Next Page: 10000

           Lexical borrowing between Austronesian and Tai-Kadai language families: focus on Malay and Thai Languages       Cache   Translate Page      
Umar, U. (2008) Lexical borrowing between Austronesian and Tai-Kadai language families: focus on Malay and Thai Languages. In: Seminar Antarabangsa Dialek-Dialek Austronesia di Nusantara , 24-26 Jan 2008, Brunei Darussalam. (Unpublished)
           Complete genome sequence analysis of dengue virus type 2 isolated in Brunei       Cache   Translate Page      
Osman, O. and Fong, M.Y. and Devi, S. (2008) Complete genome sequence analysis of dengue virus type 2 isolated in Brunei. Virus Research, 135 (1). pp. 48-52. ISSN 0168-1702
           Sequence analysis of E/NS1 gene junction of dengue virus type 2 isolated in Brunei       Cache   Translate Page      
Osman, O. and Fong, M.Y. and Devi, S. (2008) Sequence analysis of E/NS1 gene junction of dengue virus type 2 isolated in Brunei. Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health, 39 (1). pp. 62-78. ISSN 0125-1562
          His Majesty receives UK Trade Envoy      Cache   Translate Page      
|     Bahyiah Bakir     | HIS Majesty Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah ibni Al-Marhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien, Sultan and Yang Di-Pertuan of Brunei Darussalam, yesterday received in audience United Kingdom Trade Envoy to Brunei Darussalam Paul Scully. Accompanying Paul Scully was British High Commissioner to Brunei Darussalam Richard Lindsay. Also […]
          Minister: Brunei committed to counter-terrorism measures      Cache   Translate Page      
MINISTER of Defence II Pehin Datu Lailaraja Major General (Rtd) Dato Paduka Seri Haji Awang Halbi bin Haji Mohd Yussof yesterday stressed that Brunei Darussalam maintains a hard stance against Foreign Terrorist Fighters (FTFs) movements. “Through the exchange of intelligence and close cooperation with partner countries, Brunei Darussalam continuously maintains a database of known regional […]
          Safety still lacking in river transport      Cache   Translate Page      
|     Achong Tanjong     | DESPITE constant warnings from the authorities, many water taxis, longboats and speedboats are still lacking in vital safety equipment, such as life jackets. During an observation made by the Bulletin yesterday, it was evident that many boat passengers travelling along the Brunei waterways were not using life jackets, while the boat […]
          Eleven out of 34 rape cases last year involved children      Cache   Translate Page      
|     James Kon     | OF THE 34 cases of rape and unlawful carnal knowledge reported in 2017, 11 involved children under the age of 16, according to statistics from the Women and Children Abuse Investigation Unit under the Criminal Investigation Department of the Royal Brunei Police Force (RBPF). Out of these 11 cases, one victim […]
          Primer launched to raise public awareness on female child sexual violence      Cache   Translate Page      
|     James Kon     | THE Brunei Council on Social Welfare (MKM) launched its A Primer on Access to Justice on Sexual Violence of Girl-Children in Brunei Darussalam guidebook yesterday during the national dialogue on ‘Access to Justice of Girl-Children who are Victims of Sexual Violence in Brunei Darussalam’ held at the Lecture Theatre of the Hassanal […]
          Ten qualify for next round of Cuckoo Stardom Quest 3      Cache   Translate Page      
TEN Bruneians with singing prowess and charming personalities qualified to the next round of the Cuckoo Stardom Quest 3 (SQ3) held in conjunction with the Brunei December Festival by the Ministry of Primary Resources and Tourism. The event which started with the first audition in Kuala Belait had 50 contestants attending the audition on Sunday morning. […]
          Indonesia dan 8 Negara Sepakat Tangkal Terorisme      Cache   Translate Page      
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto dan Menteri Dalam Negeri Australia, Petter Dutton memimpin pertemuan Sub Regional Meeting on Counter Terrorism (SRM on CT). SRM on CT diikuti oleh sembilan negara. Di antaranya Indonesia, Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Singapura dan Thailand.
          Malaysia revises 2020 tourist arrival target      Cache   Translate Page      
PETALING JAYA: Tourism Malaysia has revised its tourist arrival target for 2020 from 33 million to 30 million.

Its chairman Datuk Ahmad Shah Hussein Tambakau said “economic uncertainties” for western travellers surrounding long-haul travel spending had caused the change in outlook.

“We have looked at the last two years and we have had growth but not quite as much as we had anticipated so we made the decision to have a more realistic figure,” he was quoted as saying at the World Travel Market in London.

However, Malaysia is on track to hit its 2019 target of 28 million leading up to the 30 million mark the following year, Ahmad Shah added.

He said one of the main strategies for achieving growth is Malaysia’s long-haul connectivity from Europe with the country currently having direct flights from London, Amsterdam and Frankfurt.

On Nov 2, Condor Airlines landed in at KLIA1 in its inaugural flight to Kuala Lumpur. It only airline to offer a direct flight between Malaysia and Germany. Its Kuala Lumpur (KUL)-Frankfurt (FRA) route will be three times a week on Tuesday, Friday and Sunday. The FRA-KUL route will be on Monday, Thursday and Saturday.

During WTM London, the government also signed understandings to work more closely with Royal Brunei Airlines and Singapore Airlines.
          IHEU: Negara Iran dan Arab Saudi Tempat Terburuk di Dunia Bagi Ateis      Cache   Translate Page      

BINTANGNEWS.com –Arab Saudi, Iran dan Afghanistan adalah tempat terburuk di dunia bagi seorang ateis atau humanis, demikian laporan yang dirangkum International Humanist and Ethical Union (IHEU) pada hari Senin (29/10) di depan Majelis Umum PBB.
Tahun ini Arab Saudi dipandang tempat terburuk untuk seorang ateis terutama karena undang-undang negara itu yang menyamakan tidak beragama dengan terorisme.

Pada pemeringkatan tahun 2018 ini, Malaysia dan Brunei Darussalam menduduki urutan terburuk ke delapan dan sepuluh sedunia.

Sementara Indonesia masih dianggap buruk walaupun tak ada lagi laporan individual seperti yang terjadi di Sumatra Barat pada 2012, Alexander A'an, PNS yang dihukum karena mengaku dirinya ateis.

"Ini adalah yang pertama di dunia. Untuk pertama kalinya laporan kami memperlihatkan, secara meyakinkan dan tepat, diskriminasi yang dihadapi orang di dunia karena tidak percaya pada agama. Laporan ini memperlihatkan gambaran yang suram, terkait dengan diskriminasi signifikan yang dihadapi teman dan kolega yang tidak beragama di dunia," demikian dikatakan Presiden IHEU, Andrew Copson lewat situsnya.

Dia mengatakan, saat terjadi peningkatan nasionalisme, orang-orang yang cukup berani mengecam pemimpin keagamaan konservatif masih dipandang buruk, tidak patriotik dan subversif.

