Next Page: 10000

          Liberia President George Weah Plays Against Nigeria In Friendly Game      Cache   Translate Page      

Liberian President George Weah who retired 16 years ago from football announced his comeback when he played against Nigeria in a friendly game aged 51 years old. The former Player of the Year award winner (Ballon dÓr) entertained his fans as he showed his golden old skills in his favorite jersey number 14, the same …

The post Liberia President George Weah Plays Against Nigeria In Friendly Game appeared first on Youth Village Kenya.


          9/12/2018: SPORT: President Weah, 51, returns to action      Cache   Translate Page      

LIBERIA president George Weah made a surprise return to football last night, playing in an international friendly aged 51. The former World Footballer of the Year, who spent six months on loan at Chelsea in 2000, played 79 minutes in a 2-1 defeat by...
          A 51 ans, le président libérien George Weah rechausse les crampons      Cache   Translate Page      

Le président du Liberia et ancienne légende du football George Weah salue la foule après un match amical contre le Nigeria, le 12 septembre 2018 à Monrovia AFP Zoom DOSSO

Le président du Liberia e

read more


          Presiden George Weah Ramaikan Laga Persahabatan Liberia Vs Nigeria      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Jakarta Setelah 15 tahun gantung sepatu, George Weah, akhirnya kembali lagi ke lapangan hijau. Mantan pemain AC Milan yang menjabat sebagai presiden Liberia tersebut tampil dalam laga uji coba melawan Nigeria, Selasa (11/9/2018).

Pertandingan berlangsung di Samuel Kanyon Doe Sport Complex. Dalam laga ini, Weah yang juga mantan bintang AS Monaco mengenakan nomor 14 dan menyandang ban kapten.

Seperti biasa, sebelum laga, Weah melakukan pemanasan bersama rekan setimnya. Lagu kebangsaan Liberia mengiringi langkah mereka menuju pertandingan melawan Elang Super.

Dalam video yang dirilis The Sun, Weah belum tampak kehilangan sentuhannya. Meski sudah belasan tahun gantung sepatu, Weah masih mampu memukau penonton lewat tendangannya pada menit 8. Sayang, bola mampu diintersep kiper lawan.

Pemain terbaik FIFA tahun 1995 itu juga masih berani menyongsong tendangan penjuru dengan kepala. Weah bertarung sepenuh hati. Namun timnya harus tertinggal 0-2 di babak pertama. Dua gol Elang Super dicetak Henry Onyekuru dan Simeon Nwankwo.

 

Mendapat Sambutan Meriah

Kekalahan tersebut tidak membuat George Weah kapok untuk berkarier di bidang politik. Pria 51 tahun itu kembali memutuskan untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden Liberia. (AFP/Zoom Dosso)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Weah kembali tampil di babak kedua. Mantan pemain PSG tersebut baru ditarik ke luar lapangan pada menit ke-80 yang disambut dengan tepuk tangan para penonton.

Nama Weah mulai mencuat saat mantan manajer Arsenal, mendatangkannya ke AS Monaco 1988. Sebelumnya pemain kelahiran 1 Oktober 1966 itu bermain di klub Kamerun, Tonnerre Yaounde. Pilihan Wenger terbukti tepat. Sebab di AS Monaco, bakat Weah semakin terasah dan menjadi incaran klub-klub Eropa lainnya. Setelah dari Monaco, Weah sempat memperkuat Paris Saint Germain (PSG) sebelum kemudian pindah ke AC Milan, 1995.

Weah juga sempat menjajal Liga Inggris saat dipinjamkan ke Chelsea dan bermain bersama Manchester City pada tahun 2000.Setelah memutuskan pensiun dari sepak bola, George Weah aktif di dunia politik. Tahun lalu, dia kemudian terpilih menjadi presiden Liberia.

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

 

 


          9/13/2018: TIMES SPORT: PRESIDENT WEAH MAKES SURPRISE RETURN AT 51!      Cache   Translate Page      
Johannesburg: Liberia president and former world footballer of the year George Weah made a surprise return to international football Tuesday at the age of 51 in a 2-1 friendly defeat by Nigeria. The international match in Monrovia was organised to...
          Nigerian football a model to follow – President Weah      Cache   Translate Page      
The President of the Republic of Liberia, George Oppong Weah, has hailed Nigeria as a great and worthy ally in national development and also described Nigerian football as a model that he would want his country to follow.
          President Weah plays for Liberia aged 51      Cache   Translate Page      

MONROVIA, Liberia, Sep 12 – Liberia president and former world footballer of the year George Weah made a surprise return to international football Tuesday at the age of 51 in a 2-1 friendly defeat by Nigeria. The international match in Monrovia was organised to ‘retire’ the number 14 shirt worn by Weah, who was voted world, […]

The post President Weah plays for Liberia aged 51 appeared first on Capital Sports.


          Presiden George Weah Ramaikan Laga Persahabatan Liberia Vs Nigeria      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Jakarta Setelah 15 tahun gantung sepatu, George Weah, akhirnya kembali lagi ke lapangan hijau. Mantan pemain AC Milan yang menjabat sebagai presiden Liberia tersebut tampil dalam laga uji coba melawan Nigeria, Selasa (11/9/2018).

Pertandingan berlangsung di Samuel Kanyon Doe Sport Complex. Dalam laga ini, Weah yang juga mantan bintang AS Monaco mengenakan nomor 14 dan menyandang ban kapten.

Seperti biasa, sebelum laga, Weah melakukan pemanasan bersama rekan setimnya. Lagu kebangsaan Liberia mengiringi langkah mereka menuju pertandingan melawan Elang Super.

Dalam video yang dirilis The Sun, Weah belum tampak kehilangan sentuhannya. Meski sudah belasan tahun gantung sepatu, Weah masih mampu memukau penonton lewat tendangannya pada menit 8. Sayang, bola mampu diintersep kiper lawan.

Pemain terbaik FIFA tahun 1995 itu juga masih berani menyongsong tendangan penjuru dengan kepala. Weah bertarung sepenuh hati. Namun timnya harus tertinggal 0-2 di babak pertama. Dua gol Elang Super dicetak Henry Onyekuru dan Simeon Nwankwo.

 

Mendapat Sambutan Meriah

Kekalahan tersebut tidak membuat George Weah kapok untuk berkarier di bidang politik. Pria 51 tahun itu kembali memutuskan untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden Liberia. (AFP/Zoom Dosso)#source%3Dgooglier%2Ecom#https%3A%2F%2Fgooglier%2Ecom%2Fpage%2F%2F10000

Weah kembali tampil di babak kedua. Mantan pemain PSG tersebut baru ditarik ke luar lapangan pada menit ke-80 yang disambut dengan tepuk tangan para penonton.

Nama Weah mulai mencuat saat mantan manajer Arsenal, mendatangkannya ke AS Monaco 1988. Sebelumnya pemain kelahiran 1 Oktober 1966 itu bermain di klub Kamerun, Tonnerre Yaounde. Pilihan Wenger terbukti tepat. Sebab di AS Monaco, bakat Weah semakin terasah dan menjadi incaran klub-klub Eropa lainnya. Setelah dari Monaco, Weah sempat memperkuat Paris Saint Germain (PSG) sebelum kemudian pindah ke AC Milan, 1995.

Weah juga sempat menjajal Liga Inggris saat dipinjamkan ke Chelsea dan bermain bersama Manchester City pada tahun 2000.Setelah memutuskan pensiun dari sepak bola, George Weah aktif di dunia politik. Tahun lalu, dia kemudian terpilih menjadi presiden Liberia.

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

 

 


          Weah jugó un amistoso con Liberia a sus 51 años      Cache   Translate Page      


          51-year old Liberian President, George Weah makes surprise return to football as he played for his country in a match against Nigeria (Photos)      Cache   Translate Page      
Liberia president George Weah played in an international friendly for his country on Tuesday – at the age of 51. Weah, the first African footballer to win FIFA’s World Player of the Year award, featured for 79 minutes of a 2-1 home defeat by Nigeria in Monrovia. Liberia arranged the friendly to retire their number […]
          President George Weah makes football comeback aged 51      Cache   Translate Page      
Johannesburg (AFP) – Liberia president and former world footballer of the year George Weah made a surprise return to international football Tuesday at the age of 51 in a 2-1 friendly defeat by Nigeria. The...
          Berita Bola: Presiden George Weah Ramaikan Laga Persahabatan Liberia Vs Nigeria Kamis 13 September 2018      Cache   Translate Page      
none
           Weah torna in campo a 52 anni in Liberia-Nigeria       Cache   Translate Page      
Per la serie, a volte ritornano, George Weah si riprende il palcoscenico e scende in campo a quasi 52 anni (li compirà il prossimo primo ottobre) per disputare un'amichevole contro la Nigeria. È...
          RD Congo : Anthony Mossi « Je n’avais pas de pression particulière »      Cache   Translate Page      

Alors qu’il a feté sa première titularisation lors de la rencontre de la RD Congo face au Liberia ce dimanche dans le cadre de la deuxième journée des éliminatoires de […]

Lire l'article RD Congo : Anthony Mossi « Je n’avais pas de pression particulière » sur Africa Top Sports.


