Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi
Mendakwahkan Tauhid dan Sunnah
Wed, 24 Jun 2026 12:45:00 +0000
id
hourly
1
wp-content/uploads/2024/05/yau-png-min-150x150.png
Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi
32
32
Semoga Meraih Husnul Khatimah Ya Syaikhona
semoga-meraih-husnul-khatimah-ya-syaikhona/
semoga-meraih-husnul-khatimah-ya-syaikhona/#respond
Wed, 13 May 2026 10:42:19 +0000
?p=3381
*Semoga Meraih Husnul Khatimah Ya Syaikhona* _Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi_ Kita semua hari Jumat kemarin berduka atas wafatnya salah satu ustadz senior dan tokoh dakwah sunnah di negeri ini yaitu Ustadzuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufran. Air mata ini menangis, hati ini bersedih, kita semua berduka ditinggal olehmu ya Syaikhona Al Karim. Namun kami sadar bahwa kita semua milik Allah, dan semuanya ada batas usia yang ditentukan olehNya, tiada yang kekal di dunia yang fana ini. Kami sadar bahwa ini semuanya sudah suratan takdir Allah. Dan ketentuan Allah…
Artikel Semoga Meraih Husnul Khatimah Ya Syaikhona pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>
*Semoga Meraih Husnul Khatimah Ya Syaikhona*
_Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi_
Kita semua hari Jumat kemarin berduka atas wafatnya salah satu ustadz senior dan tokoh dakwah sunnah di negeri ini yaitu Ustadzuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufran. Air mata ini menangis, hati ini bersedih, kita semua berduka ditinggal olehmu ya Syaikhona Al Karim.
Namun kami sadar bahwa kita semua milik Allah, dan semuanya ada batas usia yang ditentukan olehNya, tiada yang kekal di dunia yang fana ini. Kami sadar bahwa ini semuanya sudah suratan takdir Allah. Dan ketentuan Allah adalah yang terbaik untuk hambaNya.
Di antara prinsip Ahli Sunnah wal Jamaah adalah tidak memvonis individu seseorang dengan surga atau neraka kecuali dengan dalil. Namun kita berharap bagi mereka yang berbuat baik dan khawatir bagi mereka yang berbuat buruk.
Kita pun demikian berharap kepada Syeikhunaa dan berdoa untuk beliau tempat terbaik, walau kita tidak memastikannya.
Hal yang membuat kita optimis adalah adanya tanda-tanda husnul khatimah dan bisyarah (kabar gembira). Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Meninggal dunia pada hari Jumat
Beliau wafat di hari yang mulia yaitu hari Jumat, 21 Dzul qo’dah (salah satu bulan haram yang mulia) 1447 H.
Dan wafat di hari Jumat merupakan salah satu tanda husnul khatimah.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur.” (HR. Ahmad, 10:87 dan Tirmidzi, no. 1074. Dan dihasankan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz)
2. Meninggal Di Atas Tauhid dan Sunnah
Syeikhuna selama hidupnya sangat perhatian dengan dakwah Tauhid dan banyak mengajarkan kitab-kitab Tauhid dan aqidah salaf, seperti Fathul Majid, Syarh Aqidah Thohawiyyah, dll.
Kekuatan Tauhid inilah yang membuat beliau tegar dan kokoh saat menghadapi ujian.
Pernah ada seorang yang mencari kesaktian yang kemudian diberi hidayah, dia cerita bahwa dia keliling untuk mencari kyai-kyai sakti, namun tatkala bertemu beliau, badannya lemas seakan tak memiliki kekuatan.
Beberapa kali juga kami meruqyah seorang yang kesurupan, jin nya santai meremehkan kami, namun tatkala beliau datang, bahkan saat mendengar suara sandal beliau saja jinnya sudah ketakutan dan merintih kesakitan.
Dan saat kondisi beliau menurun drastis sebelum wafat, yang terucap dari lisan beliau adalah mengulang-ngulang berdzikir dengan tasbih, tahlil, istighfar dan sebagainya.
Dalam hadits, Nabi bersabda:
مَن لَقيَ اللهَ لا يُشرِكُ به شيئًا دَخَلَ الجَنَّةَ، ومَن لَقيَه يُشرِكُ به دَخَلَ النَّارَ.
“Barang siapa yang mati berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada Allah maka dia akan masuk surga.
Dan barang siapa yang meninggal dunia berjumpa dengan Allah dalam keadaan berbuat syirik kepada Allah maka dia akan masuk neraka. (HR. Muslim: 93)
3. Berkeringat Di Kening
Ini juga termasuk tanda husnul khatimah karena harus menahan dahsyatnya kematian sehingga menjadi pelebur dosanya.
Kami melihat beliau berkeringat di kening beliau tersebut. Bahkan kami beberapa kali mengusapnya karena banyaknya keringat yang keluar.
Dari Buraidah bin Al-Hashib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَوْتُ المُؤْمِنِ بِعِرْقِ الجَبِيْن
“Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening.” (HR. Tirmidzi, no. 982; Ibnu Majah, no. 1452, An-Nasa’i, no. 1828, dan Ahmad, no. 23022. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)
4. Sabar dengan sakit
Beberapa tahun terakhir sebelum meninggal beliau menderita sakit yang mengharuskan beliau istirahat total, bahkan dari dakwah dan mengajar yang sudah mendarah daging di aliran darah beliau.
Beliau menghadapi cobaan sakit tersebut dengan sabar.
Dan sakit yang menimpa seorang mukmin adalah pelebur dosa-dosanya.
Rasulullah bersabda:
«مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiada satu pun yang menimpa seorang muslim berupa kelelahan, sakit, gelisah, kesedihan, gangguan, dan kesusahan—sampai-sampai duri yang menusuknya—melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR al-Bukhari: 5641, Muslim: 6513)
5. Meninggalkan Umur Kedua
Termasuk tanda kebaikan bagi seorang hamba adalah tatkala Allah memudahkannya memiliki proyek kebaikan sebelum meninggal dunia.