Meskipun pemeringkatan baru dilakukan pertama kali, keadaan kebebasan berpikir di Indonesia tidak berubah banyak dan dipandang tetap buruk dengan peringkat 183 dari 196 negara yang diteliti IHEU.

"Itu cukup tinggi, cukup buruk terkait dengan angka yang terakumulasi untuk sebuah negara. Dan ini terutama karena masalah kurangnya sekularisme. Terdapat banyak norma dan nilai agama yang ada di dalam ideologi negara. Ini tidak terlalu berubah (jika dibandingkan dengan sebelumnya) untuk negara-negara yang buruk (peringkatnya)," kata Bob Churchill, direktur komunikasi dan kampanye organisasi ini kepada Nuraki Aziz yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Terkait dengan kasus tuduhan ateisme, IHEU memandang tidak terjadi kasus sebesar dialami Alexander Aan, PNS di Sumatera Barat, yang dihukum 2,5 tahun penjara pada tahun 2012 karena terbukti menyebarkan kebencian lewat Facebook.

"Kami sama sekali tidak melihat jumlah kasus individual yang besar di Indonesia. Setahu kami, tidak terdapat lagi kasus individual."

"Tetapi yang perlu ditekankan adalah salah satu alasan tidak ditemukan lagi kasus adalah karena jika Anda diketahui sebagai ateis, Anda dibawa ke pengadilan dan dipenjara selama bertahun-tahun, sehingga ini membungkam orang," kata Churchill yang dilansir BBC Indonesia.

Sementara itu, tempat teratas bagi negara yang paling nyaman bagi ateis atau humanis adalah Taiwan, Belanda dan Belgia.

Para peneliti memandang Taiwan mengakui banyak agama tetapi tetap memberikan jaminan keamanan hak penduduk yang tidak mempercayai agama.

Laporan Kebebasan Berpikir ini membuat peringkat berbagai negara berdasarkan kriteria seperti pendidikan, konstitusi, masyarakat dan ekspresi.

IHEU mengeluarkan laporan tahunan ini untuk menggarisbawahi berbagai bentuk diskriminasi yang dialami penduduk jika mereka tidak beragama.***

.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com


          Keindahan dan Pesona Maluku Memukau Publik Australia      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Canberra - Publik Australia di Kota Canberra terpukau oleh pesona keindahan alam, budaya serta sejarah yang dimiliki oleh "Negeri Seribu Pulau" Maluku dalam acara Indonesian Cultural Circle (ICC) yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) bekerjasama dengan Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya, serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra di Balai Kartini pada tanggal 2 November 2018.

Acara bertajuk "The Wonders of Maluku" tersebut dihadiri para tamu dari latar belakang, mulai mulai dari pecinta budaya, penggiat seni, penulis buku hingga ibu rumah tangga.

Sejumlah istri Duta Besar dari negara-negara sahabat seperti Afghanistan, Brunei, Cambodia, Finlandia, Georgia, Jepang, Kazakhtan, Korea, Laos, Maroko, Mesir, Perancis, Singapura dan Yordania juga hadir dalam acara tersebut.

Para tamu yang hadir tampak terpesona dengan foto-foto kecantikan alam Banda Neira, Pulau Gunung Api, Pulau Bair, dan berbagai tempat bersejarah yang ada di Maluku seperti Benteng Belgica, Istana Kecil, dan rumah pengasingan Bung Hatta.

Menurut Caecilia Legowo, Ketua DWP KBRI Canberra yang membuka Pameran Budaya dan Kuliner Maluku, acara promosi ini dimaksudkan untuk mendekatkan masyarakat Australia dengan Maluku, sebagai salah satu wilayah kepulauan yang terdekat dengan Australia.

"Banyak sekali potensi dan ikon pariwisata Maluku yang sangat indah yang dapat ditawarkan ke publik Australia. Inilah salah satu misi kita, mempromosikan budaya dan kuliner sambil mendorong mereka berpariwisata ke Indonesia", ujarnya, seperti dikutip dari rilis resmi KBRI Canberra yang dimuat Liputan6.com, Rabu (7/11/2018).

"Pulau Maluku menawarkan banyak sekali destinasi wisata, mulai dari wisata alam, wisata sejarah dan wisata kuliner. Semuanya menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan asing", tambah orang nomor satu di DWP KBRI Canberra ini.

Salah satu pengunjung, yakni Robin Woods memgakui bahwa keindahan alam yang dimiliki oleh Maluku begitu mempesona.

"Selama ini orang Australia hanya mengenal Bali dan Lombok saja dan acara ini membuat saya ingin menjelajahi Indonesia lebih lagi," tambahnya.

 

Simak video pilihan berikut:

 

Pameran Khas Maluku

Acara Indonesian Cultural Circle (ICC) di Canberra pada tanggal 2 November 2018 (sumber: KBRI Canberra)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Kegiatan lain dalam acara Indonesian Cultural Circle (ICC) adalah pameran foto, rempah-rempah asli Maluku, yaitu Pala, Kayu Manis dan Cengkeh, perhiasan mutiara serta kain tenun yang indah, secara khusus dipajang di Balai Kartini.

Sejumlah tamu tampak amat tertarik dengan rempah-rempah yang dipajang dan berusaha mencium aroma rempah Pala.

Pada awal acara untuk memberikan suasana khas Maluku, para tamu langsung disuguhi dengan sejumlah lagu-lagu asal Maluku, antara lain Ayo Mama, Sio Mama, Buka Pintu, dan Huhate.

Kemudian dilanjutkan dengan paparan rinci terkait potensi pariwisata, budaya dan sejarah Maluku oleh Almira Devayanti, Sekretaris Kedua KBRI Canberra. Diplomat muda ini juga menjelaskan kemudahan bepergian ke berbagai tujuan wisata di Pulau Maluku bagi turis Australia.

Para tamu tampak takjub saat mengetahui sejarah Pulau Run di Kepulauan Banda yang dulu sangat kaya dengan rempah-rempah dan ditukar dengan Pulau Manhattan di Amerika Serikat melalui Perjanjian Brenda antara Belanda dan Inggris.

Irama musik Tari Lenso yang riang, membuat para pengunjung langsung ingin menari. Mereka tampak sangat gembira saat bersama-sama menari Tari Lenso yang dipandu oleh para anggota DWP KBRI Canberra lengkap dengan sapu tangan di tangan mereka.

"Apa makna dari sapu tangan putih ini," tanya seorang pengunjung.

"Tari Lenso menggambarkan kesantunan, rasa hormat, dan penerimaan dengan tulus kasih terhadap tamu, dan sapu tangan putih ini menandakan penerimaan yang tulus tersebut," tukas Novaliana Tambunan, Sekretaris Pertama KBRI Canberra.

Di akhir acara para pengunjung menikmati suguhan kuliner khas Maluku seperti Nasi Lalopa, Ikan Basa Colo-Colo, Rujak Natsepa dan Sayur Kei Gulai.