          Watch Liberia president George Weah return to the pitch against Nigeria      Cache   Translate Page      
The former Chelsea and Manchester City forward won World Player of the Year in 1995.
          Nigeria/Liberia:George Weah in Action As Super Eagles Beat Liberia in Friendly      Cache   Translate Page      
[Premium Times] The President of Liberia and former World Footballer of the Year, George Weah, was in action on Tuesday night for the Lone Stars as they lost 2-1 to the Super Eagles of Nigeria in a friendly match.
          Nigeria:Twitter Reacts to George Weah's 79-Minute Show Against Super Eagles      Cache   Translate Page      
[Guardian] 51-year-old George Weah, president of Liberia took up the number 14 jersey against the Super Eagles of Nigeria in a friendly to mark the retirement of the jersey. He was joined by 48-year-old Liberia's Coach and retired player James Debbah.
          Nigeria:President Weah Makes Surprise Return to Football Against Super Eagles of Nigeria      Cache   Translate Page      
[Vanguard] Liberia President and former World Footballer of the Year George Weah made a surprise return to international competition in Monrovia on Tuesday, playing in a 2-1 loss to Nigeria.
          President George Weah makes football comeback aged 51      Cache   Translate Page      
Author: 
AFP
article author: 
ID: 
1536755826687191600
Wed, 2018-09-12 12:28

JOHANNESBURG: Liberia president and former world footballer of the year George Weah made a surprise return to international football Tuesday at the age of 51 in a 2-1 friendly defeat by Nigeria.
The international match in Monrovia was organized to ‘retire’ the number 14 shirt worn by Weah, who was voted world, European and African footballer of the year in 1995.
Weah, who scored a landslide victory in presidential elections last December, is the only African footballer to win the world and European awards.

Main category: 

          RAIS ACHEZA DAKIKA 79 MECHI YA KIRAFIKI      Cache   Translate Page      
Rais wa Liberia George Weah alicheza mechi ya kirafiki ya kimataifa kwa nchi yake siku ya Jumanne akiwa na miaka 51.

Weah ambaye ni mchezaji wa kwanza wa soka kutoka Afrika kushinda tuzo la mchezaji bora wa Fifa, alicheza dakika 79 kwenye mechi ambapo walishindwa na Nigeria kwa mabao 2-1 nyumbani Monrovia.

Liberia ilipanga mechi hiyo ya kirafiki kupumzisha shati namba 14 ambalo lilitumiwa na Weah wakati wa kilele cha taaluma yake.George Weah alichezea Monaco, Paris St-Germain na AC Milan - akikaa muda mfupi Chelsea na Manchester City

Mchezaji huyo wa zamani wa AC Milan, ambaye aliapishwa kuwa Rais mwezi Januari, alishangiliwa wakati akitolewa uwanjani wakati wa mabadiliko.

Nigeria ilikuwa na kikosi kikali akiwemo Wilfred Ndidi wa Leicester na mwenzake Peter Etebo wa Stoke City.

Etebo alipiga kona ambayo Simeon Nwankwo aliitumia kuiweka Nigeria kifua mbele kwa mabao 2-0 baada ya Henry Onyekuru ambaye yuko kwa mkopo huko Galatasaray kutoka Everton kufunga bao la kwanza. Liberia walifunga bao lao kwa njia ya penalti iliyopigwa na Kpah Sherman.
Chanzo - BBC

          9/12/2018: Sport: President Weah, 51, returns to action      Cache   Translate Page      

LIBERIA president George Weah made a surprise return to football last night, playing in an international friendly aged 51. The former World Footballer of the Year, who spent six months on loan at Chelsea in 2000, played 79 minutes in a 2-1 defeat by...
          Liberia 10 Dollars m. Sibir. Tiger 2004      Cache   Translate Page      

Liberia 10 Dollars m. Sibir. Tiger 2004 Liberia 10 Dollars m. Sibirischem Tiger 2004 20 gramm Feinsilber + Feingold + 2 Diamanten in Augen ...
CHF 68.00


          A 51 ans, le président libérien George Weah rechausse les crampons      Cache   Translate Page      
Le president du Liberia et ancienne legende du football George Weah a refoule a 51 ans le terrain avec son equipe nationale lors d'un match amical...
          George Weah vuelve a jugar con 51 años      Cache   Translate Page      
Localizarlo en el momento del calentamiento fue coser y cantar. Todos los jugadores de la selección de Liberia salieron a pelotear con una camiseta azul, mientras que él lo hizo con una blanca. No fue esa la única pista visual. Una prominente barriga...
          Liberia's President Rejoins National Soccer Team      Cache   Translate Page      
(CNN)Liberia president George Weah made a surprise return to football on Tuesday -- playing for his country in a 2-1 defeat to Nigeria. The 51-year-old, the only African to win the Ballon d'Or and FIFA World Player of the Year, started the friendly match in the Liberian capital of Monrovia and ...
          9/13/2018: SPORT: Weah returns to the field at the age of 51      Cache   Translate Page      
Liberia president and former World Footballer of the Year George Weah made a surprise return to international competition in Monrovia on Tuesday, playing in a 2-1 loss to Nigeria a few weeks short of his 52nd birthday. Liberia had arranged the friendly...
          George Weah descuelga las botas y vuelve a jugar con Liberia      Cache   Translate Page      
George Weah, de 51 años, descolgó temporalmente las botas para volver a vestir la camiseta de Liberia, país del que ejerce de presidente desde el pasado enero, en el amistoso contra Nigeria. El partido sirvió para rendir homenaje al exdelantero,...
          Re: Sex tourism in Gambia...      Cache   Translate Page      
From www gvnet.com I transfer the fllowing passage.

Human Trafficking and Modern-day Slavery

The Gambia is a source, transit, and destination country for children and women trafficked for the purposes of forced labor and commercial sexual exploitation. Within The Gambia, women and girls, and to a lesser extent boys, are trafficked for sexual exploitation, in particular to meet the demand for European sex tourism, and for domestic servitude. Boys are trafficked within the country for forced begging by religious teachers and for street vending. Transnationally, women, girls and boys from neighboring countries are trafficked to The Gambia for the same purposes listed above. Primary source countries are Senegal, Mali, Sierra Leone, Liberia, Ghana, Nigeria, Guinea-Bissau, Guinea and Benin. Trafficking of Gambian boys to Senegal for forced begging and Senegalese boys to The Gambia for the same purpose is particularly prevalent. Gambian women and girls are trafficked to Senegal for domestic servitude, and possibly for sexual exploitation. Gambian women and children may be trafficked to Europe through trafficking schemes disguised as migrant smuggling. Reports in the last two years of Gambian, Senegalese, and nationals of other neighboring countries being transported from The Gambia to Spain by boat appear to be predominantly cases of smuggling rather than trafficking. - U.S. State Dept Trafficking in Persons Report, June, 2008 [
          Video: 51-year old George Weah takes on Nigeria's Super Eagles      Cache   Translate Page      

Liberia had arranged the friendly to retire the number 14 jersey made famous by Weah but fans were in for a shock when, 16 years after his last international appearance, the striker led the national t

Author: avatarafricanews-en
Tags: Liberia Nigeria African Football George Weah
Posted: 13 September 2018


          George Weah, président du Liberia, a rejoué avec l’équipe nationale      Cache   Translate Page      
Il est devenu président, mais sait encore taper dans le ballon. Le président du Liberia, George Weah, a pris part mardi soir à un match amical entre son pays et le Nigeria, perdu 2-1.A presque 52 ans,...
          Australia: la bambina di 9 anni che fa paura alla destra      Cache   Translate Page      

Harper Nielsen è una dolce bambina australiana con un carattere di acciaio e, insieme ai suoi genitori, è ai ferri corti con la Kenmore South State School che le ha chiesto di lasciare l’edificio dove la classe quarta che frequenta cantava l’inno nazionale australiano e di chiudersi in un’altra stanza, cosa che Harper ha rifiutato di fare.  La scuola ha tentato anche di costringerla a firmare scuse scritte per evitare la  sospensione .

Ma la bambina non molla e ha promesso di continuare la sua protesta pacifica contro l'Advance Australia Fair che, secondo lei, esclude gli indigeni australiani. Harper ha spiegato all’ABC: «Il motivo per cui non lo canto o non mi alzo in piedi è perché Advance Australia Fair significa Advance White Australia. Quando dice che siamo giovani, ignora completamente il fatto che la cultura indigena era qui da oltre 50.000 mila anni prima della colonizzazione».

Harper contesta i versi iniziali dell'inno australiano, che recita: «Tutti gli australiani si rallegrano, perché siamo giovani e liberi». Per questo, all'inizio del nuovo trimestre scolastico ha iniziato la sua protesta pacifica rifiutandosi di alzarsi in piedi quando gli altri scolari contano l’inno nazionale.

Nessuno sa se la bambina australiana sia stata influenzata dalla protesta giocatori di football americano della NFL, avviata dall'ex quarterback di San Francisco  Colin Kaepernick, che si sono inginocchiati durante l'inno nazionale degli Stati Uniti come gesto a favore di persone che vengono oppresse a causa della loro “”razza”. Quello che è certo è che la Kenmore South State School non l’ha presa bene e ha chiesto ad Haerper di stare in piedi durante l’inno, oppure di lasciare l’edificio mentre veniva cantato, ma il  suo continuo rifiuto di farlo è diventato un problema per l'amministrazione scolastica.

La settimana scorsa è stata messa in punizione da sola in una stanza durante la mensa e le è stato chiesto di firmare delle scuse per «sfacciata mancanza di rispetto» e per il suo rifiuto di seguire le istruzioni dell'insegnante. Inoltre, le è stato detto che non avrebbe potuto lasciare l'ufficio scolastico fino a quando non avesse firmato le scuse scritte e che poteva essere sospesa se continuava a comportarsi così.

Ma la tenace bambina non ha ceduto e sua madre, Yvette Miller, ha incontrato il preside ma la scuola e Harper rimangono ai ferri corti. La scuola ha offerto a Harper di non partecipare alla riunione degli scolari o di sedersi fuori dalla sala quando viene suonato l'inno, ma la bambina non molla e, sebbene il conflitto la metta in ansia, sente che rimanere seduta durante l'inno è il modo migliore per far capire a tutti gli altri bambini perché lo fa: «Immagina come sarebbe se tutti i tuoi amici cantassero l'inno se tu fossi una persona indigena, questo  mi rende determinata a continuare».

Una portavoce del Dipartimento per l'educazione ha detto che la Kenmore South State School è stata rispettosa dei desideri della scolara e ha fornito altre alternative per cantare l'inno nazionale, ma ha aggiunto che «Nei loro Responsible Behaviour Plan for Students, le scuole statali stabiliscono chiari standard del comportamento che si aspettano dai loro studenti».

