Next Page: 10000

          Turkmenistan and Uzbekistan through the eyes of the discoverer of color photography in tsarist Russia – Part 2      Cache   Translate Page      
Elvira Kadyrova In early 1911, Prokudin-Gorsky went to the Transcaspian region, which included the territory of modern Turkmenistan at that time. Besides visits to Tashkent, Bukhara, Samarkand, the photographer toured the Merv District (modern Mary province), Chardjew(present-day Turkmenabat), Farab. In Merv district, most of the filming was done in Bayram Ali and its surroundings. The […]

          Pakistan, Turkmenistan sign final version of Host Government Agreement for TAPI pipeline       Cache   Translate Page      

Pakistan and Turkmenistan on Tuesday signed the final version of the 'Host Government Agreement' for the Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan-India (TAPI) gas pipeline network in Islamabad, Radio Pakistan reported.

The agreement was signed by Additional Secretary In-charge of the Petroleum Division Mian Asad Hayauddin and Muhammetmyrat Amanov, chief executive officer and chairman of the board of TAPI Pipeline Company Ltd, Turkmenistan.

Petroleum Minister Ghulam Sarwar Khan reiterated Pakistan's commitment for the "early and successful implementation" of the TAPI project.

The minister hoped that the groundbreaking of the project would be held in Pakistan this year, according to Radio Pakistan.

Foreign Minister of Turkmenistan Rashid Meredov, who oversaw the signing of the agreement, informed the petroleum minister about his government's efforts to ensure the timelines of the project.

"He welcomed Pakistan's continued commitment and active interest in the TAPI gas project," the report said.

The TAPI pipeline project envisions the supply of Turkmenistan’s gas to India and Pakistan via Afghanistan.

Originating at the giant Galkynysh gas field in Turkmenistan, the $9.6 billion TAPI pipeline involves the four countries’ own energy companies, and would carry 33 billion cubic metres (bcm) of gas a year.

Turkmenistan is building TAPI to diversify its gas exports, which have mostly gone to China. But the project has suffered lengthy delays due to difficulties obtaining financing and the security risks of building a pipeline through war-torn Afghanistan.

In December last year, the TAPI CEO had said that the construction of the pipeline would begin in the first quarter of 2019 and be completed in two-and-a-half years. Moreover, he had said, Afghanistan and Pakistan have given sovereign guarantees to ensure the pipeline’s security.

Turkmenistan FM's visit

Turkmenistan Foreign Minister Meredov was on a visit to Islamabad on March 11-12 during which he led his country's delegation at the second round of the Pakistan-Turkmenistan Bilateral Political Consultations (BPC), while Foreign Minister Shah Mahmood Qureshi led the Pakistani side, according to a press release issued by the Foreign Office.

During the meeting, the two sides discussed bilateral relations and stressed the need to further "enhance bilateral economic [cooperation] through joint ventures in mutually identified areas particularly agriculture, textile, livestock and IT sectors."

They emphasised the importance of the TAPI project and agreed to ensure it's early implementation.

As per the press release, the two foreign ministers highlighted the need to take "specific measures" to ensure greater connectivity through road, rail and air linkages in order to promote trade, tourism and people-to-people contact between the two countries.

During the visit, memoranda of understanding (MoUs) were signed to increase cooperation between the foreign ministries of the two nations as well as their diplomatic institutions.

An MoU was also signed for the establishment of the Pak-Turkmen Joint Business Council.

According to the FO, Qureshi also briefed his Turkmen counterpart on the current security situation in South Asia and regretted the "aggressive and irresponsible attitude of India".

Meredov also paid a courtesy call on President Arif Alvi and Prime Minister Imran Khan during his two-day visit.


          Ищем поставщиков-производителей или ввозящих в Туркменистан продуктов питания!!!      Cache   Translate Page      
Ищем поставщиков-производителей или ввозящих в Туркменистан продуктов питания!!! КРУПНАЯ ДИСТРИБЬЮТОРСКАЯ КОМПАНИЯ ПРЕДЛАГАЕТ СВОИ УСЛУГИ В ПРОДАЖЕ ВАШЕГО ТОВАРА НА ТЕРРИТОРИИ ТУРКМЕНИСТАНА. ЗВОНИТЬ 864092946 Еда, рестораны, кафе, доставка, Ашхабад
          Menapaki Permukiman Etnis Kirgiz di Tapal Batas Xinjiang China      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang - Sebelum 2016, Gulnur Turdumanet, suami dan ketiga anak-anaknya tinggal serta bermatapencaharian sebagai peternak dan penggembala di perbukitan kawasan Gurun Gobi di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur barat jauh.

Meski memiliki aset berupa hewan-hewan ternak yang setidaknya berjumlah belasan, Gulnur mengaku bahwa kehidupannya dulu cukup sulit.

"Rumah kami hanya berupa gubuk tanpa sanitasi. Untuk air, kami memanfaatkan salju yang mencair," kata Gulnur yang kini telah menetap usai menyetujui program relokasi pemerintah ke sebuah permukiman di Turugart Port, sekitar 200 km dari perbatasan China - Tajikistan.

Pada Minggu 24 Februari 2019, rombongan belasan jurnalis dari Indonesia dan Malaysia diberikan kesempatan oleh otoritas China untuk mengunjungi Turugart Port dengan didampingi oleh belasan pejabat Tiongkok di Xinjiang. Otoritas menyajikan kami tentang perkembangan pembangunan di daerah tapal batas terbarat China --di mana matahari terbit dan tenggelam lebih lama dari wilayah-wilayah lain di Tiongkok.

Gulnur Turdumanet dan Nurbek Bay, sepasang saudara etnis Kirgiz di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Gulnur mengaku, setelah pindah ke permukiman relokasi di Turugart, "Tingkat kehidupan saya meningkat secara besar," lanjutnya melalui penerjemah.

"Di flat (relokasi) yang disediakan, sudah ada listrik, air, internet, dan kamar mandi. Dan kehidupan kami sangat meningkat sekali," lanjutnya.