Sementara, pengunjung lain bernama Nicole Tucker mengakui sangat menyukai makanan khas dan Sambal Colo-Colo Maluku yang disajikan secara khusus siang itu.


          #london - sarah____1982      Cache   Translate Page      
Where's After Love #liverpoolfc #anfield #anfield #dubai #mydubai #jordan#myjordan #mysaudi #saudiarabia #liverpool #newyork#liverpoolfc #liverpool#london#londonfashion#kingdomofjordan🇯🇴#kingdomofjordan#mydubai#dubai#uae#uaecars#mydubai🇦🇪#mydubailife#mydubainewyear#mydubai❤️#mydubaitrip#mydubaipics#mydubaiphotos#mysaudi#saudi#bruneiroyalfamily#brunai#kingdomofjordan#jordankingdom#newyork#newbalance#usa#usarmyrangerssoldiers
          Keindahan dan Pesona Maluku Memukau Publik Australia      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Canberra - Publik Australia di Kota Canberra terpukau oleh pesona keindahan alam, budaya serta sejarah yang dimiliki oleh "Negeri Seribu Pulau" Maluku dalam acara Indonesian Cultural Circle (ICC) yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) bekerjasama dengan Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya, serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra di Balai Kartini pada tanggal 2 November 2018.

Acara bertajuk "The Wonders of Maluku" tersebut dihadiri para tamu dari latar belakang, mulai mulai dari pecinta budaya, penggiat seni, penulis buku hingga ibu rumah tangga.

Sejumlah istri Duta Besar dari negara-negara sahabat seperti Afghanistan, Brunei, Cambodia, Finlandia, Georgia, Jepang, Kazakhtan, Korea, Laos, Maroko, Mesir, Perancis, Singapura dan Yordania juga hadir dalam acara tersebut.

Para tamu yang hadir tampak terpesona dengan foto-foto kecantikan alam Banda Neira, Pulau Gunung Api, Pulau Bair, dan berbagai tempat bersejarah yang ada di Maluku seperti Benteng Belgica, Istana Kecil, dan rumah pengasingan Bung Hatta.

Menurut Caecilia Legowo, Ketua DWP KBRI Canberra yang membuka Pameran Budaya dan Kuliner Maluku, acara promosi ini dimaksudkan untuk mendekatkan masyarakat Australia dengan Maluku, sebagai salah satu wilayah kepulauan yang terdekat dengan Australia.

"Banyak sekali potensi dan ikon pariwisata Maluku yang sangat indah yang dapat ditawarkan ke publik Australia. Inilah salah satu misi kita, mempromosikan budaya dan kuliner sambil mendorong mereka berpariwisata ke Indonesia", ujarnya, seperti dikutip dari rilis resmi KBRI Canberra yang dimuat Liputan6.com, Rabu (7/11/2018).

"Pulau Maluku menawarkan banyak sekali destinasi wisata, mulai dari wisata alam, wisata sejarah dan wisata kuliner. Semuanya menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan asing", tambah orang nomor satu di DWP KBRI Canberra ini.

Salah satu pengunjung, yakni Robin Woods memgakui bahwa keindahan alam yang dimiliki oleh Maluku begitu mempesona.

"Selama ini orang Australia hanya mengenal Bali dan Lombok saja dan acara ini membuat saya ingin menjelajahi Indonesia lebih lagi," tambahnya.

 

Simak video pilihan berikut:

 

Pameran Khas Maluku

Acara Indonesian Cultural Circle (ICC) di Canberra pada tanggal 2 November 2018 (sumber: KBRI Canberra)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Kegiatan lain dalam acara Indonesian Cultural Circle (ICC) adalah pameran foto, rempah-rempah asli Maluku, yaitu Pala, Kayu Manis dan Cengkeh, perhiasan mutiara serta kain tenun yang indah, secara khusus dipajang di Balai Kartini.

Sejumlah tamu tampak amat tertarik dengan rempah-rempah yang dipajang dan berusaha mencium aroma rempah Pala.

Pada awal acara untuk memberikan suasana khas Maluku, para tamu langsung disuguhi dengan sejumlah lagu-lagu asal Maluku, antara lain Ayo Mama, Sio Mama, Buka Pintu, dan Huhate.

Kemudian dilanjutkan dengan paparan rinci terkait potensi pariwisata, budaya dan sejarah Maluku oleh Almira Devayanti, Sekretaris Kedua KBRI Canberra. Diplomat muda ini juga menjelaskan kemudahan bepergian ke berbagai tujuan wisata di Pulau Maluku bagi turis Australia.

Para tamu tampak takjub saat mengetahui sejarah Pulau Run di Kepulauan Banda yang dulu sangat kaya dengan rempah-rempah dan ditukar dengan Pulau Manhattan di Amerika Serikat melalui Perjanjian Brenda antara Belanda dan Inggris.

Irama musik Tari Lenso yang riang, membuat para pengunjung langsung ingin menari. Mereka tampak sangat gembira saat bersama-sama menari Tari Lenso yang dipandu oleh para anggota DWP KBRI Canberra lengkap dengan sapu tangan di tangan mereka.

"Apa makna dari sapu tangan putih ini," tanya seorang pengunjung.

"Tari Lenso menggambarkan kesantunan, rasa hormat, dan penerimaan dengan tulus kasih terhadap tamu, dan sapu tangan putih ini menandakan penerimaan yang tulus tersebut," tukas Novaliana Tambunan, Sekretaris Pertama KBRI Canberra.

Di akhir acara para pengunjung menikmati suguhan kuliner khas Maluku seperti Nasi Lalopa, Ikan Basa Colo-Colo, Rujak Natsepa dan Sayur Kei Gulai.

Sementara, pengunjung lain bernama Nicole Tucker mengakui sangat menyukai makanan khas dan Sambal Colo-Colo Maluku yang disajikan secara khusus siang itu.


