Advertise with Googlier.com Yayasan Badak Indonesia https://badak.or.id Rhino Foundation of Indonesia Tue, 06 Oct 2026 02:50:41 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.7 https://badak.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Icon_Thumb-150x150.jpg Yayasan Badak Indonesia https://badak.or.id 32 32 Kado Istimewa Pada Peringatan Badak Sedunia: Dua Induk Badak Bunting di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas https://badak.or.id/kado-istimewa-pada-peringatan-badak-sedunia-dua-induk-badak-bunting-di-suaka-rhino-sumatera-taman-nasional-way-kambas/ Sun, 04 Oct 2026 04:16:33 +0000 https://badak.or.id/?p=5024

SIARAN PERS

Bogor, 3 Oktober 2026. Dalam rangkaian peringatan Hari Badak Sedunia 2026 yang diselenggarakan di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor diselenggarakan untuk kembali memperkuat komitmen terhadap konservasi badak di Indonesia. Indonesia patut bangga karena menjadi rumah bagi 2 (dua) dari 5 (lima) spesies badak yang masih tersisa di dunia, yaitu badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Keberadaan kedua spesies ini menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam upaya konservasi badak di tingkat global.

Melalui program pengembangbiakan di Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), hingga saat ini telah berhasil lahir 5 (lima) ekor badak sumatera, yaitu Andatu tahun 2012, Delilah tahun 2016, Sedah Mirah tahun 2022, Anggi tahun 2023, dan Indra tahun 2023. Pada momentum Hari Badak Sedunia 2026, SRS TNWK kembali membawa kabar menggembirakan dengan adanya dua induk badak sumatera betina yang sedang bunting, yaitu Ratu dan Delilah. Kedua induk tersebut merupakan bagian penting dari keberlanjutan program pengembangbiakan badak sumatera di SRS TNWK.

Pada tanggal 3 Oktober 2026, Ratu tercatat menjalani kebuntingan untuk calon anak keempat bersama pejantan Andalas, dengan usia kebuntingan mencapai 238 hari atau sekitar 7,9 bulan. Sementara itu, Delilah menjalani kebuntingan untuk calon anak kedua bersama pejantan Harapan, dengan usia kebuntingan mencapai 251 hari atau sekitar 8,3 bulan. Kondisi kesehatan dan perkembangan kebuntingan kedua induk terus dipantau secara intensif oleh tim medis, keeper, dan manajemen SRS TNWK hingga proses kelahiran.

Badak Sumatera Ratu
Badak Sumatera Delilah
Badak Sumatera Delilah

 

 

 

 

 

 

 

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik (KSG), KSDAE, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Dr. Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si, menyampaikan bahwa kebuntingan Ratu dan Delilah merupakan perkembangan penting bagi upaya konservasi badak sumatera, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia.

“Kehamilan dua bayi badak sumatera ini bukan hanya kabar baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Ini menegaskan bahwa kebuntingan kedua induk badak tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mempertahankan keberlangsungan populasi badak sumatera melalui pengembangbiakan yang terencana, pengelolaan kesehatan reproduksi, serta pemantauan individu secara intensif,” ujarnya.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik (KSG), KSDAE, Kementerian Kehutanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Program SRS TNWK dikelola melalui kolaborasi antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Balai Taman Nasional Way Kambas dan mitranya Yayasan Badak Indonesia (YABI). SRS merupakan fasilitas pengembangbiakan semi-in-situ yang menempatkan badak dalam habitat alaminya dengan interaksi manusia yang seminimal mungkin, sekaligus memberikan dukungan perawatan tim medis dan pemantauan reproduksi secara intensif.

Ketua Pengurus YABI, Drs. Jansen Manansang M.Sc, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap keberlangsungan program konservasi badak sumatera di SRS TNWK.