Flat itu bak rusun di Kemayoran. Gedung bangunan tak tinggi, hanya berlantai empat. Sekitar 8 - 10 gedung tergabung dalam satu klaster/kompleks. Gedung-gedung itu membentuk perimeter melingkar, di tengah sisi dalam difungsikan sebagai lapangan serbaguna untuk komunitas.

Sementara dengan masing-masing lantai memiliki dua rumah. Satu rumah memiliki luas sekitar 81 meter persegi.

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

"Biaya rekening cukup murah," katanya. Untuk listrik misalnya, pembelian token 50 yuan (sekitar Rp 100 ribu) bisa digunakan untuk dua sampai tiga bulan.

Gulnur mengatakan, ketiga anaknya juga menerima pendidikan di institusi pendidikan setempat. Bungsu bersekolah di SD dekat kantor pemerintah desa, sementara dua anak tertuanya, bersekolah di SMA di dekat kantor pemerintah Wuqia County.

"Semua biaya sekolah ditanggung pemerintah," kata Gulnur.

Di Tapal Batas

Itulah secuil gambaran mengenai kebijakan pemerintah China yang dinikmati oleh keluarga Gulnur dan beberapa warga lain di permukiman relokasi di Turugart Port, Wuqia, hanya 200 km dari perbatasan China - Tajikistan.

Warga di permukiman relokasi di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Pada 2016, pemerintah China mulai membangun permukiman relokasi (re-settlement) yang diperuntukkan bagi warga lokal yang tinggal di "rumah gubuk (hut)" atau "rumah bata (mudhouse)" di wilayah tersebut.

"Demi membantu warga lokal untuk meningkatkan kehidupan dan produksi mereka, pemerintah telah berinvestasi banyak," klaim seorang pejabat Xinjiang, China.

Pada 2016, pemerintah China dan Xinjiang mulai membangun permukiman relokasi (re-settlement) yang diperuntukkan bagi warga lokal yang tinggal di rumah gubuk  atau rumah bata di wilayah Turugart, Wuqia.

Populasi di Wuqia County sendiri berkisar antara 50.000 - 60.000 jiwa, dengan "ratusan hingga ribuan" di antaranya adalah keluarga Kirgiz yang tinggal di permukiman relokasi lain serupa seperti di Turugart.

Warga lokal itu, jelas seorang pejabat departemen diseminasi informasi Partai Komunis China di Xinjiang, adalah kelompok etnis minoritas Kirgiz yang tinggal di wilayah perbukitan di area Gurun Gobi di Turugart.

"Mata pencaharian tradisional mereka adalah berternak," kata pejabat itu, "seperti domba, kambing, sapi dan unta, dengan jumlah yang bisa mencapai belasan hingga puluhan."

Para etnis Kirgiz itu menerapkan gaya hidup semi-nomaden dengan berpindah-pindah untuk kemudian menetap di tempat yang subur dan memiliki mata air, terutama di perbukitan kata pejabat itu dengan menambahkan, "tapi yang Anda lihat, wilayah ini seutuhnya gurun."

"Meski beternak, perekonomian mereka tak sejahtera. Wilayah ini (Wuqia) mengalami musim dingin, sehingga hewan ternak bisa mati dan akibatnya mereka bisa kehilangan mata pencaharian. Rumah mereka juga bisa terancam tertimbun longsor salju. Bayangkan kerugian yang harus mereka alami."

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Pembangunan permukiman relokasi di Turugart pada 2016 adalah salah satu dari "program pemerintah China untuk mengentas kemiskinan di wilayah terpencil" lanjut pejabat itu.

Keluarga yang setuju untuk direlokasi oleh pemerintah membayar sekitar 10.000 yuan untuk sebuah flat di Turugart lengkap dengan air, gas, penghangat, listrik, layanan TV dan internet. Namun, setiap rekening harus dibayar sesuai penggunaan.

Sekarang, total 136 keluarga yang berada di permukiman relokasi di Turugart, Wuqia itu "memiliki toko, membuka bisnis kecil, atau bekerja di sektor lain," jelas pejabat itu.

Suami Gulnur Turdumanet, selaku kepala keluarga misalnya, mengaku kini bekerja sebagai "pegawai pos perbatasan China - Tajikistan, juru masak di sebuah kantor pemerintah, pekerja di sektor industri lokal, atau membuka toko makanan," di komunitas permukiman kini mereka tinggali.

Bagi yang membuka toko dan bisnis di Turugart, Wuqia, para pelanggan mereka "biasanya adalah warga lokal atau warga Turkmenistan di Irkeshtam, 200 km dekat perbatasan China - Turkmenistan.

"Beberapa keluarga juga punya dokter kontrak untuk keperluan medis mereka," kata seorang pemandu dari pemerintah lokal Turugart Port.

"Gaya hidup komunitas peternak Kirgiz di sini semua sudah berubah secara dramatis sesuai dengan sistem sosialis China, kepemimpinan Partai Komunis (China) dan mereka semua sekarang sudah hidup bahagia," klaim seorang pejabat untuk Partai Komunis China di Xinjiang.

Tentang warga yang tidak bersedia direlokasi, seorang pejabat mengatakan, "Pindah ke sini sukarela. Jika mereka mau dan punya uangnya, mereka bisa pindah (ke permukiman serupa)."

 

Simak video pilihan berikut:

 

Secuil Inisiatif Belt and Road di Turugart, Wuqia

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Dalam konteks yang lebih luas, pembangunan infrastruktur dan 'program pengentasan kemiskinan' yang dilakukan oleh pemerintah China di wilayah perbatasan barat --seperti Turugart, Wuqia-- merupakan cara bagi Beijing untuk membuat wilayah itu secara infrastruktur, ekonomi, hingga sosial "menjadi lebih layak" sebagai "gerbang terdepan" kebijakan 'Inisiatif Belt and Road' dan kebijakan 'Keterbukaan China' yang turut menjangkau wilayah Negara-negara 'Stan', Asia Tengah, Eropa Tengah dan Eropa Timur.

"Kami ingin menjadikan Xinjiang sebagai gerbang utama keterbukaan China kepada dunia, terutama, negara-negara Asia Tengah, Asia Barat, hingga Eropa," kata seorang pejabat diseminasi informasi Partai Komunis China di Xinjiang.