          Berkenan menerima mengadap      Cache   Translate Page      
BANDAR SERI BEGAWAN, 6 Nov – Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam hari ini berkenan menerima mengadap Utusan Perdagangan United Kingdom ke Negara Brunei Darussalam, Paul Scully di Istana Nurul Iman. Menyertai Paul Scully pada majlis mengadap itu ialah Pesuruhjaya […]
          Tiada kompromi      Cache   Translate Page      
BANDAR SERI BEGAWAN, 6 Nov – Negara Brunei Darussalam tetap mengekalkan pendirian tegas terhadap pergerakan pejuang pengganas asing dengan mengekalkan pangkalan data serantau dan antarabangsa melalui pertukaran perisikan dan kerjasama erat di antara rakan serantau. Selain itu, menurut Menteri Pertahanan II, Yang Berhormat Pehin Datu Lailaraja Mejar Jeneral (B) Dato Paduka Seri Haji Awang Halbi […]
          Dagangan Brunei pada Ogos meningkat      Cache   Translate Page      
Oleh Salawati Haji Yahya BANDAR SERI BEGAWAN, 6 Nov – Jumlah perdagangan Negara Brunei Darussalam pada bulan Ogos tahun ini meningkat kepada $1,241.3 juta berbanding $967.7 juta pada bulan Ogos 2017, iaitu peningkatan sebanyak 28.3 peratus tahun-ketahun. Jumlah eksport meningkat 42.1 peratus tahun-ketahun kepada $762.2 juta (Ogos 2018) dari $536.2 juta (Ogos 2017) disebabkan peningkatan […]
          Bincang isu-isu berkepentingan      Cache   Translate Page      
Oleh Imelda Groves HA BANDAR SERI BEGAWAN, 6 Nov – Tujuh orang ahli Persatuan Sejarah Brunei (PESEBAR) menyertai rombongan seramai 28 orang yang mewakili Negara Brunei Darussalam untuk menghadiri Forum Malaysia Brunei yang akan berlangsung selama dua hari bermula esok di Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Ahli-ahli PESEBAR berkenaan telah berlepas ke Malaysia, hari ini, bagi […]
           School effectiveness and improvement practices in excellent schools in Malaysia and Brunei       Cache   Translate Page      
A. Ghani, Muhammad Faizal and Siraj, Saedah and Mohd Radzi, Norfariza and Elham, Faisol (2011) School effectiveness and improvement practices in excellent schools in Malaysia and Brunei. In: 3rd World Conference on Educational Sciences, 03-07 February 2011, Istanbul, Turkey.
          RI dan 8 Negara Sepakat Berantas Penyebaran Terorisme via Medsos      Cache   Translate Page      

intelijen – Pemberantasan penyebaran paham terorisme di media sosial, khususnya di Twitter menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan sub-regional mengenai terorisme. Pertemuan ini diketuai oleh Indonesia dan Australia, dan turut diikuti oleh Malaysia, Singapura, Selandia Baru, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar dan Thailand. Menkopolhukam Wiranto dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Dalam Negeri Australia, Peter... Read more »

The post RI dan 8 Negara Sepakat Berantas Penyebaran Terorisme via Medsos appeared first on INTELIJEN.


           11-Pacific nation Japanese-led free trade pact to activate in 2019      Cache   Translate Page      
An 11-PACIFIC nation trade pact, once conceived as a check on Chinese influence, is set to kick in next year, reports Bloomberg.After the US pulled out, Australia was sixth country to ratify the Japan-led Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) - the number needed to trigger the 60-day countdown to the deal's activation."I expect other signatories will come on board after the CPTPP enters into force, as many are working hard to progress their applicable domestic procedures," New Zealand Trade Minister David Parker."As a result, we could well see other signatories in a position to ratify over the coming weeks and months."CPTPP countries represent 14 per cent of global GDP. Supporters will hail the deal's enactment as a victory for the global trading system bemoaned by US President Donald Trump, who quit the original TPP deal.Member nations were pushing to trigger the countdown so that the pact could come into provisional force before the end of the year. That would ensure an initial tariff cut followed by a second round on January 1, when most of the nations make their annual tariff reductions.Japan's reductions come on April 1 each year. "The timing means there will be the added bonus of a second round of tariff cuts in January 2019 for New Zealand exporters into those markets which apply a calendar tariff year," said Mr Parker.He said CPTPP marks the first free trade deal for New Zealand with Japan, the third largest economy in the world, as well as with Mexico and Canada, which are both G20 countries.Australia joined Canada, Mexico, Japan, Singapore and New Zealand in ratifying the deal. Countries yet to ratify are Brunei, Chile, Malaysia, Peru and Vietnam. The other countries will each join after ratifying but will face a delayed schedule of tariff cuts.

Source: Transportweekly
          Kualifikasi Piala AFC 2020: Timnas Indonesia U-23 Gabung Grup Berat      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Undian kualifikasi Piala AFC U-23 2020 telah dilangsungkan di Malaysia, Rabu (7/11/2018). Timnas Indonesia U-23 masuk di grup berat.

Garuda Muda, sebutan Timnas Indonesia U-23, berada di zona timur. Timnas Indonesia tergabung di Grup K bersama Vietnam, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Bila dilihat, Grup K merupakan negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Namun sudah jelas, grup ini sangat berat.

Pasalnya, Vietnam merupakan finalis Piala AFC U-23 2018. Mereka juga akan menjadi tuan rumah Grup K di babak kualifikasi Piala AFC U-23 2020. Sedangkan Thailand merupakan tuan rumah Piala AFC U-23 2020.

Perjuangan Timnas Indonesia U-23 di babak kualifikasi Piala AFC U-23 2020 akan dimulai pada 22 hingga 26 Maret tahun depan.

Juara grup dipastikan lolos, sedangkan runner up akan dipilih empat atau lima akan ada empat atau lima runner-up terbaik dari 11 tim runner-up fase kualifikasi yang akan lolos tergantung apakah Thailand masuk dalam dua posisi teratas atau tidak di Grup K.

Hasil Undian Kualifikasi Piala AFC U-23 2020

Zona Barat

Grup A Qatar*, Oman, Nepal, Afganistan

Grup B Palestina, Bahrain*, Bangladesh, Sri Langka

Grup C Irak, Iran*, Turkmenistan, Yaman

Grup D Arab Saudi*, Uni Emirat Arab, Lebanon, Maladewa

Grup E Yordania, Suriah, Kirgistan, Kuwait*

Grup F Uzbekistan*, Tajikistan, India, Pakistan

Zona Timur

Grup G Korea Utara, Hong Kong, Singapura, Mongolia*

Grup H Korea Selatan, Australia, Kamboja*, Cina Taipei

Grup I Jepang, Myanmar*, Timor Leste, Makau

Grup J Malaysia*, China, Laos, Filipina

Grup K Vietnam*, Thailand, Indonesia, Brunei Darussalam.

