Sudah diketahui bahwa estimasi terhadap perubahan reliabilitas yang disebabkan oleh perubahan panjang tes dapat dilakukan dengan komputasi formula Spearman-Brown prophecy (Thompson, 2003) atau formula stepped-up reliability (Allen & Yen, 1979), yaitu:
selengkapnya dapat diunduh di sini.
]]>Silakan klik, untuk membaca keseluruhannya.
]]>Tes potensi merupakan salah-satu bentuk pengukuran terhadap kemampuan abilitas kognitif potensial umum (pengukuran performansi maksimal) yang dirancang khusus guna memprediksi peluang keberhasilan belajar di perguruan tinggi, karena itulah tes seperti ini biasanya dinamai Tes Potensi Akademik. Gagasan dasar dalam konstruksi Tes Potensi Akademik sedikit-banyak mengikuti konsep pengembangan graduate record examinations (GRE) yang terdiri atas seksi Verbal Reasoning (V), Quantitative Reasoning (Q), dan Analytical Writing (AW) (GRE-bulletin, 2008), dengan beberapa perubahan. Pada umumnya, Tes Potensi Akademik di Indonesia terdiri atas tiga subtes yaitu subtes Verbal, subtes Kuantitatif, dan subtes Penalaran.
Selengkapnya silakan unduh di sini.
]]>High school graduates from different areas of the country are eligible to register for the exams. With the advancement of the administration system and the communication network, graduates have access to register and can take the exams in their high school region without having to go to the city where the intended university is located.
That had been good so far until several years ago when apparent differences in performance on UMPTN among high school graduates from different geographical areas were for the first time noticed.
For full text, kindly click here.
]]>Dalam sebagian besar skripsi dan (sayangnya) tesis S2 di Fakultas-fakultas Psikologi di Indonesia, kita jumpai bermacam-macam cara pemberian label terhadap angka hasil uji statistik seperti ‘signifikan’, ‘sangat signifikan’, ‘signifikan sekali’, dan lain-lain. Rupanya hal itu menimbulkan kebingungan bagi sebagian peneliti dan bagi sebagian pembaca.
Selengkapnya dapat diunduh di sini
]]>Kekhawatiran bahwa data sampel tidak terdistribusi mengikuti model data populasi yang diasumsikan atau tidak memenuhi kondisi yang disyaratkan bagi penggunaan tehnik komputasi tertentu menyebabkan banyak para peneliti sosial pemakai statistika melakukan lebih dahulu pengujian asumsi sebelum melakukan uji hipotesis. Pada hampir semua skripsi S1, thesis S2, dan bahkan disertasi S3 psikologi dapat kita temui laporan hasil berbagai uji asumsi yang dilakukan sebelum pengujian hipotesisnya sehingga terdapat kesan kuat sekali bahwa uji asumsi merupakan prasyarat dan bagian yang tak terpisahkan yang mendahului analisis data penelitian. Kepanikan terjadi apabila hasil uji asumsi ternyata tidak sesuai dengan harapan.
Selengkapnya dapat diunduh di sini.
]]>Walaupun diakui bahwa kemampuan intelektual yang bersifat umum (inteligensi) dan kemampuan yang bersifat khusus (bakat) merupakan modal dasar utama dalam usaha mencapai prestasi pendidikan, namun keduanya tidak akan banyak berarti apabila siswa sebagai individu tidak memiliki motivasi untuk berprestasi sebaik-baiknya. Kemampuan intelektual yang tinggi hanya akan terbuang sia-sia apabila individu yang memilikinya tidak mempunyai keinginan untuk berbuat dan memanfaatkan keunggulannya itu. Apalagi bila individu yang bersangkutan memang memiliki kemampuan yang tidak begitu menggembirakan, maka . . .
lebih lanjut silakan klik
]]>Dalam pengukuran prestasi belajar sebagai suatu proses pengukuran pendidikan secara makro, untuk dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan, skor harus dikonversikan ke dalam bentuk nilai (grade).
selengkapnya, dapat diunduh di sini.
]]>