Negara-negara 'Stan' merujuk Kazakhstan, Kirgiztan, dan Tajikistan (eks-Soviet) serta Pakistan dan Afghanistan (Asia Tengah), dengan masing-masing berbagi perbatasan langsung dengan Tiongkok.

China menjadi 'pemain utama' di belahan Bumi paling tengah yang menjadi pertemuan Benua Eropa dan Benua Asia itu, dengan komoditas utama yang dipertukarkan berupa minyak, gas dan mineral (yang mana Xinjiang kaya akan ketiga sumber daya alam itu), energi non-migas, infrastruktur, alutsista militer hingga produk pangan dan rumah tangga.

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Tajikistan dan Kirgiztan misalnya, pada 2018, telah menandatangani berbagai proyek kerja sama dengan China di sektor infrastruktur (rel kereta) dan energi (pipa gas yang melintasi China-Kirgiztan-Tajikistan-Turkmenistan).

Salah satu timbal balik yang diterima China adalah masuknya produk-produk pangan negara-negara tersebut ke wilayah Xinjiang barat yang sejatinya tandus dan tak cocok untuk agraria --mengingat letaknya di tengah Gurun Gobi.

Dalam toko di Turugart, Wuqia misalnya, terdapat banyak produk yang China impor dari 'Negara-negara Stan' tersebut, beberapa dari Eropa Timur dan Tengah seperti Polandia dan Rusia, serta segelintir dari Asia. Produk itu mulai dari makanan, minuman, barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari, hingga, cinderamata.

Salah satu barang yang dijual di toko di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Sementara Pakistan diketahui menerima suplai alutsista militer dari China, termasuk salah satunya jet tempur. Sedangkan negara-negara seperti Kirgiztan dan Turkmenistan diketahui telah menerima suplai serupa sejak beberapa tahun lalu.

Namun, ketika negara-negara Asia Tengah memperkuat hubungan dengan Beijing saat mereka bersaing untuk menerima bagian dari Inisiatif Belt and Road yang membentang dari China ke Eropa, pinjaman dari Beijing menggelembung di semua negara kecuali Kazakhstan, yang menerima investasi langsung dari berbagai negara, dan Uzbekistan --Nikkei Asian Review melaporkan.

Tajikistan dilaporkan menyerahkan tambang emas ke China pada April 2018 sebagai imbalan US$ 300 juta dalam pendanaan untuk membangun pembangkit listrik.

(Di ufuk) Pembangkit listrik panel surya di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Sementara Kirgiztan dilaporkan memiliki kontrak dengan bank China yang dikelola pemerintah untuk pembangkit listrik di ibukota Bishkek yang mencakup klausul yang memberi Beijing kendali atas aset berjangkauan luas jika negara itu gagal membayar. China juga diperkirakan menuntut konsesi dalam negosiasi untuk pendanaan pembangunan kereta api.

Risiko tersembunyi dalam proyek-proyek Belt and Road terungkap setelah Sri Lanka pada tahun 2017 memberi China hak pengoperasian ke pelabuhan Hambantota selama 99 tahun ketika negara pulau itu berjuang untuk membayar hutang.

China bertujuan untuk menjadi kekuatan dominan di Asia Tengah untuk menurunkan harga perolehan sumber daya, kata Andrei Grozin, yang mengepalai departemen Asia Tengah di CIS Institute seperti dikutip dari Nikkei Asian Review.

Beijing juga berencana untuk berinvestasi dalam proyek-proyek infrastruktur dan pertanian di negara-negara bekas Soviet seperti Ukraina yang mencari integrasi dengan Uni Eropa, meningkatkan pengaruhnya di Eropa Timur ketika pertentangan antara Moskow dan Washington tumbuh.

Ukraina dan China menyetujui US$ 7 miliar dalam proyek bersama di komisi antar pemerintah pada akhir 2017. Pembangunan jalan raya dan basis ekspor biji-bijian mengalami kemajuan.

"Sebuah faksi pro-China diam-diam muncul di wilayah itu," kata seorang pejabat tinggi Ukraina seperti dikutip dari Nikkei Asian Review.


          Uuden paikan vaikeuksia      Cache   Translate Page      
Olin unohtanut, miten uuvuttavaa on muuttaa uuteen paikkaan. Ensimmäisenä viikkona Iranissa kaikki oli jotenkin hankalaa. Ensinnäkin - halusin matkustaa paikasta A paikkaan B, mutta en tiennyt yhtään, miten julkinen liikenne tai taksit toimivat. Ei ollut nettiä, Google mapsia. Tuli aika monta kertaa mietittyä, miten matkustimme ennen ilman nettiä ja karttoja älypuhelimessa?

Iranilaista taidetta pienestä galleriasta.
Taksin saaminen oli työlästä. Seisoin ruuhkaisen kadun vierellä yrittäen huitoa takseja pysähtymään. Jotkut ovat vihreitä, jotkut keltaisia, joistain ei voi edes erottaa, onko ne takseja. Sen jälkeen, kun joku pysähtyy, pitää yrittää selittää mihin on menossa tarkalleen ottaen (ilman Google mapsia! ja englantia!). Sen jälkeen pitää neuvotella hinta, koska kukaan ei käytä mittareita. Vihdoin kun pääsee taksiin, ei ole kuitenkaan satavarma minne taksi on menossa. Usein taksit vaativat vielä lisää rahaa määränpäähänsä päästyään, sillä eivät muka tajunneet, että se oli niin kaukana (muka).

Menin myös muutaman kerran jonkun perusheebon Toytota-kyydillä määränpäähäni, mikä ei ehkä ole kaikista turvallisin vaihtoehto. Yksi kysyi huonolla englannilla minulta how much do you cost - ensin loukkaannuin, sitten tajusin että tyyppi yritti kysyä paljon maksan hänelle kyydistä. Toisaalta kadunkulmassa huitominen ja seisominen pidempään ei myöskään ole kovin miellyttävää.