Keterangan: * tuan rumah

Saksikan video pilihan berikut ini:


           Việt Nam quyết đấu Thái Lan, Indonesia tại vòng loại U23 châu Á 2020       Cache   Translate Page      
Theo kết quả tại lễ bốc thăm chia bảng vòng loại U23 châu Á 2020 vừa diễn ra, đội tuyển U23 Việt Nam rơi vào bảng K cùng với 3 đội còn lại là Thái Lan, Indonesia và Brunei. Ngoài Brunei bị đánh giá yếu nhất thì Thái Lan và Indonesia vốn không phải là đối thủ dễ chơi với thầy trò HLV Park Hang Seo.
          Christine Douglass-Williams, Jihad Watch: Saudi Arabia the worst country for atheists, followed by nine other Muslim countries      Cache   Translate Page      

https://www.jihadwatch.org/2018/11/saudi-arabia-the-worst-country-for-atheists-followed-by-nine-other-muslim-countries

Saudi Arabia the worst country for atheists, followed by nine other Muslim countries


The International Humanist and Ethical Union (IHEU) released “its seventh annual Freedom of Thought Report at the U.N. General Assembly in New York City.” It listed the 10 best and the 10 worst countries for atheists.
The US ranked among the best, while Muslim countries, and particularly Sharia states, were the worst. No surprise there.
Belgium, the Netherlands, and Taiwan shared the No. 1 spot in the Top 10 best countries for nonreligious people list, followed by France, Japan, Nauru, São Tomé and Príncipe, Norway, the United States, and Saint Kitts and Nevis. Saudi Arabia was identified as the worst country for atheists, followed by Iran, Afghanistan, Maldives, Pakistan, United Arab Emirates, Mauritania, Malaysia, Sudan, and Brunei.
The IHEU report was in effect, a test of the tolerance of the citizens of various countries worldwide. Let’s keep in mind, meanwhile, that fascists deem freedom of thought and freedom of speech to be threatening to their rule. As we hear tale-bearers in Western societies incessantly tout “diversity,” “multiculturalism,” “tolerance,” and wide-open immigration policies, one wonders if they themselves actually believe what they are saying, since they routinely embrace the worst elements of humanity — those who in fact flatly reject “diversity” and are defiantly intolerant. As a result, Western societies are in grave danger of losing their status as havens of tolerance, pluralism, and freedom, thanks to globalists who think that migrants from the most intolerant nations will magically integrate, give up their faith in the Sharia, and accept Judeo-Christian values as their new norm.
What was the purpose of the study? And what will Western policymakers and so-called human rights activists actually do about it, if anything? The results of this study will likely lead to nowhere. The willfully blind will continue to promote their fanciful utopian worldview and blame truth-tellers for trying to wake people up.
“Top 10 Best, Worst Countries for Atheists Ranked: USA Among Best, Islamic Regimes the Worst,” by Stoyan Zaimov, Christian Post, October 30, 2018:
A secular watchdog group has ranked the best and worst countries for atheists and non-religious people, finding the United States to be among the best, with Islamic regimes making up the worst.
The International Humanist and Ethical Union released on Monday its seventh annual Freedom of Thought Report at the U.N. General Assembly in New York City, which for the first time included national rankings.
“This is a world’s first. For the first time our report will show, with authority and accuracy, the discrimination faced by people around the world because of their nonreligious beliefs. This report paints a dark picture, with significant discrimination faced by our nonreligious friends and colleagues around the world,” said Andrew Copson, president of the IHEU.
“At a time of growing nationalism, we continue to see those who are brave enough to criticize and critique conservative religious leaders demonized as ‘unpatriotic’ and ‘subversive,'” he added.
The rankings included considerations such as the approach to religious freedom by governments, as well as educational, societal, and freedom of expression issues.
Belgium, the Netherlands, and Taiwan shared the No. 1 spot in the Top 10 best countries for nonreligious people list, followed by France, Japan, Nauru, São Tomé and Príncipe, Norway, the United States, and Saint Kitts and Nevis.
Saudi Arabia was identified as the worst country for atheists, followed by Iran, Afghanistan, Maldives, Pakistan, United Arab Emirates, Mauritania, Malaysia, Sudan, and Brunei.
“In the worst spot, Saudi Arabia comes into particular criticism for a 2014 law defining the ‘promotion of atheist thought in any form’ as terrorism, and for the prosecution of liberal activists and campaigners generally, including a death sentence handed down in 2017 for an alleged ‘apostate,’ Ahmad Al-Shamri, on the accusation of atheism,” IHEU noted….

Christine Douglass-Williams
Christine Douglass-Williams is a nine-time international award-winning broadcast journalist and author of the book The Challenge of Modernizing IslamShe is a former Director with the Canadian Race Relations Foundation, appointed by the Harper Conservative government, but terminated by the Trudeau government for her writings against political Islam on Jihad Watch. She was also an advisor to the Conservative Government’s Office of Religious Freedom, shut down by the Trudeau Liberal government.
To book Christine Douglass-Williams to speak, write to AntiJihad37@gmail.com.
...
Before it’s too late for Western Europe and the United States, which gave birth to the traditions of freedom and equality of rights for all that shine today as lights in the entire world, this must be stopped. Therefore Jihad Watch seeks to bring public attention to:
  • The plight of the dhimmis, an immense but almost completely ignored ongoing scandal that continues in Muslim countries today;
  • The plight of women under Sharia provisions, similar to conditions imposed on dhimmis, in the denial of equal rights and dignity;
  • Slavery in Islamic lands, which continues today, justified by Sharia-‘s dhimmi codes;
  • The integral role of jihad and dhimmitude ideology in global terrorism today;
  • The license that academic and journalistic whitewashes of dhimmitude gives to radical jihadist enemies of human rights for all.
Jihad Watch fights to ensure that deeds done in the darkness for so long will not continue to be done. The light of world attention is anathema to the proponents of jihad and dhimmitude: we have seen in recent years that women sentenced to stoning for adultery, often victims of rape unjustly accused thanks to Sharia laws disallowing rape victims’ testimony, were freed following international outcry. Jihad Watch seeks to provoke similar, continuous and increasing outcry wherever and whenever the Sharia’s institutionalized injustices threaten dhimmis and women.

May the truth prevail.

          PT PAL Ekspor 2 Kapal Militer ke Filipina pada 2018      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Jakarta - PT Penataran Angkatan Laut (PT PAL) akan ekspor dua kapal militer ke Filipina pada 2018. Salah satu jenis kapal yang akan di ekspor adalah Landing Platform Dock (LPD) sepanjang 143 meter dengan harga sekitar USD 43 juta atau sekitar Rp 626,24 miliar (asumsi kurs Rp 14.563 per dolar AS). 

"(Harga) tergantung sebenarnya atas permintaan mereka, type seperti ini (LDP) misalnya sampai USD 43 juta USD, tapi terkait spesifikasi keinginan mereka itu (harga) bisa naik bisa turun," ujar Manager Humas PT PAL Bayu Witjaksono di JiExpo, Jakarta, Kamis (7/11).

Kapal jenis LDP ini memiliki banyak kelebihan antara lain kecepatan penuh (full load speed) sebesar 20 knots, kecepatan berlayar hingga 12 knots dan daya tahan dalam 12 knots selama 30 hari.

Kapal ini juga sempat digunakan untuk evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

"Ini paling disukai, di samping dia sebagai support atau kapal pendukung untuk military dia juga bisa untuk kegiatan sosial, korban bencana alam. Kemarin juga produk PT PAL bisa membantu mencari korban JT 610, itu punya PT PAL. Memang kapal ini dilengkapi alat untuk mendeteksi," ujar dia.

Bayu mengatakan, sejauh ini kapal milik PT PAL cukup diminati oleh negara lain. Bahkan pemesanan kapal banyak yang datang dari Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara.