“YABI menyampaikan terima kasih kepada seluruh lembaga dan mitra yang terus memberikan dukungan bagi konservasi badak sumatera di SRS TNWK. Secara khusus, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada International Rhino Foundation (IRF), TSI dan TFCA Sumatera atas dukungan pendanaan yang diberikan untuk mendukung keberlangsungan program di SRS TNWK.”

Bapak Jansen menambahkan bahwa keberhasilan reproduksi badak sumatera membutuhkan dukungan jangka panjang dan kolaborasi berbagai pihak.

“Kami dan Balai Taman Nasional Way Kambas berkomitmen untuk terus memantau kondisi kesehatan induk, perkembangan kebuntingan, serta kesiapan induk hingga proses kelahiran. Tim medis SRS akan melakukan pemantauan secara intensif agar Ratu dan Delilah dapat melalui masa kebuntingan dengan baik hingga melahirkan anak yang sehat.”

Ketua Pengurus YABI, Drs. Jansen Manansang M.Sc,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebuntingan Ratu dan Delilah pada 2026 kembali menunjukkan pentingnya keberlanjutan program pengembangbiakan dan pengelolaan reproduksi badak sumatera yang kini berstatus kritis terancam punah (critically endangered) menurut daftar merah IUCN, dimana jumlahnya kini tersisa tidak lebih dari 80 ekor di alam. Badak sumatera sendiri kini hanya tersisa di Indonesia, dimana populasinya tersebar di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Kalimantan Timur. Badak sumatera merupakan mamalia besar yang memiliki siklus kebuntingan 15-16 bulan dan masa menyapih anak hingga usia 2 tahun, untuk itu setiap kebuntingan dan kelahiran tidak hanya menambah individu baru, tetapi juga memperkuat peluang mempertahankan keragaman genetik dan membangun populasi yang dapat mendukung upaya konservasi jangka panjang badak sumatera.

Yayasan Badak Indonesia (YABI)

 

 

 

 

]]>
Sosialisasi Kegiatan Edukasi Konservasi di Sekitar Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Periode Tahun 2026–2028 https://badak.or.id/sosialisasi-kegiatan-edukasi-konservasi-di-sekitar-kawasan-taman-nasional-bukit-barisan-selatan-periode-tahun-2026-2028/ Wed, 20 May 2026 03:55:30 +0000 https://badak.or.id/?p=4934 Kolaborasi untuk memperkuat edukasi konservasi terus dilakukan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Pada 18 Mei 2026, Balai Besar TNBBS bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan WCS-IP melaksanakan “Sosialisasi Kegiatan Edukasi Konservasi di Kawasan TNBBS Periode 2026–2028” yang berlangsung secara luring dan daring di Kantor Balai Besar TNBBS, Kotaagung, Tanggamus, Lampung. Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Balai Besar TNBBS Tahun 2025–2034 serta bagian dari pelaksanaan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2026 antara Balai Besar TNBBS dan YABI.

 

Melalui program Edukasi Konservasi Berbasis Sekolah dan Komunitas “Training of Trainers” (ToT Teachers) dalam Proyek Scaling-up an Integrated Conservation Model for Tigers and Sustainable Livelihoods in Southern Sumatra (ITHCP), diharapkan semakin banyak guru, generasi muda, dan masyarakat yang terlibat aktif dalam upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya. Saat ini, kawasan TNBBS merupakan habitat penting bagi tiga satwa kunci Pulau Sumatera, yakni harimau sumatera, gajah sumatera, dan badak sumatera. Oleh karena itu, diperlukan aksi kolaboratif multipihak untuk melindungi kawasan ini agar tetap lestari bagi keanekaragaman hayati di dalamnya.