Sitten noin viikko oleskeluni jälkeen elämäni pelasti Snapp, paikallinen Uber. Voi sitä riemuntunnetta, kun osasin tilata Snapp-kuskin ensimmäistä kertaa (kaverin lainaamalla älypuhelimella tosin, sillä omani ei vieläkään toimi. Kiitos, Samsung, asiasta nimeltä aluelukitus, ja myyjälle siitä ettei kertonut tästä PIKKUseikasta, jonka takia puhelin ei toimi muualla kuin Suomessa. Viimeiset kaksi viikkoa Samsungin Suomen asiakaspalvelun kanssa asiointi on ollut melkein enemmän raivostuttavaa kuin paikallisten taksien kanssa taisteleminen).

Snappin kanssa arki on nyt noin sata kertaa helpompaa. Näppäilen vaan ruutuun lähtöpaikan ja määränpään, ruudulle tulee hinta ja kuski saapuu paikalle noin minuutissa. Ei kadulla huitomista, epämääräisten miesten kanssa neuvottelua. Usein kuskin kanssa voi myös harjoitella farsin kielen taitoja - kätevää! Eilen kuskini kertoi minulle hevosestaan, joka hänellä on Turkmenistanissa.

Ensimmäisenä viikkona pankissa asiointi ja rahan vaihtaminen oli hämmentävää. Menin pankkiin ja yritin maksaa vuokrani ja opintolaskuni - otin vuoronumeron ja tajusin sitten että en osaa farsinkielisiä numeroita. Kyselin sitten kanssajonottajilta että hei lukekaa tää lappu mulle, milloin on mun vuoro. Sain laskut maksettua vihdoin - taas voittajafiilis! Vaatekaupassakin jouduin osoittelemaan hintalappua ja pyytämään myyjää lukemaan ääneen farsiksi, mitä siinä lukee. Viime viikolla opin lukemaan numerot, ja se on myös helpottanut elämää huomattavasti.


Iranissa ei toimi mitkään ulkomaiset pankki- tai luottokortit, joten kaikki eurot piti ottaa käteisenä mukaan ja niitä pitää vaihtaa rialeiksi Teheranin monissa rahanvaihtopaikoissa. Kesti myös jonkin aikaa ymmärtää paikallista rahaa koska kukaan ei puhu rialeista vaan tomaneista, joka on rial miinus yksi nolla perästä - jos kahvi maksaa 100,000 rialia (2.4 e), se on tomaneissa 10,000 mutta usein menussa vain "10", 10 tomania. Ymmärrän numerot, mutta kun leipämyyjä sanoi "yek hezar" eli 1000, tarjosin hänelle 1000 rialin seteliä ja hän vain nauroi. Ymmärrettävästi, sillä se on noin 0.02 euroa. Hän tarvitsi 10,000 setelin. Hämmentävää. Myös se, että vastaleivottu leipä maksaa 20 senttiä.

Kun kaikki ahdistaa ja peruselämä on vähän liian vaikeaa, visiitti kahvilaan usein rauhoittaa. Istun joka päivä jossain kahvilassa, vaikka elämän perusaskareet ovatkin joka viikko vähemmän hämmentäviä.



Totuus.
Uudessa paikassa moni asia on aika vaikeaa, mutta on myös hienoa huomata, miten suurta iloa pienet asiat saa aikaan. Kävelin viime viikolla katua ylöspäin, kunnes jäin odottamaan bussipysäkille bussia. Tajusin, että osaan vihdoin lukea bussiaikataulun. Kaikki viimeiset bussit olivat jo menneet siltä illalta, joten kävelin mäen ylös kotiin yksin. Mutta se ei haitannut, sillä osasin lukea bussiaikataulun.

Tämä ei ole enää pelkkä kokoelma hassuja merkkejä - voittajatunne.
Mitäs te muut ulkomailla asustelevat, minkälaiset arkiset asiat ovat aluksi tuottaneet tuskaa?


          GAC Marine to support Petronas’ drilling operations off Turkmenistan      Cache   Translate Page      
GAC Marine has been awarded two contracts by Petronas Carigali to provide marine services for its development of the Garagol Deniz West field in the Caspian Sea.

...
          Menapaki Permukiman Etnis Kirgiz di Tapal Batas Xinjiang China      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang - Sebelum 2016, Gulnur Turdumanet, suami dan ketiga anak-anaknya tinggal serta bermatapencaharian sebagai peternak dan penggembala di perbukitan kawasan Gurun Gobi di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur barat jauh.

Meski memiliki aset berupa hewan-hewan ternak yang setidaknya berjumlah belasan, Gulnur mengaku bahwa kehidupannya dulu cukup sulit.

"Rumah kami hanya berupa gubuk tanpa sanitasi. Untuk air, kami memanfaatkan salju yang mencair," kata Gulnur yang kini telah menetap usai menyetujui program relokasi pemerintah ke sebuah permukiman di Turugart Port, sekitar 200 km dari perbatasan China - Tajikistan.

Pada Minggu 24 Februari 2019, rombongan belasan jurnalis dari Indonesia dan Malaysia diberikan kesempatan oleh otoritas China untuk mengunjungi Turugart Port dengan didampingi oleh belasan pejabat Tiongkok di Xinjiang. Otoritas menyajikan kami tentang perkembangan pembangunan di daerah tapal batas terbarat China --di mana matahari terbit dan tenggelam lebih lama dari wilayah-wilayah lain di Tiongkok.

Gulnur Turdumanet dan Nurbek Bay, sepasang saudara etnis Kirgiz di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Gulnur mengaku, setelah pindah ke permukiman relokasi di Turugart, "Tingkat kehidupan saya meningkat secara besar," lanjutnya melalui penerjemah.

"Di flat (relokasi) yang disediakan, sudah ada listrik, air, internet, dan kamar mandi. Dan kehidupan kami sangat meningkat sekali," lanjutnya.

Flat itu bak rusun di Kemayoran. Gedung bangunan tak tinggi, hanya berlantai empat. Sekitar 8 - 10 gedung tergabung dalam satu klaster/kompleks. Gedung-gedung itu membentuk perimeter melingkar, di tengah sisi dalam difungsikan sebagai lapangan serbaguna untuk komunitas.