Syeikhuna sebelum meninggalkan dunia ini memiliki proyek kebaikan: ilmu yang dia ajarkan, pesantren Al Furqon yang dia dirikan, kitab Mukhtarat yang dia tulis, para santri yang dia cetak dan menjadi dai di berbagai tempat, masjid-masjid yang dibangun lewat perantara beliau. Semua itu adalah umur kedua beliau dan tabungan pahala di akherat kelak untuk beliau insya Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم، رقم 1631)
“Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali dari yang tiga; Shedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakan.” (HR. Muslim, no. 1631)
6. Dishalatkan oleh banyak orang
Jenazah Syeikhuna dishalatkan oleh ribuan kaum muslimin bahkan penuntut ilmu yang bertauhid. Semuanya memadati Masjid Jami’ Al Furqon usai shalat jumat berlangsung.
Tentu saja semakin banyak yang menshalati dan mendoakan adalah tanda kebaikan. Dalam hadits, Nabi bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيه
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun kecuali mereka akan memberikan syafa’at baginya.” (HR Muslim 2/654)
7. Didoakan dan dipuji banyak orang
Entah berapa banyak doa yang dipanjatkan untuk beliau dari kaum muslimin wal muslimat di media sosial. Banyak juga yang mengirimkan kalimat takziah dan doa untuk beliau kepada kami. Pujian dan kenangan manis orang-orang saat berinteraksi dengan beliau banyak bermunculan. Semua ini tanda kebaikan untuk beliau.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Mereka lewat mengusung jenazah, lalu mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib.” Kemudian mereka lewat dengan mengusung jenazah yang lain, lalu mereka membicarakan kejelekannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib.” Umar bin Al-Khattab lantas bertanya, “Apakah yang wajib itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِى الأَرْضِ
“Yang kalian puji kebaikannya, maka wajib baginya surga. Dan yang kalian sebutkan kejelekannya, wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari, no. 1367 dan Muslim, no. 949)
Demikian tanda-tanda husnul khatimah dan bisyarah (kabar gembira) untuk beliau. Kita berharap dan berdoa agar beliau betul-betul meraih husnul khatimah dan mendapatkan kedudukan tinggi di surga. Amin.
Artikel Semoga Meraih Husnul Khatimah Ya Syaikhona pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>
semoga-meraih-husnul-khatimah-ya-syaikhona/feed/
0
Meneladani Spirit Perjuangan & Akhlak Syaikhuna Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani rahimahullah
meneladani-spirit-perjuangan-akhlak-syaikhuna-aunur-rofiq-bin-ghufron-hamdani-rahimahullah/
meneladani-spirit-perjuangan-akhlak-syaikhuna-aunur-rofiq-bin-ghufron-hamdani-rahimahullah/#respond
Wed, 13 May 2026 10:41:53 +0000
?p=3379
*Meneladani Spirit Perjuangan & Akhlak Syaikhuna Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani -rahimahullah-* Kajian oleh: _Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawy_ -hafizhahullah- Di Masjid Jami’ Al Furqon *Muqaddimah* Ustadz Abu Ubaidah diminta oleh pengurus marhalah, pengurus pesantren, dan mudir pesantren, serta berbagai pihak untuk mengisi kajian ini, untuk memenuhi hak muslim, akhirnya beliau menyanggupi. Dalam peribahasa Arab ada ungkapan: مكره أخوك لا بطل Saudaramu terpaksa bukan karena berani. Padahal banyak asatidzah Al-Furqon yang layak untuk dimintai mengisi kajian ini. Ini menunjukkan tawadhu’ nya asatidzah Al-Furqon. Hal ini mengingatkan beliau diantara akhlak mulia…
Artikel Meneladani Spirit Perjuangan & Akhlak Syaikhuna Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani rahimahullah pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>
*Meneladani Spirit Perjuangan & Akhlak Syaikhuna Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani -rahimahullah-*
Kajian oleh: _Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawy_ -hafizhahullah-
Di Masjid Jami’ Al Furqon
*Muqaddimah*
Ustadz Abu Ubaidah diminta oleh pengurus marhalah, pengurus pesantren, dan mudir pesantren, serta berbagai pihak untuk mengisi kajian ini, untuk memenuhi hak muslim, akhirnya beliau menyanggupi. Dalam peribahasa Arab ada ungkapan:
مكره أخوك لا بطل
Saudaramu terpaksa bukan karena berani.
Padahal banyak asatidzah Al-Furqon yang layak untuk dimintai mengisi kajian ini. Ini menunjukkan tawadhu’ nya asatidzah Al-Furqon.
Hal ini mengingatkan beliau diantara akhlak mulia Syaikhuna Al-Walid Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani -rahimahullah- yaitu tawadhu’ beliau yang begitu besar. Beliau pernah diminta untuk memberi tausiyah bahkan khutbah padahal ada beliau.
Sikap seperti ini adalah akhlak para ulama salaf.
Disebutkan tentang sahabat Abdullah bin Umar bahwa beliau hadir dalam majlis ilmu ‘Ubaid bin ‘Umair rahimahumallah dan meneteskan air mata.
Demikian pula tawadhu’ yang diwariskan oleh para asatidzah Al-Furqon; tidak merasa tinggi dengan ilmu, tidak merasa cukup dengan amal, dan tetap merasa butuh nasihat.
*Kematian Pasti Menghampiri*
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ﴾
“Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng-benteng yang kokoh.”
(QS. An-Nisa’: 78)
Kematian tidak mengenal usia, jabatan, kedudukan, atau kondisi. Semua pasti akan menghadapinya.
Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah pernah berkata:
«“Seandainya mengingat kematian hilang dari hatiku walau sesaat, niscaya rusaklah hatiku.”»
Karena orang yang banyak mengingat kematian akan lebih lembut hatinya, lebih zuhud terhadap dunia, dan lebih serius mempersiapkan akhirat.
Ketika putra Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ibrahim, meninggal dunia, beliau bersabda:
«“Sesungguhnya mata berderai menangis dan hati bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata:
«“Ketika aku mendengar wafatnya seorang Ahlus Sunnah, seakan-akan sebagian anggota tubuhku hilang.”»