"Alhamdulillah, untuk kapal kapal ini sampai ke Afrika, Timur Tengah, Asia Tenggara termasuk Brunei, Malaysia, Thailand. Itu tertarik sejenis ini (LDP)," tutur dia.

Meski demikian, kapal buatan Indonesia ini nampaknya masih sulit menembus pasar Eropa. Alasannya, teknologi milik Eropa jauh lebih mumpuni. Indonesia sendiri telah menggandeng Eropa untuk meningkatkan kualitas kapal buatan dalam negeri.

"Kalau Eropa kita kalah teknologi. Kita dengan negara negara Eropa itu kerangkanya adalah collaboration stategic, kerja sama untuk meningkatkan teknologi dalam negeri. Kalau kita membangun kapal kita tidak punya tehnologi lebih, maka kita akan gandeng mereka meningkatkan teknologi kita,” ujar dia.

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

 

PT PAL Pamer 7 Produk Andalan di Indo Defense 2018

Kapal perang angkut tersebut mampu mengangkut 500 personel sekali berlayar dan satu helikopter. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Sebelumnya, PT Penataran Angkatan Laut (PT PAL) menjadi salah satu peserta dalam pameran internasional bidang teknologi industri pertahanan tiga matra, pameran kedirgantaraan dan helikopter serta pameran kemaritiman pada Indo Defence 2018 Expo and Forum.

Dalam kesempatan ini PAL memamerkan sejumlah produk andalannya. "Hari ini hari pertama pembukaan Indo Defence 2018. PAL Indonesia tergabung dalam Indonesia strategis industri. 14 BUMN jadi 1, khusus 3 matra yaitu laut, udara dan darat. Laut diwakili oleh PAL. PAL itu menampilkan beberapa produk unggulan," ujar Manager Humas PT PAL Bayu Witjaksono di JiExpo, Jakarta, Kamis 7 November 2018.

Adapun beberapa produk yang dipamerkan antara lain Kapal SSV ukuran 123 meter, Kapal Cepat Rudal (KCR) ukuran 60 meter, Kapal MRSS ukuran 163 meter.

Selain itu kesempatan ini juga digunakan untuk memamerkan Kapal Bantu Rumah Sakit sepanjang 124 meter, Kapal Selam, Kapal PKR 105 meter dan BMPP 30 MW (pembangkit terapung).

"Yang kita pamerkan kapal selam yang saat ini sedang dibangun, jenisnya U 209. Kemudian KCR 60 Kemudian LPD (Landing Platform Dock) 143 meter yang sedang dibangun dan beberapa produk development seperti MRSS 163 kemudian kapal rumah sakit. Ini yang kita tampilkan untuk menunjukkan seberapa mampu industri pertahanan khususnya makro laut itu," ujar Bayu.

Bayu menambahkan, selama ini kapal produksi PT PAL cukup diminati. Salah satu kapal yang paling laris adalah LPD (Landing Platform Dock) sepanjang 143 meter. Kapal jenis ini juga sempat dipakai untuk evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP pada Senin 29 Oktober 2018 di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

"Ini paling disukai, di samping dia sebagai support atau kapal pendukung untuk military dia juga bisa untuk kegiatan sosial, korban bencana alam. Kemarin juga produk PT PAL bisa membantu mencari korban JT 610, itu punya PT PAL. Memang kapal ini dilengkapi alat untuk mendeteksi," tutur dia. 

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 


          Kualifikasi Piala AFC 2020: Timnas Indonesia U-23 Gabung Grup Berat      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Undian kualifikasi Piala AFC U-23 2020 telah dilangsungkan di Malaysia, Rabu (7/11/2018). Timnas Indonesia U-23 masuk di grup berat.

Garuda Muda, sebutan Timnas Indonesia U-23, berada di zona timur. Timnas Indonesia tergabung di Grup K bersama Vietnam, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Bila dilihat, Grup K merupakan negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Namun sudah jelas, grup ini sangat berat.

Pasalnya, Vietnam merupakan finalis Piala AFC U-23 2018. Mereka juga akan menjadi tuan rumah Grup K di babak kualifikasi Piala AFC U-23 2020. Sedangkan Thailand merupakan tuan rumah Piala AFC U-23 2020.

Perjuangan Timnas Indonesia U-23 di babak kualifikasi Piala AFC U-23 2020 akan dimulai pada 22 hingga 26 Maret tahun depan.

Juara grup dipastikan lolos, sedangkan runner up akan dipilih empat atau lima akan ada empat atau lima runner-up terbaik dari 11 tim runner-up fase kualifikasi yang akan lolos tergantung apakah Thailand masuk dalam dua posisi teratas atau tidak di Grup K.

Hasil Undian Kualifikasi Piala AFC U-23 2020

Zona Barat

Grup A Qatar*, Oman, Nepal, Afganistan

Grup B Palestina, Bahrain*, Bangladesh, Sri Langka

Grup C Irak, Iran*, Turkmenistan, Yaman

Grup D Arab Saudi*, Uni Emirat Arab, Lebanon, Maladewa

Grup E Yordania, Suriah, Kirgistan, Kuwait*

Grup F Uzbekistan*, Tajikistan, India, Pakistan

Zona Timur

Grup G Korea Utara, Hong Kong, Singapura, Mongolia*

Grup H Korea Selatan, Australia, Kamboja*, Cina Taipei

Grup I Jepang, Myanmar*, Timor Leste, Makau

Grup J Malaysia*, China, Laos, Filipina

Grup K Vietnam*, Thailand, Indonesia, Brunei Darussalam.

Keterangan: * tuan rumah

Saksikan video pilihan berikut ini:


          Монета Бруней 10 долларов 1977      Cache   Translate Page      

Страна: Бруней
Название: 10 долларов
Цена: 4080
Приблизительный размер: 37*37 mm
Год: 1977
Посмотреть в магазине
           Perusahaan pukat tunda di Semenanjung Malaysia (1965-2005):"Ditelan mati emak di luah mati bapak"       Cache   Translate Page      
Mohd Ariff, M.R. (2009) Perusahaan pukat tunda di Semenanjung Malaysia (1965-2005):"Ditelan mati emak di luah mati bapak". In: Seminar Serantau Sejarah Dalam Pembangunan Negara, 10-11 Jan 2009, Brunei Darussalam. (Submitted)
          Монета Бруней 50 сен 1968      Cache   Translate Page      