Sementara dengan masing-masing lantai memiliki dua rumah. Satu rumah memiliki luas sekitar 81 meter persegi.

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

"Biaya rekening cukup murah," katanya. Untuk listrik misalnya, pembelian token 50 yuan (sekitar Rp 100 ribu) bisa digunakan untuk dua sampai tiga bulan.

Gulnur mengatakan, ketiga anaknya juga menerima pendidikan di institusi pendidikan setempat. Bungsu bersekolah di SD dekat kantor pemerintah desa, sementara dua anak tertuanya, bersekolah di SMA di dekat kantor pemerintah Wuqia County.

"Semua biaya sekolah ditanggung pemerintah," kata Gulnur.

Di Tapal Batas

Itulah secuil gambaran mengenai kebijakan pemerintah China yang dinikmati oleh keluarga Gulnur dan beberapa warga lain di permukiman relokasi di Turugart Port, Wuqia, hanya 200 km dari perbatasan China - Tajikistan.

Warga di permukiman relokasi di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Pada 2016, pemerintah China mulai membangun permukiman relokasi (re-settlement) yang diperuntukkan bagi warga lokal yang tinggal di "rumah gubuk (hut)" atau "rumah bata (mudhouse)" di wilayah tersebut.

"Demi membantu warga lokal untuk meningkatkan kehidupan dan produksi mereka, pemerintah telah berinvestasi banyak," klaim seorang pejabat Xinjiang, China.

Pada 2016, pemerintah China dan Xinjiang mulai membangun permukiman relokasi (re-settlement) yang diperuntukkan bagi warga lokal yang tinggal di rumah gubuk  atau rumah bata di wilayah Turugart, Wuqia.

Populasi di Wuqia County sendiri berkisar antara 50.000 - 60.000 jiwa, dengan "ratusan hingga ribuan" di antaranya adalah keluarga Kirgiz yang tinggal di permukiman relokasi lain serupa seperti di Turugart.

Warga lokal itu, jelas seorang pejabat departemen diseminasi informasi Partai Komunis China di Xinjiang, adalah kelompok etnis minoritas Kirgiz yang tinggal di wilayah perbukitan di area Gurun Gobi di Turugart.

"Mata pencaharian tradisional mereka adalah berternak," kata pejabat itu, "seperti domba, kambing, sapi dan unta, dengan jumlah yang bisa mencapai belasan hingga puluhan."

Para etnis Kirgiz itu menerapkan gaya hidup semi-nomaden dengan berpindah-pindah untuk kemudian menetap di tempat yang subur dan memiliki mata air, terutama di perbukitan kata pejabat itu dengan menambahkan, "tapi yang Anda lihat, wilayah ini seutuhnya gurun."

"Meski beternak, perekonomian mereka tak sejahtera. Wilayah ini (Wuqia) mengalami musim dingin, sehingga hewan ternak bisa mati dan akibatnya mereka bisa kehilangan mata pencaharian. Rumah mereka juga bisa terancam tertimbun longsor salju. Bayangkan kerugian yang harus mereka alami."

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Pembangunan permukiman relokasi di Turugart pada 2016 adalah salah satu dari "program pemerintah China untuk mengentas kemiskinan di wilayah terpencil" lanjut pejabat itu.

Keluarga yang setuju untuk direlokasi oleh pemerintah membayar sekitar 10.000 yuan untuk sebuah flat di Turugart lengkap dengan air, gas, penghangat, listrik, layanan TV dan internet. Namun, setiap rekening harus dibayar sesuai penggunaan.

Sekarang, total 136 keluarga yang berada di permukiman relokasi di Turugart, Wuqia itu "memiliki toko, membuka bisnis kecil, atau bekerja di sektor lain," jelas pejabat itu.

Suami Gulnur Turdumanet, selaku kepala keluarga misalnya, mengaku kini bekerja sebagai "pegawai pos perbatasan China - Tajikistan, juru masak di sebuah kantor pemerintah, pekerja di sektor industri lokal, atau membuka toko makanan," di komunitas permukiman kini mereka tinggali.

Bagi yang membuka toko dan bisnis di Turugart, Wuqia, para pelanggan mereka "biasanya adalah warga lokal atau warga Turkmenistan di Irkeshtam, 200 km dekat perbatasan China - Turkmenistan.

"Beberapa keluarga juga punya dokter kontrak untuk keperluan medis mereka," kata seorang pemandu dari pemerintah lokal Turugart Port.

"Gaya hidup komunitas peternak Kirgiz di sini semua sudah berubah secara dramatis sesuai dengan sistem sosialis China, kepemimpinan Partai Komunis (China) dan mereka semua sekarang sudah hidup bahagia," klaim seorang pejabat untuk Partai Komunis China di Xinjiang.

Tentang warga yang tidak bersedia direlokasi, seorang pejabat mengatakan, "Pindah ke sini sukarela. Jika mereka mau dan punya uangnya, mereka bisa pindah (ke permukiman serupa)."

 

Simak video pilihan berikut:

 

Secuil Inisiatif Belt and Road di Turugart, Wuqia

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Dalam konteks yang lebih luas, pembangunan infrastruktur dan 'program pengentasan kemiskinan' yang dilakukan oleh pemerintah China di wilayah perbatasan barat --seperti Turugart, Wuqia-- merupakan cara bagi Beijing untuk membuat wilayah itu secara infrastruktur, ekonomi, hingga sosial "menjadi lebih layak" sebagai "gerbang terdepan" kebijakan 'Inisiatif Belt and Road' dan kebijakan 'Keterbukaan China' yang turut menjangkau wilayah Negara-negara 'Stan', Asia Tengah, Eropa Tengah dan Eropa Timur.

"Kami ingin menjadikan Xinjiang sebagai gerbang utama keterbukaan China kepada dunia, terutama, negara-negara Asia Tengah, Asia Barat, hingga Eropa," kata seorang pejabat diseminasi informasi Partai Komunis China di Xinjiang.