Karena wafatnya ulama dan orang-orang shalih adalah musibah dan luka mendalam bagi umat.
*Tanda-Tanda Husnul Khatimah*
Insyaa Allah, wafatnya beliau menunjukkan tanda-tanda husnul khatimah. Diantaranya:
1. Wafat di Hari Jumat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)»
2. Berkeringat di Kening
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
««مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِينِ»»
“Kematian seorang mukmin disertai dengan keringat di dahinya.”
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
3. Wafat di Atas Tauhid dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
««مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ»»
“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, maka ia masuk surga.”
(HR. Muslim)
Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap tauhid dan sunnah.
4. Wafat Setelah Menahan Sakit
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, gangguan, kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Beberapa tahun terakhir beliau diuji dengan sakit, namun tetap sabar dan ridha.
5. Dishalati dan Didoakan Banyak Kaum Muslimin
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«“Tidaklah seorang muslim meninggal lalu dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah menerima syafaat mereka untuknya.”
(HR. Muslim)»
Betapa banyak kaum muslimin, penuntut ilmu, dan masyarakat yang hadir serta mendoakan beliau. Belum lagi di medsos.
*Jangan Menyimpang Karena Wafatnya Tokoh*
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ﴾
“Sesungguhnya engkau akan mati dan mereka pun akan mati.”
(QS. Az-Zumar: 30)
Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun wafat.
Allah juga berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ١٤٤
(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali ‘Imran: 144)
Karena itu, jangan sampai wafatnya tokoh membuat seseorang futur, patah semangat, atau bahkan menyimpang dari jalan dakwah dan sunnah.
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:
«“Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”»
*Nasihat untuk Santri-Santri Ustadz Aunur Rofiq*
1. Bersabar dan Ridha terhadap Takdir Allah
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Para salaf dahulu saling menghibur ketika tertimpa musibah dengan mengingatkan:
«“Sesungguhnya hidup ini hanyalah hari-hari yang sedikit. Dan tempat tinggal sejati adalah kelak di surga”»
Maka bersabarlah, kuatlah, dan ridhalah terhadap keputusan Allah. Karena keputusan Allah pasti yang terbaik.
2. Mendoakan Guru dengan Tulus
Di antara akhlak santri kepada gurunya adalah terus mendoakannya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa diberi sebuah kebaikan, hendaknya ia membalasnya. Jika dia tidak mampu membalasnya maka doakanlah”
(HR. Abu Dawud)
Dan balasan terbaik bagi guru adalah doa yang tulus.
Disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah rahimahullah senantiasa mendoakan gurunya, Hammad bin Abi Sulaiman, dalam doa-doanya setiap shalat.
3. Meneladani Spirit Perjuangan dan Akhlak Beliau
Disebutkan dalam sebuah atsar:
««عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ»»
“Ketika orang-orang shalih disebut, maka rahmat Allah turun.”
Berikut beberapa teladan dari beliau yang bisa menjadi ibrah bagi kita untuk menirunya:
1. *Semangat dalam Menuntut Ilmu*
– Beliau dahulu sampai menyalin Kamus Mahmud Yunus dengan tangannya sendiri.
– Pernah makan dari sisa-sisa makanan demi bertahan dalam perjuangan ilmu.
– Pernah berjalan kaki dari Lamongan menuju Srowo untuk kembali ke pondok.
– Beliau membaca kitab di mobil. Bahkan terkadang sambil safar atau dalam perjalanan.
– Dalam dauroh dan majelis ilmu, beliau sering menjadi yang paling depan hadir sebelum yang lain.
Maka ini pelajaran bagi kita untuk semangat dan sabar dalam menuntut ilmu.
Di antara penyakit penuntut ilmu adalah gampang bosan dan sedikit sabar.
Imam Asy Syafi’i berkata:
««آفَاتُ الْمُتَعَلِّمِ: الْمَلَلُ وَقِلَّةُ الصَّبْرِ»»
“Penyakit penuntut ilmu adalah rasa bosan dan kurang sabar.”
Namun beliau menunjukkan kesabaran luar biasa dalam perjalanan ilmu.
2. *Semangat dalam Amal dan Ibadah*
Ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan amal.
Sebagian ulama berkata:
««لَيْسَ الْعِلْمُ مَا حُفِظَ، وَإِنَّمَا الْعِلْمُ مَا نَفَعَ»»
“Ilmu bukanlah sekadar yang dihafal, namun ilmu adalah yang memberi manfaat.”
Dan dikatakan pula:
««أَصْلُ الْعِلْمِ خَشْيَةُ اللَّهِ»»
“Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”
– Beliau (Ustadz Aunur Rofiq) dikenal sering murojaah hafalan Al-Qur’an bahkan di kendaraan, sambil nyetir mobil.
– Beliau menjaga shalat malam meskipun dalam keadaan lelah.
– Beliau juga semangat bersedekah untuk keluarga, santri, tetangga, dan pondok.
Al-Ilbiri rahimahullah dalam Ta’iyyah-nya mengingatkan:
«“Jika manusia sudah memanggilmu ustadz dan dai, jangan merasa aman dari pertanyaan Allah:
‘Engkau telah mengetahui, lalu apa yang telah engkau amalkan?
Inti nya ilmu adalah taqwa bukan gelar yang disandang’”»
*Semangat Dakwah dan Menyebarkan Ilmu*
– Beliau memiliki cita-cita besar untuk menyebarkan ilmu.
– Hari Jumat hingga malam Senin sering digunakan untuk safar dakwah ke berbagai daerah di Kediri, Tulung Agung, Trenggalek, Madura, Magelang.
– Bahkan dalam keadaan sakit pun beliau tetap berusaha berdakwah.
– Beliau sangat disiplin terhadap jadwal dakwah. Sering kali setelah Ashar sudah berangkat menuju lokasi kajian, padahal jadwal kajiannya setelah maghrib.
– Pernah pulang safar dari Kalimantan, tiba pagi hari, lalu langsung masuk mengajar.