Страна: Бруней
Название: 50 сен
Цена: 200
Приблизительный размер: 26*26 mm
Год: 1968
Посмотреть в магазине
           Enterovirus 71 outbreak, Brunei       Cache   Translate Page      
AbuBakar, S. and Sam, I.C. and Yusof, J. and Lim, M.K. and Misbah, S. and MatRahim, N. and Hooi, Poh-Sim (2009) Enterovirus 71 outbreak, Brunei. Emerging Infectious Diseases, 15 (1). pp. 79-82. ISSN 1080-6040
           Genetic characterization of dengue virus type 1 isolated in Brunei in 2005-2006       Cache   Translate Page      
Osman, O. and Fong, M.Y. and Sekaran, S.D. (2009) Genetic characterization of dengue virus type 1 isolated in Brunei in 2005-2006. Journal of General Virology, 90 (3). pp. 678-686. ISSN 0022-1317
           Enterovirus 71 outbreak, Brunei       Cache   Translate Page      
AbuBakar, S. and Sam, I. and Yusof, J. and Lim, M.K. and Misbah, S. and MatRahim, N.A. and Hooi, P. (2009) Enterovirus 71 outbreak, Brunei. Emerging Infectious Diseases, 15 (1). pp. 79-82. ISSN 1080-6059
          Brunei Oil and Gas Market Analysis and Forecast till 2025      Cache   Translate Page      
(EMAILWIRE.COM, November 06, 2018 ) Brunei Oil and Gas Industry Market Research Report provides a comprehensive assessment of the fast-evolving Oil and Gas Market. The Report gives Forecasts with Competitive Landscape of the Leading Companies including Brunei and Regional Analysis of the Oil and...
          Ambuyat      Cache   Translate Page      

If you like to play with your food, then ambuyat is the treat for you. Eating this translucent dish, called linut by the Melanau of Sarawak, Malaysia, and ambuyat by Bruneians, requires a sticky, multistep dance. Diners must plunge and twirl a pair of two-pronged bamboo tongs, called chandas (think cheater chopsticks), into the starchy goo so that it sticks to the utensil and can make its way from bowl to dipping sauce to mouth, where it's slurped down with no chewing required.

To make ambuyat, one simply mixes water with the interior wood pulp from the Rumbia tree. As with most starch, experienced makers will begin by crafting a slurry, first introducing a small amount of water to ensure that the mixture is smooth and free of lumps before hydrating it fully to the proper gelatinous consistency. According to some, this part of the process takes more than physical technique: Stirrers are supposed to put their mind at ease while mixing the pulp so as not to incorporate their own lump-inducing troubles into the mix.

The resulting smooth and stretchy substance, with an almost imperceptibly mild flavor, makes an ideal vehicle for the dipping sauce, or cacah. Most typical is binjai cacah, a sour and spicy combination of lime, onions, garlic, and binjai, a local fruit with a sweet and sour flavor. Some cacahs feature tempoyak, a condiment based on fermented durian.

Served in a large bowl with several chandas, at least one dipping sauce, and dishes of fresh, raw vegetables (called ulam-ulaman) to add some crunch, ambuyat is meant for sharing. Family and friends gather round the stretchy starch, twirling their chandas until they have a soft, bite-sized clump affixed to their utensil, which they dip into the accompanying cacah and deliver to their stomachs with one sweet-and-sour swallow. Like many dipped foods, it's easy to get into a trance as one goes from bowl to sauce to mouth to crunchy interlude. But for all the clear instructions eating these gluey globules, advice on when and how to stop is mysteriously absent.


          Berkenan menerima mengadap      Cache   Translate Page      
BANDAR SERI BEGAWAN, 7 Nov – Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam, hari ini berkenan menerima mengadap Menteri Hal Ehwal Luar Negeri Republik Turki, Tuan Yang Terutama Mevlut Cavusoglu di Istana Nurul Iman. (Klik di sini untuk cerita lanjut)  
          Akses lebih mudah      Cache   Translate Page      
  BANDAR SERI BEGAWAN, 7 Nov – Kementerian Pembangunan telah melancarkan sebuah buku garis panduan bertajuk ‘Different Abilities Guidelines’ untuk menambah baik kualiti hidup bagi warga kelainan upaya di Negara Brunei Darussalam. (Klik di sini untuk cerita lanjut)
          Timnas Indonesia Segrup dengan Thailand, Vietnam dan Brunei      Cache   Translate Page      
Timnas Indonesia U-23 tergabung di Grup K pada Kualifikasi AFC Cup U-23 2020
          In 2016, emergency laws restricted religious freedoms of Muslims more than other groups      Cache   Translate Page      

In 2016, seven nations – Turkey, Brunei, Ethiopia, France, Hungary, Niger and Tunisia – directly used emergency laws to restrict religion, according to Pew Research Center’s latest annual religious restrictions study. While a number of different religious groups were targeted, these laws imposed restrictions on Muslims more than any other group.

The post In 2016, emergency laws restricted religious freedoms of Muslims more than other groups appeared first on Pew Research Center.


          Brunei trade balance records 170.4 pct rise in August - Xinhua      Cache   Translate Page      

Brunei trade balance records 170.4 pct rise in August
Xinhua
BANDAR SERI BEGAWAN, Nov. 7 (Xinhua) -- For the month of August 2018, Brunei recorded 283.1 million Brunei dollars (206.7 million U.S. dollars) trade balance from 104.7 million Brunei dollars in August 2017, a 170.4 percent year-on-year rise. According ...

and more »