Negara-negara 'Stan' merujuk Kazakhstan, Kirgiztan, dan Tajikistan (eks-Soviet) serta Pakistan dan Afghanistan (Asia Tengah), dengan masing-masing berbagi perbatasan langsung dengan Tiongkok.

China menjadi 'pemain utama' di belahan Bumi paling tengah yang menjadi pertemuan Benua Eropa dan Benua Asia itu, dengan komoditas utama yang dipertukarkan berupa minyak, gas dan mineral (yang mana Xinjiang kaya akan ketiga sumber daya alam itu), energi non-migas, infrastruktur, alutsista militer hingga produk pangan dan rumah tangga.

Permukiman relokasi etnis Kirgiz di Turugart Port, Wuqia County, Xinjiang (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Tajikistan dan Kirgiztan misalnya, pada 2018, telah menandatangani berbagai proyek kerja sama dengan China di sektor infrastruktur (rel kereta) dan energi (pipa gas yang melintasi China-Kirgiztan-Tajikistan-Turkmenistan).

Salah satu timbal balik yang diterima China adalah masuknya produk-produk pangan negara-negara tersebut ke wilayah Xinjiang barat yang sejatinya tandus dan tak cocok untuk agraria --mengingat letaknya di tengah Gurun Gobi.

Dalam toko di Turugart, Wuqia misalnya, terdapat banyak produk yang China impor dari 'Negara-negara Stan' tersebut, beberapa dari Eropa Timur dan Tengah seperti Polandia dan Rusia, serta segelintir dari Asia. Produk itu mulai dari makanan, minuman, barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari, hingga, cinderamata.

Salah satu barang yang dijual di toko di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Sementara Pakistan diketahui menerima suplai alutsista militer dari China, termasuk salah satunya jet tempur. Sedangkan negara-negara seperti Kirgiztan dan Turkmenistan diketahui telah menerima suplai serupa sejak beberapa tahun lalu.

Namun, ketika negara-negara Asia Tengah memperkuat hubungan dengan Beijing saat mereka bersaing untuk menerima bagian dari Inisiatif Belt and Road yang membentang dari China ke Eropa, pinjaman dari Beijing menggelembung di semua negara kecuali Kazakhstan, yang menerima investasi langsung dari berbagai negara, dan Uzbekistan --Nikkei Asian Review melaporkan.

Tajikistan dilaporkan menyerahkan tambang emas ke China pada April 2018 sebagai imbalan US$ 300 juta dalam pendanaan untuk membangun pembangkit listrik.

(Di ufuk) Pembangkit listrik panel surya di Turugart, Wuqia County, Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz, Wilayah Otonomi Xinjiang-Uighur (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Sementara Kirgiztan dilaporkan memiliki kontrak dengan bank China yang dikelola pemerintah untuk pembangkit listrik di ibukota Bishkek yang mencakup klausul yang memberi Beijing kendali atas aset berjangkauan luas jika negara itu gagal membayar. China juga diperkirakan menuntut konsesi dalam negosiasi untuk pendanaan pembangunan kereta api.

Risiko tersembunyi dalam proyek-proyek Belt and Road terungkap setelah Sri Lanka pada tahun 2017 memberi China hak pengoperasian ke pelabuhan Hambantota selama 99 tahun ketika negara pulau itu berjuang untuk membayar hutang.

China bertujuan untuk menjadi kekuatan dominan di Asia Tengah untuk menurunkan harga perolehan sumber daya, kata Andrei Grozin, yang mengepalai departemen Asia Tengah di CIS Institute seperti dikutip dari Nikkei Asian Review.

Beijing juga berencana untuk berinvestasi dalam proyek-proyek infrastruktur dan pertanian di negara-negara bekas Soviet seperti Ukraina yang mencari integrasi dengan Uni Eropa, meningkatkan pengaruhnya di Eropa Timur ketika pertentangan antara Moskow dan Washington tumbuh.

Ukraina dan China menyetujui US$ 7 miliar dalam proyek bersama di komisi antar pemerintah pada akhir 2017. Pembangunan jalan raya dan basis ekspor biji-bijian mengalami kemajuan.

"Sebuah faksi pro-China diam-diam muncul di wilayah itu," kata seorang pejabat tinggi Ukraina seperti dikutip dari Nikkei Asian Review.


          GAC wins PETRONAS Caspian Sea contracts      Cache   Translate Page      
GAC Marine S.A. branch in Turkmenistan (GAC Marine) has been awarded two contracts by PETRONAS Carigali (Turkmenistan) Sdn. Bhd. (PC(T)SB), a subsidiary of PETRONAS, to provide marine services for its development of the Garagol Deniz West (GDW) field. GAC Marine will supply three anchor-handling vessels manned by experienced crew and kitted out with specialist onboard ...
          Ищем поставщиков-производителей или ввозящих в Туркменистан продуктов питания!!!      Cache   Translate Page      
Ищем поставщиков-производителей или ввозящих в Туркменистан продуктов питания!!! КРУПНАЯ ДИСТРИБЬЮТОРСКАЯ КОМПАНИЯ ПРЕДЛАГАЕТ СВОИ УСЛУГИ В ПРОДАЖЕ ВАШЕГО ТОВАРА НА ТЕРРИТОРИИ ТУРКМЕНИСТАНА. ЗВОНИТЬ 864092946 Iýmit, restoran, kafe, dostawka, Aşgabat
          Tutto il Piceno sostiene l’atleta ascolano non vedente Davide Valacchi: “In Cina con il tandem”      Cache   Translate Page      

L’arrivo è previsto ad ottobre: saranno attraversati gli stati di Croazia, Serbia, Bulgaria, Turchia, Georgia, Azerbaigian, Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Tagikistan, Kirghizistan, Kazakistan, Mongolia e Pechino

L'articolo Tutto il Piceno sostiene l’atleta ascolano non vedente Davide Valacchi: “In Cina con il tandem” proviene da Piceno Oggi.