Seakan-akan jasad beliau lelah, namun ruh perjuangannya tidak pernah berhenti, seperti kata penyair:
وإذا كانت النفوس كبارا
تعبت في مرادها الأجسام
Jika jiwa seorang besar
Maka badan lelah memahami maksudnya jiwa
3. *Keikhlasan*
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
««الْعِلْمُ مَا نِلْتَ بَرَكَتَهُ»»
“Ilmu adalah yang engkau peroleh keberkahannya.”
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata tentang para salaf mengapa perkataan mereka begitu manis :
««لِأَنَّهُمْ أَرَادُوا بِهِ وَجْهَ اللَّهِ»»
“Karena mereka menginginkan wajah Allah dengannya.”
Nasihat yang keluar dari hati akan masuk ke hati.
Syeikhuna mungkin tidak pandai retorika, bahasanya sederhana, tapi nasehatnya bagaiman es di saat dahaga, karena buah keikhlasannya insya Allah.
– Beliau tetap mengajar meskipun yang hadir hanya sedikit. Kadang hanya tiga orang di mushalla kecil sekitar.
– Saat fitnah melanda pondok pada tahun-tahun dahulu dan banyak santri keluar, beliau tidak sibuk membantah dan berdebat. Beliau hanya mengatakan:
«“Kita hanya menyampaikan ilmu.”»
Karena beliau memahami:
««كُلُّ شَيْءٍ لَا يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ يَضْمَحِلُّ»»
“Segala sesuatu yang tidak diniatkan karena Allah akan sirna.”
4. *Zuhud terhadap Dunia*
– Beliau pernah menjalani berbagai pekerjaan kasar ketika belajar: berdagang, menjadi kuli, bekerja di tempat selep, dan lainnya.
– Beliau tidak suka dimuliakan berlebihan dengan fasilitas dunia.
– Tidak suka hotel mewah, kasur empuk, atau pendingin ruangan.
– Bahkan beliau pernah berkata:
«“Kalau ada makanan yang tidak dimakan, kasihkan saya saja.”»
– Beliau tidak menjadikan dakwah dan mengajar sebagai sumber utama duniawi. Bahkan beliau hanya mengambil sedikit dari hak beliau.
5. *Tawadhu’*
Diriwayatkan bahwa Aisyah berkata:
««إِنَّكُمْ لَتَغْفُلُونَ عَنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ: التَّوَاضُعِ»»
“Kalian benar-benar lalai dari ibadah terbaik: tawadhu’.”
– Beliau ikut gotong royong bersama yang lain para santri ngecor bangunan bahkan saat diguyur hujan.
– Beliau sering berkata:
«“Saya ini kurang ilmu. Saya masih bodoh. Kalau salah tolong ingatkan.”»
– Beliau juga sering memberikan kesempatan kepada para santri untuk berdakwah dan menyampaikan kultum serta beliau mendengarkannya.
Dikatakan :
««الْعِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِي»»
“Ilmu akan memusuhi orang yang sombong.”
6. *Kesabaran Beliau*
Sebagian ulama berkata:
««الصَّبْرُ كَنْزٌ»»
“Kesabaran adalah harta karun yang hanya diberikan kepada hamba yang dicintaiNya saja”
– Beliau sangat sabar menghadapi ujian dakwah dan penyakit.
– Pernah mendapatkan intimidasi setelah pulang dari Riyadh. Bahkan di Kediri pernah mengalami ancaman serius.
– Akhirnya beliau diminta orang tuanya mendirikan pondok di Srowo.
– Tiga tahun terakhir beliau diuji dengan sakit yang membuat beliau harus mengurangi aktivitas dakwah dan mengajar, padahal itulah ruh kehidupan beliau.
7. *Memanfaatkan Waktu*
– Beliau sangat menjaga waktunya. Saat di mobil bahkan sambil nyetir beliau baca buku dan murajaah Al Quran.
– Tidak suka bermalas-malasan.
– Bahkan ketika libur terkadang tetap melakukan hal-hal bermanfaat seperti memperbaiki kendaraan.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
««مَنْ لَمْ يَكُنْ وَقْتُهُ لِلَّهِ وَبِاللَّهِ فَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ»»
“Barangsiapa waktunya tidak digunakan untuk Allah dan bersama Allah, maka kematian lebih baik baginya.”
7. *Perhatian Besar terhadap Tauhid*
– Beliau sangat menekankan tauhid.
– Kitab-kitab beliau yang tampak paling sering dipakai hingga rusak sampulnya adalah kitab-kitab tauhid seperti: Fathul Majid, Aqidah Thahawiyyah, Ushul Sunnah, Syarhus Sunnah, dan kitab-kitab aqidah lainnya.
– Di antara kisah yang disebutkan tentang kuatnya tauhid beliau:
Ada seseorang yang mencari “kyai sakti” untuk menguji kesaktiannya. Lalu ditunjukkanlah ke Ustadz Aunur Rofiq di Srowo yang sedang memperbaiki mobil. Ketika bertemu beliau, justru hilang rasa bangga terhadap kesaktiannya, lalu akhirnya bertaubat, memotong rambutnya, dan menjadi santri.
– Disebutkan pula bahwa ketika beliau hendak datang ke suatu tempat untuk meruqyah, jin hanya mendengar suara beliau lantas jin yang menjerit ketakutan.
Semua ini menunjukkan kekuatan tauhid dan istiqamah beliau di atas sunnah.
8. *Umur Kedua yang Ditinggalkan*
Orang Jawa mengatakan:
«“Urip iku urup.”
“Hidup itu harus memberi manfaat dan cahaya.”»
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
««خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»»
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Beliau telah meninggalkan “umur kedua”:
– anak-anak yang shalih,
– santri-santri,
– kitab dan karya tulis,
– masjid-masjid,
– dakwah,
– serta ilmu yang terus diamalkan manusia.
Karena itu, boleh bersedih. Menangislah sewajarnya.
Namun jangan terlalu lama larut dalam kesedihan.
Lanjutkan perjuangan ilmu dan dakwah beliau.
رحمه الله رحمة واسعة
وغفر له، ورفع درجته في المهديين، وجمعنا به في الفردوس الأعلى.