 

]]>
Pelatihan Spatial Monitoring & Reporting Tool – Resort Based Management (SMART – RBM) Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan https://badak.or.id/pelatihan-spatial-monitoring-reporting-tool-resort-based-management-smart-rbm-balai-besar-taman-nasional-bukit-barisan-selatan/ Fri, 15 May 2026 03:28:44 +0000 https://badak.or.id/?p=4931 #SahabatBadak, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS), BKSDA Bengkulu, Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan WCS-PI, KPH Pesisir Barat, KPH Liwa, dan KPH Kotaagung Utara melaksanakan Kegiatan Pelatihan Spatial Monitoring & Reporting Tool – Resort Based Management (SMART – RBM) pada 11–13 Mei 2026 di Gisting, Tanggamus, Lampung. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas petugas dalam pengelolaan data patroli, monitoring kawasan, dan perlindungan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan berbasis SMART-RBM.

Tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, peserta juga melaksanakan praktik lapangan secara langsung untuk memperkuat kemampuan teknis dalam pengambilan data serta penggunaan perangkat SMART berbasis android maupun desktop. Melalui kegiatan ini diharapkan tercipta pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan demi menjaga kelestarian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang kini menjadi habitat bagi satwa kunci seperti harimau sumatera, badak sumatera, dan gajah sumatera.

]]>
Happy 10th Birthday, Delilah! https://badak.or.id/happy-10th-birthday-delilah/ Tue, 12 May 2026 03:22:37 +0000 https://badak.or.id/?p=4927 Halo, aku Delilah! Aku lahir pada 12 Mei 2016 di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas. Hari ini usiaku genap 10 tahun! Namaku, “Delilah,” diberikan oleh Presiden ke-7 Indonesia, Ir. H. Joko Widodo. Aku adalah anak kedua dari ibu Ratu dan ayah Andalas.

Di usia ke-10 tahun ini, aku sudah menjadi ibu dari satu anak bernama Indra, yang lahir pada November 2023. Indra adalah anak pertamaku bersama Harapan. Doakan aku selalu sehat dan sejahtera yaa, agar aku bisa terus menjadi bagian dari harapan bagi masa depan spesies badak sumatera yang kini berstatus terancam punah dan hanya tersisa di Indonesia.


Hello, I’m Delilah! I was born on May 12, 2016, at the Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) in Way Kambas National Park. Today, I am officially 10 years old! My name, “Delilah,” was given by Indonesia’s 7th President, Joko Widodo. I am the second calf of my mother, Ratu, and my father, Andalas.

At the age of 10, I have already become a mother to a calf named Indra, who was born in November 2023. Indra is my first calf with Harapan. Please wish me continued health and happiness, so that I can keep being part of the hope for the future of the Sumatran rhino, a critically endangered species that now survives only in Indonesia.

]]>
Happy 19th Birthday, Harapan https://badak.or.id/happy-19th-birthday-harapan/ Wed, 29 Apr 2026 02:26:22 +0000 https://badak.or.id/?p=4920 Halo, aku Harapan! Aku lahir pada 29 April 2007 di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat. Hari ini, 29 April 2026, aku sudah berusia 19 tahun! Aku adalah badak sumatera ketiga yang lahir di Cincinnati dari orang tua yang kusayangi; ibu Emi dan ayah Ipuh. Pada 30 Oktober 2015, aku meninggalkan Cincinnati, dan pada 2 November 2015, aku tiba dengan selamat di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Indonesia. Aku dikenal sebagai badak sumatera terakhir yang meninggalkan benua Amerika.

Di usia ke-19 tahun ini, aku sudah memiliki satu anak, Indra, yang merupakan hasil pertemuanku dengan badak sumatera Delilah. Do’akan aku selalu sehat dan sejahtera yaa! Sehingga aku bisa menjadi harapan untuk spesies badak sumatera yang kini hanya ada di Indonesia.

———————————

Hi! I’m Harapan! I was born on April 29, 2007, at the Cincinnati Zoo in the United States. Today I turn 19 years old. I’m the third Sumatran rhino born there. My mother is Emi, and my father is Ipuh. On October 30, 2015, I left Cincinnati, and by November 2, I had safely arrived at the Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) in Way Kambas National Park, Indonesia. I became known as the last Sumatran rhino to ever leave the American continent.