Next Page: 10000

Site Map 2018_01_14
Site Map 2018_01_15
Site Map 2018_01_16
Site Map 2018_01_17
Site Map 2018_01_18
Site Map 2018_01_19
Site Map 2018_01_20
Site Map 2018_01_21
Site Map 2018_01_22
Site Map 2018_01_23
Site Map 2018_01_24
Site Map 2018_01_25
Site Map 2018_01_26
Site Map 2018_01_27
Site Map 2018_01_28
Site Map 2018_01_29
Site Map 2018_01_30
Site Map 2018_01_31
Site Map 2018_02_01
Site Map 2018_02_02
Site Map 2018_02_03
Site Map 2018_02_04
Site Map 2018_02_05
Site Map 2018_02_06
Site Map 2018_02_07
Site Map 2018_02_08
Site Map 2018_02_09
Site Map 2018_02_10
Site Map 2018_02_11
Site Map 2018_02_12
Site Map 2018_02_13
Site Map 2018_02_14
Site Map 2018_02_15
Site Map 2018_02_15
Site Map 2018_02_16
Site Map 2018_02_17
Site Map 2018_02_18
Site Map 2018_02_19
Site Map 2018_02_20
Site Map 2018_02_21
Site Map 2018_02_22
Site Map 2018_02_23
Site Map 2018_02_24
Site Map 2018_02_25
Site Map 2018_02_26
Site Map 2018_02_27
Site Map 2018_02_28
Site Map 2018_03_01
Site Map 2018_03_02
Site Map 2018_03_03
Site Map 2018_03_04
Site Map 2018_03_05
Site Map 2018_03_06
Site Map 2018_03_07
Site Map 2018_03_08
Site Map 2018_03_09
Site Map 2018_03_10
Site Map 2018_03_11
Site Map 2018_03_12
Site Map 2018_03_13
Site Map 2018_03_14
Site Map 2018_03_15
Site Map 2018_03_16
Site Map 2018_03_17
Site Map 2018_03_18
Site Map 2018_03_19
Site Map 2018_03_20
Site Map 2018_03_21
Site Map 2018_03_22
Site Map 2018_03_23
Site Map 2018_03_24
Site Map 2018_03_25
Site Map 2018_03_26
Site Map 2018_03_27
Site Map 2018_03_28
Site Map 2018_03_29
Site Map 2018_03_30
Site Map 2018_03_31
Site Map 2018_04_01
Site Map 2018_04_02
Site Map 2018_04_03
Site Map 2018_04_04
Site Map 2018_04_05
Site Map 2018_04_06
Site Map 2018_04_07
Site Map 2018_04_08
Site Map 2018_04_09
Site Map 2018_04_10
Site Map 2018_04_11
Site Map 2018_04_12
Site Map 2018_04_13
Site Map 2018_04_14
Site Map 2018_04_15
Site Map 2018_04_16
Site Map 2018_04_17
Site Map 2018_04_18
Site Map 2018_04_19
Site Map 2018_04_20
Site Map 2018_04_21
Site Map 2018_04_22
Site Map 2018_04_23
Site Map 2018_04_24
Site Map 2018_04_25
Site Map 2018_04_26
Site Map 2018_04_27
Site Map 2018_04_28
Site Map 2018_04_29
Site Map 2018_04_30
Site Map 2018_05_01
Site Map 2018_05_02
Site Map 2018_05_03
Site Map 2018_05_04
Site Map 2018_05_05
Site Map 2018_05_06
Site Map 2018_05_07
Site Map 2018_05_08
Site Map 2018_05_09
Site Map 2018_05_15
Site Map 2018_05_16
Site Map 2018_05_17
Site Map 2018_05_18
Site Map 2018_05_19
Site Map 2018_05_20
Site Map 2018_05_21
Site Map 2018_05_22
Site Map 2018_05_23
Site Map 2018_05_24
Site Map 2018_05_25
Site Map 2018_05_26
Site Map 2018_05_27
Site Map 2018_05_28
Site Map 2018_05_29
Site Map 2018_05_30
Site Map 2018_05_31
Site Map 2018_06_01
Site Map 2018_06_02
Site Map 2018_06_03
Site Map 2018_06_04
Site Map 2018_06_05
Site Map 2018_06_06
Site Map 2018_06_07
Site Map 2018_06_08
Site Map 2018_06_09
Site Map 2018_06_10
Site Map 2018_06_11
Site Map 2018_06_12
Site Map 2018_06_13
Site Map 2018_06_14
Site Map 2018_06_15
Site Map 2018_06_16
Site Map 2018_06_17
Site Map 2018_06_18
Site Map 2018_06_19
Site Map 2018_06_20
Site Map 2018_06_21
Site Map 2018_06_22
Site Map 2018_06_23
Site Map 2018_06_24
Site Map 2018_06_25
Site Map 2018_06_26
Site Map 2018_06_27
Site Map 2018_06_28
Site Map 2018_06_29
Site Map 2018_06_30
Site Map 2018_07_01
Site Map 2018_07_02
Site Map 2018_07_03
Site Map 2018_07_04
Site Map 2018_07_05
Site Map 2018_07_06
Site Map 2018_07_07
Site Map 2018_07_08
Site Map 2018_07_09
Site Map 2018_07_10
Site Map 2018_07_11
Site Map 2018_07_12
Site Map 2018_07_13
Site Map 2018_07_14
Site Map 2018_07_15
Site Map 2018_07_16
Site Map 2018_07_17
Site Map 2018_07_18
Site Map 2018_07_19
Site Map 2018_07_20
Site Map 2018_07_21
Site Map 2018_07_22
Site Map 2018_07_23
Site Map 2018_07_24
Site Map 2018_07_25
Site Map 2018_07_26
Site Map 2018_07_27
Site Map 2018_07_28
Site Map 2018_07_29
Site Map 2018_07_30
Site Map 2018_07_31
Site Map 2018_08_01
Site Map 2018_08_02
Site Map 2018_08_03
Site Map 2018_08_04
Site Map 2018_08_05
Site Map 2018_08_06
Site Map 2018_08_07
Site Map 2018_08_08
Site Map 2018_08_09
Site Map 2018_08_10
Site Map 2018_08_11
Site Map 2018_08_12
Site Map 2018_08_13