Il padre di Harper, Mark Nielsen, appoggia sua figlia: «Non potrei dirti quanto siamo orgogliosi di lei, è incredibile, è una bambina incredibilmente coraggiosa e ha una tale risolutezza ed è disposta ad accettare tutto ciò che le viene incontro per prendere posizione per ciò in cui crede, siamo molto orgogliosi di chi è come persona. In passato ha avuto problemi con i bulli e in una situazione simile molti bambini vorrebbero nascondersi, ma il fatto che sia disposta a esporsi pubblicamente e prendere posizione per qualcosa in cui crede è notevole».

La cosa naturalmente ha scatenato contro Harper e la sua famiglia gli heater seriali su Facebook e Twitter e a capitanarli c’è la senatrice Pauline Hanson, presidente del partito della destra nazionalista One Nation che è al governo insieme ai liberaldemocratici. La discussa Hanson (che non è proprio un esempio di virtù nazionali), ha pubblicato un video su Facebook nel quale definisce Harper «vergognosa» e poi se la prende con i suoi genitori: «Qui abbiamo una bambina che è stata sottoposta al lavaggio del cervello e vi dico una cosa: le darei un calcio nel sedere. Stiamo parlando di una bambina che non ne ha idea. Questo divisivo, Sono orgogliosa dell'inno nazionale, riguarda chi siamo come nazione».

Anche Jarrod Bleijie, ministro ombra del Queensland per l'educazione del Partito nazionale liberale di centro-destra, ha criticato i genitori di Harper e ha definito quella della bambina «Una stupida protesta».

Ma altri che probabilmente fanno più opinione della Hanson e di Bleijie,  come il giornalista e conduttore televisivo australiano Georgie Gardner, hanno elogiato Harper per la sua «forza e carattere», due virtù che piacciono molto agli australiani. Gardner ha aggiunto: «La applaudo per aver preso in considerazione le parole dell'inno nazionale, un sacco di gente la snocciola e non ne considera il significato».

E anche su Twitter è partita la controffensiva per contrastare i messaggi d’odio sparsi da nazionalisti, liberal-denmocratici e neofascisti. Utilizzando con, l'hashtag #HarperNielsen, sono sempre più numerosi i messaggi che definiscono la scolaretta «la figlia più fantastica e brillante d'Australia» e  «L’eroina di cui l’Australia non si rende conto di aver bisogno».

La verità è che la semplice protesta di una bambina di 9 anni è deflagrata come una bomba in un contesto politico incendiario: in Australia l’ala destra del Partito liberaldemocratico ha appena assunto – facendo fuori con un golpe parlamentare il precedente premier liberaldemocratico -  la guida del governo con una piattaforma anti-ambientalista voluta da uomini che non vogliono riconoscere i diritti degli aborigeni, ma alcuni Stati australiani hanno preso provvedimenti per firmare i primi trattati con le popolazioni aborigene e con gli isolani autoctoni dello Stretto di Torres.

L'Australia è l'unico Paese del Commonwealth a non avere un trattato con le sue popolazioni indigene e i popoli autoctoni australiani - i veri proprietari ancestrali dell’isola-continente dei quali i nazionalisti bianchi vorrebbero cancellare cultura e storia – pensano che un trattato o dei  trattati  con il governo nazionale e/o con quelli statali sia la migliore possibilità di ottenere quei riconoscimenti sostanziali e simbolici che vengono loro negati perfino nell’inno nazionale. Per ritornare davvero padroni di parte delle immense risorse saccheggiate dai “bianchi”.. La coraggiosa protesta di Harper ha toccato questo nervo scoperto: quello di un genocidio che si vorrebbe dimenticare e perpetrato dagli antenati della  Hanson e di Bleijie, nipoti di immigrati colonialisti che hanno quasi cancellato una civiltà antichissima e resiliente e che ora vorrebbero chiudere le porte della storia e del futuro agli aborigeni e ad altri migranti.

Ecco perché alla destra australiana fa così paura una bambina di 9 anni che si rifiuta di cantare un inno.

L'articolo Australia: la bambina di 9 anni che fa paura alla destra sembra essere il primo su Greenreport: economia ecologica e sviluppo sostenibile.


          West Africa:George Weah Hails Nigerian Football As a 'Model'      Cache   Translate Page      
[Premium Times] The Liberian president, George Weah, has hailed Nigeria as a great and worthy ally in national development and also described Nigerian football as a model that he would want his country to follow.
          Nonstop! Fort Lauderdale to San Jose, Costa Rica for $207 round-trip      Cache   Translate Page      
Nonstop! Fort Lauderdale to San Jose, Costa Rica for $207 round-trip

Amazing deal: Fort Lauderdale to San Jose, Costa Rica flight round-trip as low as $207.

Continue reading Nonstop! Fort Lauderdale to San Jose, Costa Rica for $207 round-trip at AirfareSpot.com.


          9/13/2018: SPORT: MOMENTAUFNAHME      Cache   Translate Page      

Im Dezember wurde George Weah, der Weltfußballer von 1995, zum Staatsoberhaupt des afrikanischen Landes Liberia gewählt. In einem Länderspiel gegen Nigeria (1:2) feierte der 51-Jährige sein Comeback. Weah spielte 79 Minuten, die Fans feierten ihren Star.
          World: Global Weather Hazards Summary: September 14 - 20, 2018      Cache   Translate Page      
Source: Famine Early Warning System Network
Country: Afghanistan, Benin, Burkina Faso, Costa Rica, Côte d'Ivoire, Democratic Republic of the Congo, Dominican Republic, El Salvador, Eritrea, Ethiopia, Gambia, Ghana, Guatemala, Guinea, Guinea-Bissau, Haiti, Honduras, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Liberia, Mali, Mauritania, Nicaragua, Niger, Nigeria, Panama, Senegal, Sierra Leone, Somalia, South Sudan, Sudan, Tajikistan, Togo, Uganda, World, Yemen

Flood risk remains high over parts of Nigeria, as heavy rainfall is expected to continue

Africa Weather Hazards

  1. Heavy rainfall caused flooding in western and southern Nigeria. The forecast rain during the next week increases the risks for flooding over the region.

  2. Torrential rain has increased the level of the Atbara and Dindir Rivers. Additional rainfall over the region is likely to further raise water levels, including the Nile River and its tributaries.

  3. Irregular rainfall since June has resulted in deteriorated ground conditions across parts of western Uganda, northeastern DRC, and southern South Sudan.

  4. Despite an overall improvement in rainfall over the past four weeks, deficits remain over portions of southwestern Ethiopia and eastern South Sudan.


          Liberia president George Weah plays in international friendly      Cache   Translate Page      
Liberia president George Weah made a surprise return to football on Tuesday -- playing for his country in a 2-1 defeat to Nigeria.
          China & Liberia Sign Maritime Deal      Cache   Translate Page      
New agreement strengthens economic cooperation
          Liberia : à 51 ans, le président George Weah rejoue en sélection (Lejsl)      Cache   Translate Page      
Élu président en début d'année, l'ancien Ballon d'or George Weah a participé mardi à la rencontre amicale Liberia-Nigeria.
          JetBlue expands A321 MINT service in W18      Cache   Translate Page      

JetBlue Airways in August 2018 announced planned service expansion for its Airbus A321 MINT service to The Caribbean, as following routes will see A321 MINT operation during winter season, until late-April 2019.

Boston – St. Lucia 03NOV18 – 27APR19 1 weekly
Boston – St. Maarten 16FEB19 – 27APR19 1 weekly
New York JFK – Liberia 15DEC18 – 27APR19 1 weekly


          Bukan di Indonesia, Penyakit Cacar Monyet Umum Ditemukan di Negara Ini      Cache   Translate Page      

Liputan6.com, Jakarta Penyakit cacar monyet yang biasanya ditemukan di negara-negara Afrika kini terdeteksi di Inggris. Kasus cacar monyet di Inggris tercatat telah menginfeksi dua orang dalam empat hari terakhir, hal itu telah dikonfirmasi oleh Badan Kesehatan Masyarakat Inggris.

Penyakit menular ini pertama kali terdiagnosis pada warga negara Nigeria yang tinggal di Cornwall pada Sabtu, 8 September 2018. Orang tersebut kemudian dilarikan ke London. Lalu, Selasa, 11 September 2018, pasien cacar monyet kedua ditemukan di Blackpool. Pasien itu baru saja berkunjung ke Nigeria dan kini dirawat di sebuah rumah sakit di Liverpool, mengutip laman Express, Kamis (13/9/2018).

Penyakit cacar monyet pernah melanda enam negara di Afrika pada 2017. Keenam negara tersebut yakni Afrika Tengah, Republik Demokrat Congo, Liberia, Nigeria, Sierra Leone, serta Republik Congo. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, Nigeria mengalami outbreak cacar monyet paling besar pada tahun tersebut. Tercatat ada 197 suspek dan 68 orang benar terdiagnosis cacar monyet.

Tak hanya menginfeksi manusia, cacar monyet juga ditemukan pada hewan liar di Kamerun, Pantai Gading, serta Republik Demokrat Congo.

Sementara, penyakit cacar monyet pada manusia seringkali dilaporkan berasal dari lingkungan hutan belantara yang penduduknya mengandalkan daging hewan semak sebagi sumber protein.

"Proses berburu serta persiapan daging hewan semak menjadi faktor risiko infeksi cacar monyet," ungkap WHO.

