siap direplikasi, dengan Sukabumi diposisikan sebagai anchor hub pengembangan UMKM batik berbasis teknologi.
Program ini mengusung pendekatan berjenjang: Train – Accelerate – Commercialize – Guided Capital – Graduate (bankable). Tiga fokus utama ditetapkan untuk pelaksanaan selama 10–11 bulan, yakni penguatan adopsi teknologi, aktivasi galeri sebagai ruang edukasi dan komersialisasi, serta akselerasi pasar di tingkat lokal hingga nasional.
Dari sisi pembiayaan, Batik Fractal memperkenalkan skema guided capital berbasis kinerja dan milestone. Skema ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara UMKM mikro dan akses pembiayaan formal, dengan Batik Fractal berperan sebagai pengelola risiko dan orkestrator dampak; bukan sebagai lembaga pemberi pinjaman.
Menuju UMKM yang Bankable
Diskusi berkembang ke isu kesiapan UMKM untuk menjadi bankable. Dijelaskan bahwa perbankan umumnya menilai kelayakan usaha dari aset, laporan keuangan yang tertata, serta rekam jejak penjualan. Dalam konteks ini, Batik Fractal menekankan pentingnya komersialisasi yang konsisten agar UMKM memiliki basis data penjualan yang kuat.
Pesanan dalam jumlah besar, termasuk dari pemerintah daerah, sering kali membutuhkan modal produksi di awal. Di sinilah peran skema pembiayaan terstruktur menjadi krusial, agar UMKM dapat memenuhi pesanan tanpa terjebak risiko keuangan. Selain itu, aspek legalitas juga menjadi perhatian. Para peserta program didampingi untuk mengurus NIB, pendaftaran merek, serta membangun aset digital – mulai dari logo hingga portofolio – sebagai fondasi menuju usaha yang tertib dan siap tumbuh. “Legalitas seperti OSS dan merek kami dorong agar diurus. Saat pelatihan, mereka juga sudah dibuatkan logo dan aset digital,” jelas Nancy menambahkan.
Kolaborasi dan Keberlanjutan
Direksi PT SMI menilai program ini relevan dengan mandat Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). “Program ini sebenarnya masuk kategori yang bisa kami jalankan, meski dari sisi nominal memang lebih besar dari program biasa,” disampaikan oleh Ramona Harimurti. Model yang ditawarkan dinilai memiliki kejelasan dampak dan arah keberlanjutan. Direktur Riset Batik Fractal, Yun Hariadi, juga meyakinkan bahwa Batik Fractal akan terus menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengupayakan keberlanjutan program.
Menutup diskusi, Bapak Pradana menekankan pentingnya data dan fokus. “Targetnya realistis. Fokus ke 30 UMKM, tapi dengan kreativitas dan produksi berbasis teknologi yang jelas,” ujarnya. Pada tahun ini, target akhirnya adalah UMKM yang mampu berdiri mandiri, dengan model pelatihan yang dapat direplikasi ke daerah lain.
Kunjungan ini ditutup dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti diskusi pada level teknis, termasuk kebutuhan data penjualan UMKM dan peluang kolaborasi lintas sektor. Dengan dukungan infrastruktur, teknologi, dan pasar, Sukabumi diharapkan dapat menguatkan posisinya sebagai sentra batik unggulan berbasis inovasi.
The post Kunjungan Direksi PT SMI ke Rumah Batik Fractal: Jajaki Penguatan UMKM Batik Berbasis Teknologi appeared first on Batik Fractal.
]]>
The post LUMBUNG RAHAYU LONG SLEEVE WOMAN appeared first on Batik Fractal.
]]>
The post GARUDA KENCANA LONG SLEEVE MAN appeared first on Batik Fractal.
]]>
A sleeveless outer featuring a V-neckline and stylish side-tie closures. Adorned with the Arka motif on a salmon red background, it’s perfect for those who love to stay stylish.
Outer tanpa lengan dengan kerah v neck dengan bukaan tali pada bagian samping bermotif arka dengan latar merah salem. cocok digunakan untuk kalian yang senang bergaya stylish.
Lingkar dada :112 cm
Lingkar ketiak : 50 cm
Panjang baju:100 cm
li. Pinggang : 116 cm
l. Bahu: 40 cm
Rp 346.000
The post Soraya Outer appeared first on Batik Fractal.
]]>