At the age of 19, I already have a son, Indra, who was born from my pairing with the Sumatran rhino Delilah. Please wish me continued health and well-being, so that I can remain a source of hope for the Sumatran rhino species, which now exists only in Indonesia.

]]>
Happy 4th Birthday, Sedah Mirah! https://badak.or.id/happy-4th-birthday-sedah-mirah/ Wed, 25 Mar 2026 09:38:17 +0000 https://badak.or.id/?p=4851 Happy 4th Birthday, Sedah Mirah! 🦏

Sedah Mirah, atau yang kami panggil dengan nama kesayangan “Mirah”, adalah anak pertama dari pasangan Rosa & Andatu. Ia juga merupakan anak badak ketiga yang lahir di Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada 24 Maret 2022. Nama “Sedah Mirah” sendiri diberikan oleh Presiden RI ke-7, Ir. H. Joko Widodo.

Kini, Mirah genap berusia empat tahun! Sejak usia dua tahun, ia telah dipisahkan dari induknya, Rosa, mengikuti perilaku alami badak sumatera yang hidup soliter. Saat ini, Mirah menempati area hutan seluas total 20 hektar & memiliki dua keeper yang secara bergantian memberikan perawatan setiap pagi, seperti sembilan badak sumatera lainnya di SRS.

Saat lahir, berat Mirah hanya sekitar 21 kg. Kini, di usia empat tahun, beratnya telah mencapai 662 kg! Kami bangga & bahagia bisa menemaninya tumbuh & memastikan ia menjalani hari-harinya dengan baik.

Mari kita doakan semoga Mirah selalu sehat, bahagia, dan terus tumbuh kuat, menjadi harapan bagi masa depan spesies badak sumatera yang kini berstatus kritis terancam punah dan hanya tersisa di Indonesia.

Sedah Mirah, affectionately called “Mirah,” is the first calf of Rosa and Andatu. She is also the third Sumatran rhino born at the Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Way Kambas National Park, on March 24, 2022. The name “Sedah Mirah” was given by Indonesia’s 7th President.

Now, Mirah is four years old! At the age of two, she was separated from her mother, Rosa, following the natural behavior of Sumatran rhinos, which are solitary animals. Today, Mirah lives in a 20-hectare forest enclosure & is cared for by two keepers who take turns providing her daily morning care, just like the other nine Sumatran rhinos at SRS.

At birth, Mirah weighed only around 21 kg. Now, at four years old, she has reached 662 kg! We are proud & happy to have accompanied her growth and to ensure she lives her days well.

Let’s all wish for Mirah to stay healthy, happy, and continue to grow strong—becoming a beacon of hope for the future of the Sumatran rhino, a critically endangered species now found only in Indonesia.

 

]]>
Hari Bakti Rimbawan ke-43: Menanam Gadog untuk Badak Jawa https://badak.or.id/hari-bakti-rimbawan-ke-43-menanam-gadog-untuk-badak-jawa/ Mon, 16 Mar 2026 09:29:49 +0000 https://badak.or.id/?p=4876 Hari Bakti Rimbawan ke-43: Menanam Gadog untuk Badak Jawa, Langkah bersama BTNUK dan YABI untuk Melindungi Badak Jawa dari Parasit

Dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan yang ke-43 yang jatuh pada tanggal 16 Maret, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) telah melaksanakan penanaman tumbuhan Gadog (Bischofia javanica) di habitat badak jawa Taman Nasional Ujung Kulon. Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya mitigasi terhadap parasit Nematoda golongan Ascarideae dan strongyle yang dapat mengganggu pencernaan, penurunan berat badan, hingga komplikasi fatal kesehatan populasi satwa liar khususnya badak jawa. Tumbuhan gadog dipilih karena mengandung senyawa aktif anti-helminthik yang terbukti membantu mengurangi risiko infeksi parasit, sekaligus dapat tumbuh dengan baik di ekosistem lokal Taman Nasional Ujung Kulon.