 


          Liberia – Marauding Elephants Threaten Schooling and Farming      Cache   Translate Page      
GNN Liberia September 12, 2018 Cholo Brooks School-going kids and farmers in Gbarpolu  County are complaining of the recent constant incursion of elephants  into towns and villages that are posing threat to their academic and  agricultural activities. Speaking to the Liberia News Agency (LINA) in Gbogolala District,  Gbarpolu County on Monday, the school-age children disclosed that […]
          Präsident George Weah hat noch nicht genug      Cache   Translate Page      
Vor kurzem wird der ehemalige Weltfußballer George Weah zum Präsident von Liberia gewählt. Jetzt macht er im zarten Alter von 51 Jahren nochmal ein Länderspiel für sein Land.
          President George Weah (51) speelt nog eens voor Liberiaanse nationale elf      Cache   Translate Page      

De voetbalhoogdagen van George Weah liggen al lang achter de rug, maar dinsdagavond trok de voormalige Gouden Bal nog eens zijn schoenen aan. De 51-jarige oud-spits van onder meer PSG en AC Milan, vandaag de president van zijn land, speelde 79 minuten mee in een oefenduel tegen Nigeria.


          Foot - Amical - LIB : George Weah a rejoué avec la sélection du Liberia !      Cache   Translate Page      
 VIDEO MATCHES AMICAUX - À 51 ans, le président du Liberia et ancienne star du Paris Saint-Germain et de l'AC Milan, George Weah, a renoué avec le football international pour son pays lors d4une défaite en amical face au Nigeria (0-2). Le premier Ballon d'Or africain en 1995 a assuré qu'il s'agissait bel et bien de son ultime match professionnel.
          VIDEO Liberia, George Weah in campo a 51 anni: 79 minuti per l’ex Milan!      Cache   Translate Page      
L'attuale presidente della Liberia in campo nell'amichevole organizzata contro la Nigeria per ritirare la maglia numero 14, indossata dall'ex Milan proprio in Nazionale
          ‘Why I Will Never Forget Liberia vs Nigeria Game’- John Ogu      Cache   Translate Page      

#Naijakit

Super Eagles midfielder, John Ogu, is delighted to have captained Gernot Rohr’s men in Tuesday’s international friendly game against Liberia that had President George Weah feature for 79 minutes for the hosts in the encounter. The game played at the Samuel Kanyon Doe Sports Complex, was arranged in honour of the country’s president and 1995 […]

The post ‘Why I Will Never Forget Liberia vs Nigeria Game’- John Ogu Was Exclusively Published On Naijakit.


          President Of Liberia Plays Against Super Eagles In Liberia Match Photos )      Cache   Translate Page      

#Naijakit

Nigeria on Tuesday night, September 11, beat Liberia 2-1 in an international friendly match. The match which was played at the Samuel Kanyon Doe Stadium, Monrovia, was to retire the number 14 jersey of President George Weah. The Liberia president who played for about 74 minutes was peered alongside his old team mate, James Debbah […]

The post President Of Liberia Plays Against Super Eagles In Liberia Match Photos ) Was Exclusively Published On Naijakit.


          Wayétu Moore’s Debut Novel She Would Be King Finds Power in Africa      Cache   Translate Page      
Reading Wayétu Moore’s debut novel, She Would Be King (Graywolf Press), feels a lot like watching a superb athlete’s performance. It’s set during the early years of Liberia, when the country was the focus of a movement in the U.S. to return previously enslaved people to Africa. The three main characters–Gbessa (from the Liberian region’s…
          Madaxweyne 51-sano jir ah oo kubad u ciyaaray Xulka Qarankiisa (Daawo Sawirada)      Cache   Translate Page      
Madaxweynaha Liberia George Weah ayaa qeyb ka noqday ciyaar saaxiibtinimo ay wada ciyaarayeen xulka Qarankiisa iyo sidoo kale xulka Nageria, waxa ayna ciyaartan aheyd mid xiiso gaar ah leh oo si weyn loo daawaday. Ciyaaryahankii hore ee naadiga reer Talyaani ee AC Milan George Weah oo hada 51-sano jir ah ayaa ciyaaray 79-daqiiqo, waxaana xulka qarankiisa […]
          KOFI ANNAN KUZIKWA LEO ACCRA GHANA      Cache   Translate Page      
Na Leandra Gabriel, blogu ya jamii
MWILI wa aliyekuwa katibu  Mkuu wa Umoja wa Mataifa Kofi Atta Annan (80) aliyefariki dunia Agosti 18 katika hospitali ya Bern nchini Uswizi baada ya kuugua kwa muda mfupi utazikwa leo katika mji mkuu wa nchi hiyo.

Baada ya kuagwa kwa siku mbili na kumalizika kwa taratibu za kimila, Kofi atapumzishwa kwenye makaburi ya jeshi nchini humo, Marais wastaafu wa nchi za Ujerumani, Finland na Uswizi watashiriki katika kumpumzisha kiongozi hiyo.

Rais wa nchi hiyo Nana Akufo Addo ameeleza kuwa msiba huo ni wa kitaifa na hii ni kutokana na mchango mkubwa wa kiongozi huyo katika bara la Afrika, Pia Marais wa nchi jirani za Ivory coast, Liberia, Namibia, Ethiopia na Niger wamethibitisha kuhudhuria katika mazishi hayo. 

Kofi alikuwa mwafrika wa kwanza kutoka Kumasi nchini Ghana kuchaguliwa kuwa katibu mkuu wa Umoja wa Mataifa na alihudumu kwa awamu mbili kuanzia Januari 1997 hadi Desemba 2016.

Kofi alizaliwa  Aprili 8, 1938 huko Kumasi nchini Ghana na alisoma taaluma mbalimbali ikiwe Uchumi aliyosoma katika Chuo cha Macalester na Uhusiano wa Kimataifa katika chuo cha Geneva na alianza kuitumikia UN mwaka 1962 katika shirika la afya duniani  (WHO.) Na ameshinda tuzo mbalimbali ikiwemo ya kulinda amani 2001.

Kofi ameacha mke (bi Nane Maria Annan) na watoto (Kojo, Ama na Nina) ambao walikuwa karibu naye  hadi umauti unamfika.

          9/13/2018: SPORT: 51 jaar, president én international      Cache   Translate Page      

Vandaag houdt hij zich als president van zijn land Liberia hoofdzakelijk bezig met staatszaken, maar in zijn gloriejaren in het shirt van AC Milan (1995 – 2000) was George Weah een van de beste spitsen ter wereld. En dat hij ook vandaag nog steeds met...
          George Weah: Liberia president is 'oldest international' ever      Cache   Translate Page      
Liberia President George Weah, 51, is the oldest player on record to play in a Fifa-recognised international game.
          Comment on President Weah makes surprise return to football against Super Eagles by Rosebud      Cache   Translate Page      
Liberia had an amazing president in the person and character of George Weah. A solid example for African youths, at home and in the diaspora. May he live long!
          Presidenten George Weah (51) med comeback på landslaget      Cache   Translate Page      
George Weah er en helt i Liberia. Han ble selve bildet på at det går an å lykkes selv om lite ligger til rette for det.
          George Weah, Liberia president and former world footballer of 1995, makes surprise return to national team at 51      Cache   Translate Page      
Liberia president and former world footballer of the year George Weah made a surprise return to international football Tuesday at the age of 51 in a 2-1 friendly defeat by Nigeria.
          Ex-Weltfussballer mit Comeback: Staatspräsident Weah spielt für Liberia – mit 51!      Cache   Translate Page      
Stellen Sie sich vor, sie sind Abwehrspieler – und plötzlich dribbelt ein Staatspräsident vorbei! So geschehen bei Liberia gegen Nigeria, wo Ex-Weltfussballer George Weah mit beinahe 52 Jahren nochmals ein Comeback gibt.
          One Man’s Journey From Refugee to Mayor      Cache   Translate Page      
Helena, Montana has about 30,000 residents and Mayor Wilmot Collins wants to know what each and every one of them thinks. He meets with constituents the first Wednesday of every month, eager to hear firsthand how he can support and improve the community that gave his family a second chance. Collins’ own road to Helena was arduous and unexpected, and it all started in Liberia over 20 years ago. Great Big Story is proud to support Global Citizen’s mission to end extreme poverty by 2030. Take action and earn a chance to win free tickets to the Global Citizen Festival in Central Park at glblctzn.me/nyc2018.

           Comment on President George Weah, 51, plays for Liberia by goal141       Cache   Translate Page      
The Gudjonsens (sp) played for Iceland on the same night. The son actually subbed in for the father.
          9/13/2018: Sport: George Weah spielt mit 51 noch einmal für Liberia      Cache   Translate Page      

MONROVIA (sef) George Weah hat die Fußballschuhe längst gegen einen feinen Zwirn getauscht. Der ehemalige Weltfußballer des Jahres 1995 ist seit Januar dieses Jahres Präsident Liberias, dem Land, in dem er geboren wurde. Jetzt aber hat der 51-Jährige...
          African countries urged to toughen laws on female genital mutilation      Cache   Translate Page      
LONDON, Sept 13 (Thomson Reuters Foundation) – Millions of girls in Africa are at risk of female genital mutilation because their governments are failing to enforce laws banning the internationally condemned practice, campaigners said on Thursday. Six countries which are home to 16 million girls – Chad, Liberia, Mali, Sierra Leone, Somalia and Sudan – […]
          Kofi Annan Receives Final Farewell At State Funeral      Cache   Translate Page      
Kofi Annan, the former UN secretary-general and Nobel Peace Prize winner, is being laid to rest in Ghana. Thousands of Ghanaians and dignitaries from around the world gathered for the state funeral, says CNN. Presidents of Ivory Coast, Liberia, Namibia, Ethiopia, Niger and Zimbabwe were among the African leaders present. Thursday's ceremony marks the end of three days of mourning declared in Ghana. Annan was the first black man to lead the United Nations.
          Liberian president plays in international friendly      Cache   Translate Page      
Liberia president George Weah made a surprise return to football on Tuesday -- playing for his country in a 2-1 defeat to Nigeria.
          United – $447: Seattle – Liberia, Costa Rica. Roundtrip, including all Taxes      Cache   Translate Page      
A good sale to the Guanacaste province of Costa Rica. Availability is limited. Here are some practical travel tips to Costa Rica. Costa Rica is one of the countries with active cases of Zika virus transmission. Please read up on it at the Center for Disease Control if you are planning to go. Sample Travel Date: […]

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

          Foot Libéria: Mustapha Raji, nouveau président de la fédération      Cache   Translate Page      

Le football libérien voit enfin le bout du tunnel. Après de nombreux mois de crise liée à la motion de censure à l’encontre de l’ancien président de la Fédération, un […]

Lire l'article Foot Libéria: Mustapha Raji, nouveau président de la fédération sur Africa Top Sports.