Next Page: 10000

Site Map 2018_01_14
Site Map 2018_01_15
Site Map 2018_01_16
Site Map 2018_01_17
Site Map 2018_01_18
Site Map 2018_01_19
Site Map 2018_01_20
Site Map 2018_01_21
Site Map 2018_01_22
Site Map 2018_01_23
Site Map 2018_01_24
Site Map 2018_01_25
Site Map 2018_01_26
Site Map 2018_01_27
Site Map 2018_01_28
Site Map 2018_01_29
Site Map 2018_01_30
Site Map 2018_01_31
Site Map 2018_02_01
Site Map 2018_02_02
Site Map 2018_02_03
Site Map 2018_02_04
Site Map 2018_02_05
Site Map 2018_02_06
Site Map 2018_02_07
Site Map 2018_02_08
Site Map 2018_02_09
Site Map 2018_02_10
Site Map 2018_02_11
Site Map 2018_02_12
Site Map 2018_02_13
Site Map 2018_02_14
Site Map 2018_02_15
Site Map 2018_02_15
Site Map 2018_02_16
Site Map 2018_02_17
Site Map 2018_02_18
Site Map 2018_02_19
Site Map 2018_02_20
Site Map 2018_02_21
Site Map 2018_02_22
Site Map 2018_02_23
Site Map 2018_02_24
Site Map 2018_02_25
Site Map 2018_02_26
Site Map 2018_02_27
Site Map 2018_02_28
Site Map 2018_03_01
Site Map 2018_03_02
Site Map 2018_03_03
Site Map 2018_03_04
Site Map 2018_03_05
Site Map 2018_03_06
Site Map 2018_03_07
Site Map 2018_03_08
Site Map 2018_03_09
Site Map 2018_03_10
Site Map 2018_03_11
Site Map 2018_03_12
Site Map 2018_03_13
Site Map 2018_03_14
Site Map 2018_03_15
Site Map 2018_03_16
Site Map 2018_03_17
Site Map 2018_03_18
Site Map 2018_03_19
Site Map 2018_03_20
Site Map 2018_03_21
Site Map 2018_03_22
Site Map 2018_03_23
Site Map 2018_03_24
Site Map 2018_03_25
Site Map 2018_03_26
Site Map 2018_03_27
Site Map 2018_03_28
Site Map 2018_03_29
Site Map 2018_03_30
Site Map 2018_03_31
Site Map 2018_04_01
Site Map 2018_04_02
Site Map 2018_04_03
Site Map 2018_04_04
Site Map 2018_04_05
Site Map 2018_04_06
Site Map 2018_04_07
Site Map 2018_04_08
Site Map 2018_04_09
Site Map 2018_04_10
Site Map 2018_04_11
Site Map 2018_04_12
Site Map 2018_04_13
Site Map 2018_04_14
Site Map 2018_04_15
Site Map 2018_04_16
Site Map 2018_04_17
Site Map 2018_04_18
Site Map 2018_04_19
Site Map 2018_04_20
Site Map 2018_04_21
Site Map 2018_04_22
Site Map 2018_04_23
Site Map 2018_04_24
Site Map 2018_04_25
Site Map 2018_04_26
Site Map 2018_04_27
Site Map 2018_04_28
Site Map 2018_04_29
Site Map 2018_04_30
Site Map 2018_05_01
Site Map 2018_05_02
Site Map 2018_05_03
Site Map 2018_05_04
Site Map 2018_05_05
Site Map 2018_05_06
Site Map 2018_05_07
Site Map 2018_05_08
Site Map 2018_05_09
Site Map 2018_05_15
Site Map 2018_05_16
Site Map 2018_05_17
Site Map 2018_05_18
Site Map 2018_05_19
Site Map 2018_05_20
Site Map 2018_05_21
Site Map 2018_05_22
Site Map 2018_05_23
Site Map 2018_05_24
Site Map 2018_05_25
Site Map 2018_05_26
Site Map 2018_05_27
Site Map 2018_05_28
Site Map 2018_05_29
Site Map 2018_05_30
Site Map 2018_05_31
Site Map 2018_06_01
Site Map 2018_06_02
Site Map 2018_06_03
Site Map 2018_06_04
Site Map 2018_06_05
Site Map 2018_06_06
Site Map 2018_06_07
Site Map 2018_06_08
Site Map 2018_06_09
Site Map 2018_06_10
Site Map 2018_06_11
Site Map 2018_06_12
Site Map 2018_06_13
Site Map 2018_06_14
Site Map 2018_06_15
Site Map 2018_06_16
Site Map 2018_06_17
Site Map 2018_06_18
Site Map 2018_06_19
Site Map 2018_06_20
Site Map 2018_06_21
Site Map 2018_06_22
Site Map 2018_06_23
Site Map 2018_06_24
Site Map 2018_06_25
Site Map 2018_06_26
Site Map 2018_06_27
Site Map 2018_06_28
Site Map 2018_06_29
Site Map 2018_06_30
Site Map 2018_07_01
Site Map 2018_07_02
Site Map 2018_07_03
Site Map 2018_07_04
Site Map 2018_07_05
Site Map 2018_07_06
Site Map 2018_07_07
Site Map 2018_07_08
Site Map 2018_07_09
Site Map 2018_07_10
Site Map 2018_07_11
Site Map 2018_07_12
Site Map 2018_07_13
Site Map 2018_07_14
Site Map 2018_07_15
Site Map 2018_07_16
Site Map 2018_07_17
Site Map 2018_07_18
Site Map 2018_07_19
Site Map 2018_07_20
Site Map 2018_07_21
Site Map 2018_07_22
Site Map 2018_07_23
Site Map 2018_07_24
Site Map 2018_07_25
Site Map 2018_07_26
Site Map 2018_07_27
Site Map 2018_07_28
Site Map 2018_07_29
Site Map 2018_07_30
Site Map 2018_07_31
Site Map 2018_08_01
Site Map 2018_08_02
Site Map 2018_08_03
Site Map 2018_08_04
Site Map 2018_08_05
Site Map 2018_08_06
Site Map 2018_08_07
Site Map 2018_08_08
Site Map 2018_08_09
Site Map 2018_08_10
Site Map 2018_08_11
Site Map 2018_08_12
Site Map 2018_08_13
Site Map 2018_08_15
Site Map 2018_08_16
Site Map 2018_08_17
Site Map 2018_08_18
Site Map 2018_08_19
Site Map 2018_08_20
Site Map 2018_08_21
Site Map 2018_08_22
Site Map 2018_08_23
Site Map 2018_08_24
Site Map 2018_08_25
Site Map 2018_08_26
Site Map 2018_08_27
Site Map 2018_08_28
Site Map 2018_08_29
Site Map 2018_08_30
Site Map 2018_08_31
Site Map 2018_09_01
Site Map 2018_09_02
Site Map 2018_09_03
Site Map 2018_09_04
Site Map 2018_09_05
Site Map 2018_09_06
Site Map 2018_09_07
Site Map 2018_09_08
Site Map 2018_09_09
Site Map 2018_09_10
Site Map 2018_09_11
Site Map 2018_09_12
Site Map 2018_09_13
Site Map 2018_09_14
Site Map 2018_09_15
Site Map 2018_09_16
Site Map 2018_09_17
Site Map 2018_09_18
Site Map 2018_09_19
Site Map 2018_09_20
Site Map 2018_09_21
Site Map 2018_09_23
Site Map 2018_09_24
Site Map 2018_09_25
Site Map 2018_09_26
Site Map 2018_09_27
Site Map 2018_09_28
Site Map 2018_09_29
Site Map 2018_09_30
Site Map 2018_10_01
Site Map 2018_10_02
Site Map 2018_10_03
Site Map 2018_10_04
Site Map 2018_10_05
Site Map 2018_10_06
Site Map 2018_10_07
Site Map 2018_10_08
Site Map 2018_10_09
Site Map 2018_10_10
Site Map 2018_10_11
Site Map 2018_10_12
Site Map 2018_10_13
Site Map 2018_10_14
Site Map 2018_10_15
Site Map 2018_10_16
Site Map 2018_10_17
Site Map 2018_10_18
Site Map 2018_10_19
Site Map 2018_10_20
Site Map 2018_10_21
Site Map 2018_10_22
Site Map 2018_10_23
Site Map 2018_10_24
Site Map 2018_10_25
Site Map 2018_10_26
Site Map 2018_10_27
Site Map 2018_10_28
Site Map 2018_10_29
Site Map 2018_10_30
Site Map 2018_10_31
Site Map 2018_11_01
Site Map 2018_11_02
Site Map 2018_11_03
Site Map 2018_11_04
Site Map 2018_11_05
Site Map 2018_11_06
Site Map 2018_11_07