✍️ Di transkip oleh Rifki Febriansyah
[Telah dikoreksi, dimurojaah, dan disempurnakan oleh *Ustadz Abu Ubaidah* _-hafizhahullah-_]
Artikel Meneladani Spirit Perjuangan & Akhlak Syaikhuna Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani rahimahullah pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>
meneladani-spirit-perjuangan-akhlak-syaikhuna-aunur-rofiq-bin-ghufron-hamdani-rahimahullah/feed/
0
Kitab “Mukhtarat” Yang Berbarokah
kitab-mukhtarat-yang-berbarokah/
kitab-mukhtarat-yang-berbarokah/#respond
Wed, 13 May 2026 10:41:20 +0000
?p=3377
“Kitab “Mukhtarat” Yang Berbarokah” Abu Ubaidah As Sidawi Sesungguhnya Kitab “Mukhtarot Qowaid Lughoh Al-Arabiyyah” karya Syaikhuna wa Waliduna Karim Aunur Rofiq bin Ghufron al-Hamdani -semoga Allah menjaganya dan memanjangkan umurnya dalam ketaatan- termasuk kitab panduan yang berbarokah dalam mempelajari kaidah-kaidah Bahasa Arab sehingga menjadi jembatan untuk bisa membaca kitab-kitab ulama yang berbahasa Arab baik di bidang tafsir, hadits, aqidah dan lain sebagainya. Kitab ini menjadi kitab panduan sejak awal berdirinya pondok pesantren Al Furqon hingga sekarang di tingkatan Takhosus dan Mts. Ada juga ringkasannya Takhis Mukhtarat dipake muqorror kelas MSW,…
Artikel Kitab “Mukhtarat” Yang Berbarokah pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>
“Kitab “Mukhtarat” Yang Berbarokah”
Abu Ubaidah As Sidawi
Sesungguhnya Kitab “Mukhtarot Qowaid Lughoh Al-Arabiyyah” karya Syaikhuna wa Waliduna Karim Aunur Rofiq bin Ghufron al-Hamdani -semoga Allah menjaganya dan memanjangkan umurnya dalam ketaatan- termasuk kitab panduan yang berbarokah dalam mempelajari kaidah-kaidah Bahasa Arab sehingga menjadi jembatan untuk bisa membaca kitab-kitab ulama yang berbahasa Arab baik di bidang tafsir, hadits, aqidah dan lain sebagainya.
Kitab ini menjadi kitab panduan sejak awal berdirinya pondok pesantren Al Furqon hingga sekarang di tingkatan Takhosus dan Mts. Ada juga ringkasannya Takhis Mukhtarat dipake muqorror kelas MSW, bahkan setiap tahun dijadikan daurah Bahasa Arab.
Tak hanya di pondok kami saja, bahkan banyak diajarkan juga di lembaga pendidikan, pesantren, majlis taklim, daurah dan sebagainya, sampai-sampai dulu ketika saya masih belajar di Saudi, ada beberapa kelompok belajar bahasa Arab mengkaji buku ini!!
Sungguh betapa banyak manfaat kitab tersebut ! Betapa banyak para penuntut ilmu yang mempelajarinya! Betapa banyak para ustadz dan dai yang mengajarkannya ! Betapa banyak lembaga pendidikan, pesantren, majlis taklim yang menjadikannya sebagai muqorror/buku panduan dalam belajar!
Kami berdoa kepada Allah agar menjadikan buku ini berbarokah dan bermanfaat bagi manusia, memberikan pahala kepada penulisnya, pembacanya, pengajarnya, pencetaknya dan setiap yang berpartisipasi dalam menyebarkannya.
Artikel Kitab “Mukhtarat” Yang Berbarokah pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>
kitab-mukhtarat-yang-berbarokah/feed/
0
BIOGRAFI SYAIKHUNA WA WALIDUNA AUNUR RAFIQ BIN GHUFRON BIN HAMDANI
biografi-syaikhuna-wa-waliduna-aunur-rafiq-bin-ghufron-bin-hamdani/
biografi-syaikhuna-wa-waliduna-aunur-rafiq-bin-ghufron-bin-hamdani/#respond
Wed, 13 May 2026 10:40:55 +0000
?p=3375
*BIOGRAFI SYAIKHUNA WA WALIDUNA AUNUR RAFIQ BIN GHUFRON BIN HAMDANI* Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi (Ini tulisan lama beberapa tahun lalu, karena permintaan salah satu ustadz. Kini karena adanya permintaan untuk menshare nya kami minta izin kepada Syeikhuna dan beliau mengizinkan). Telah meminta kepada saya saudara saya al-akh Firman Hidayat agar saya menulis biografi singkat tentang Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rofiq bin Ghufron, maka saya berusaha untuk memenuhi permintaan beliau yang sedikit saya tahu tentang beliau, sekalipun saya sadar mungkin tulisan ini tidak membuat nyaman beliau, karena yang saya tahu…
Artikel BIOGRAFI SYAIKHUNA WA WALIDUNA AUNUR RAFIQ BIN GHUFRON BIN HAMDANI pertama kali tampil pada Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.
]]>
*BIOGRAFI SYAIKHUNA WA WALIDUNA AUNUR RAFIQ BIN GHUFRON BIN HAMDANI*
Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi
(Ini tulisan lama beberapa tahun lalu, karena permintaan salah satu ustadz. Kini karena adanya permintaan untuk menshare nya kami minta izin kepada Syeikhuna dan beliau mengizinkan).
Telah meminta kepada saya saudara saya al-akh Firman Hidayat agar saya menulis biografi singkat tentang Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rofiq bin Ghufron, maka saya berusaha untuk memenuhi permintaan beliau yang sedikit saya tahu tentang beliau, sekalipun saya sadar mungkin tulisan ini tidak membuat nyaman beliau, karena yang saya tahu beliau bukanlah orang yang suka untuk dipuji seperti kebanyakan manusia lainnya. Semoga sedikit goresan tangan tentang beliau, bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
✒️ *Nama Beliau*
Beliau adalah Syaikhuna (guru kami) wa waliduna (orang tua kami) bernama Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdani.