          El presidente George Weah disputa partido con Liberia a los 51 años      Cache   Translate Page      

El presidente de Liberia y leyenda del fútbol africano, George Weah, volvió a saltar a un terreno de juego a los 51 años, con la selección liberiana durante un amistoso el martes ante Nigeria, dieciséis años después del final de su carrera internacional.

El presidente George Weah disputa partido con Liberia a los 51 años

El exdelantero del PSG y del Milan, único africano ganador del Balón de Oro (1995), disputó 79 minutos, rodeado de compañeros tres décadas más jóvenes, en un estadio de la capital, Monrovia, constataron periodistas de la AFP.

Con un evidente sobrepeso, Weah no pudo impedir la derrota de los suyos, que cayeron 2-1 con las 'Super Águilas'.

"Mi deseo es ver a otro Balón de Oro de Liberia. Haremos todo lo que está en nuestras manos para tener una muy buena selección nacional", declaró Weah después de su 61º partido con la selección de su país.

El antiguo delantero accedió a comienzos de año a la presidencia de este pequeño y pobre país del África occidental.

En fútbol, Liberia ocupa el puesto 47 de las 54 selecciones africanas, y en la clasificación FIFA es 158ª. La última de sus dos participaciones en la Copa de África de naciones (CAN) se remonta a 2002.

Tras recibir una cerrada ovación al abandonar el terreno de juego a 11 minutos del final, Weah entregó a la federación su camiseta con el dorsal 14, que será retirado.

"Siempre me pregunté por qué hizo falta tanto tiempo para que esta camiseta sea retirada", bromeó el presidente liberiano dirigiéndose al público al término del partido

AFP/OS

Categoria: 

          George Weah regresa a las canchas en un amistoso con Liberia      Cache   Translate Page      
none
          Quello che oggi viviamo è solo il crinale di un cambiamento d’epoca - Georg Gänswein      Cache   Translate Page      
L’11 settembre 2018, a Roma, presso Palazzo Montecitorio, si è svolta una presentazione del volume di Rod Dreher, L’opzione Benedetto. Una strategia per i cristiani in un mondo post-cristiano (trad. it., Edizioni San Paolo, Milano 2018). Nel corso della conferenza, S.E. Mons. Georg Gänswein, Prefetto della Casa Pontificia, ha svolto una relazione, il cui testo in lingua italiana riproduciamo qui integralmente.

Ringrazio cordialmente per l’invito alla Camera, che ho accettato volentieri, a presentare il volume di Rod Dreher che viene dall’America e del quale avevo già sentito molto parlare. Benedetto da Norcia, il padre del monachesimo al quale il libro deve il suo titolo programmatico, mi ha molto stimolato a venire qui oggi. Ma mi ha anche molto toccato e commosso la data in cui ci incontriamo con il valoroso autore qui a Roma.
Perché oggi è l’11 settembre che in America, dall’autunno del 2001 in poi, viene chiamato solo e semplicemente “Nine/Eleven”, per ricordare quella sciagura apocalittica nella quale allora membri dell’organizzazione terroristica Al Qaida, attaccarono gli Stati Uniti d’America a New York e a Washington di fronte agli occhi del mondo intero, utilizzando come granate degli aerei di linea dirottati in volo pieni di passeggeri.

Quanto più, nel turbine di notizie delle ultime settimane, mi curvavo sul libro di Rod Dreher, tanto più – a seguito della pubblicazione del rapporto del Grand Jury della Pennsylvania – in questo nostro incontro non potevo non scorgere un vero e proprio atto della Divina Provvidenza: oggi, infatti, anche la Chiesa cattolica guarda piena di sconcerto al proprio “Nine/Eleven”, al proprio 11 settembre, anche se questa catastrofe non è purtroppo associata a un’unica data, quanto a tanti giorni e anni, e a innumerevoli vittime.

Vi prego di non fraintendermi: non intendo confrontare né le vittime né i numeri degli abusi nell’ambito della Chiesa cattolica con le complessive 2.996 persone innocenti che l’11 settembre persero la vita a seguito degli attentati terroristici al World Trade Center e al Pentagono.

Nessuno (fino ad ora) ha attaccato la Chiesa di Cristo con aerei di linea pieni di passeggeri. La Basilica di San Pietro è in piedi e così anche le cattedrali in Francia, in Germania o in Italia che continuano a rappresentare l’emblema di molte città del mondo occidentale, da Firenze a Chartres, passando per Colonia e Monaco di Baviera.

E tuttavia, le notizie provenienti dall’America che ultimamente ci hanno informato di quante anime sono state ferite irrimediabilmente e mortalmente da sacerdoti della Chiesa cattolica, ci trasmettono un messaggio ancor più terribile di quanto avrebbe potuto essere la notizia dell’improvviso crollo di tutte le chiese della Pennsylvania, insieme alla “Basilica del Santuario Nazionale dell'Immacolata Concezione” a Washington.

Dicendo questo, ricordo come se fosse ieri quando il 16 aprile 2008, accompagnando Papa Benedetto XVI proprio in quel Santuario Nazionale della Chiesa cattolica negli Stati Uniti d’America, egli in modo toccante cercò di scuotere i vescovi convenuti da tutti gli Stati Uniti: parlava chino per la “profonda vergogna” causata “dall’abuso sessuale dei minori da parte di sacerdoti” e “dell’enorme dolore che le vostre comunità hanno sofferto quando uomini di Chiesa hanno tradito i loro obblighi e compiti sacerdotali con un simile comportamento gravemente immorale”. 

Ma evidentemente invano, come vediamo oggi. Il lamento del Santo Padre non riuscì a contenere il male, e nemmeno le assicurazioni formali e gli impegni a parole di una grande parte della gerarchia.
E ora Rod Dreher è qui fra noi e inizia il suo libro con queste parole: “Nessun vide arrivare l’alluvione, un autentico diluvio universale”. Nei suoi ringraziamenti, egli esprime particolare gratitudine a Benedetto XVI. E a me sembra che abbia scritto ampie parti del libro quasi in un dialogo silenzioso con il Papa emerito che tace, rifacendosi alla sua forza profetico-analitica, come ad esempio quando scrive:
“Nel 2012 l’allora Pontefice disse che la crisi spirituale che sta colpendo l’Occidente è la più grave dalla caduta dell’Impero Romano, occorsa verso la fine del V secolo. La luce del cristianesimo sta spegnendosi in tutto l’Occidente.”
Perciò vi prego di permettere di seguito anche a me di accompagnare la presentazione dell’“Opzione Benedetto” di Rod Dreher con parole prese dalla bocca di Papa Benedetto XVI, pronunciate durante il suo ministero, che per me sono rimaste indimenticabili e che nel corso della lettura del libro mi sono via via ritornate in mente: ad esempio quelle dell’11 maggio 2010, quando durante il volo papale verso Fatima egli confidò ai giornalisti:
“Il Signore ci ha detto che la Chiesa sarebbe stata sempre sofferente, in modi diversi, fino alla fine del mondo. [...] Quanto alle novità che possiamo oggi scoprire (in questo terzo segreto del messaggio di Fatima), vi è anche il fatto che non solo da fuori vengono attacchi al Papa e alla Chiesa, ma le sofferenze della Chiesa vengono proprio dall’interno della Chiesa, dal peccato che esiste nella Chiesa. Anche questo si è sempre saputo, ma oggi lo vediamo in modo realmente terrificante: che la più grande persecuzione della Chiesa non viene dai nemici fuori, ma nasce dal peccato nella Chiesa.”
In quel momento egli era Papa già da cinque anni. E più di cinque anni prima – il 25 marzo 2005 – nel corso della Via Crucis al Colosseo, di fronte a Giovanni Paolo II morente, nella meditazione della nona stazione, il Cardinale Ratzinger aveva già trovato le seguenti parole:
“Che cosa può dirci la terza caduta di Gesù sotto il peso della croce? Forse ci fa pensare alla caduta dell’uomo in generale, all’allontanamento di molti da Cristo, alla deriva verso un secolarismo senza Dio. Ma non dobbiamo pensare anche a quanto Cristo debba soffrire nella sua stessa Chiesa? Quante volte si abusa del santo sacramento della sua presenza, in quale vuoto e cattiveria del cuore spesso egli entra! Quante volte celebriamo soltanto noi stessi senza neanche renderci conto di lui! Quante volte la sua Parola viene distorta e abusata! Quanta poca fede c’è in tante teorie, quante parole vuote! Quanta sporcizia c’è nella Chiesa, e proprio anche tra coloro che, nel sacerdozio, dovrebbero appartenere completamente a lui! Quanta superbia, quanta autosufficienza! Tutto ciò è presente nella sua passione. Il tradimento dei discepoli, la ricezione indegna del suo Corpo e del suo Sangue è certamente il più grande dolore del Redentore, quello che gli trafigge il cuore. Non ci rimane altro che rivolgergli, dal più profondo dell’animo, il grido: Kyrie, eleison – Signore, salvaci!
In precedenza, Giovanni Paolo II ci aveva insegnato che il vero e compiuto ecumenismo è l’ecumenismo dei martiri, per il quale nelle nostre angustie possiamo invocare santa Edith Stein, accanto a Dietrich Bonhoeffer, quali nostri intercessori in Cielo. Ma, come nel frattempo sappiamo, esiste anche un ecumenismo delle difficoltà e della mondanizzazione, e un ecumenismo dell’incredulità e della comune fuga da Dio e dalla Chiesa che attraversa tutte le confessioni. E un ecumenismo del generale oscuramento di Dio. Per questo quello che oggi viviamo è solo il crinale di un cambiamento d’epoca che Dreher profeticamente già un anno fa aveva presentato in America. Aveva visto arrivare la grande alluvione!