Sebanyak puluhan bibit gadog ditempatkan di titik strategis sepanjang jalur pergerakan badak jawa. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan satwa badak jawa yang tercatat sebagai spesies kritis yang terancam punah yang kini hanya ada di TNUK. Penanaman gadog ini bukan hanya simbolis, tetapi merupakan langkah konkret dalam menerapkan konsep konservasi berbasis ekosistem. Kita berharap dalam waktu dekat, satwa liar dapat mengonsumsi gadog secara alami dan mengurangi risiko infeksi parasit.

Selain mitigasi parasit, tanaman ini juga memberikan manfaat bagi ekosistem dengan menjaga kesuburan tanah dan mendukung keberadaan satwa lain. Kami akan melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan tanaman dan dampaknya terhadap kesehatan badak jawa dalam periode mendatang. Salam Lestari!

]]>
Pembahasan dan Penandatanganan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2025 antara Balai Taman Nasional Way Kambas dan Yayasan Badak Indonesia https://badak.or.id/4845-2/ Sat, 14 Mar 2026 09:26:55 +0000 https://badak.or.id/?p=4845 #SahabatBadak!

Bertempat di kantor Balai Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, pada tanggal 12-13 Maret 2026 telah dilaksanakan pembahasan sekaligus penandatanganan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2025 sebagai bagian dari Perjanjian Kerja Sama antara Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) dan Yayasan Badak Indonesia (YABI). Kagiatan ini diikuti langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas dan Pengurus Yayasan Badak Indonesia, didampingi oleh jajaran staf Balai Taman Nasional Way Kambas dan Manajemen YABI di wilayah TNWK.

Rencana kerja tahunan ini menjadi pedoman pelaksanaan berbagai program konservasi badak sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), salah satu habitat badak sumatera yang kini tersisa di Indonesia dan dunia. Melalui kerja sama ini, diharapkan upaya pelestarian badak sumatera di TNWK dapat berjalan secara terarah, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kelangsungan hidup spesies langka ini di habitat alaminya.

Salam Lestari!

]]>
Pembahasan dan Penandatanganan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2026 antara Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) https://badak.or.id/pembahasan-dan-penandatanganan-rencana-kerja-tahunan-rkt-2026-antara-balai-taman-nasional-ujung-kulon-btnuk-dan-yayasan-badak-indonesia-yabi/ Mon, 02 Mar 2026 07:11:18 +0000 https://badak.or.id/?p=4431

Hai, Sobat BaCusa dan #SahabatBadak!

Bertempat di kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon, di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 27 Februari 2026 telah dilaksanakan pembahasan sekaligus penandatanganan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2025 sebagai bagian dari Perjanjian Kerja Sama antara Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) dan Yayasan Badak Indonesia (YABI).

Rencana kerja tahunan ini menjadi pedoman pelaksanaan berbagai program konservasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Melalui kerja sama ini, diharapkan upaya pelestarian badak jawa di TNUK dapat berjalan secara terarah, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kelangsungan hidup spesies langka ini di habitat alaminya.

Badak jawa hanya kita yang punya. Ayo jaga bersama! Salam Lestari!

#tamannasionalujungkulon #yayasanbadakindonesia #badakjawa

]]>
Rhino Goes to School di Dua Sekolah di Desa Penyangga Kawasan Taman Nasional Way Kambas https://badak.or.id/rhino-goes-to-school-di-dua-sekolah-di-desa-penyangga-kawasan-taman-nasional-way-kambas/ Sun, 15 Feb 2026 09:35:21 +0000 https://badak.or.id/?p=4880 Rhino Goes to School di Dua Sekolah di Desa Penyangga Kawasan Taman Nasional Way Kambas

Pada Selasa, 10 Februari 2026, Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI) melakukan kegiatan Rhino Goes to School di dua sekolah dasar yang ada di desa penyangga kawasan TNWK. Kegiatan berlangsung atas dukungan dari Women’s Earth Alliance. Dua sekolah yang kami kunjungi adalah SDN 2 Rajabasa Lama dan SDN 4 Rajabasa Lama, keduanya terletak di Desa Rajabasa Lama yang merupakan satu dari 38 desa penyangga kawasan TNWK. Desa ini terletak di Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Lampung.