✒️ *Tempat Tanggal Lahir*
Beliau dilahirkan di Desa Srowo, Kecamatan Sidayu, Kab Gresik, Jawa Timur pada tanggal 1 September 1956 M.
✒️ *Pertumbuhan Pendidikan dan Semangat Belajarnya*
Beliau menempuh pendidikan mulai kecil di Madrasah Ibtidai’yyah Sidayu hingga lulus pada tahun 1968 M, kemudian melanjutkan ke sekolah PGA Muhammadiyyah selama dua tahun hingga tahun 1972 yang saat itu dikepalai oleh Ustadz Nawawi Bakri –rahimahullah-, salah satu tokoh dan kyai Muhammadiyyah terkemuka di daerah tersebut, lalu melanjutkan ke PGA Muhammadiyyah Karang Asem Paciran Lamongan selama empat tahun sampai tahun 1974 yang saat itu dikepalai oleh KH. Abdurrahman Syamsuri.
Setelah itu dengan anugerah Allah, beliau melanjutkan belajarnya ke Jami’ah Imam Ibnu Su’ud di Riyadh, Saudi Arabia, dengan mengambil jurusan kuliah Ushuluddin dan lulus pada tahun 1982 M.
Ketika menuntut ilmu, beliau menjalaninya dengan keuletan dan ketabahan. Beliau pernah bercerita kepada kami bahwa dulu ketika belajar hanya berbekal sedikit dari orang tuanya, terkadang makan dari sisa-sisa, bahkan untuk bisa terus belajar, beliau sambil bekerja sebagai tukang masak, bahkan saat sekolah di Saudi pun, beliau sambil kerja saat liburan sebagai pekerja bangunan.
Hingga kini saya menyaksikan semangat beliau dalam ilmu, beliau sering membaca di sela-sela waktunya di mobil bahkan terkadang sambil nyetir mobil.
Ustadz Muhammad Abid Rodhi selaku rekan beliau sejak kecil pernah bercerita: “Ustadz Aun memang orang yang semangat sejak dulu. Jika dia memiliki suatu keinginan dan cita-cita, maka dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menggapainya”.
✒️ *Keluarga Beliau*
Beliau lahir dari kedua orang tua yang baik, ayah beliau bernama Ghufron dan ibu beliau bernama Marfu’ah.
Beliau adalah anak pertama dari lima bersaudara yang semuanya adalah lelaki; Ridhwan, Abdurrahman, Mubarok, Nashruddin.
Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Shofarah saat liburan studi kuliah di Universitas Ibnu Su’ud, KSA. Beliau dikaruniai 13 anak, hanya saja yang hidup hanya 5 orang sampai sekarang :
– Aunus Shofi
– Rifaq Ashfiya’
– Mi’wanul Muttaqin
– Kuni Hafidzoh
– Abdul Hakim
Dan sampai sekarang dikarunia oleh 5 cucu: Masyhur Ubaidah, Sami Mukhtar, Hasan Abdullah, Husain Abdurrahman, Aunul Furqon.
✒️ *Guru-Guru Beliau*
Di awal pertumbuhannya, beliau banyak mengambil ilmu dari para tokoh Muhammadiyyah seperti KH. Nawawi Bakri, KH. Abdurrahman Syamsuri dll.
Diantara guru beliau juga adalah para dosen di Universitas Ibnu Su’ud Riyadh yang saat itu dikepalai oleh Dr. Abdul Muhsin At-Turki.
Juga beliau banyak menimba ilmu dari para masayikh yang hadir untuk dauroh di Indonesia semisal murid-murid Syaikh Al-Albani (Syaikh Ali Hasan, Syaikh Musa Alu Nashr, Syaikh Masyhur Hasan, Syaikh Akram Ziyadah dll), juga para masyayikh dari Madinah semisal Syaikh Shalih As-Suhaimi, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Walid bin Saif An-Nashr dll.
Dan sungguh saya melihat beliau termasuk orang yang semangat menuntut ilmu dalam usia yang sudah tidak mudah lagi, setiap kali dauroh saya melihatnya hadir lebih awal dari peserta lainnya dan duduk di tempat terdekat dengan syaikh.
✒️ *Murid-Murid Beliau*
Murid-murid beliau banyak sekali tak terhitung jumlahnya. Betapa banyak para dai dan ustadz di Indonesia ini, dahulu pernah menimba ilmu dari pondok beliau dan hingga kini para alumnus dan murid beliau bertebaran di berbagai sudut Indonesia menyebarkan dakwah, bahkan diantara mereka mendirikan pondok-pondok pesantren di daerahnya masing-masing.
Kami sebutkan diantaranya saja:
1. Dr. Abdullah Roy, Lc MA, pengajar di Masjid Nabawi
2. Ustadz Aris Sugiyantoro, murid Syaikh Utsaimin dan mudir Mahad Al-Ukhuwwah, Sukoharjo, Solo, Jateng.
3. Ustadz Arif Fathul Ulum, mudir Ma’had Thoifah Manshuroh, Kediri
4. Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali, mudir Ma’had As-Sunnah, Pasuruan
5. Ustadz Ahmad Izzah Abu Hammam, mudir Ma’had Tahkim Sunnah, Lampung
6. Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf Lc, ketua Yayasan Al Furqon dan penulis buku
7. Ustadz Syahrul Fatwa, Penasehat Ahsan TV, penulis buku-buku ilmiah
8. Hamba yang lemah ini, sejak kecil belajar kepada beliau hingga sekarang, bahkan dijadikan menantu oleh beliau, kini membantu sedikit sebagai wakil di Mahad Al Furqon dan sedikit berdakwah sebisanya secara lisan dan tulisan.
Dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya yang belum kami sebutkan. Seringkali seorang ustadz dan aktivis dakwah Peduli Muslim mengatakan pada saya: “Saya heran, setiap kali saya pergi ke penjuru dan pelosok, saya mendapati dai dan ustadz yang berdakwah di sana adalah lulusan Al Furqon”. Semoga Allah memberkahi mereka dan menjadikan ini sebagai sumber pahala bagi Syaikhuna.