E tuttavia egli è anche fermo sul fatto che eclissi di Dio non significa affatto che Dio non c’è più, ma che molti non riconoscono più Dio perché di fronte al Signore si sono frapposte delle ombre che lo oscurano. Oggi sono le ombre dei peccati, dei misfatti e dei delitti dall’interno della Chiesa a oscurare a molti la vista della sua luminosa presenza.

Quella Chiesa popolare nel cui seno ancora noi stessi nascemmo e che così come si ebbe in Europa non ci fu in America, nell’avanzare di questo processo di oscuramento è morta da tempo. Il tono vi sembra eccessivamente drammatico?

Drammatici sono i numeri relativi alle uscite dalla Chiesa. Ma ancor più drammatico è un altro dato ancora: secondo gli ultimi rilevamenti, dei cattolici in Germania che ancora non sono usciti dalla Chiesa, solo il 9,8% la domenica si incontra nelle rispettive Case di Dio per la comune celebrazione della santissima Eucaristia.

Ancora una volta questo mi riporta alla mente le parole di Benedetto XVI pronunciate durante il primo Viaggio dopo la sua elezione. Era il 29 maggio 2005 quando, sulle rive del mar Adriatico, rivolgendosi a un pubblico prevalentemente di giovani venuti ad ascoltarlo, ricordò che la domenica, quale “Pasqua settimanale”, è “espressione dell’identità della comunità cristiana e centro della sua vita e della sua missione”. Il tema scelto dal Congresso eucaristico (“Senza la domenica non possiamo vivere”) lo riportava però indietro, disse il Papa, all’anno 304, quando l’imperatore Diocleziano proibì ai cristiani, sotto pena di morte, di possedere le Scritture, di riunirsi la domenica per celebrare l’Eucaristia e di costruire luoghi per le loro assemblee. E proseguì:
“Ad Abitene, una piccola località nell’attuale Tunisia, 49 cristiani furono sorpresi una domenica mentre, riuniti in casa di Ottavio Felice, celebravano l’Eucaristia sfidando così i divieti imperiali. Arrestati, vennero condotti a Cartagine per essere interrogati dal Proconsole Anulino. Significativa, tra le altre, la risposta che un certo Emerito diede al Proconsole che gli chiedeva perché mai avessero trasgredito l’ordine severo dell'imperatore. Egli rispose: "Sine dominico non possumus": cioè senza riunirci in assemblea la domenica per celebrare l’Eucaristia non possiamo vivere. Ci mancherebbero le forze per affrontare le difficoltà quotidiane e non soccombere. Dopo atroci torture, questi 49 martiri di Abitene furono uccisi. Confermarono così, con l’effusione del sangue, la loro fede. Morirono, ma vinsero: noi ora li ricordiamo nella gloria del Cristo risorto”.
Che significa?
Significa che quello che noi ancora da bambini, nelle così dette Chiese popolari, avevamo conosciuto come il così detto “obbligo domenicale”, in realtà è il più prezioso segno distintivo dei cristiani. E che è più antico di tutte le Chiese popolari. È dunque veramente una vera crisi degli ultimi tempi quella nella quale la Chiesa cattolica si trova immersa ormai da tempo; una crisi, però, che credettero di percepire nei loro giorni anche mia madre e mio padre – “vedere l’abominio della desolazione stare nel luogo santo” – e che d’altronde forse ogni generazione nella Storia della Chiesa ha scorto al proprio orizzonte.

Ultimamente, però, ci sono stati giorni in cui mi sono sentito come riportato indietro ai giorni della mia fanciullezza – nella fucina di mio padre nella Foresta nera, al suono dei colpi di martello sull’incudine che sembravano non finire mai, e tuttavia questa volta senza mio padre, delle cui mani sicure mi fidavo come di quelle di Dio.

In questa sensazione evidentemente non sono solo. In maggio, infatti, anche Willem Jacobus Eijk, cardinale arcivescovo di Utrecht, ha ammesso che, guardando all’attuale crisi, pensa alla “prova finale che dovrà attraversare la Chiesa” prima della venuta di Cristo – descritta dal paragrafo 675 del Catechismo della Chiesa cattolica – e che “scuoterà la fede di molti credenti”. “La persecuzione – continua il Catechismo – che accompagna il pellegrinaggio della Chiesa sulla terra svelerà il ‘mistero di iniquità’.”

Con questo “mysterium iniquitatis” Rod Dreher ha la familiarità di un’esorcista, come ha dimostrato con le sue ricostruzioni degli ultimi mesi, con le quali anch’egli ha favorito – forse come nessun altro giornalista più di lui – la rivelazione dello scandalo dell’ex arcivescovo di Newark e Washington. E tuttavia Dreher non è un giornalista investigativo. E nemmeno un visionario, ma un sobrio analista che da tempo segue in modo vigile e critico la condizione della Chiesa e del mondo, ma nonostante questo mantenendo comunque sul mondo lo sguardo amorevole di un bambino.

Per questo Dreher non presenta un romanzo apocalittico come il famoso “Signore del mondo” con il quale nel 1906 il presbitero inglese Robert Hugh Benson scosse il mondo anglosassone. Il libro di Dreher, invece, assomiglia più a delle istruzioni pratiche e praticabili per la costruzione di un’arca: perché egli sa che non c’è alcuna diga con la quale si possa ancora arginare la grande alluvione; un’alluvione che non solo da ieri è in procinto di inondare l’antico Occidente cristiano al quale per lui è ovvio che appartiene anche l’America.

Da qui emerge subito con chiarezza una triplice differenza fra Dreher e Benson: in primo luogo, da americano autentico qual è, Dreher è più pratico dell’alquanto bizzarro britannico di Cambridge nell’epoca precedente alla Prima guerra mondiale. Inoltre, da cittadino della Louisiana, Dreher è per così dire a prova di uragano. E infine egli non è affatto un religioso, ma un laico che cerca di conquistare anime al Regno di Dio che Gesù Cristo ha annunciato per noi non sulla base di un incarico ingiuntogli da altri, quanto sulle ali di un entusiasmo e di una volontà assolutamente personali. In questo senso è un uomo che corrisponde completamente al desiderio e al gusto di Papa Francesco, perché nessun altro a Roma quanto lui sa che la crisi della Chiesa, nel suo nocciolo, è una crisi del clero.

E che dunque è scoccata l’ora dei laici forti e decisi, soprattutto nei nuovi mezzi di comunicazione cattolici indipendenti, esattamente come incarnati da Rod Dreher.
La leggerezza del suo stile narrativo va evidentemente ricondotta all’universo della più nobile tradizione degli Stati Uniti dell’America meridionale ai quali Mark Twain ha conferito un rango universale. Prima ho detto che ultimamente mi sono sentito più volte rivisto nella fucina di mio padre, al suono dei suoi colpi di martello sull’incudine: e devo ammettere a riguardo che la lettura semplice e scorrevole di questo libro importante e significativo mi ha di continuo riportato al mondo avventuroso della mia fanciullezza, quando bambino sognante correvo dietro a Tom Sawyer e al suo amico Huck’ Finn.

In Rod Dreher, al contrario, non si tratta di sogni, ma di fatti e analisi che egli condensa in una frase come questa: “L’Uomo psicologico… ora è padrone della cultura – come senza dubbio gli Ostrogoti, i Visigoti, i Vandali e altri popoli conquistatori si impadronirono di ciò che restava dell’Impero Romano.”
Oppure in quest’altra: “I nostri scienziati, i nostri giudici, i nostri principi e i nostri scribi – sono tutti quanti all’opera per demolire la fede, la famiglia, il genere, persino quel che significa essere umani. I nostri barbari hanno barattato le pelli animali e le lance del passato in cambio di vestiti firmati e telefoni cellulari.”
Il terzo capitolo inizia con queste parole: “Tornare indietro nel tempo non si può, ma tornare a Norcia sì”.
Poco dopo prosegue così, in modo profeticamente attuale e tuttavia per nulla malizioso: “La leggenda vuole che, in una disputa con un cardinale, Napoleone gli avesse fatto notare che aveva il potere di distruggere la Chiesa.
‘Maestà’, replicò il cardinale, ‘noi, il clero, abbiamo fatto del nostro meglio per distruggere la Chiesa negli ultimi milleottocento anni. Non ci siamo riusciti noi, e non ce la farete nemmeno voi’”.
“Quattro anni dopo aver cacciato i Benedettini da quella che era la loro casa da quasi un millennio, l’impero di Napoleone era in rovina, e lui era in esilio. Oggi si può nuovamente sentire il suono del canto gregoriano nella città natale del santo.”

In quella stessa Norcia però si udì anche il boato profondo del grande terremoto che nell’agosto del 2016 scosse la città e che in pochi secondi ridusse in macerie la Basilica di san Benedetto, ad eccezione della facciata. Pressappoco nello stesso periodo violenti nubifragi inondavano la città natale di Rod Dreher sul corso superiore del Mississippi. Due drammatiche scene chiave che, come in una sceneggiatura divina, stanno rispettivamente all’inizio e alla fine del suo libro, quasi fossero illustrazioni di un’unica tesi che Dreher nel primo capitolo formula così:
 “La realtà della nostra situazione è davvero allarmante, ma non ci è concesso di vedere istericamente tutto nero. In questa crisi è iscritta una benedizione nascosta, se vogliamo aprire gli occhi per vederla. [...] La tempesta incombente potrebbe essere un mezzo attraverso il quale Dio ci libera.”
Negli ultimi giorni spesso all’interno della Chiesa si è sentito ripetere il concetto di terremoto associandolo a quel crollo per il quale, come affermo, ora anche la Chiesa ha sperimentato il suo “Nine/Eleven”, il suo 11 settembre.