Sebanyak 91 siswa kelas lima dari dua sekolah dasar mengikuti kegiatan Rhino Goes to School. Di SDN 2, kegiatan ini diikuti oleh 52 siswa, sementara di SDN 4 sebanyak 39 siswa. Sebelum kegiatan dimulai, para siswa terlebih dahulu mengisi survei singkat untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka tentang taman nasional dan badak sumatera. Survei yang sama kemudian kembali diberikan setelah sesi pembelajaran selesai. Hasilnya menunjukkan peningkatan. Di SDN 2, jumlah siswa yang mampu menjawab dengan benar minimal 7 dari 10 pertanyaan meningkat dari 28 siswa (53,8%) sebelum kegiatan, menjadi 45 siswa (86,5%) setelah kegiatan. Sementara itu, di SDN 4, jumlah siswa yang mencapai nilai tersebut meningkat dari 14 siswa (35,9%) menjadi 26 siswa (66,7%). Peningkatan ini menunjukkan bahwa melalui pendekatan cerita, diskusi, dan kegiatan interaktif seperti lomba mewarnai, siswa dapat lebih mudah memahami materi tentang badak sumatera dan taman nasional.

Badak sumatera merupakan satu dari lima spesies badak yang masih tersisa di dunia dan kini hanya ditemukan di Indonesia, salah satunya di Taman Nasional Way Kambas. Dengan jumlah yang diperkirakan kurang dari 80 individu di alam, badak sumatera berstatus kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List. Menyebarkan pengetahuan tentang badak sumatera kepada sebanyak mungkin orang, menjadi salah satu upaya penting untuk memastikan spesies ini tetap dikenal oleh masyarakat. Melalui kegiatan Rhino Goes to School, kami mengajak para siswa untuk mengenal badak sumatera serta memahami pentingnya hutan sebagai rumah bagi satwa liar.

On Tuesday, February 10, 2026, the Way Kambas National Park (WKNP) Authority together with Yayasan Badak Indonesia (YABI) conducted the Rhino Goes to School activity at two elementary schools located in buffer villages surrounding the WKNP area. This activity was carried out with support from Women’s Earth Alliance. Two schools we visited were SDN 2 Rajabasa Lama and SDN 4 Rajabasa Lama, both located in Rajabasa Lama Village, one of the 38 buffer villages surrounding the Way Kambas National Park area. The village is situated in East Lampung Regency, Lampung Province.

A total of 91 fifth-grade students participated in the Rhino Goes to School activity, with 52 students from SDN 2 and 39 students from SDN 4. Before the session began, students completed a short survey to assess their knowledge of national parks and the Sumatran rhino. The same survey was completed again after the session to measure changes in their understanding. The results showed a significant improvement. At SDN 2, the number of students who correctly answered at least 7 out of 10 questions increased from 28 students (53.8%) before the activity to 45 students (86.5%) afterward. Meanwhile, at SDN 4, the number increased from 14 students (35.9%) to 26 students (66.7%). This increase shows that through storytelling, discussions, and interactive activities such as coloring competitions, students can more easily understand the material about the Sumatran rhino and national parks.

The Sumatran rhino is one of the five remaining rhino species in the world and is now found only in Indonesia, including in Way Kambas National Park. With fewer than 80 individuals left in the wild, it is listed as Critically Endangered on the IUCN Red List. Raising awareness is an important step to ensure this species continues to be known and protected. Through the Rhino Goes to School activity, we invite students to learn about the Sumatran rhino and understand the importance of forests as a home for wildlife.

]]>