✒️ *Perjuangan Beliau Dalam Dakwah Menyebarkan Tauhid dan Dakwah Salafiyyah*
Setelah beliau lulus dari Pesantren Karang Asem Lamongan, beliau diutus oleh DDI (Dewan Dakwah Indonesia) untuk berdakwah di kota Pontianak Kalimantan selama 2 tahun. Itu adalah modal awal beliau untuk berkiprah dalam dunia dakwah, yang setelah itu beliau mendapatkan anugerah untuk bisa melanjutkan studinya di Negeri Tauhid, Saudi arabi, tepatnya di Universitas Imam Ibnu Su’ud, Riyadh, KSA.
Sepulang dari Saudi, beliau memilih untuk membuka lahan dakwah di Kota Kediri dan diamanati untuk mengelola sebuah pondok Pesantren dan mengajar di sekolah serta ngisi taklim di berbagai majlis taklim dan masjid. Ujian dan cobaan dalam dakwah selama 7 tahun lamanya di Kediri beliau rasakan, hingga akhirnya beliau terintimidasi dan memilih untuk berdakwah di kampung halaman tercintanya sendiri .
Allah maha bijaksana dalam takdirnya, Allah memilih beliau untuk yang lebih baik. Setelah beliau pulang ke kampung halaman, beliau mendirikan Pondok Pesantren tahun 1989 M dengan modal tanah dari orang tuanya, beliau bangun dengan modal semangat dan gotong royong bersama masyarakat sekitar, dan lambat laun pesantren ini menjadi menara ilmu dan markaz ilmu bagi para penuntut ilmu dari berbagai wilayah Indonesia untuk berlabuh menggali ilmu agama.
Entah berapa banyak para ustadz dan dai yang menjadi kunci pembuka kebaikan sekarang ini, ternyata dahulunya mereka menimba ilmu dari markaz mulia ini. Dan hingga kini sebanyak kurang lebih 1500 santri belajar ilmu agama di Pesantren ini.
Perjuangan beliau dalam mengasuh pesantren ini tentu tidaklah mulus begitu saja, banyak onak dan duri yang menghadang, bahkan tahun 1994 pernah terjadi tragedi besar seorang santri kesurupan Jin lalu merusak nisan kuburan kramat tak jauh dari tempat tinggal beliau, sehingga hampir saja pondok beliau, beliau didemo oleh masyarakat tersebut, diamankan polisi dan disidang, para santrinya disuruh pulang kampung halaman. Namun, Allah memberikan solusi terbaik untuk beliau.
Pernah juga mobil beliau dirusak dan dicoret-coret, tetapi beliau sabar. Beliau juga sering difitnah oleh sebagian mantan muridnya, dicaci maki dan ditahdzir tetapi beliau enggan membalasnya dan beliau selalu meredam fitnah dengan menyibukkan diri dengan ilmu, amal dan dakwah. Itulah nasehat yang selalu diulang-ulang oleh beliau kepada para santrinya.
Lebih dari itu, beliau pernah juga diancam dibunuh oleh sebagian orang yang tidak suka dakwah beliau, tetapi hal itu tidak mengurungkan semangatnya dalam dakwah.
Kini beliau sibuk berdakwah di berbagai daerah, hari-harinya selalu diisi untuk mengajar dan berdakwah, baik di pesantren maupun di luar kota, terutama Madura, Kediri, Magelang, Surabaya dan Sidoarjo yang menjadi tempat kajian rutin beliau. Beliau melakukan semua itu dengan motivasi dan semangat yang tinggi, bahkan terkadang dengan memaksakan diri tetap mengajar walau sakit, sehingga pernah jatuh saat mengisi khutbah nikah. Terkadang kami kasihan dan berharap andai beliau beristirahat terlebih dulu sampai betul-betul sembuh.
Beliau juga sabar dan telaten dalam dakwah walau yang hadir hanya sedikit jumlahnya. Pernah beliau mengajar di kelas walau santrinya hanya tiga orang. Beliau mengisi taklim tak peduli berapapun jumlahnya. Yang penting bagi beliau adalah dakwah dan dakwah.
Beliau sangat menaruh perhatian dan prioritas utama pada tema Aqidah dan Tauhid. Hal ini sangat jelas dilihat dari kitab-kitab yang beliau ajarkan, kebanyakan adalah tentang tauhid dan aqidah. Diantaranya yang paling sering adalah Kitab Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid (entah sudah berapa kali beliau mengkhatamkannya), Syarh Aqidah Thohawiyyah, Ushul Sunnah Imam Ahmad bin Hanbal, Syarh Sunnah al-Barbahari, Kasyfu Syubuhat, Kitab Tauhid dari Shohihul Bukhori, Riyadhu Sholihin, Tafsir Ibnu Katsir, Bulughul Marom dan lain sebagainya. Begitu pula materi-materi khutbah dan nasehat beliau, beliau selalu menekankan dan memprioritaskan pembahasan tauhid, termasuk saat memberikan nasehat walimah pernikahan.
✒️ *Buku Karya Beliau*
Beliau memang tidak banyak menulis buku karena lebih fokus untuk dakwah dengan lisan, beliau hanya menulis beberapa buku panduan yang dijadikan _muqorror_ di pondok. Diantaranya yang paling masyhur adalah Kitab “Mukhtarot Qowa’id Lughoh Al-Arabiyyah” yang merupakan kitab tentang kaidah-kaidah Bahasa Arab sehingga menjadi jembatan untuk bisa membaca kitab-kitab ulama yang berbahasa Arab baik di bidang tafsir, hadits, aqidah dan lain sebagainya.
Kitab ini menjadi kitab panduan sejak awal berdirinya pondok pesantren Al Furqon hingga sekarang. Bahkan banyak diajarkan di lembaga pendidikan, pesantren, majlis taklim dan sebagainya.
Sungguh betapa banyak manfaat kitab tersebut ! Betapa banyak para penuntut ilmu yang mempelajarinya! Betapa banyak para ustadz dan dai yang mengajarkannya ! Betapa banyak lembaga pendidikan, pesantren, majlis taklim yang menjadikannya sebagai muqorror/buku panduan dalam belajar!