Rod Dreher invece descrive la risposta dei monaci di Norcia alla catastrofe che ha ridotto in macerie il monastero nel luogo di nascita di san Benedetto con poche parole che sento l’obbligo di leggervi, per quanto sono significative ed eloquenti:
“I monaci benedettini di Norcia sono diventati un segno per il mondo in tanti modi che non prevedevo, quando cominciai a scrivere questo libro. Nell’agosto 2016, un terremoto devastante scosse la loro regione. Quando la scossa arrivò nel bel mezzo della notte, i monaci erano svegli a pregare il mattutino e fuggirono dal monastero riparando per sicurezza nella piazza aperta. Più tardi, padre Cassiano rifletté che il terremoto simboleggiava lo sbriciolarsi della cultura cristiana dell’Occidente, ma che c’era un secondo simbolo di speranza quella notte: ‘Il secondo simbolo erano le persone raccolte attorno alla statua di san Benedetto, in piazza, per pregare’, scrisse ai sostenitori. ‘È l’unico modo di ricostruire’”.
Dopo questa testimonianza di padre Cassiano vorrei confidarvi che anche Benedetto XVI dal momento della sua rinuncia si concepisce come un vecchio monaco che, dopo il 28 febbraio 2013, sente come suo dovere dedicarsi soprattutto alla preghiera per la Madre Chiesa, per il Suo successore Francesco e per il Ministero petrino istituito da Cristo stesso.

Perciò, con riguardo all’opera di Dreher, quel vecchio monaco dal monastero Mater Ecclesiae dietro la Basilica di San Pietro rimanderebbe a un discorso che l’allora Papa in carica tenne al Collège des Bernardins di Parigi il 12 settembre 2008 – cioè esattamente domani di dieci anni fa – di fronte alla élite intellettuale di Francia [qui]. Per queste ragioni vorrei presentarvi brevemente questo discorso citandone alcuni passi.

Nel grande sconvolgimento culturale prodotto dalla migrazione dei popoli e dai nuovi ordini statali che stavano formandosi, i monasteri erano i luoghi in cui sopravvivevano i tesori della vecchia cultura e dove, in riferimento ad essi, veniva lentamente formata una nuova cultura, disse allora Benedetto XVI, e si chiese:
“Ma come avveniva questo? Quale era la motivazione delle persone che in questi luoghi si riunivano? Che intenzioni avevano? Come hanno vissuto? Innanzitutto e per prima cosa si deve dire, con molto realismo, che non era loro intenzione creare una cultura e nemmeno conservare una cultura del passato. La loro motivazione era molto più elementare. Il loro obiettivo era: quaerere Deum, cercare Dio. Nella confusione dei tempi in cui niente sembrava resistere, essi volevano fare la cosa essenziale: impegnarsi per trovare ciò che vale e permane sempre, trovare la Vita stessa. Erano alla ricerca di Dio. Dalle cose secondarie volevano passare a quelle essenziali, a ciò che, solo, è veramente importante e affidabile. Si dice che erano orientati in modo ‘escatologico’. Ma ciò non è da intendere in senso cronologico, come se guardassero verso la fine del mondo o verso la propria morte, ma in un senso esistenziale: dietro le cose provvisorie cercavano il definitivo. […] Quaerere Deum, cercare Dio e lasciarsi trovare da Lui: questo oggi non è meno necessario che in tempi passati. Una cultura meramente positivista che rimuovesse nel campo soggettivo come non scientifica la domanda su Dio, sarebbe la capitolazione della ragione, la rinuncia alle sue possibilità più alte e quindi un tracollo dell'umanesimo, le cui conseguenze non potrebbero essere che gravi. Ciò che ha fondato la cultura dell'Europa, la ricerca di Dio e la disponibilità ad ascoltarLo, rimane anche oggi il fondamento di ogni vera cultura.”
Sin qui Benedetto XVI, il 12 settembre 2008, sulla vera “Opzione” di san Benedetto da Norcia. Così che, sul libro di Dreher, non mi resta che da dire questo: non contiene una risposta pronta. In esso non troverete una ricetta infallibile o un passepartout per riaprire tutte quelle porte che finora ci erano accessibili ma che adesso sbattendo si sono di nuovo chiuse. Fra la prima e l’ultima di copertina troverete però un esempio autentico di quello che Papa Benedetto dieci anni fa disse sullo spirito benedettino degli inizi. È un vero “Quaerere Deum”. È quella ricerca del vero Dio di Isacco e di Giacobbe che, in Gesù Cristo, ha mostrato il suo volto umano.

Per questo qui mi viene in mente un’altra frase ancora del capitolo 4,21 della Regola di San Benedetto che in egual modo e tacitamente attraversa e anima l’intero libro di Dreher, come fosse il suo cantus firmus. Sono le leggendarie parole “Nihil amori Christi praeponere” che, tradotte, significano: Nulla si anteponga all’amore per Cristo. È la chiave alla quale si deve l’intera meraviglia del monachesimo occidentale.

Benedetto da Norcia è stato un faro durante la migrazione dei popoli, quando nei rivolgimenti del tempo salvò la Chiesa e rifondando con ciò in certo senso la civiltà europea.

Ora però viviamo nuovamente da decenni – e non solo in Europa, ma su tutta la terra – una migrazione dei popoli che mai più giungerà a una fine [questo è da vedere, se prevarranno le 'buone volontà' che si stanno svegliando in tutta l'Europa -ndR], come ha chiaramente riconosciuto Papa Francesco appellandosi con insistenza alla nostra coscienza. Anche questa volta dunque non tutto è diverso rispetto ad allora.

Così, se questa volta la Chiesa con l’aiuto di Dio non saprà ancora rinnovarsi, ne andrà di nuovo dell’intero progetto della nostra civiltà. Per molti, tutto porta a credere già oggi che la Chiesa di Gesù Cristo non potrà più riprendersi dalla catastrofe dei suoi peccati che rischia quasi di inghiottirla.
E proprio questa è l’ora in cui Rod Dreher da Baton-Rouge in Louisiana presenta il suo libro nei pressi delle tombe degli Apostoli; e, nel mezzo dell’eclissi di Dio che atterrisce in tutto il mondo, viene in mezzo a noi e dice: “La Chiesa non è morta, ma solamente dorme e riposa”.

E non soltanto questo: la Chiesa “è giovane” sembra anche dirci, e con quella gioia e quella libertà con le quali lo disse Benedetto XVI nella Messa per l’inizio del ministero petrino il 24 aprile 2005. Ricordando ancora una volta la sofferenza e la morte di san Giovanni Paolo II del quale era stato collaboratore per così tanti anni, rivolgendosi a ognuno di noi in Piazza San Pietro disse:
“Proprio nei tristi giorni della malattia e della morte del Papa questo si è manifestato in modo meraviglioso ai nostri occhi: che la Chiesa è viva. E la Chiesa è giovane. Essa porta in sé il futuro del mondo e perciò mostra anche a ciascuno di noi la via verso il futuro. La Chiesa è viva e noi lo vediamo: noi sperimentiamo la gioia che il Risorto ha promesso ai suoi. La Chiesa è viva - essa è viva, perché Cristo è vivo, perché egli è veramente risorto. Nel dolore, presente sul volto del Santo Padre nei giorni di Pasqua, abbiamo contemplato il mistero della passione di Cristo ed insieme toccato le sue ferite. Ma in tutti questi giorni abbiamo anche potuto, in un senso profondo, toccare il Risorto. Ci è stato dato di sperimentare la gioia che egli ha promesso, dopo un breve tempo di oscurità, come frutto della sua resurrezione”.
Non potrà indebolire o distruggere questa verità sull’origine della fondazione della Chiesa universale cattolica per mezzo del Signore risorto e vincitore nemmeno il satanico 11 settembre di essa.

Per questo devo ammettere con sincerità che percepisco questo tempo di grande crisi, oggi evidente a tutti, soprattutto come un tempo di grazia; perché alla fine a “farci liberi” non sarà un particolare sforzo qualsiasi, ma la “verità”, come il Signore ci ha assicurato. In questa speranza guardo alle recenti ricostruzioni di Rod Dreher per la “purificazione della memoria” richiestaci da Giovanni Paolo II; e così, grato, ho letto la sua “Opzione Benedetto” come una, per molti versi, fonte di ispirazione meravigliosa. Nelle ultime settimane quasi nient’altro mi ha dato così tanta consolazione.
Vi ringrazio per la vostra attenzione. [by Romualdica]
          9/13/2018: SPORT: 51 jaar, president én international      Cache   Translate Page      

Vandaag houdt hij zich als president van zijn land Liberia hoofdzakelijk bezig met staatszaken, maar in zijn gloriejaren in het shirt van AC Milan (1995 – 2000) was George Weah een van de beste spitsen ter wereld. En dat hij ook vandaag nog steeds met...
          Ex Milan, Weah torna a giocare in Nazionale a 51 anni      Cache   Translate Page      

Infinito George Weah. Lo storico centravanti liberiano rappresenta una vera e propria leggenda per il calcio africano ed internazionale per quello che ha fatto di recente. Weah, che in carriera ha indossato le prestigiose maglie di Milan, PSG e Chelsea, è tornato in campo a 51 anni. E non per una qualsiasi partita di beneficenza […]

L'articolo Ex Milan, Weah torna a giocare in Nazionale a 51 anni è stato scritto e pubblicato nella sua versione originale sul sito .


          Obasanjo, Saraki Lead Nigeria's Delegation To Burial Ceremony Of Kofi Annan (Photos)      Cache   Translate Page      

The burial ceremony of former UN secretary general Kofi Annan is currently ongoing, and Nigeria's former President, Olusegun Obasanjo and Senate President Bukola Saraki are leading the Nigerian delegation.

World leaders past and present, traditional rulers and global royalty who described Kofi Annan as an “extraordinary” person who had a “joy of life”, were led by the late diplomat's widow Nane Maria for his final funeral rites.