Site Map 2018_08_15
Site Map 2018_08_16
Site Map 2018_08_17
Site Map 2018_08_18
Site Map 2018_08_19
Site Map 2018_08_20
Site Map 2018_08_21
Site Map 2018_08_22
Site Map 2018_08_23
Site Map 2018_08_24
Site Map 2018_08_25
Site Map 2018_08_26
Site Map 2018_08_27
Site Map 2018_08_28
Site Map 2018_08_29
Site Map 2018_08_30
Site Map 2018_08_31
Site Map 2018_09_01
Site Map 2018_09_02
Site Map 2018_09_03
Site Map 2018_09_04
Site Map 2018_09_05
Site Map 2018_09_06
Site Map 2018_09_07
Site Map 2018_09_08
Site Map 2018_09_09
Site Map 2018_09_10
Site Map 2018_09_11
Site Map 2018_09_12
Site Map 2018_09_13
Site Map 2018_09_14
Site Map 2018_09_15
Site Map 2018_09_16
Site Map 2018_09_17
Site Map 2018_09_18
Site Map 2018_09_19
Site Map 2018_09_20
Site Map 2018_09_21
Site Map 2018_09_23
Site Map 2018_09_24
Site Map 2018_09_25
Site Map 2018_09_26
Site Map 2018_09_27
Site Map 2018_09_28
Site Map 2018_09_29
Site Map 2018_09_30
Site Map 2018_10_01
Site Map 2018_10_02
Site Map 2018_10_03
Site Map 2018_10_04
Site Map 2018_10_05
Site Map 2018_10_06
Site Map 2018_10_07
Site Map 2018_10_08
Site Map 2018_10_09
Site Map 2018_10_10
Site Map 2018_10_11
Site Map 2018_10_12
Site Map 2018_10_13
Site Map 2018_10_14
Site Map 2018_10_15
Site Map 2018_10_16
Site Map 2018_10_17
Site Map 2018_10_18
Site Map 2018_10_19
Site Map 2018_10_20
Site Map 2018_10_21
Site Map 2018_10_22
Site Map 2018_10_23
Site Map 2018_10_24
Site Map 2018_10_25
Site Map 2018_10_26
Site Map 2018_10_27
Site Map 2018_10_28
Site Map 2018_10_29
Site Map 2018_10_30
Site Map 2018_10_31
Site Map 2018_11_01
Site Map 2018_11_02
Site Map 2018_11_03
Site Map 2018_11_04
Site Map 2018_11_05
Site Map 2018_11_06
Site Map 2018_11_07
Site Map 2018_11_08
Site Map 2018_11_09
Site Map 2018_11_10
Site Map 2018_11_11
Site Map 2018_11_12
Site Map 2018_11_13
Site Map 2018_11_14
Site Map 2018_11_15
Site Map 2018_11_16
Site Map 2018_11_17
Site Map 2018_11_18
Site Map 2018_11_19
Site Map 2018_11_20
Site Map 2018_11_21
Site Map 2018_11_22
Site Map 2018_11_23
Site Map 2018_11_24
Site Map 2018_11_25
Site Map 2018_11_26
Site Map 2018_11_27
Site Map 2018_11_28
Site Map 2018_11_29
Site Map 2018_11_30
Site Map 2018_12_01
Site Map 2018_12_02
Site Map 2018_12_03
Site Map 2018_12_04
Site Map 2018_12_05
Site Map 2018_12_06
Site Map 2018_12_07
Site Map 2018_12_08
Site Map 2018_12_09
Site Map 2018_12_10
Site Map 2018_12_11
Site Map 2018_12_12
Site Map 2018_12_13
Site Map 2018_12_14
Site Map 2018_12_15
Site Map 2018_12_16
Site Map 2018_12_17
Site Map 2018_12_18
Site Map 2018_12_19
Site Map 2018_12_20
Site Map 2018_12_21
Site Map 2018_12_22
Site Map 2018_12_23
Site Map 2018_12_24
Site Map 2018_12_25
Site Map 2018_12_26
Site Map 2018_12_27
Site Map 2018_12_28
Site Map 2018_12_29
Site Map 2018_12_30
Site Map 2018_12_31
Site Map 2019_01_01
Site Map 2019_01_02
Site Map 2019_01_03
Site Map 2019_01_04
Site Map 2019_01_06
Site Map 2019_01_07
Site Map 2019_01_08
Site Map 2019_01_09
Site Map 2019_01_11
Site Map 2019_01_12
Site Map 2019_01_13
Site Map 2019_01_14
Site Map 2019_01_15
Site Map 2019_01_16
Site Map 2019_01_17
Site Map 2019_01_18
Site Map 2019_01_19
Site Map 2019_01_20
Site Map 2019_01_21
Site Map 2019_01_22
Site Map 2019_01_23
Site Map 2019_01_24
Site Map 2019_01_25
Site Map 2019_01_26
Site Map 2019_01_27
Site Map 2019_01_28
Site Map 2019_01_29
Site Map 2019_01_30
Site Map 2019_01_31
Site Map 2019_02_01
Site Map 2019_02_02
Site Map 2019_02_03
Site Map 2019_02_04
Site Map 2019_02_05
Site Map 2019_02_06
Site Map 2019_02_07
Site Map 2019_02_08
Site Map 2019_02_09
Site Map 2019_02_10
Site Map 2019_02_11
Site Map 2019_02_12
Site Map 2019_02_13
Site Map 2019_02_14
Site Map 2019_02_15
Site Map 2019_02_16
Site Map 2019_02_17
Site Map 2019_02_18
Site Map 2019_02_19
Site Map 2019_02_20
Site Map 2019_02_21
Site Map 2019_02_22
Site Map 2019_02_23
Site Map 2019_02_24
Site Map 2019_02_25
Site Map 2019_02_26
Site Map 2019_02_27
Site Map 2019_02_28
Site Map 2019_03_01
Site Map 2019_03_02
Site Map 2019_03_03
Site Map 2019_03_04
Site Map 2019_03_05
Site Map 2019_03_06
Site Map 2019_03_07
Site Map 2019_03_08
Site Map 2019_03_09
Site Map 2019_03_10
Site Map 2019_03_11
Site Map 2019_03_12
Site Map 2019_03_13