Di samping itu, beliau aktif menulis secara rutin di dua Majalah yang diterbitkan oleh Mahad Al Furqon, yaitu Majalah Al Furqon dan Majalah keluarga Al-Mawaddah, beliau menulis rubrik Tafsir dan rubrik Pendidikan Anak dan Keluarga setiap bulannya. Semoga suatu saat, tulisan-tulisan beliau di Majalah bisa dikumpulkan, dirapikan, disusun menjadi sebuah buku, sehingga manfaatnya lebih luas.
✒️ *Pujian Para Ustadz Kepada Beliau*
Beliau bukan orang yang suka terhadap pujian. Mungkin saja di sana banyak pujian kepada beliau tetapi saya tidak mengetahuinya. Saya hanya menukil yang saya dengar sendiri saja:
Syaikh Walid bin Saif pernah mengatakan: “Saya sangat mencintai beliau. Pertama kali saya bertemu dengannya, langsung tertanam rasa cinta dan ta’dzim kepada beliau”.
Ketika saya bertemu dengan Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Yawas dan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, mereka selalu menanyakan kepada saya tentang kabar Syaikhuna, memuji akhlak, semangat dakwah dan kesabarannya dan menitipkan salam untuk beliau.
Ustadz Ahmad Tamimi berkata ketika membela beliau dari sebagian kalangan yang mencela beliau: “Seandainya saya bisa menggendong beliau, saya akan menggendong beliau” sebagai bentuk penghormatan.
Ustadz Mubarok Ba Muallim: “Ustadz Aun adalah orang yang masya Allah dalam semangat dakwah”.
Ustadz Badru Salam mencantumkan nama beliau termasuk ustadz Salaf di Jawa yang direkomendasikan untuk belajar ilmu agama kepadanya dan mengahadiri majlis ilmunya.
Ustadz Abdullah Zen pernah bercerita pada saya: “Diantara nasehat ustadz yang sangat menyentuh, singkat tapi mengena adalah nasehat Ustadz Aunur Rafiq”.
Adapun pujian-pujian dari murid-murid beliau, maka itu banyak sekali.
✒️ *Akhlak Menonjol Beliau*
Secara umum beliau memiliki akhlak yang mulia, sekalipun tidak ada yang sempurna. Namun diantara akhlak beliau yang paling menonjol sepanjang pengetahuan saya adalah:
1. Zuhud/sederhana dengan dunia
Beliau adalah orang yang zuhud dengan dunia dan sederhana. Berbagai pekerjaan kasar dilaluinya sejak belajar, mulai sebagai tukang masak, tukang jam, nyelep (penggilingan), dagang, kuli bangunan, bahkan mencari tomat busuk untuk dijadikan sebagai sambal tomat dan dijual.
Beliau amat bersahaja dan tidak ingin merepotkan panitia, nginap di masjid dan kamar seadanya, bahkan tidak ingin untuk diperlakukan istimewa. Terkadang beliau hanya meminta bantal untuk istirahat di masjid, terkadang pula hanya tidur di mobil.
Beliau juga tidak malu untuk makan dari sisa-sisa makanan orang lain yang tidak dihabiskan, bahkan beliau pernah bilang: “Saya paling tidak suka jika ada yang buang-buang makanan. Kalau ada yang tidak habis, berikan kepada saya untuk saya manfaatkan”.
Beliau juga tidak mau mengambil gaji tetapnya dari pondok kecuali hanya sebagian kecil saja dan sedikit sekali.
2, Tawadhu
Beliau adalah seorang yang tawadhu. Masih teringat dalam memori saat saya masih belajar, beliau bersama kami gotong royong menyelesaikan pembangunan salah satu bangunan pondok di tengah guyuran air hujan.
Beliau juga sering memperbaiki mobilnya sendiri yang terkadang membuat orang yang melihatnya tidak percaya kalau itu adalah beliau.
Betapa sering kami mendengar beliau mengatakan kepada para santrinya: “Saya ini bodoh, sedikit ilmu, jika kalian mendapatiku salah, tolong tegurlah aku. Sungguh saya sangat senang jika ada yang menasehatiku”.
Beliau juga sangat terbuka untuk menerima nasehat dan kritikan dari sebagian santrinya bahkan berterima kasih serta mendoakan kebaikan untuknya. Hal ini adalah sesuatu yang sangat populer di kalangan para murid-murid beliau.
3. Semangat dakwah
Semangat dan motivasi dakwah beliau sangat tinggi, sulit tertandingi di hari-hari ini. Beliau berdakwah dan mengajar seakan tanpa mengenal rasa lelah, setiap pekan mulai hari jumat pagi hingga malam senin meninggalkan rumah untuk berdakwah di tempat yang berbeda-beda. Herannya, seringkali beliau bepergian itu dengan menyetir mobil sendiri ! Dan selebihnya waktu beliau digunakan untuk mengajar di pondok beliau dan tempat-tempat terdekat.
Beliau tetap mengajar dan mengisi taklim walau sakit. Beliau pantang untuk membatalkan taklim tanpa alasan syari yang kuat dan mendesak.
Pernah juga kami melakukan safar bersama beliau ke Kediri dalam rangka dakwah, beliau yang menyetir mobil dan jalan saat itu macet panjang sehingga sangat melelahkan, kamipun lelap dalam tidur di mobil, terbangun ketika sampai tujuan pada pertengahan malam. Saat kami bangun untuk ke kamar mandi, ternyata kami dapati beliau sedang terbangun dan tidak istirahat!
Masih teringat, ketika kami masih belajar, beliau datang dari safar yang jauh di pagi hari, kami dan teman-teman mengira akan libur karena beliau pasti lelah dan butuh istirahat, tetapi ternyata beliau tetap mengajar.
Seringkali kami para dai dan ustadz muda merasa malu dan kalah jauh dengan beliau yang sudah tidak lagi muda tetapi semangat membaja. Pernah suatu saat kami menggantikan jadwal safari dakwah beliau, dan subhanallah usai pulang kami langsung jatuh sakit karena capek dengan padatnya jadwal taklim.
Pernah suatu saat seoran