The current UN Secretary General, António Guterres, in his speech shared one of the popular icon's saying; Guterres quoted him:

“Always remember you are never too young to lead and you are never too old to learn.” When Annan passed on, Guterres said of him: “He provided people everywhere with a space for dialogue, a place for problem-solving and a path to a better world. “In these turbulent and trying times, he never stopped working to give life to the values of the United Nations Charter. His legacy will remain a true inspiration for all of us.”

Aside the Nigerian delegation led by Obasanjo and Bukola Saraki, the president of Ivory Coast and the leaders of Liberia, Namibia, Ethiopia, Niger, Zimbabwe, Germany and Mauritius attended the burial ceremony of the late diplomat.
The ceremony was projected onto big screens outside the auditorium for the crowds of mourners that could not fit inside the venue. Many commuters in the capital wore black as a sign of respect.
On Wednesday, Mr Annan’s family and Ghanaian dignitaries were among hundreds to file past his casket amid traditional rites by local chiefs and clan leaders.

Mr Annan, a Ghanaian of Ashanti lineage, was granted a royal title by the Ashanti king in 2002. The elders said the rites, including presenting him with clothing and water, were necessary to clear the path for a peaceful “travel” for their royal. Some mourners, like New York-based community mayor Delois Blakely, had flown long distances to pay their respects.

Here are more photos from the burial ceremony below;




          The World Pays Last Respect to Kofi Annan at State Funeral in Ghana      Cache   Translate Page      

A state funeral is being held for former UN Secretary-General Kofi Annan who passed on August 18, at age 80.
His body was flown to Accra on Monday and about 6,000 people, converged at the Accra International Conference Centre to pay their last respects to the Nobel laureate.
Among the dignitaries present are current UN Secretary-General Antonio Guterres, former Ghanaian presidents, the leaders of Ivory Coast, Liberia, Namibia and Niger, and the Crown Prince of Norway.
Guterres said of Annan
Kofi Annan was both one-of-a-kind and one of us. He was an exceptional global leader.
He was also someone virtually anyone in the world could see themselves in: those on the far reaching of poverty or by, conflict and despair who found in him an ally; the junior UN staffers following in his footsteps; the young person to whom he said until his dying breath ‘always remember, you are never too young to lead – and we are never too old to learn.
Like few in our time, Kofi Annan would bring people together, put them at ease, and unite them towards a common goal for our common humanity.
There is an old joke: The art of diplomacy is to say nothing … especially when you are speaking! Kofi Annan could say everything, sometimes without uttering a word.
It came from the dignity and the moral conviction and the humanity that was so deep in him.
He had that gentle voice, that lilt that made people smile and think of music. But his words were tough and wise.
And sometimes the graver a situation, the lower that voice would get.We would lean in to listen. And the world would lean in. And we were rewarded by his wisdom.




Next Page: 10000

Site Map 2018_01_14
Site Map 2018_01_15
Site Map 2018_01_16
Site Map 2018_01_17
Site Map 2018_01_18
Site Map 2018_01_19
Site Map 2018_01_20
Site Map 2018_01_21
Site Map 2018_01_22
Site Map 2018_01_23
Site Map 2018_01_24
Site Map 2018_01_25
Site Map 2018_01_26
Site Map 2018_01_27
Site Map 2018_01_28
Site Map 2018_01_29
Site Map 2018_01_30
Site Map 2018_01_31
Site Map 2018_02_01
Site Map 2018_02_02
Site Map 2018_02_03
Site Map 2018_02_04
Site Map 2018_02_05
Site Map 2018_02_06
Site Map 2018_02_07
Site Map 2018_02_08
Site Map 2018_02_09
Site Map 2018_02_10
Site Map 2018_02_11
Site Map 2018_02_12
Site Map 2018_02_13
Site Map 2018_02_14
Site Map 2018_02_15
Site Map 2018_02_15
Site Map 2018_02_16
Site Map 2018_02_17
Site Map 2018_02_18
Site Map 2018_02_19
Site Map 2018_02_20
Site Map 2018_02_21
Site Map 2018_02_22
Site Map 2018_02_23
Site Map 2018_02_24
Site Map 2018_02_25
Site Map 2018_02_26
Site Map 2018_02_27
Site Map 2018_02_28
Site Map 2018_03_01
Site Map 2018_03_02
Site Map 2018_03_03
Site Map 2018_03_04
Site Map 2018_03_05
Site Map 2018_03_06
Site Map 2018_03_07
Site Map 2018_03_08
Site Map 2018_03_09
Site Map 2018_03_10
Site Map 2018_03_11
Site Map 2018_03_12
Site Map 2018_03_13
Site Map 2018_03_14
Site Map 2018_03_15
Site Map 2018_03_16
Site Map 2018_03_17
Site Map 2018_03_18
Site Map 2018_03_19
Site Map 2018_03_20
Site Map 2018_03_21
Site Map 2018_03_22
Site Map 2018_03_23
Site Map 2018_03_24
Site Map 2018_03_25
Site Map 2018_03_26
Site Map 2018_03_27
Site Map 2018_03_28
Site Map 2018_03_29
Site Map 2018_03_30
Site Map 2018_03_31
Site Map 2018_04_01
Site Map 2018_04_02
Site Map 2018_04_03
Site Map 2018_04_04
Site Map 2018_04_05
Site Map 2018_04_06
Site Map 2018_04_07
Site Map 2018_04_08
Site Map 2018_04_09
Site Map 2018_04_10
Site Map 2018_04_11
Site Map 2018_04_12
Site Map 2018_04_13
Site Map 2018_04_14
Site Map 2018_04_15
Site Map 2018_04_16
Site Map 2018_04_17
Site Map 2018_04_18
Site Map 2018_04_19
Site Map 2018_04_20
Site Map 2018_04_21
Site Map 2018_04_22
Site Map 2018_04_23
Site Map 2018_04_24
Site Map 2018_04_25
Site Map 2018_04_26
Site Map 2018_04_27
Site Map 2018_04_28
Site Map 2018_04_29
Site Map 2018_04_30
Site Map 2018_05_01
Site Map 2018_05_02
Site Map 2018_05_03
Site Map 2018_05_04
Site Map 2018_05_05
Site Map 2018_05_06
Site Map 2018_05_07
Site Map 2018_05_08
Site Map 2018_05_09
Site Map 2018_05_15
Site Map 2018_05_16
Site Map 2018_05_17
Site Map 2018_05_18
Site Map 2018_05_19
Site Map 2018_05_20
Site Map 2018_05_21
Site Map 2018_05_22
Site Map 2018_05_23
Site Map 2018_05_24
Site Map 2018_05_25
Site Map 2018_05_26
Site Map 2018_05_27
Site Map 2018_05_28
Site Map 2018_05_29
Site Map 2018_05_30
Site Map 2018_05_31
Site Map 2018_06_01
Site Map 2018_06_02
Site Map 2018_06_03
Site Map 2018_06_04
Site Map 2018_06_05
Site Map 2018_06_06
Site Map 2018_06_07
Site Map 2018_06_08
Site Map 2018_06_09
Site Map 2018_06_10
Site Map 2018_06_11
Site Map 2018_06_12
Site Map 2018_06_13
Site Map 2018_06_14
Site Map 2018_06_15
Site Map 2018_06_16
Site Map 2018_06_17
Site Map 2018_06_18
Site Map 2018_06_19
Site Map 2018_06_20
Site Map 2018_06_21
Site Map 2018_06_22
Site Map 2018_06_23
Site Map 2018_06_24
Site Map 2018_06_25
Site Map 2018_06_26
Site Map 2018_06_27
Site Map 2018_06_28
Site Map 2018_06_29
Site Map 2018_06_30
Site Map 2018_07_01
Site Map 2018_07_02
Site Map 2018_07_03
Site Map 2018_07_04
Site Map 2018_07_05
Site Map 2018_07_06
Site Map 2018_07_07
Site Map 2018_07_08
Site Map 2018_07_09
Site Map 2018_07_10
Site Map 2018_07_11
Site Map 2018_07_12
Site Map 2018_07_13
Site Map 2018_07_14
Site Map 2018_07_15
Site Map 2018_07_16
Site Map 2018_07_17
Site Map 2018_07_18
Site Map 2018_07_19
Site Map 2018_07_20
Site Map 2018_07_21
Site Map 2018_07_22
Site Map 2018_07_23
Site Map 2018_07_24
Site Map 2018_07_25
Site Map 2018_07_26
Site Map 2018_07_27
Site Map 2018_07_28
Site Map 2018_07_29
Site Map 2018_07_30
Site Map 2018_07_31
Site Map 2018_08_01
Site Map 2018_08_02
Site Map 2018_08_03
Site Map 2018_08_04
Site Map 2018_08_05
Site Map 2018_08_06
Site Map 2018_08_07
Site Map 2018_08_08
Site Map 2018_08_09
Site Map 2018_08_10
Site Map 2018_08_11
Site Map 2018_08_12
Site Map 2018_08_13
Site Map 2018_08_15
Site Map 2018_08_16
Site Map 2018_08_17
Site Map 2018_08_18
Site Map 2018_08_19
Site Map 2018_08_20
Site Map 2018_08_21
Site Map 2018_08_22
Site Map 2018_08_23
Site Map 2018_08_24
Site Map 2018_08_25
Site Map 2018_08_26
Site Map 2018_08_27
Site Map 2018_08_28
Site Map 2018_08_29
Site Map 2018_08_30
Site Map 2018_08_31
Site Map 2018_09_01
Site Map 2018_09_02
Site Map 2018_09_03
Site Map 2018_09_04
Site Map 2018_09_05
Site Map 2018_09_06
Site Map 2018_09_07
Site Map 2018_09_08
Site Map 2018_09_09
Site Map 2018_09_10
Site Map 2018_09_11
Site Map 2018_09_12
Site Map 2018_09_13